Wedding Maze

Wedding Maze
WM-28 |DAY MINUS TEN-21|


__ADS_3

Hari ini terlewat begitu saja. Tidak ada rasa senang yang membuncah, tidak ada semangat menggebu-gebu ketika menunggu seseorang, juga, tidak ada lagi rasa cinta seperti semula. Rasa cinta yang tumbuh saat pertama kali bertemu. Rasa-rasanya, semua itu harus usai tepat dalam hitungan ke sepuluh.


Snow mengganti channel horror yang tiba-tiba berubah jadi romantis. Memuakkan. Ia benci kisah romansa sejak hari ini. Tatapannya kosong, ia hanya melihat orang-orang yang sedang bergerak, melakukan akting sesuai naskah yang ditetapkan untuk mereka, dan menyuguhkannya ke dalam layar televisi sebagai tontonan. Bahkan tidak dipungkiri, sebagian orang bisa saja terhibur oleh kisah mereka.


“Setidaknya, mereka hanya berakting. Tidak terjadi dalam kehidupan nyata mereka.” gumam Snow, mencari kebenaran ketika dirinya merasakan sendiri ketika dia terjebak dalam kemelut sama runyamnya dengan acara didalam televisi tersebut.


Sesaat kemudian, ketika jarum jam sudah berubah posisi, Snow mendengar langkah kaki beradu dengan lantai. Winter datang. Lalu ia berhenti di tempat Snow berada.


“Tadi, kamu datang ke kantor?”


“Eum. Aku menitipkan bekal ke resepsionis.”


Winter mengerutkan kening, ada yang berbeda dari Snow. Gadis itu tidak melihatnya saat berbicara.


“Kenapa tidak menghubungiku terlebih dahulu?”


“Karena aku buru-buru.”


Datar. Datar sekali sampai Winter dapat menebak jika memang terjadi sesuatu kepada Snow. Ia menatap tas berwarna biru dongker di tangannya, kemudian mencoba menarik satu pertanyaan lagi sebagai final.


“Jam berapa kamu datang ke kantor?”


Snow tidak ingin berdebat lebih lama. Dia berniat untuk mengatakan semuanya saja. Katanya pasangan suami-istri tidak boleh saling menyimpan rahasia bukan?


Snow berdiri, berjalan untuk berada tepat didepan Winter. Kemudian sedikit mendongak untuk mendapati fitur wajah dan juga atensi dari sepasang manik indah milik sang suami.


“Pukul sembilan, dan aku melihat kakak sedang bersamanya.” jawab Snow, datar tanpa ekspresi tertentu. Yang ia lakukan hanya ingin menjawab pertanyaan, kemudian pergi ke kamar dan mengurung diri tanpa peduli lagi apa yang akan terjadi.


Namun, semua tidak berjalan sesuai ekspektasi yang ia harapkan. Winter menghentikan langkahnya, mencengkeram pergelangan tangan dengan sangat erat tanpa peduli erangan sakit yang di suarakan Snow.


Dari situ, Winter dapat menebak alasan mengapa kotak bekal itu ada di meja resepsionis, dan mengapa Snow bersikap dingin kepadanya malam ini.


“Kamu melihatku dan Amora?”

__ADS_1


“Ah, jadi namanya Amora ya?” sarkas Snow, masih menatap lurus Winter dengan bibir yang sengaja ia buka, terkejut. “Nama yang cantik. Seperti orangnya. Pantas saja banyak pria yang meliriknya. Atau bersedia menjalani hubungan tersembunyi dibelakang istri mereka.”


Entah mengapa, mendengar jawaban penuh nada sindir dan sarkasme dari Snow, justru membuat hati Winter seperti di remas kuat hingga satu sisi temperamennya seperti bak digugah kembali.


“Kamu cemburu?”


Snow tidak menjawab. Dia hanya menarik lengan kurusnya dari Winter, berusaha untuk melepaskan diri dan pergi. Akan tetapi, usahanya sia-sia. Winter memperkuat genggaman hingga membuat aliran darah ke nadi Snow seolah terhenti, kebas.


“Katakan. Kamu cemburu?”


“Untuk apa? Bukankah aku sudah diperingatkan sejak awal tentang ini? Lalu, untuk apa aku harus cemburu kepada wanita yang memang memiliki hati pria yang aku cintai?”


Winter tertegun. Ini adalah pertama kali Snow mengatakan jika dia mencintainya. Selama ini, Snow hanya menunjukkan hal itu dengan sebuah perhatian, tapi sekarang dia mengatakannya.


“Tapi nahas,” lanjut Snow, dengan nada rendah kelewat miris. “—dia lebih memilih wanita lain yang memang lebih dahulu memenangkan hatinya. Dan tentu saja, cantik.”


Ada sekelumit rasa bersalah menyerbu hati Winter, mencari celah agar dirinya menyudahi hubungan nya bersama Amora, lantas memulai hidup baru bersama Snow White.


Cengkeraman tangan Winter merenggang. Ia tidak ingin menahan Snow lebih lama jika hanya akan membuat gadis itu menderita. Seharusnya, sejak awal hubungan ini memang tidak harus terjalin. Seharusnya, mereka tidak perlu hidup bersama jika hanya untuk saling menyakiti. Seharusnya, dia tidak menyentuh dan merenggut apa yang dimiliki Snow, malam itu dan membuat dirinya terperangkap oleh perasaannya sendiri. Dan ya, seharusnya dia tidak mencintai Snow.


Tanpa mengatakan dan meminta izin apapun kepada Snow, Winter menarik pinggang ramping Snow. Menciumnya dalam, meskipun Snow menolak setiap sapuan lidah yang menyapa bibir. Tak peduli, Winter membawa tubuh Snow menuju sofa yang ada diruang tengah itu, lalu menghimpit tubuh kecil itu hingga nyaris tidak berkutik.


Snow mencoba mempertahankan ego. Ia menolak setiap sentuhan Winter akan tubuhnya, tapi ia kalah telak. Tenaga Winter lebih besar, dan Snow berakhir menyedihkan. Ia hanya mampu menangis tanpa suara, membiarkan Winter mengoyak setiap helai kain yang ia kenakan, dan membiarkan Winter kembali memasuki lubang senggama miliknya.


Setiap desakan kuat yang Winter ciptakan, Snow hanya bisa menahan suara menjijikkan yang bahkan ia sendiri tidak sudi untuk mendengarnya. Telapak tangannya mengepal kuat, ia tidak mampu menatap wajah sayu milik Winter yang selama beberapa hari ini ia damba. Semua terlanjur terjadi, dan Snow di paksa menerima keadaan yang menyakitkan itu, karena kesalahannya sendiri.


Dan pada satu titik puncak dimana Winter telah mereguk nikmat dunia yang ia dapatkan seorang diri, Snow melihatnya. Melihat Winter yang memejamkan mata dengan satu bulir air mata yang jatuh tepat di dada terbuka miliknya. Laki-laki itu juga tengah memendam sesuatu, tapi Snow tidak mau tau atau bahkan bertanya.


Winter menarik diri, lalu duduk tertunduk diatas kain bludru dengan tubuh telanjang, kedua lengannya ia tumpu diatas lutut yang di tekuk keatas. Menyelami perasaan sendiri, kemudian menyesal. Menyesal karena sejak awal, tidak seharusnya semua ini terjadi.


“Apa yang ingin kamu katakan kepadaku saat ini, Snow?” tanyanya, dengan bahu naik-turun karena terengah.


Snow menyembunyikan diri dengan mengalihkan tatapan pada punggung kursi.

__ADS_1


“Apalagi?” tanya Snow kembali, dengan nafas tak kalah terengahnya dari Winter. “Mari berpisah.”


Winter terpaku. Perasaannya seolah menemukan ujung yang begitu mengerikan. Ia tidak pernah merasa dikecewakan seperti ini.


“Berpisah?”


Ia mengulangi pernyataan Snow dan mengubahnya menjadi sebuah pertanyaan untuk meyakinkan bahwa apa yang baru saja ia dengar, tidak salah karena pendengarannya yang saat ini sedang tidak bersahabat untuk mendengar kalimat semacam itu.


Udara yang mereka hirup seolah berubah menyesakkan. Snow harus membohongi perasaannya sendiri, dan Winter harus menerima kenyataan jika mereka memang sudah tidak akan bisa lagi bersama jika mereka tetap seperti ini.


“Beri aku satu kesempatan.”


Seketika, Snow menoleh, memperhatikan punggung lebar Winter yang sudah sedikit lebih tenang.


“Berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki semua ini. Memulai dari awal.”


Mendengar itu, ada buncahan rasa bahagia yang menyerang seluruh hati dan pikiran Snow. Namun lagi-lagi dia harus mereguk sakitnya sebuah kenyataan.


“Aku akan bicara dengan Amora pelan-pelan.”


Ternyata, masih wanita itu.


Bukankah ini sangat menyakitkan? Atau lebih tepat, bolehkah Snow egois kali ini? Ingin memiliki Winter sebagai suaminya seorang diri, apa itu terdengar egois?


Snow mencoba bangkit perlahan, kemudian membenahi pakaian ditubuhnya yang rusak, turun dari sofa dengan gerakan terbata. Lantas ia berdiri, dengan nada sayu dan serak sarat kecewa dia berkata,


“Beri aku alasan lain, selain wanita itu.”


Winter terpaku. Wajahnya datar menyorot kain bludru halus yang menjadi tempatnya duduk. Hatinya sedang berperang melawan sebuah perasaan, kenyataan dan juga sebuah keinginan.


Dengan satu tarikan nafas besar memenuhi rongga dada, Winter menoleh kepada Snow yang hampir meninggalkannya karena tak kunjung memberikan jawaban.


“Aku tidak yakin, tapi aku tidak juga bisa menyangkal,”

__ADS_1


Snow kembali diam, tidak melanjutkan langkah. Salivanya meluncur melewati tenggorokan begitu saja ketika ia menanti kelanjutan kalimat yang akan dikatakan oleh Winter. Snow tidak berharap banyak, akan tetapi, satu sudut hatinya menginginkan kalimat meyakinkan dari pihak Winter, yang akan menjadi alasan ia masih harus bertahan disini, ditempat dan situasi yang begitu menyesakkan dan menyiksa.


“Aku mencintaimu.”[]


__ADS_2