
...Happy Reading All......
...•...
...•...
...Sunny Ep.09|Misunderstanding|...
Trapesium memiliki empat buah sisi berupa garis lurus. Satu pasang sisi trapesium adalah sejajar, sedangkan satu pasangan sisi lainnya tidak sejajar.
Tidak sejajar, mungkin perumpamaan itu sangat cocok di sematkan untuk Sunny yang sedang berjuang tentang sebuah hubungan pertemanan. Ia dan Ben tidak pada porsi yang sama, tapi Sunny memaksakan keinginannya, bahkan berharap begitu banyak.
Sunny bersembunyi dibalik selimut. Ia merealisasikan keinginannya untuk menangis dibalik selimut. Mamanya—Snow, juga sempat bertanya mengapa dia terlihat tidak seceria biasanya, tadi. Tapi Sunny buru-buru berlari dan masuk ke kamar, mengunci rapat daun pintu dan menumpahkan semua kekesalan, kebencian, dan kekecewaan yang sedang mendera dirinya. Dia merasa dihianati, padahal tidak ada yang bersalah disini. Sunny lah yang berharap terlalu besar dan berlebihan. Ia tidak memikirkan jika Ben memiliki hidupnya sendiri, dan dia bahkan lupa jika Ben—
Mengapa dia terus mengingat laki-laki tidak tau diri itu? Sunny menangis keras, sesekali berteriak menyebut Mama disela tangisnya yang begitu lepas.
Sampai pada batas dirinya, Sunny akhirnya memutuskan berhenti meratap. Dia tertidur pulas karena lelang menangis.
Singkat cerita,
Sejak kejadian itu, Sunny tidak pernah lagi berharap pada sosok Ben. Dia mengabaikan pesan masuk dan juga panggilan dari Ben. Dia juga tidak seantusias sebelumnya jika ada notifikasi di ponselnya. Ia seperti kehilangan rasa. Rasa yang dulu selalu mematiknya untuk terus berharap dan rela menunggu. Sunny bahkan menyesal sudah menyia-nyiakan sepuluh tahun lamanya dia tidak mau didekati seorang laki-laki pun demi Ben. Tapi sekarang, semua harapannya tinggal angan kosong yang jatuh terjerembab kedalam kubangan lumpur dan terinjak dalam.
__ADS_1
Sunny menyibukkan diri. Menggambarkan menggambar tiada henti, membuat design padahal semua pekerjaannya telah rampung. Dia butuh pelarian, dia butuh melupakan.
Namun semata alam seolah tak mau berpihak padanya. Lagi-lagi ponselnya berdering dan menampakkan nama Ben disana. Sunny memutar bola mata jengah. Kenapa pria itu masih bersikeras menghubunginya meskipun dia sudah memiliki calon pasangan hidup yang cocok dengannya?
Cocok dan berasal dari etnis yang sama, itu sudah menjadi pondasi kuat untuk menjalin sebuah hubungan.
Tapi, apa yang dia lakukan berbanding terbalik dengan hatinya. Sunny meraih ponsel yang pagi ini sudah berdering lebih kurang lima kali, dan nama yang sama pula muncul pada display persegi pintar tersebut.
“Ya, hallo?” sapa Sunny dengan nada dibuat-buat seceria mungkin. Ia tau suaranya akan lebih terdengar seperti kelinci mencicit ketika seperti ini.
“Kenapa tidak pernah membalas pesanku?”
Sunny menghela nafas berat. Sebenarnya, apa yang membuat laki-laki ini begitu tebal muka dan masih berani menghubunginya. “Aku sibuk. Dan aku bukan orang yang memantau ponsel 24 jam.” ketua Sunny. Dia tidak nyaman berbicara dengan Ben, ia takut di anggap wanita tidak tau diri yang masih mengharapkan laki-laki milik wanita lain.
Sama saja.
Sunny meraih sebuah buku, namun sesuatu kembali membawanya ke masa lalu. Sebuah album kenangan di masa SMA.
“Ben, aku baik-baik saja. Dan kamu tau itu.”
“Lalu kenapa tidak menjawab panggilan telepon dariku?”
__ADS_1
Tidak ada jawaban, Sunny terdiam seribu bahasa. Ia tidak ingin salah kata dengan menunjukkan kecemburuannya tentang hubungan yang dijalani Ben dengan kekasihnya.
“Sedang menjauhiku?”
Sunny masih diam. Dia tidak ingin berkata-kata yang bisa mematik rasa benci, cemburu dan juga emosinya meledak.
“Hei, jawab aku. Apa kamu sedang menjauhiku?”
Akhirnya, Sunny berkata setelah membuang nafasnya samar. “Ya. Aku tidak ingin mengganggu hubunganmu dengannya.”
“Tunggu! Hubungan? Hubungan apa yang kamu maksud?”
Sunny lagi-lagi menghela nafas. Ia bahkan tidak habis pikir mengapa Ben masih berusaha mengelak meskipun Sunny sudah melihat dengan mata kepala sendiri didepan laki-laki tersebut.
“Ben, apa perlu aku menjabarkan apa yang—”
“Jika kamu salah faham tentang hari itu, kita perlu bertemu dan bicara. Aku tunggu di cafe kemarin, jam lima sore.” []
...To be continued....
..._________...
__ADS_1
Jangan lupa membaca dan memberi dukungan untuk cerita Vi's yang berjudul WHITE. Dijamin seru dan menarik.
...Thank you...💕...