
Dunia seakan tidak adil bagi orang yang sedang jatuh cinta, akan tetapi cintanya tidak terbalas. Bagai dililit tali kekang dileher, mencekik dan menyakitkan, namun masih bisa merasakan kebahagiaan hanya ketika melihat kehadirannya didepan mata. Rasa sakit dan bahagia yang membaur, dan entah sisi apa yang menjadi dominan diantara kedua rasa tersebut. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Secuilpun tidak.
Snow masuk kedalam kamar pribadinya, menatap langit-langit dengan imajinasi yang menerawang jauh diangan-angan. Begitulah, anggap saja kehidupannya bersama Winter hanyalah angan semata, agar jika berpisah nanti, rasa sakitnya tidak mengekang dan menyiksa terlalu parah.
Pandangannya beralih pada pigura besar yang tergantung diatas kepala ranjang, menatapnya lekat dan disusul senyuman tulus dibibir sewarna Cherry yang timbul begitu saja.
“Aku yang tersenyum seorang diri disana.” gumam Snow, memperhatikan wajah dan gesturnya yang bahagia, juga tatapan datar Winter yang terlihat tegas, secara bergantian. “Hanya aku yang tersenyum dan kamu tidak.” lanjutnya bernada sumbang.
Seharian ini, ia menghabiskan waktu bersama Winter di beberapa tempat, tak lantas membuat hubungan mereka terlihat bergerak meskipun selangkah, tapi dak ada kemajuan. Ekspresi dan tingkah menyebalkan Winter kembali, sesaat setelah menerima panggilan telepon dari seseorang ketika perjalanan pulang.
Snow sempat mempertanyakan masalah apa yang sedang Winter hadapi, tapi pria itu memilih bungkam dengan rahang mengeras. Hingga sesampainya di pelataran rumah dan menurunkan Snow, Winter melajukan kembali Range Rover hitamnya meninggalkan rumah, tanpa sepatah katapun untuk memberi penjelasan kepada Snow.
“Sesuatu tengah terjadi, dan dia memilih bungkam.”
...***...
Dengan terburu-buru, Winter melewati lobby bangunan bertingkat yang ditempati Amora. Tiga puluh menit yang lalu, Amora menghubunginya dan memberitahu jika dia sedang sakit dan butuh Winter berada disisinya.
Langkah Winter berhenti di unit 409. Dia menatap sekilas pintu besi yang terkatup rapat didepan wajah. Sekelebat bayangan wajah Snow membayangi benak Winter. Paras yang begitu cantik itu tersenyum lepas saat bermain ombak di pantai bersamanya seharian.
Hati Winter sedikit goyah. Dengan ragu dia mengulurkan lengan untuk menekan tombol dan menekan digit angka secara berurutan. Ia sudah tau dan hafal password rumah Amora yang sejak menjalin hubungan tidak pernah diganti. Tanggal jadian mereka.
Bunyi beep terdengar, dan pintu besi itu terbuka otomatis. Harum khas seorang Amora menguar dari dalam ruangan tersebut, dan dengan gerakan cepat, Winter menarik tuas dan masuk kesana.
Amora menyambut kedatangan Winter dengan senyuman yang masih sama indahnya di mata pria itu. Lantas dengan perlahan ia bangkit dari sofa yang ia jadikan tempat merebahkan diri sejak siang.
“Kamu kenapa?” tanya Winter, tanpa di embel-embeli kata sayang diakhir kalimat.
Lagi-lagi, Amora tersenyum dan kini meraih telapak tangan Winter yang duduk ditepian sofa yang sama dengannya, lalu mengarahkan telapak tangan kekasihnya itu ke arah kening.
“Sejak siang, aku demam. Kamu kemana saja tidak bisa dihubungi?” tanya Amora, manja.
Ah benar. Sejak keluar dari restoran setelah sarapan dengan Snow tadi, Winter menonaktifkan ponsel. Tidak mau mendapat gangguan dari siapapun, apalagi yang berhubungan dengan pekerjaan.
__ADS_1
Sebenarnya, Winter tak dak menduga akan bertemu Amora seperti ini. Itulah sebabnya dia lebih memilih diam ketika mengantar Snow pulang. Dia ingin berada dirumah hari ini, menghabiskan waktu malam dirumah sambil menikmati makan malam buatan Snow, bukannya di apartemen Amora.
Tak langsung memberikan jawaban, Amora kini bergerak mendekat dan memeluk pinggang Winter perlahan.
“Apa kamu tidak merindukan aku?”
Winter gelagapan. Ia bingung dengan hati dan perasaannya sendiri.
“Tentu saja.” jawabnya singkat, kemudian mengusap rambut panjang berwarna pirang milik Amora. Ternyata, tidak selembut rambut hitam milik Snow.
Entah mengapa, pikirannya dibayangi Snow sejak menginjakkan kaki di sini. Semuanya seolah kacau, tidak seperti yang ia harapkan.
Amora menjauhkan diri, lalu mendongak demi mendapati wajah Winter dengan tatapan penuh telisik.
“Kamu tidak seperti biasanya. Apa ada sesuatu yang mengganggu?”
Winter menarik Amora kembali ke dalam pelukannya, mengusap punggung Amora penuh afeksi, lantas menanamkan sebuah kecupan ringan di puncak kepala Amora.
“Ayo ke dokter. Aku tidak ingin kamu sakit.” tutur Winter, mengalihkan topik. “Kalau sampai kamu sakit, aku jadi kesulitan di kantor.”
“Jadi, kamu ingin aku sembuh hanya karena tidak mau kerepotan di kantor? Bukan karena khawatir padaku?”
“Mora, I Love You ”
“Love You too.”
Jika tidak tau, Winter ingin meraba hatinya, memastikan perasaannya kepada Amora dan bertanya kepada dirinya sendiri, apa masih sama? Dulu, dia akan sangat berdebar saat mengatakan itu. Akan ada perasaan senang bukan main, bahkan hasrat untuk memiliki Amora seutuhnya akan muncul dengan menggebu ketika kalimat itu terucap. Tapi, mengapa sekarang itu tidak terjadi?
Mungkin, Winter bukan tipikal orang yang suka menduakan pasangan. Ia akan setia pada satu orang yang menyentuh hati dan akan tetap menjaga satu nama tersebut. Tapi sekarang? Mengapa tidak ada perasaan itu kepada Amora?
Mengapa aku tidak seperti biasanya? Tidak berdebar, dan tidak ingin memiliki Amora? Sial!!
Winter mengeratkan pelukan, mencoba kembali menyelami perannya untuk Amora. Ia tidak ingin Amora pergi dari hati bahkan hidupnya. Ia terus berusaha meyakinkan itu. Akan tetapi,
__ADS_1
“Mora, aku harus segera pulang.”
Sontak, Amora menjauhkan kepala, mendongak pada Winter untuk kesekian kali sebab, ia merasa Winter memang berubah. Ia tidak seperti Winter yang ia kenal.
“Kenapa?”
Butuh waktu tiga detik untuk Winter berfikir dan memberikan jawaban atas pertanyaan Amora.
“Aku meninggalkan iPad ku dirumah. Aku lupa membawanya karena buru-buru datang kesini setelah kamu menelepon.”
Di satu sisi, Amora sangat tau dan mengenal Winter nya, laki-laki itu tidak bisa meninggalkan gadget yang sangat penting dan hampir dibawa Winter kemanapun, ia jadi merasa sedikit bersalah. Tapi disisi lain, dia tidak tau apa yang ia rasakan ini benar atau salah. Winter berbeda hari ini.
Bohong. Itu semua bohong, dan Winter ingin sekali menampar mulutnya sendiri dan meminta maaf setelah mengakui kebohongannya itu. Selama ini, dia sama sekali tidak pernah berbohong atau menyembunyikan apapun dari Amora.
“Pekerjaanku banyak dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”
Amora melepas pelukannya. membawa tubuhnya menjauh.
“Pulanglah.” jawab Amora gusar, tidak ada raut tulus diwajah cantiknya yang sedikit pucat.
Gerakan Winter begitu ragu ketika menelusupkan telapak tangan dibalik tengkuk leher Amora, dan semua serasa gamang ketika bibir mereka bertemu. Hambar, tidak ada perasaan apapun yang muncul dalam benak Winter selain ingin tetap pulang. Kecupan pada bibir Amora yang penuh kini tidak lagi terasa semanis dulu. Winter akan mengutuk diri sendiri, jika semesta tidak mempersatukan mereka.
Ciuman itu terlepas, dan Winter mengusap sudut bibir Amora penuh perhatian.
“Maaf. Aku akan menginap disini lain kali. Aku akan mengantarmu ke dokter terlebih dahulu, setelah itu,” Winter menjeda ucapannya ketika manik Amora menatapnya sendu. “Setelah itu, aku, harus pulang.”
Tidak ada penolakan, Amora hanya mengangguk setuju sembari memberikan tepukan kecil pada lengan kanan Winter, lantas mengangguk dengan kedipan lambat.
“Tidak perlu ke dokter, aku sudah minum obat dan akan segera membaik. Pulanglah. Istrimu menunggumu dirumah.” []
...🍃...
...Penasaran kelanjutannya? tetap ikuti cerita Wedding Maze. Dan jangan lupa berikan jempolnya Ya...Karena apresiasi kalian adalah dukungan untuk Vi's tetap berkarya....
__ADS_1
...Thank's....
...Vi's...