Wedding Maze

Wedding Maze
WM-7 |DAY MINUS TWO-29|


__ADS_3

“Ya Tuhan?”


Pekik Snow dikejauhan, berlari tunggang langgang sembari menggeram kesal saat tau isi paketnya sudah dibuka oleh Winter. Box berisi beberapa buku itu sudah terburai, dan dihadapan Winter, sudah ada tiga buku bersegel yang telah koyak.


Snow merebut buku miliknya dari tangan Winter, menyatukannya dengan buku-buku lain dengan wajah kesal sekali. “Kenapa kakak melakukan ini? Membuka apa yang bukan milik kakak.”


“Aku bosan, kamu terlalu lama. Dan aku juga penasaran dengan apa yang kau beli hari ini dengan uangku!”


Snow memutar malas bola matanya, tersenyum diujung bibir dengan tajam yang bahkan tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun sebelumnya. Dan sikap inilah yang akan ditunjukkan oleh Snow jika tidak menyukai sesuatu.


“Meskipun begitu, semuanya perlu persetujuanku. Semuanya ini milikku.” tegasnya memberi peringatan Ia kesal sekali sebab Winter memang benar-benar menyebalkan. “Dan perlu kakak tau, aku membeli semuanya dengan uangku sendiri!”


Winter terkejut. Tanpa memutus pandangannya pada sosok Snow yang kini sedikit membungkuk guna membuka pintu rak baru yang sudah tertata rapi diantara dua tempat duduk didalam gazebo, Snow memasukkan buku-buku tersebut kedalamnya.


“Untuk apa kau memberi buku ini?”


Tangan Winter kembali meraih satu buku ditangannya, mengangkatnya setinggi bahu dan satu tangan lain yang bersembunyi dibalik saku celana Boogie abu-abu nya, tersenyum disudut bibir, bertujuan agar Snow dapat melihat judul buku yang sedang ia genggam dengan jelas. Buku Panduan Malam Pertama Untuk Pemula.


Dan ya, sontak wajah Snow memerah. Awalnya, Snow hendak menyembunyikan buku tersebut dan akan ia baca tanpa sepengetahuan Winter. Tapi semuanya sudah terlanjur menjadi bubur, Winter sudah melihatnya. Snow tertangkap basah.


“Ha-hanya iseng...” jawabnya asal tanpa berani sedikitpun menatap jelaga Winter yang sudah menunggu penjelasan darinya.


“Iseng?” tanya Winter yang tau-tau sudah berada didekat Snow, hanya berjarak sejengkal tangan.


“Lalu kakak berpikir apa lagi? Aku benar-benar hanya iseng membelinya! T-tidak ada maksud lain!” Sulut Snow menggebu menahan malu ketika Winter semakin mencondongkan tubuh hingga wajah mereka bertatapan dan manik mereka bertemu.


“Kupikir kau benar-benar ingin melewati malam itu denganku?”

__ADS_1


Mendadak, isi kepala Snow rancu. Dua sisi dirinya meronta saling bertumbuk didalam dada. Jelas-jelas pria tersebut tau jawabannya. Siapa yang tidak tergiur dengan wajah tampan, serta bentuk tubuh liat nan atletis sempurna yang dimiliki seorang Winter. Pasti wanita manapun yang melihatnya akan dibuat gila.


Namun logika Snow menolak lantaran satu sisi dalam dirinya tak menerima. Dia berusaha untuk tak menunjukkan ketertarikannya secara berlebihan untuk Winter, dia tidak ingin laki-laki itu terlalu besar kepala.


“Tentu saja bukan hanya denganmu.”


Winter mendadak beku. Tatapan menggoda yang sebelumnya ia tunjukkan mendadak sirna dan berubah dingin.


“Apa maksudmu?!” tukasnya tajam. Ia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Snow.


“L-lupakan!” sahut Snow cepat. “Aku membelinya hanya untuk bahan bacaan saat suntuk. Jadi kakak tidak perlu mencemaskan hal buruk apapun dariku!”


Snow menjauhkan diri, meraih buku tersebut dari Winter, lalu beranjak dari tempatnya berdiri. Akan tetapi, tubuhnya terhenyak kala telapak besar Winter menahannya.


“Mulai malam ini, aku harus berhati-hati padamu. Bisa saja kau tiba-tiba melakukan hal-hal yang tidak pantas padaku.”


Snow menarik pergelangan tangannya yang sedikit kebas, lalu menghela nafas samar sebelum berbalik kepada Winter dengan sebongkah senyuman cerah bak matahari pagi yang terbit dibibir ranumnya.


“Aku tau batasan, dan kakak tidak perlu khawatir akan hal itu. Aku tidak akan menyentuh kakak sedikitpun meskipun kakak adalah suamiku!”


...***...


Temaram dari pijar lampu tidur menemani kedua insan yang sedang meneguk pahit. Ah, lebih tepatnya hanya Snow yang merasakannya.


Jam waker menunjuk angka sebelas malam, namun matanya belum juga mau memejam. Ia masih sibuk dengan ucapan Winter tadi sore, saat mereka berdebat tentang buku yang menjadi pemicu pembicaraan sengit yang mampu menguatkan ego diantara keduanya tumbuh.


Hari ini berlalu begitu saja, dan masih belum terlihat sedikitpun perkembangan akan hubungan mereka. Snow merasa dirinya belum bergerak sedikitpun dari tempat awalnya berpijak saat memulai hubungan terikat dengan Winter. Laki-laki itu terlampau menutup diri dan sulit untuk dikenali lebih jauh. Winter tidak mudah didekati.

__ADS_1


Setelah makan malam tadi, Snow sempat menerima telepon dari ibu Winter, jika besok beliau akan berkunjung untuk melihat keadaan keduanya.


Snow meremat jamarinya dibalik selimut. Satu ke khawatiran muncul dan mencuat begitu saja dari dalam kepalanya. Ia takut jika sang ibu mertua akan bertanya tentang malam pertamanya dengan putra kesayangan keluarga mereka, dan satu hal lain yang begitu mengusik ketenangan Snow. Bagaimana jika mereka menuntut keturunan darinya? Sedangkan dirinya sekalipun tidak tersentuh oleh Winter.


Snow membalik badan, menatap punggung lebar Winter yang membelakanginya. Menggigit bibir bawahnya sedikit keras, lalu mendengus sebab tak bisa berbuat apapun. Pria itu sama sekali tidak menginginkannya.


“Tidur.”


Snow terlonjak saat mendengar suara Winter menginterupsi. Jantungnya bertalu cepat kala Winter turut berbalik, dan mereka saling berhadapan dengan guling berukuran lumayan besar menjadi pembatas wilayah mereka.


“Kau membuatku tidak bisa tidur karena terlalu banyak bergerak. Apa kau lupa jika aku harus bekerja besok?”


Snow hanya mengerjap dengan bibir ternganga tak percaya. Winter juga belum tidur? Snow merasa bersalah sudah membuat Winter tidak bisa terpejam.


“M-maaf. Aku akan tidur dan tidak bergerak mulai sekarang.”


Ingin sekali tertawa saat mendengar pilihan kata yang digunakan Snow, tapi Winter menahannya kuat-kuat.


“Seharusnya kau lakukan itu sejak tadi.” justru kalimat sarkas itu yang muncul. Winter juga tidak bisa tidur. Bukan karena Snow, entah karena apa.


Mereka kembali saling memunggungi satu sama lain.


“Kak...” panggil Snow menginterupsi, namun Winter memilih tidak bergeming. “Hari ini akan berlalu. Itu artinya, tiga puluh hari untukku semakin berkurang. Bertahanlah dua puluh delapan hari kedepan jika memang kakak berniat mengakhiri semuanya.”


Winter masih saja bergeming, membuat Snow membalik tubuhnya dengan gerakan paling lembut yang belum pernah ia lakukan. Memandang punggung gagah dalam balutan piyama satin yang membelakangi dirinya tanpa suara. Ia bahkan berfikir jika Winter sudah kembali tertidur kali ini.


Snow kembali ke posisinya, mendecih sebal sekali,lalu menaikkan selimut hingga perbatasan leher dan kepala.

__ADS_1


“Setidaknya, jangan bersikap dingin kepadaku.”[]


__ADS_2