Wedding Maze

Wedding Maze
Short Story With Sunny Ep.10 [END]


__ADS_3

...Happy Reading All......


...•...


...•...


...Sunny Ep.10|In The End|...


Entah atas dorongan apa, Sunny datang lagi ketempat dimana dia bertemu dengan Ben beberapa hari lalu. Tidak mau memungkiri juga jika dia ingin mendengar penjelasan dan alasan Ben, yang sampai detik ini masih berusaha mendekatinya.


Mungkin memang hanya sebuah kesalah pahaman seperti yang dikatakan Ben tadi pagi. Sunny juga termakan cemburu dan emosi saat itu, jadi dia tidak sempat mendengar Ben mengatakan apapun Dan hari ini, dia ingin mendengarnya. Mendengar sebuah penjelasan dari Ben.


Pintu cafe bergemerincing. Sunny menoleh dan mendapati Ben yang masih mengenakan setelan kerjanya yang menambah pesona dan daya tarik laki-laki itu berkali-kali lipat. Puluhan pasang mata memperhatikan lekat si pria yang sedang berjalan memasuki cafe dan menyorot lurus ke arah satu titik, dimana mataharinya berada.


Berbeda dengan beberapa hari lalu ketika mereka saling sapa dengan wajah malu-malu, hari ini Ben justru memasang wajah gusar. Manik bulan sabitnya terlihat diselimuti kabut kegelisahan dan juga, khawatir.


“Pesan minuman dulu Sun. Aku haus.”


Sunny hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Dia lantas memesan menu yang sama agar cepat, dan Ben juga sama, dia memesan menu yang beberapa hari lalu ia pesan.


Setelah pramusaji itu pergi menjauh dari mereka, Sunny dan Ben saling tatap. “Jadi, kamu salah faham dengan Juwi?”


Ah, jadi namanya Juwi?


“Sun, dia itu—”


“Ben, sebaiknya ini menjadi pertemuan terakhir kita. Setelah itu, kita jalan masing-masing.”


Ben tercenung. Kata-kata yang ia rangkai sejak dalam perjalanan menuju cafe, menguar begitu saja setelah mendengar Sunny berbicara seperti itu.


“Kenapa?”

__ADS_1


Sunny terkekeh masam. Ben benar-benar tidak tau diri, menurutnya.


“Ben, kamu sudah memiliki wanita mu. Apa kamu tidak sadar sudah menyakiti wanita itu? Oh my God, Ben.” lirih Sunny sembari menggeleng kepala, tidak habis pikir.


Bukannya melibas habis ucapan Sunny, Ben malah tertawa sembari menggebrak meja hingga menarik perhatian beberapa pengunjung.


Gila.


Ben berubah gila.


“Astaga, Sunny. Apa kamu sedang cemburu?” tanya Ben masih tertawa. Kini ia memegang perutnya yang sudah terasa kram akibat tertawa terlalu keras. “Kamu cemburu pada Juwita?”


Sunny mengerutkan kening. Kenapa Ben tertawa begitu?


“Astaga, Sunny, Sunny...” lanjut Ben kini berdiri dan membungkuk meraih kepala Sunny untuk ia usap. “Juwita itu saudara sepupuku. Dia yang aku mintai tolong membeli cincin untuk kita.”


Ups, Ben sadar sudah terlalu banyak bicara. Lantas ia berdehem, mengulum bibirnya yang mengering dan membenarkan letak jas hitamnya, lalu duduk rapi sembari melipat kedua lengan diatas meja, persis seperti murid taman kanak-kanak yang baru saja di tegur Bu guru.


Sedangkan Sunny, hatinya bagai disiram air surga yang menyejukkan. Perutnya bagai digelitiki bunga-bunga yang bermekaran, dan jantungnya berdebar tidak keruan.


Ben mengerjap. Ia salah tingkah dan bergerak tidak jelas.


“I-itu...”


“Kamu membeli cincin untuk kita?” ulang Sunny dengan wajah yang mulai dirambati rona merah.


Nasi sudah menjadi bubur. Ben menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal, lalu tersenyum kikuk sambil mengangguk. “I-iya. Aku membelinya untuk, kita.”


Sunny menunduk. Ia tersenyum sempit malu-malu, berusaha menyembunyikan kebahagiaan yang meluap dan meletup-letup didalam hatinya.


“Maaf tidak memberitahukan hal ini padamu. Aku hanya ingin membuat sebuah kejutan kecil untukmu, Sun.”

__ADS_1


Ben meraih telapak tangan Sunny, mengusapnya lembut lantas menggenggamnya kuat. “Aku... ingin membuat momen kecil yang berkesan.”


Sunny terpaku, dia menatap lekat wajah Ben yang kini mengarahkan telapak tangannya untuk mendarat di bibir merah muda nan tipis milik si pria idaman. Ben mengecup punggung tangan Sunny sedikit lama dengan mata terpejam. “Sunny, Aku mencintaimu.”


Ungkapan ini, menjadi bayaran lunas untuk penantian panjang Sunny. Air matanya sudah tak terbendung. Sunny menangis bahagia. Pada akhirnya, hubungan lebih dari sekedar teman ia dapatkan dari sosok Ben. Ia akan menjadi sosok yang berdiri dan menyandang status kekasih disisi Ben.


“Apa kamu juga mencintaiku?”


Tak butuh waktu lama, Sunny memberikan sebuah anggukan yang membuat Ben menyunggingkan senyuman lebar hingga manik sabit itu membentuk garis lurus yang sangat disukai Sunny, serta kepalan tangan yang ia gerakkan turun mengisyaratkan 'Assa, Yes'.


Lalu pada menit selanjutnya, Ben merogoh saku jasnya. Mengeluarkan kotak perhiasan bludru berwarna hitam berbentuk hati, membuka dan memperlihatkan sepasang cincin indah yang sempat membuat Sunny salah faham.


Sontak moment manis itu menjadi pusat perhatian, bahkan salah seorang mengabadikan itu didalam ponselnya. Sang pramusaji yang mengantar pesanan turut terhenti ketika melihat Ben berdiri dari kursi, lalu berlutut di depan Sunny.


“Sepuluh tahun, kita memendam dan menahan perasaan pada diri kita masing-masing. Sampai pada titik lelahku, aku memutuskan kembali untuk menemuimu, my Sunshine.”


Seluruh pengunjung terlihat terharu akan perjuangan keduanya memendam perasaan.


“Will you marry me, my Sunshine?”


Sunny tersenyum, mengusap airmatanya yang kembali jatuh, kemudian mengangguk tanpa berfikir panjang. “Yess.”


Jawaban itu mendapatkan tepuk tangan dan euforia yang begitu riuh. Mereka ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan dua sejoli yang kini saling menautkan cincin di jari manis pasangan. Lantas Ben memeluk erat dan mengecup puncak kepala Sunny.


“I promise, I'll always loving you, till of my life.”[]


...—The End—...


...______________...


Terima kasih sudah membaca Short story Sunny-Ben ya Reader sekalian. Semoga Kalian selalu dalam lindungan-Nya. Amiiin....

__ADS_1


Jangan lupa membaca dan memberi dukungan untuk cerita Vi's yang berjudul WHITE. Dijamin seru dan menarik.


...Thank you...💕...


__ADS_2