
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan Wedding Maze kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
Kris mendorong handle pintu rumah sakit, berjalan mendekat kearah Snow yang terlihat lemah tidak berdaya. Lantas ia menyuguhkan sebuah senyuman yang sudah lama tidak ia tunjukkan kepada seorang wanita.
Ketika langkahnya telah sampai di sisi ranjang Snow, Kris sekali lagi tersenyum. Kali ini lebih lebar. “Bagaimana perasaanmu, Snow? Sudah mendingan?”
Snow mengangguk lemah dengan senyuman di bibir pucatnya. Matanya yang masih bengkak memang tidak bisa ia sembunyikan, namun sakit hati dan raga yang sedang menderanya, ia sembunyikan rapat-rapat agar orang lain tidak melihat seberapa menyedihkan dirinya. Snow memang ahli dalam hal itu.
“Suamimu bilang jika dirimu ingin bertemu denganku. Ada apa? Apa ada yang ingin kamu bicarakan?”
Snow menatap langit-langit ruangan ICU yang dingin itu. Ia masih perlu dirawat beberapa jam lagi di ruangan ini.
“Eummm. Aku juga tidak ingin melihat dia, jadi aku usir saja sekalian.” jawab Snow, suaranya masih lemah namun ia memaksa bibirnya untuk tertawa. “Kamu pasti sedang menertawakan aku dalam hati sekarang.”
Kristenn menyatukan alis tebalnya. Ia tidak tahu sama sekali apa maksud ucapan Snow kali ini. “Maksudnya?”
“Hah...” desa*h Snow pada akhirnya. Semua yang ada pada tubuhnya merasa lelah, termasuk hati dan otaknya yang terluka sangat parah. “Lupakan.”
“Suamimu berkata aneh padaku.” ucap Kris tiba-tiba. Dia juga tidak bermaksud membuat Snow terkejut, apalagi sampai menitihkan airmata. Ia hanya ingin mencari kebenaran tentang apa yang dikatakan laki-laki yang menikahi Snow itu. Dia hanya ingin memastikan jika Snow tidak kenapa-kenapa. “Dia bilang, jika kalian akan berpisah. Apa itu benar?”
Fu*cking Winter.
Mengapa dia harus memberitahu Kris tentang hal itu?
Mendengar pertanyaan yang memang berpotensi menjadi kenyataan pahit dalam hidupnya, Snow memejam, menggigit bibir bawahnya menahan sesak yang tadi sudah hampir menghilang.
“Dia mengatakan itu kepadamu?”
“Ya. Dia bahkan memintaku untuk—”
Jika dulu Snow adalah gadis yang begitu bahagia dan tidak peduli terhadap masalah yang menimpa diri sendiri. Sekarang, Snow nyatanya berubah menjadi sosok dewasa yang peduli pada setiap detail rasa sakit yang hadir pada benaknya. Ia merasa harus mengobati, mungkin paling tidak menepis rasa itu, atau dia akan terjerembab seorang diri dalam lubang pesakitan yang sulit menghilang.
“Kamu tidak perlu mendengar apa yang dia katakan.”
__ADS_1
“Tapi aku peduli, Snow.”
Snow tertawa getir. Dia mengusap perut ratanya yang kini kembali kosong. “Aku sempat bahagia dan percaya dia akan berubah menyayangi kami. Tapi dia tetap egois. Itulah alasan mengapa aku tidak bisa mempertahankan semua ini.” kata Snow tidak mau semakin lama menutup-nutupi keinginannya berpisah dengan Winter. Hari ini, besok, atau pun lusa, berita ini akan diketahui oleh orang lain. “Kami akan berpisah setelah aku sembuh.”
...***...
Ini adalah hari kedua dia dirawat di rumah sakit. Dan selama itu pula Winter tidak bersamanya. Dokter Anne selalu menanyakan keberadaan Winter, tapi Snow selalu berhasil membuat alasan yang bisa diterima oleh dokter yang menanganinya itu.
Tadi, sebelum Snow mengemasi barang-barang yang ia pergunakan selama dua hari bermalam di rumah sakit, Snow bertanya kepada bagian administrasi untuk melakukan pelunasan biaya rawat inap dan tindakan di ICU. Tapi dia harus sekali lagi menerima kebaikan Winter, karena laki-laki itu sudah melunasi semua biaya penanganan dan rawat inap Snow.
Perawat di bagian resepsionis juga memberikan sebuah kotak kecil kepada Snow. Katanya itu pemberian dari Winter. Snow belum sempat membukanya karena harus bersiap-siap sebelum Kris datang dan mengantarnya pulang kerumah orang tuanya.
Snow terkejut ketika pintu kamar VVIP nya tiba-tiba diketuk sebanyak tiga kali, setelahnya pintu terbuka. Ia menduga Kris yang datang lebih cepat untuk menjemput dirinya. Tapi, Snow tercengang ketika sosok yang berjalan mendekat kearahnya bukanlah Kristenn, melainkan Winter.
Jam masih menunjuk angka empat sore. Biasanya, Winter tidak akan menunjukkan batang hidungnya di jam sekarang. Tapi mengapa dia berada disini? Masih dengan kemeja, dasi, dan celana kerja yang membalut tubuhnya dengan apik.
Pikiran Snow tentang kehadiran Winter membuatnya luput akan sesuatu yang berada dalam genggaman telapak tangan Winter. Sebuah stop map berwarna biru tua.
Dan kini, Winter berdiri tidak jauh dari Snow yang sedang mematung karena masih diliputi rasa kejut. Maniknya tak bergeser sedikitpun dari fitur wajah Winter yang sangat ia rindukan. Ah, ya. Dua hari tidak bertemu dan bicara dengan laki-laki ini, nyatanya mampu memupuk rasa rindu yang terlalu berkecamuk dalam hatinya yang remuk.
“Aku dengar kamu sudah boleh pulang, jadi aku datang ke sini.”
“Ah, ini. Aku, sudah mengurus permintaanmu.”
Nyatanya, tidak semudah yang Snow bayangkan. Mendengar Winter menyanggupi permintaannya berpisah beberapa hari lalu bagai dihantam gada tepat didada. Begitu sakit dan ngilu. Namun Snow tetap berusaha terlihat tegar. Sekali lagi ia mengangguk, menerima uluran dari Winter.
“Terima kasih.”
Sudah? Hanya begitu kan?
Ada sesuatu yang membuat Snow merasa tidak nyaman. Ia merasa sesak, dan juga...kosong.
Kali ini Winter yang mengangguk, lalu menggaruk pelipis yang tidak gatal dengan wajah kikuk, canggung bukan main.
“Aku sudah menandatangani surat itu. Sekarang aku serahkan kepadamu, Snow. Jika kamu ingin sidangnya segera di proses, segera tanda tangani surat itu, dan hubungi aku. Aku akan mengambil dirumahmu.” terang Winter panjang lebar agar tidak terjadi kesalah pahaman yang lebih jauh.
“Terima kasih.”
Bodoh. Mengapa kalimat itu terus yang meluncur dari pita suaranya. Snow merutuki kebodohannya sendiri, lalu meletakkan stopmap itu diatas ranjang dan melanjutkan melipat pakaian.
__ADS_1
“Aku akan mengantarmu pulang.”
Jujur, Snow tidak siap dengan hal itu. Orang tuanya akan menjejalinya dengan berlusin-lusin pertanyaan yang pasti akan sulit ia jawab. Telapak tangan Snow terhenti, dia menatap kosong pada lipatan baju, tatapan datar dan kosong. Bibirnya seperti tidak diizinkan untuk menggumamkan bahkan satu kata. Lidahnya kelu, dan kerongkongannya seperti gurun pasir yang kering karena menahan tangis.
“Tidak perlu. Kris akan menjemput dan mengantar aku pulang.”
Winter merogoh saku kerjanya dan mengeluarkan ponsel. “Berapa nomor ponselnya. Biar aku yang menghubungi dan memberitahu dia untuk tidak—”
“Stop. Berhenti bersikap peduli padaku.”
Winter terdiam. Telapak tangannya tiba-tiba terhenti ketika akan membuka kunci layar ponsel, dan membawa tatapannya kembali pada wajah Snow yang kini sudah banjir air mata.
“Berhenti memperhatikan aku atau hal-hal yang berhubungan denganku. Kamu membuatku semakin—”
“Aku hanya ingin mengatakan beberapa hal kepada orang tuamu. Dan juga...aku ingin menyerahkan mu kembali secara baik-baik kepada mereka.”
Airmata Snow jatuh semakin deras. Ini nyata. Dan dia sedang tidak baik-baik saja. Berpisah dengan Winter sangat menyakitkan.
“Aku mohon jangan menolak. Aku janji, tidak akan mengusikmu setelah ini.”
Ya Tuhan. Apa Snow bisa menarik kata-kata dan permintaannya berpisah dari Winter? Dadanya sakit sekali menerima kenyataan didepan mata. Pernikahan mereka hanya singkat. Mereka memutuskan untuk menyudahi di hari ke empat belas.
Snow menegakkan punggung, mengusap airmatanya kasar, lalu mengangkat pandangan agar dapat melihat wajah Winter untuk terakhir kali sebelum mereka resmi berpisah.
“Okey. Mari kita bicarakan ini dengan kedua orang tua kita. Apa papa dan mama mu sudah tau tentang rencana kita?”
Ya. Winter sudah memberitahukan semuanya. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban.
Snow tersenyum, lalu mengulurkan tangan masih dengan airmata yang menganak sungai, dan Winter menyambut dengan rengkuhan kuat yang mampu menyembunyikan telapak kecil Snow dalam genggamannya.
“Semoga kamu bisa kembali menjalani hari-hari mu yang menyenangkan setelah kita resmi berpisah nanti. Dan aku harap hubungan kalian menjadi semakin kuat.”
Winter tersenyum masam. Tidak adakah harapan untuk ia bisa kembali dan memperbaiki hubungan mereka?
“Jangan sungkan untuk menyapaku jika tanpa diduga kita bertemu.”
Manik Winter berkabut. Tidak ada harapan lagi. Snow tidak menginginkannya.
“Mari berteman.” []
__ADS_1
...To be continued....