Wedding Maze

Wedding Maze
WM-47|KEPUTUSAN SNOW|


__ADS_3

...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, dan jangan lupa untuk menambahkan Wedding Maze kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...


Katanya, kalau sudah cinta, mereka akan melakukan apapun untuk menunjukkan dan membuktikan kepada orang yang dicintainya agar mereka bisa bersama. Membangun sebuah hubungan yang tidak akan bisa dihalangi apapun, dan membuat orang yang dicintai membalas dengan perasaan yang sama.


“Kenapa?”


Snow terpaku, ia hanya bisa menatap sendu manik Winter yang juga terlihat berkabut. Keduanya sedang menyelami perasaan satu sama lain, mencoba mencari kebenaran di dasar hati masing-masing melalui sebuah tatapan.


“Beri aku alasan!” lanjut Winter penuh penekanan. Ia ingin mendengar penjelasan Snow, mengapa dirinya tidak diberi kesempatan untuk satu keinginan yang berasal dari hati.


Winter sadar ia terlalu egois ketika meminta Snow kembali padanya, tapi Winter benar-benar tulus menginginkan Snow kembali padanya, berada disisinya, menemaninya hingga nanti saat ajal menjemput.


“Kamu juga sudah memaafkan ku. Jadi, mengapa kamu menolakku, Snow?”


Adakah sebuah gelas yang sudah pecah berkeping bisa kembali utuh? Meskipun seumpama gelas tersebut sudah kembali menyatu, namun tidak bisa dipungkiri jika gelas tersebut terlihat tidak sesempurna sebelumnya. Akan ada bekas-bekas retakan yang terlihat jelas. Dan itulah yang dirasakan Snow kepada Winter. Memang, dia telah memaafkan Winter, namun retakan hatinya masih mencuat jelas, dan kadang masih menimbulkan ngilu yang menyakitkan.


”Antar aku pulang.” pintanya sembari mengusap satu sisi wajah Winter. Kemudian berbalik untuk berpamitan kepada kedua mertuanya yang masih tetap memperhatikan interaksi Snow dan Winter.


Setelah berpamitan, Snow berjalan cepat menuju mobil Winter, masuk kesana tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan. Wajahnya pias, kecamuk dalam hatinya ikut meraung memaksa emosi untuk menggelegak. Tapi Snow bertahan, ia menahan kuat-kuat agar tidak mengatakan jika dia bertemu dengan Amora beberapa hari lalu.


Pintu mobil berdebum keras ketika Winter telah duduk dibalik kemudi mobil, memakai seatbelt, lalu menginjak pedal gas keluar area rumah mewah keluarga Bruddy.


Belum ada yang mau memulai percakapan. Hingga rintik salju mulai turun. Ah, salju turun. Musim dingin berada pada puncaknya, dan itu artinya, tiga puluh hari semakin dekat. Mimpi buruk pernikahan mereka sudah didepan mata.


Jika kamu tidak percaya padaku, buktikan sendiri. Jauhi dia, maka dia akan mengejar dan berusaha mendapatkan mu kembali kedalam hidupnya.


Ucapan Amora saat itu berhasil mematik rasa penasaran dalam benak Snow. Namun disisi lain, Snow juga merasa takut jika Winter hanya mempermainkan perasaannya, tidak peduli, menertawakan sikapnya yang sok jual mahal, lantas mencampakkan dirinya.


“Aku tidak berbohong. Aku ingin kita kembali bersama.” tegur Winter memecah keheningan. Snow yang terkejut lantas menoleh pada fitur Winter yang sedang menatap jalanan yang mulai terlihat memutih karena tertimbun salju. “Masih ada waktu untuk kita membatalkan surat perceraian itu sampai di meja pengadilan.”


“Kak, aku masih teguh dengan keputusanku. Kita—”


“Aku katakan sekali lagi. Aku serius dengan ucapanku, Snow.”


Lalu bagaimana? Apa yang harus ia lakukan? Setujukah dengan tawaran itu?


Benak Snow penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang ia harapkan? Mengapa dia menjadi wanita lemah, plin-plan, dan tidak punya pendirian seperti ini? Apa dia benar-benar mengharapkan Winter kembali padanya? Apa Winter mencintainya?


Isi kepala Snow begitu berisik. Dia semakin pusing hingga pelipisnya terasa berat.


“Snow,” panggil Winter sendu, mencari satu sisi belas kasih dalam diri Snow, agar memberinya kesempatan kedua. “Aku janji, aku akan mengakhiri hubunganku dengan Amora, dan aku juga berjanji, tidak akan memperlakukan dirimu—”


“Kenapa baru sekarang?” potong Snow sembari menatap fitur Winter yang terlihat mengeras. Snow juga bisa melihat jari-jari Winter meremat kemudi mobil, lalu tanpa diduga mobil menepi begitu saja.

__ADS_1


“Kenapa memotong jalan tiba-tiba seperti itu? Bahaya! Apa kamu membunuhku?” protes Snow dengan dada naik turun, nafas memburu, dan jantung yang terasa seperti lepas dari tempatnya.


Winter terhenyak, lantas tersenyum. “Tidak, mana mungkin aku membunuhmu?”


Snow berdecak, melepas seatbelt, lalu keluar dari mobil, disusul Winter yang panik karena Snow tiba-tiba saja pergi dari mobilnya. Melihat itu, Winter menghentikan Snow, mencekal pergelangan tangan Snow yang sudah membuka pintu mobil dan hendak beranjak keluar.


“Mau kemana? Diluar sedang turun salju. Kamu bisa terkena flu.”


“Aku ingin keluar sebentar.”


“Sedang turun salju.” tegas Winter, melarang Snow bersamaan udara kelewat dingin yang berhembus dari luar menyapa permukaan kulit.


“Tapi aku ingin keluar!”


“Snow, please. Jangan keras kepala. Kamu akan sakit jika berada diluar.” pinta Winter memohon. Ia hanya tidak ingin melihat Snow kembali merasakan sakit, atau terbaring dirumah sakit karena dirinya.


Pada akhirnya, Snow menarik pintu untuk kembali mengatup rapat, tubuhnya kembali menghangat sebab penghangat mobil sudah dinyalakan Winter beberapa saat yang lalu.


Hening. Senyap. Suara desir salju yang turun diluar sana tidak terdengar dari dalam mobil kedap suara ini. Keduanya hanya menatap lurus kedepan, menyaksikan butiran-butiran kecil seperti kristal berwarna putih itu jatuh dari langit.


“Salju,” ucap Winter memecah kesunyian. “—apa papa memberimu nama Snow karena kamu lahir saat salju turun?” tanya Winter yang sebenarnya tidak begitu penting, namun mampu membuat bibir Snow memberikan rentetan kalimat jawaban.


“Tidak. Papa memberi nama Snow, karena dia suka salju. Dia suka musim dingin.”


Winter menoleh, menggeser untuk merubah posisi menyamping guna memperhatikan wajah Snow. “Ternyata tebakanku salah. Aku tidak mendapatkan poin.” ucapnya disela tawa yang tercipta. Winter bertransformasi menjadi laki-laki yang murah senyum. Tapi bisa ditebak, itu hanya diperuntukkan bagi satu orang, Snow.


Snow membatin, Winter ini kenapa sih? Akhir-akhir ini dia terlihat bersikap manis dan jauh berbeda dengan Winter yang ia kenal dulu. Apa ini ada hubungannya dengan ucapan Amora? Winter sedang berusaha membuktikan cintanya dengan bersikap manis?


“Kenapa kak Winter bersikap seperti ini?”


“Aku sedang ingin mengambil hati seseorang.”


Demi apapun, Snow merona hanya dengan mendengar kalimat itu. Mengapa tubuhnya tidak bisa diajak berkompromi hingga Winter menyadari rona dipipi Snow, lantas menjulurkan lengan dan mengusapnya lembut.


Manik Snow tiba-tiba berkunang, jantungnya berdebar, darahnya mengalir deras melewati nadi saat permukaan kulitnya tersentuh oleh Winter. Efek sengatan kebahagiaan yang diberikan Winter begitu kuat.


“Aku mungkin orang yang paling egois dan tidak tau malu dimatamu. Tapi aku menyesal sudah mengabulkan permintaanmu berpisah dariku, Snow. Aku tidak bisa berpisah darimu.”


“Kenapa? Bukankah ini yang kakak inginkan?”


Jari telunjuk Winter yang semula mengusap pipi Snow terhenti. Memang benar, dulu dia ingin sekali menolak dan berpisah dengan Snow yang tiba-tiba menjadi penghalang hubungannya bersama Amora hingga dia menciptakan hubungan rumit yang berujung pahit untuk dirinya sendiri.


Winter mengangguk membenarkan. “Ya. Tapi itu dulu.”


“Lalu sekarang, mengapa kak Winter tiba-tiba berubah pikiran?”


Bibir itu terkatup rapat. Ia tidak memiliki jawaban.


“Jika kakak ingin kembali padaku, beri aku satu alasan jelas yang bisa membuatku juga menginginkanmu kembali padaku, kak.”

__ADS_1


Winter membeku, bibirnya kelu. Apa ini saatnya dia mengungkapkan perasaannya yang akhir-akhir ini ia rasakan?


“Aku mencintaimu.” ucapnya tiba-tiba.


“Hanya itu?” cebik Snow sambil tersenyum diujung bibir. Bahkan Winter tidak menyangka jika tanggapan Snow sedatar itu. Tidak terlihat rasa antusias yang terbit diwajah cantik wanita bernama Snow.


“Aku akan menghubungi pengacaraku agar mambatalkan proses berkas perceraian itu ke pengadilan.” serius Winter cepat-cepat merogoh ponsel di saku celananya, menghubungi Herald.


Nada hubung masih terdengar, seseorang disana belum memberi respon. Hingga ketika Winter hampir mengakhiri panggilan tersebut, suara seseorang terdengar.


“Herl,”


“Ada apa, Wint?”


“Batalkan mengirim surat perceraian ku ke pengadilan.”


“Apa yang kamu katakan. Aku baru saja memprosesnya di kantor pengadilan, dan tanggal sidang perceraian kalian sudah ditentukan.”


Hati Winter seperti dipatahkan saat ini juga. Kepalanya mendadak berat dan perutnya terasa mual. Bahkan, semesta tidak merestui mereka berdua.


Winter mengakhiri panggilan teleponnya sepihak. Telapak tangannya jatuh diatas kemudi mobil. Tengkuknya terasa dingin tiba-tiba, seolah salju diluar menerjang masuk dan menyerangnya. Membuat Winter merasa diserang hipotermia hingga nyaris mati karena pembulu darahnya membeku.


Lalu, telapak tangan besarnya meremat kuat ponsel yang masih ia genggam. Rahang mengerat, bibir terkatup rapat, dan matanya berubah berkabut.


“See, bahkan alam pun menolak kebersamaan kita.”


Sungguh, Winter tidak ingin terlihat menyedihkan seperti ini. Kehidupannya berubah seperti buah simala kama.


“Lupakan semuanya. Kita hadapi perpisahan ini, dan jika memang semesta mengizinkan, mari kita memulai semuanya setelah kak Winter bisa membuat ku kembali menaruh rasa percaya yang telah kakak hancurkan.”[]


...To be continued....


...🌼🌼🌼...


Mampir juga di cerita Vi's yang lain. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.

__ADS_1


See You.


__ADS_2