Wedding Maze

Wedding Maze
WM-8 |SESUATU YANG DISEMBUNYIKAN DARIKU|


__ADS_3

Amora adalah sosok paling bisa diandalkan dalam berbagai hal, pekerjaan misalnya. Dia gadis yang disiplin dan juga profesional dengan tingkat tak terhingga, menurut Winter. Itulah sebabnya Winter masih sanggup bertahan sejauh apapun Amora meminta agar Winter tak membicarakan apapun tentang hubungan mereka, dulu. Apalagi tentang isu pernikahan yang jelas-jelas keduanya masih belum siap melanjutkan hubungan mereka ke arah serius tersebut.


“Investor dari perusahaan Tongue akan tiba sekitar satu jam lagi.” suara Amora menginterupsi, menarik perhatian Winter dari monitor komputer berisi data statistik pendapatan perusahaan.


“Ah, aku akan bersiap-siap.”


Amora meletakkan lembaran kertas diatas meja Winter, lalu memberikan arahan tentang hal yang akan dibahas didalam meeting penting hari ini. Setelah semua sudah tersampaikan, Amora mengambil langkah menjauh dan kembali diam. Dia bahkan bersikap lebih dingin dari hari ke hari, dan Winter merasa bersalah akan hal itu.


“Mora.” panggil Winter, sontak membuat Amora yang hendak melangkah kembali diam diatas heels hitam mengkilat dengan hak setinggi sepuluh sentimeter yang menopang tubuhnya. “Apa jadwalku setelah meeting berakhir?”


Amora kini membuka map lain berisi rentetan jadwal Winter untuk satu bulan kedepan.


“Tidak ada, anda bisa pulang cepat!”


“Apa kamu bersedia makan malam sebentar bersamaku?”



Musik classic, aroma floral dan Pinus yang berbaur dari pengharum ruangan, dan bangunan berdinding kaca tersebut selalu menjadi tempat favorit mereka berdua. Winter dan Amora. Keduanya selalu makan malam berdua di tempat ini, lebih tepatnya sebelum Winter memutuskan untuk menikahi Snow dan masih mencintai Amora.


“Aku akan memesan makanan kesukaanmu!” ucap Winter memecah keheningan. Tujuan utamanya bertemu dan mengajak Amora makan malam berdua itu untuk berbicara kembali atas ketidak nyamanan hubungan mereka berdua saat ini.


Amora mengangguk, dia tak menolak sebab ia juga butuh makan. Dan tempat ini menyediakan makanan yang sangat cocok dengan selera lidahnya.


Amora tau jika dia akan menjadi orang yang tak tau malu seperti yang di katakan teman-teman sekantor jika masih menempel pada Winter, tapi dia masih saja belum sanggup menolak ucapan Winter.


Setelah pramusaji pergi dengan pesanan yang dipilih Winter, pria tersebut kembali menatap wajah cantik Amora yang masih saja membuatnya berdebar.


“Aku ingin meminta maaf sekali lagi padamu.” tuturnya, mencoba meyakinkan Amora sekali lagi agar mau menerima permintaan maafnya.


Gadis itu diam. Dia tak mau lagi membahas perihal hubungan yang sudah ia anggap sebagai masa lalu itu.

__ADS_1


“Tolong jangan kembali menyudutkan aku, pak Presdir.”


Winter tak menyangka jika Amora masih menyuguhkan jawaban sama untuknya.


“Kalau kau ingin aku berhenti bersikap seperti orang bodoh begini,” Winter menjeda, dia hanya ingin Amora mengerti bagaimana perasaannya saat ini. ”—jangan bersikap dingin dan acuh padaku!”


Seketika Amora mematri pandangannya. Dia bahkan tak menduga jika permintaan Winter kali ini terdengar lebih menekan. Tubuh Amora menegang ketika punggung tangannya disapa oleh permukaan telapak tangan Winter. Bibirnya kelu, tak satupun kalimat penolakan bisa ia ungkapkan ketika Winter semakin menariknya dalam rengkuhan.


“Aku mohon.”


...***...


Terkadang,


Aku sangat takut. Waktu dimana aku membuka mata dan semuanya kembali tanpa siapapun, dan hanya menjadi bayangan dan kenangan dalam benak.


Aku takut,


Snow sibuk dengan letupan minyak yang dihasilkan oleh ikan tuna yang berada di dalam penggorengan. Bahkan beberapa kali kulit putih itu terkena percikan minyak panas yang menyiprat kesegala arah. Dia mencoba sebaik mungkin, menyuguhkan makanan yang layak dimakan ketika Winter pulang nanti.


Sesekali bola matanya melirik pada ponsel yang ia letakkan diatas meja makan itu dari sudut mata, menunggu balasan dari pesan yang ia kirim beberapa waktu lalu.


“Ck!! Kenapa dia tidak membalas pesanku?!” gumamnya kesal. Dia bahkan ingin membanting spatula yang ia pegang, saking kesalnya. Akan tetapi urung saat tau akan akibat yang pasti terjadi. Alhasil dia hanya mendengus kesal sembari kembali fokus merampungkan pekerjaan rumah, memasak untuk makan malamnya bersama sang suami.


Hingga belum lama Snow yang berkeingin menerima balasan pesan, dia mendengar seseorang menekan interkom rumah. Perasaannya berubah begitu bahagia, berdebar hingga tanpa sadar ia merapikan penampilannya yang sudah berantakan.


Proporsi tegap Winter muncul dari balik pintu utama. Snow dapat mendengar langkah sepatu Winter mengetuk lantai dengan ritme teratur, hingga sosok Winter sudah berada didepan lemari pendingin dan mengambil satu botol air dingin dan menenggaknya.


Tidak ada percakapan, selain manik Winter yang memperhatikan Snow dari balik kaca botol yang masih ia genggam.


“Aku membuat makan malam untuk kita.” ucap Snow penuh semangat. Bahkan kini dia sudah meraih penyaring untuk mengangkat ikan dari dalam minyak penggorengan.

__ADS_1


“Aku sudah makan diluar dengan teman.”


Mendengar itu, sontak jemari Snow tergantung diatas luapan minyak tanpa peduli letupan yang masih menjadi-jadi, tidak terasa sakit sedikitpun seperti sebelumnya. Entah mengapa hatinya tiba-tiba berdenyut sakit. Winter bahkan terlihat tidak merasa bersalah, apalagi berniat meminta maaf. Winter hanya meletakkan kembali botol minuman kedalam lemari pendingin, kemudian hendak beranjak pergi.


Ada sesuatu yang disembunyikan dariku.


“Kekasihmu?” terka Snow mengejutkan Winter yang sudah berbalik dan hampir melangkah pergi meninggalkan Snow begitu saja karena tanpa sengaja, Snow menghirup aroma lain yang menguar saat Winter muncul dan berdiri tak jauh darinya.


Winter diam tak memberikan jawaban, membuat Snow menerka sendiri jika tebakannya benar.


Apa aku harus menjadi gadis malang dan tidak diperhatikan oleh suami sendiri yang lebih memilih kekasihnya?


“Benar?” tanya Snow sekali lagi, memastikan, dengan senyuman miris menahan perasaan kecewa yang sudah memenuhi rongga dada.


Winter memutar tubuh, menautkan manik pada sosok Snow yang masih membeku disisi pantry dapur. Ada sedikit rasa bersalah yang timbul, namun cepat-cepat ia alihkan dengan memantapkan diri bahwa apa yang ia lakukan tidaklah salah. Ya, setidaknya Snow juga punya hak untuk tau tentang hal ini.


Tapi, pada menit lain saat Winter belum sempat mengatakan jawaban, Snow sudah terlebih dahulu beranjak meninggalkan Winter, melewati begitu saja tanpa sepatah katapun yang sanggup ia sampaikan, Snow benar-benar kehabisan kata-kata, kesabarannya sedang diuji saat ini. Namun Snow kembali menghentikan langkah dan berbalik sembari menatap Winter dengan ekspresi yang berbeda. Wajah cantik yang beberapa menit lalu terlihat penuh raut kecewa, kini berubah menjadi gadis yang terlihat 'baik-baik saja' dihadapan sang suami.


Snow memutar pematik kompor listrik menunjuk pada kata Off.


“Tidak apa-apa.” lanjutnya, sengaja dijeda untuk merangkai kalimat selanjutnya yang akan ia utarakan kepada Winter. “Masih ada hari lainnya untuk kita bisa makan malam bersama. Mandilah dulu, kak. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu, lalu beristirahatlah. Aku tau kakak pasti lelah.”


Snow pergi, meninggalkan dapur dengan semua kekacauan yang ia sebabkan karena ini pertama kalinya dia memasak.


Winter tak bisa berbuat apapun, menatap kekacaun didapurnya, hingga manik rusa miliknya menangkap pemandangan luar biasa. Sejak kapan Ikan tuna memiliki warna hitam seperti itu?


Perlahan, sudut bibirnya tertarik keatas. Kepalanya menggeleng tidak percaya begitu bayangan tentang bagaimana Snow menggoreng ikan malang tersebut muncul didalam kepalanya.


Melipat kemejanya hingga sebatas siku, lalu meraih peralatan dapur yang kotor dan berantakan itu kedalam tempat mencuci piring, menyalakan kran air dan melanjutkan pekerjaan yang tidak seharunya ia lakukan. Dan diantara rasa lelah yang bergelayut dikedua bahu, Winter masih menyunggingkan senyuman ringan kala mengingat bagaimana Snow bisa menggoreng ikan sampai hampir terbakar seperti itu.


“Dia benar-benar istimewa.”[]

__ADS_1


__ADS_2