
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WEDDING MAZE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
Palu sudah di ketuk. Permintaan perceraian mereka terkabulkan. Namun siapa tau, mereka berdua sudah menyusun rencana baru. Rencana bahagia yang akan membuat hidup mereka sempurna bersama kehadiran calon buah hati mereka.
Sebulan setelah berpisah, Winter dan Snow memutuskan untuk kembali bersama. Mengikat janji sehidup semati untuk kedua kalinya. Setelah itu, Winter membawa Snow kembali pulang kerumah mereka. Katakan saja rumah mereka, sebab saat ini, Winter memilih Snow untuk menjadi satu-satunya wanita yang akan menemani hidupnya.
Amora? Wanita itu sudah melepaskan Winter setelah pertemuannya dengan Snow saat itu. Amora memilih mundur karena tidak ingin melukai Winter yang masih ia cintai. Amora tidak ingin melihat orang yang ia cintai terluka karena dirinya. Dan untuk Snow, Amora juga melihat ketulusan di kedua mata wanita itu. Kedua alasan tersebut yang mendasari Amora memilih mundur.
“Aku sudah menyiapkan beberapa buah di nakas kamar. Kamu bisa memakan itu sambil santai ketika aku sedang bekerja.” ucap Winter sambil menarik koper Snow dan mengangkatnya pada sebuah kursi kecil, meletakkannya disana, membuka dan merapikan pakaian Snow di walk on closed kamarnya.
Selama ini, Snow dan Winter tidur di kamar yang berbeda. Tapi mulai hari ini, Snow akan menempati kamar Winter. Mereka akan tidur di satu ruangan yang sama.
“Kenapa tidak ambil cuti lebih lama? Anak kita masih ingin bersama papa nya lebih lama.” rengek Snow, menarik perhatian Winter untuk meninggalkan lemari yang menyerupai toko pakaian itu, dan mendekat pada Snow yang sedang duduk bersandar diatas ranjang.
Memang, dokter melarang Snow melakukan hal-hal berat. Karena, disamping rahimnya belum terlalu kuat untuk ditempati kembali oleh kehidupan baru, Snow juga memiliki potensi kandungan lemah. Untuk itulah, dokter melarang Snow melakukan pekerjaan, atau hal-hal yang memberatkan fisik maupun psikisnya.
Winter duduk di samping Snow,menarik kepala Snow untuk merebah didadanya. “Aku akan pulang tepat waktu. Tidak akan kemana-mana, hanya bekerja setelah itu pulang.”
Snow tersenyum Winter benar-benar berubah dan jauh lebih menyayanginya.
“Bapak pejabat bisa memakai dan memarahiku jika perusahaanku tidak bekerja dengan baik.”
Snow mengusap dada Winter, membuat pola melingkar disana, lantas menepuk pelan sebanyak dua kali. “Iya. Aku tau. Tapi, janji, setelah selesai bekerja, langsung pulang.”
Sebuah kecupan mendarat di kening Snow. “Iya, sayang.”
...***...
Winter datang kelapangan untuk meninjau dan melakukan pengecekan pekerjaan oleh kontraktor andalan perusahaan miliknya yang ia tugaskan untuk mengerjakan proyek besar ini. Ia ingin memastikan tidak ada kesalahan dalam pembangunan gedung pemerintahan yang akan dinilai dan dipergunakan langsung oleh bapak pejabat pemerintahan.
“Bapak ada pertemuan dengan klien dari Human grup setelah ini.” ucap Amora memberitahu jadwal Winter untuk hari ini.
Sejak kembali hidup bersama, dan Snow mengandung calon penerusnya, rezeki seolah tak pernah putus. Pekerjaan Winter selalu sukses, selesai tepat waktu dan kliennya puas dengan perusahaan milik Winter. Kemudian, datang proyek lain, dan proyek lain yang tak pernah berhenti untuk ia kerjakan.
Winter pun lebih bersemangat ketika bangun pagi dan menjalani hari meskipun pekerjaan menumpuk, kemudian semangat lainnya lebih menggebu kala ia membayangkan Snow menyambutnya ketika sampai di rumah dengan sebuah senyuman hangat dan selalu ia sukai dan juga rindukan.
“Sampai pukul berapa?”
“Empat sore.”
Winter mengangguk. Tak masalah, lembur satu jam tidak akan membuat Snow menunggunya terlalu lama. Ia bisa membeli makanan kesukaan ibu hamil itu, lantas menyuapinya penuh kasih.
__ADS_1
Ah, membayangkannya saja membuat Winter ingin cepat-cepat pulang.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan ia terima dari Snow.
Tolong belikan steak iga, dan jangan lupa aspargus nya. Kakak jadi pulang jam tiga sore 'kan?
Winter tersenyum, mengabaikan Amora yang masih berdiri disampingnya, Winter membalas pesan Snow.
Iya sayang. Nanti aku belikan.
Tapi maaf, aku harus bertemu klien dan baru bisa pulang pukul empat sore. Kamu tidak apa-apa kan?
Snow mengirim sebuah emoji yang membuat Winter tertawa lebar, dan menarik perhatian beberapa orang yang mendampinginya, termasuk Amora dan salah satu staff dari pemerintahan.
“Ah, maaf. Istriku mengirim pesan. Dia sedang hamil dan mengidam. Jadi aku meminta izin pulang telat kepadanya agar dia tidak menunggu kedatanganku.”
Semua orang ternganga. Tidak biasanya Winter seperti itu. Biasanya, dia hanya menatap dingin, lurus, bahkan tanpa ekspresi, dan sesekali marah-marah saat mengetahui pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi, melihat Winter yang seperti itu, membuat orang disekelilingnya bertanya-tanya. Apa Winter baik-baik saja?
...***...
Senyuman di bibir Winter tercetak begitu lebar ketika melihat Snow sedang menikmati kudapan khusus untuk ibu hamil didepan layar televisi diruang tengah. Dress hitam tanpa lengan, rambut di gulung asal dan sedikit berantakan, wajah cantik alami tanpa Make-up, selalu mematik rasa bangga dalam diri Winter karena memiliki wanita seperti Snow.
Meskipun keinginan disambut sepulang kerja yang ia harapkan pupus, setidaknya dia melihat Snow berada dirumahnya, dan bukan hanya sekedar mimpi. Semuanya adalah nyata.
Winter kembali melangkah. Ketukan pantofel pada lantai mampu menarik perhatian Snow, dan sontak wanita itu berdiri.
“Kakak sudah pulang?”
“Sudah makan?” tanya Winter tiba-tiba, membuat lengan Snow yang hendak merapikan rambutnya yang berantakan, jadi terhenti dan mengambang diudara.
Snow menggeleng. Ia memang sengaja menunggu Winter pulang agar bisa makan berdua bersama suaminya itu. “Menunggu kakak. Aku ambilkan nasi, ya? Kita makan berdua disini saja.”
Winter mengusap puncak kepala Snow, tersenyum tiada henti, kemudian mengangguk, membuat Snow berdiri dan bergerak cepat menuju kitchen island, mengambil nasi dari tempat penanak nasi, dua buah piring, dua sendok, serta satu botol air dari dalam lemari pendingin.
Ini adalah pertama kalinya Winter makan berdua bersama Snow dengan perasaan lega dan penuh cinta. Snow mampu memutar balik dunianya hingga Winter kini berubah menjadi seorang laki-laki penyabar, dan tentu saja penuh perhatian, tidak lagi kaku, dan mencintai Snow sepenuh hati.
“Papa akan bangga saat melihatku seperti ini.”
“Kenapa?”
Winter menyuapkan satu sendok besar nasi kedalam mulut Snow—padahal, Snow juga sudah menyiapkan nasi untuk dirinya sendiri. Kemudian menyuapkan nasi kedalam mulutnya sendiri.
“Karena kamu menepati janjimu ketika kita pertama kali bertemu untuk mengikuti perjodohan.”
Snow mengerutkan kening. Memangnya apa yang terjadi saat itu? Snow lupa.
“Janji?” tanya Snow karena otaknya tak kunjung menemukan jawaban.
__ADS_1
“Iya. Kamu pernah janji kepada papa, akan mengubahku menjadi sosok lain. Menjadi pria lembut dan memiliki banyak ekspresi.”
Ah, malunya...
Pipi Snow merah seperti tomat matang. Ia baru mengingatnya sekarang.
“Lalu?”
“Sepertinya, kamu berhasil.”
Snow menarik sudut bibirnya, mengulas sebuah senyuman manis yang sangat disukai Winter. lantas menelan makanan didalam mulut, dan mendekat kepada Winter. Mengecup bibir prianya sesaat, lantas mengusap satu sisi wajah pria tampan yang menjadi miliknya seutuhnya.
“Benarkah?”
“Eumm, kamu berhasil. Dan aku akan memberikan hadiah terbaik untukmu.”
Snow terbelalak ketika tiba-tiba tubuhnya berpindah keatas sofa. Winter berada tepat diatas tubuhnya, dan menatapnya penuh cinta.
“Apa yang akan kakak lakukan. Aku ingin—”
Suara Snow teredam oleh ciuman yang diberikan oleh Winter diatas bibirnya.
“Aku bilang aku akan memberimu hadiah. Setelah itu, ayo kita lanjutkan makan bersamanya.”
“Hadiah? Hadiah jenis apa ini?” kelakar Snow sambil menyunggingkan senyuman menggoda, mengalungkan kedua lengannya pada perpotongan leher Winter, melingkarkan kakinya di pinggang Winter, hingga membuat pria itu terpatik gairahnya.
“Hadiah terindah yang kamu suka dariku akhir-akhir ini.”
Sialan. Mengapa sejak hamil, Snow jadi selalu menginginkan Winter, tidak ingin berpisah, dan selalu ingin dimanja oleh prianya itu. Bahkan, Snow selalu menggunakan parfum yang sama milik Winter setelah mandi pagi, dengan tujuan agar dirinya merasa tenang dan bisa meredam keinginannya untuk selalu bersama Winter ketika suaminya itu sedang bekerja.
“Ku suka? Bukankah kakak juga selalu menginginkannya?”
Winter kalah telak. Dia menurunkan wajah dan mengecup mesra bibir Snow.
“Eum, selalu. Kamu adalah segalanya bagiku, Snow. Aku tidak bisa menghilangkan bayanganmu dimanapun aku berada. Aku ingin segera pulang untuk bertemu denganmu jika sedang berada diluar rumah, dan juga, aku ingin segera menyapa calon anak kita.” Ucapnya panjang lebar, lantas berakhir mengusap perut Snow yang masih rata.
“I Love You, Mr. Winter Bruddy.”
Winter melum*at singkat bibir Snow, lalu berkata. “I Love You too, Ms. Snow White Bruddy.” []
...—FIN—...
...🍃🍃🍃...
Jangan lupa juga untuk dukung dan mampir ke cerita baru Vi's yang berjudul WHITE. Dijamin seru dan menguras emosi.
Untuk perhatian serta dukungan yang readers berikan untuk Wedding Maze. Vi's ucapkan banyak terima kasih. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Dan jangan lupa untuk mengikuti keseruan Snow dan Winter setelah malaikat kecil mereka hadir ke dunia dalam Extra part ya...
See You.