Wedding Maze

Wedding Maze
WM-29|KHAWATIR|


__ADS_3

Ketika kalimat itu datang, semuanya akan menjadi semakin sulit. Dan jika sudah terjebak, tidak akan lagi ada jalan keluar yang mudah untuk dilalui.


Aku mencintaimu.


Satu kata yang kembali memenjara Snow, satu kata yang membuat Snow kembali terlihat bodoh, satu kata yang kembali membuat Snow seperti diterbangkan ke Awang, dan satu kata yang akan membuatnya kembali sakit.


Semalam, Snow hampir saja berbelok, melompat dengan tawa gembira, lalu berlari mendekap Winter dalam pelukan setelah mendengar pengakuan tersebut. Namun nyatanya keadaan tidaklah memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Lantas menuntut Snow untuk melangkah pergi dan menetralisir debat jantungnya sendirian dibalik pintu kamar yang sudah terkunci rapat, agar 'Si pembuat onar' hatinya itu tidak tau dengan keadaan menyedihkan yang Snow alami.


Hatinya seolah terbelenggu akan kata cinta yang ia dengar dari bibir Winter. Dan pagi ini, Snow terbangun dengan perut mual bukan main. Kepalanya pusing sampai-sampai rumah seperti sedang berputar, dan tentu saja suhu tubuhnya yang tinggi hingga membuat seluruh tubuh Snow bergetar.


Jam terus berganti, dan semua berlalu seperti kapas yang terhempas angin, kemudian terbawa dan mendarat entah dimana.


Snow berjalan menuju kamar mandi dengan langkah sedikit tertatih. Seingat Snow, semalam dia sempat menendang kaki meja saat hendak mengambil pakaian di lemari. Karena terlalu keras tendangan yang ia lakukan, satu jari kakinya seperti terkilir. Dan pagi ini, dia terlihat semakin menyedihkan. Demam, dan satu jari terkilir, sungguh sangat menyiksa.


Sesampainya di pintu kamar mandi, ia melihat bayangan dirinya sendiri di cermin. Bibirnya pucat, rambutnya berantakan, dan wajahnya lesu dengan kantung mata yang terlihat jelas.


“Benar-benar menyedihkan.” gumamnya, menunduk karena kepalanya semakin berdenyut. Ini tidak baik, dan ia harus segera meminta pertolongan, atau membuka kunci pintu kamarnya dan menemui Winter. Ya, tidak ada jalan lain selain meminta pertolongan laki-laki yang seharusnya tidak perlu ia ganggu lagi.


Langkah tertatihnya kembali ia ayunkan, bermaksud menuju pintu kamar. Namun nahas, dia jatuh tidak sadarkan diri sebelum mencapai pintu tersebut. Ia tersungkur diatas lantai dingin, tanpa tau Winter akan datang kepadanya atau tidak sama sekali sampai ia tersadar dengan sendirinya nanti. Mengenaskan.


...***...


Winter merapikan kemeja. Sekilas menatap dirinya sendiri di cermin, dan kembali terbayang akan kejadian semalam.

__ADS_1


Aku mencintaimu.


Bullshit. Omong kosong. Bagaimana dia bisa mengatakan itu kepada Snow. Gadis itu akan berharap lebih padanya, gadis itu akan kembali merasa dikhianati, dan gadis itu akan kembali berputar pada Maze ciptaannya.


Bicara tentang Snow. Winter jadi tidak sabar untuk segera keluar kamar dan melihat punggung kecil berbahu sempit itu berkutat didapur, membuatkannya sarapan seperti biasa. Setelah selesai dengan urusan kemeja, Winter bergegas menuju dapur.


Namun semuanya tidak seperti biasanya. Tidak ada Snow yang sibuk memasak disana, dapurnya kosong.


Winter sedikit panik dengan keadaan seperti ini. Takut jika Snow tiba-tiba menghilang dan pergi dari rumahnya. Bukan tentang bagaimana ia egois agar Snow tetap dibawah kendalinya, tapi perasaan takut itu berbeda. Ia sungguh takut jika Snow pergi tanpa izin darinya.


Dengan langkah lebar, Winter bergegas menuju kamar Snow yang masih terkatup rapat. Winter mengetuk beberapa kali disana, namun tidak ada jawaban. Terbesit pikiran, mungkin saja Snow masih belum bangun dari tidur lelapnya. Lalu, dia mencoba membuka pintu yang nyatanya terkunci dari dalam.


Akan tetapi, itu tidak mungkin. Winter selalu mendengar alarm berbunyi dari kamar Snow setiap pagi, dan hari ini pun demikian. Jika Snow hanya tidur, dia pasti akan segera terbangun dan membuka pintu karena tau Winter yang mengetuknya. Tapi mengapa kali ini Snow bahkan tidak keluar dari kamar?


“Snow. Kamu dengar aku 'kan?” panggilnya keras sambil kembali mengetuk daun pintu berornamen meliuk itu. “Snow, jawab. Jangan membuatku panik.” lanjutnya, kali ini rasa khawatir mulai menyerah sebagian otak Winter.


“Sial!!” umpatnya keras. Lalu kembali berlari menuju gudang. Ia sudah tidak lagi peduli akan penampilan yang tadi repot-repot ia rapikan didepan cermin. Persetan kantor, dia hanya ingin melihat Snow sekarang.


Di dalam gudang, ia mencari benda apapun yang bisa ia pergunakan untuk menghancurkan gagang pintu agar bisa dibuka. Atau mencongkel daun pintu agar tautan kunci itu terlepas dari tempatnya.


Winter panik dan takut. Ia tidak membayangkan jika Snow—


“Sial.” umpatnya sekali lagi ketika pikiran buruk tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Lantas, Winter bergegas kembali kedalam rumah sembari menenteng beberapa perkakas yang terbuat dari besi. Ia mengayunkan gancu kearah kenop pintu, memukulnya sekeras mungkin berharap slot kunci akan terbuka. Tapi nihil, tidak ada hasil. Kenop itu rusak, tapi masih terkunci.

__ADS_1


Umpatan yang kesekian meluncur dari bibir Winter tanpa diminta. Ia kesal sekali mengapa dia tidak bisa berfikir jernih, dan malah bertindak bodoh dengan merusak kenop pintu tersebut.


“Snow!” panggilannya sekali lagi, berharap Snow mendengar dan baik-baik saja didalam sana. “Snow!!” pekiknya tidak sabaran karena yang dipanggil tidak kunjung bersuara.


Otaknya yang semakin kacau, menggiring Winter untuk berlari mengitari rumah. Berniat mencongkel daun jendela kamar Snow. Dan berhasil.


Ia bergegas masuk. Dan maniknya terbelalak ketika mendapati Snow tergeletak dilantai yang tak jauh dari kamar mandi. Gadis itu pingsan, dan Winter segera mengangkat tubuh Snow untuk naik keatas ranjang.


Menyadari tubuh Snow yang terasa sangat panas, Winter berlari ke lemari untuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuat kompres demi menurunkan suhu panas di tubuh Snow.


“Ya Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi.” desahnya penuh sesal ketika menyadari Snow yang terlihat lemah tidak berdaya. Keringat membasahi kening diwajahnya yang panik bukan main.


Setelah menemukan pakaian Snow yang koyak karena ulahnya semalam, Winter segera merobek dan mengambil satu bagian untuk dijadikan kompres. Grey jatuh terduduk ditepian ranjang setelah berhasil membuat pertolongan pertama untuk Snow. Lalu merogoh saku untuk menghubungi salah satu dokter kenalan yang selalu ia mintai pertolongan disaat genting.


Winter yang masih terkejut akan kondisi ini, meremas sebagian Surai dan menggigit bibir. Dan ketika sosok diseberang sudah bersuara, Winter menyahut cepat tanpa membalas sapaan laki-laki itu. “Rob, datang ke rumahku. Aku butuh bantuanmu, sekarang.”[]


...🍃🍃🍃...


...Drama banget.😩...


...Tapi semoga suka. Ini adalah interaksi pertama Winter kepada Snow setelah menyatakan cinta....


...Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. Follow Akun ini, serta tambahkan cerita ke favorit....

__ADS_1


...See You Soon....


__ADS_2