Wedding Maze

Wedding Maze
WM-18 |DAY MINUS SEVEN- 24|


__ADS_3

Snow pernah diberi wejangan oleh ibunya sebelum menempuh jalan hidup baru yang akan ia lalui bersama Winter.


Hargai dia, dukung dia, karena dia adalah pondasi dari sebuah bangunan yang akan kalian tinggali bersama. Itu merupakan kewajiban seorang istri.


Itu artinya, Snow harus patuh pada setiap ucapan, perbuatan, dan juga keputusan yang di buat oleh Winter.


Rumah tangga. Ya, rumah tangga yang ia bangun bersama Winter saat ini adalah sesuatu yang harus ia jaga dengan baik. Ia harus setia pada satu nama, dan ia juga harus melakukan semua kewajibannya.


Tapi, kamu juga punya hak untuk bicara jika apa yang dilakukan suamimu itu salah. Tegur dia dengan alasan yang jelas. Bicara dengan attitude yang baik.


Mungkin, itu adalah kunci mengapa hidup kedua orang tuanya itu begitu harmonis hingga usia mereka sudah lewat setengah abad.


Haruskah? Haruskah Snow bersikap dengan attitude yang pernah disinggung sang mama? Meskipun Winter tidak pernah mau menunjukkan sedikitpun sikap yang baik kepadanya.


Snow kembali membenamkan wajah pada lipatan tangan yang bertumpu diatas lutut. Ia mencoba menenangkan diri dan mengatur ulang perasaannya yang sempat tidak keruan dan dipenuhi dengki.


Suami itu ibarat Nahkoda Snow. Dia harus pandai membawa kapalnya dengan baik melewati arus, dia harus cepat membuat keputusan disaat genting, dia juga harus bisa menyelamatkan seluruh awak kapal jika terjadi badai besar dan ganas yang tiba-tiba menerjang. Tugas seorang suami itu berat.


Lalu bagaimana jika nahkoda itu seperti sosok Winter?


Snow menepuk dadanya yang sesak beberapa kali. Lalu mengangkat wajah untuk melihat jam yang menggantung di dinding dengan manik sembabnya. Hampir tengah malam, dan Winter belum juga kembali setelah pergi dari pertengkaran mereka sore tadi.


Kemana dia pergi?


Ketika semua pertanyaan dan terkaan buruk menguasai pikiran Snow, ponsel diatas nakas itu tiba-tiba bergetar. Malas. Snow tidak sedang ingin berbicara dengan siapapun dan berakhir hanya mengamati display yang menyala. Sekelebat, ia mendapati nama Jessy disana.


Dengan gerakan lemah dan tidak bergairah, Snow meraih ponsel tersebut dan menarik keatas tombol hijau yang melompat-lompat kegirangan.


“Snow?”


“Eumm.”


“Apa aku mengganggu?”


Diam sejenak, Snow menimbang apa yang harus ia berikan sebagai jawaban. Sebenarnya, ia sama sekali tidak ingin diganggu saat ini.


“Tidak. Aku belum bisa tidur. Ada apa, Je?”


Untuk sesaat, Jessy diam diseberang. Dan setelah terdengar hembusan nafas panjang, temannya itu kembali bersuara.


“Aku tidak sengaja bertemu Willy tadi siang. Dan kami mengobrol sebentar.”


Snow tidak memberikan tanggapan. Ia hanya ingin menjadi pendengar yang baik.


“Dia terlihat baik-baik saja dan rasanya aku ingin mencekik lehernya. Oh, apa kamu tau dia sudah bebas dari penjara?”


Snow yang semula berniat mendengarkan saja, kini harus menjadi pembicara juga.


“Ya.”


“Apa?”

__ADS_1


“Aku sudah bertemu dengan dia beberapa hari yang lalu.” Snow menjeda, ia tersenyum masam mengingat pertemuan tanpa sengaja nya dengan Willy. “Dan seperti katamu, dia terlihat baik-baik saja.”


“Snow, apa kamu—”


“Tidak apa-apa, Je. Aku baik-baik saja kok. Willy juga terlihat sudah berbeda dari sebelumnya.”


Entah mengapa, semua kenangan bahagia yang pernah ia lalui bersama Willy, seolah dicungkil paksa dari kotak memori, dan tanpa diminta kembali terputar di kepala Snow. Sebuah kebahagiaan yang pernah ia dapatkan saat bersama orang yang ia sayangi.


“Dia ingin aku memintamu menemuinya.”


Detak jantung Snow seolah dipaksa berhenti untuk sesaat ketika mendengar hal itu.


“Dia terlihat tulus saat memintanya, Snow. Dan aku tidak bisa menolak ataupun memukul kepalanya karena sudah berani meminta hal itu.”


“Dan sekarang kamu menghubungi aku untuk meminta aku bertemu dengan Willy?”


Jessy diam diseberang. Ia tau jika hal yang sedang ia lakukan ini salah. Mempertemukan dua orang yang pernah terjebak cinta dan berakhir tragis, apalagi si wanita sekarang sudah menikah. Wah.. ini sangat salah, dan Jessy ingin sekali memukul kepalanya sendiri, kemudian meminta maaf dan berharap Snow untuk melupakan semuanya saja. Tapi,


“Katakan pada Willy, aku bersedia. Beritahu aku dimana kami harus bertemu. Aku juga memiliki beberapa hal yang ingin aku katakan padanya.”


...***...


Winter masih belum mau beranjak dari tempat beraroma pekat alkohol dan asap rokok yang ia datangi sejak malam masih baru saja menyentuh bumi. Ia bahkan dengan sengaja memesan beberapa mocktail untuk menemaninya dimeja bar. Ngomong-ngomong, ia memesan mocktail untuk menghindari kejadian yang tidak ia inginkan terjadi lagi. Winter benar-benar kacau, dan rumah tangganya? Entah.


“Pulang bodoh.” cerocos Brian, temannya malam ini.


Winter tidak menjawab dan kembali meraih gelas tinggi dengan isi yang sudah hampir tandas. Ia seperti orang bodoh yang sedang kehilangan arah, dan ia tidak tau sejak kapan dia jadi seperti ini. Dua hari lalu kah? Atau seminggu yang lalu?


“Apa maksudmu, Bri?” sahut Winter bernada malas dan sebuah senyuman getir.


“Kau tau maksudku, tapi pura-pura bodoh karena tidak mau mengakuinya.”


Winter terkekeh masam. Ia bahkan tidak tau apa yang ia lakukan disini sejak tadi. Harusnya dia dirumah dan makan malam, lalu beristirahat sambil mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang tadi tertunda karena dia pulang mendadak saat jam kerja masih belum berakhir.


“Kau menyukainya, 'kan? Itulah sebabnya kamu melarang dia pergi dari rumahmu.”


“Bukan begitu,” sanggah Winter mengoreksi. Ia benar-benar tidak mengenal dirinya sendiri saat ini. Bodoh, dan mendadak jadi pembual ulung? Wah, ini memang sama sekali bukan dirinya. Berikan dia tepuk tangan yang meriah atas aktingnya yang apik.


“Mana mungkin aku mencintai seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenali dalam waktu sesingkat itu. Kamu tau sendiri bagaimana perjalananku bersama Amora bukan? Dasar gila!”


Brian terkekeh jenaka hingga kedua bahunya bergerak naik-turun.


“Aku tau. Tapi kasusmu saat ini berbeda. Apa kamu sedang mabuk mocktail? Setauku minuman itu tidak membuat orang lain terlihat bodoh deh, Bro?!” kelakar Brian, mengundang satu pukulan Winter bersarang di lengan kirinya. “Oh Waw, sakit gila! Fu*ck!!”


Brian meringis kesakitan dan menarik minat Winter untuk kembali menepuk temannya yang berkata kurang ajar dan tanpa otak itu.


“Eits, tidak bisa!” canda Brian saat berhasil menangkis lengan Winter yang hendak kembali bersarang di tubuhnya. “Sudahlah. Kamu memang salah. Minta maaf dan akhiri pertengkaran kalian.”


Winter bergeming. Dia sibuk membuat pola melingkar dibibir gelas miliknya.


“Wanita itu butuh di sayang dan diperlakukan lembut, Brother. Mereka itu ibarat kaca dan sutra. Mudah hancur, tapi hati mereka akan tetap lembut setelah mendengar ucapan maaf dari orang yang mereka sayangi.”

__ADS_1


“Dia tidak menyayangiku, bodoh!”


“Setidaknya, kamu mencoba. Siapa sangka nanti Snow memaafkan dan mau menerimamu, dan percaya lagi.”


Melihat reaksi diam dari Winter, Brian tau laki-laki itu sedang memikirkan saran darinya.


“Argghh, aku tidak tau. Sejak kapan aku jadi penasehat seputar kehidupan rumah tangga orang begini. Aku ingin membuka praktek dan menerima jasa—”


“Nggak lucu!” sahut Winter cepat sambil meraih jas yang berada di pangkuannya dan turun dari kursi tinggi yang ia duduki beberapa jam kebelakang.


“Tapi aku punya keahlian baru sekarang, selain menjadi pengeruk kekaya—”


“Cukup. Kamu terlihat bodoh dengan meminum jus apel di bar.” cetus Winter menyudahi obrolan, karena setelah itu, ia meletakkan beberapa lembar uang diatas meja dan berjalan meninggalkan keramaian yang semakin sesak oleh aroma yang sangat ia benci.


Selama perjalanan pulang, Winter terus memikirkan ucapan Brian.


Wanita itu seperti kaca dan sutra.


Benarkah? Apa itu alasan mengapa Snow merasa benar-benar hancur setelah ia menyentuhnya dengan kondisi tidak sadarkan diri? Kemudian, bayangan wajah sendu dan terluka Snow kembali membayangi.


“Kenapa jadi dia? Kenapa bukan Amora?” ucapnya frustasi, sebab ia tidak bisa menjabarkan mengapa Amora sama sekali tidak muncul didalam benaknya saat ini.


“Si*Al!!” lanjut Winter sembari memukul kemudi mobil yang sudah membawanya memasuki kawasan tempat tinggal Elite yang akan mengakhiri tujuannya, yakni rumah.


“Okey. Kali ini saja. Hanya kali ini.” gumamnya, berusaha damai dengan batin dan isi kepala yang bertolak belakang.


Hingga roda mobil menyentuh pelataran rumah, Winter masih berusaha mengumpulkan alasan mengapa dirinya harus mengalah dan kembali kerumah. Ia benar-benar tidak menyukai situasi seperti ini, dan lagi-lagi, Snow lah penyebabnya.


“Aku akan benar-benar meninggalkan dirimu setelah perjanjian itu selesai, karena sudah berani membuatku seperti ini, Snow.” gumamnya saat menarik tuas rem tangan dan melepas seatbelt yang mengekang tubuhnya.


“Kau orang pertama yang membuatku terlihat lemah seperti ini.” lanjutnya, terlihat kesal dan frustasi. Dan benar, meskipun Amora berhasil menguasai sebagian diri Winter yang arogan, Snow lebih berhasil menguasai ego yang Winter pertahankan selama ini. Ego yang selalu menjadi tamengnya untuk terlihat kuat dan menguasai segalanya itu kini tersentuh, Snow berhasil mematahkan sedikit demi sedikit satu sisi terkuat dalam diri Winter. Itu, sangat menyebalkan menurut Winter.


“Dan kau akan menyesal, hingga memohon kepadaku untuk tidak mengusirmu dari sini, nanti, setelah semuanya berakhir.”


Mendadak, pergerakan Winter terhenti ketika melihat lampu ruang tamu yang masih menyala. Dia tidak sadar sejak sampai, dan baru tau ketika kakinya sudah beranjak meninggalkan Bentley hitam mengkilat yang ia tunggangi.


Hatinya bersorak gembira saat tau Snow menunggunya pulang. Entah mengapa ini menjadi satu poin yang sangat menyenangkan bagi Winter setelah pertengkaran hebatnya kemarin sore. Ya, kemarin sore, karena sekarang sudah lewat dari jam dua belas malam.


Winter kembali melajukan kaki dalam balutan Stefano Bemer Shoes itu dengan sedikit cepat, meraih gagang pintu setelah memutar kunci, lalu mendorongnya keras—sama keras dengan degup jantungnya saat ini.


Dan bingo, Snow duduk di salah satu sisi sofa ruang tamu. Wajah sembabnya terlihat jelas dibawah siraman lampu yang menjadi penerang diruangan tersebut. Kemudian sebuah senyuman miring tersungging dibibir Winter yang ia tujukan kepada Snow ketika manik mereka bertemu. Dan ketika bibir Winter hendak menguarkan kalimat sarkasnya, Snow terlebih dahulu bersuara.


“Aku menunggu kakak pulang.” tuturnya lembut sekali, dengan wajah yang masih menunjukkan guratan kecewa, juga sendu. “Jika kakak tidak berniat pulang, setidaknya kirim satu pesan agar aku tidak menunggu seperti ini.”


Oh God, mengapa ini menyenangkan?


“Maaf!” kalimat itu meluncur begitu saja tanpa Winter tau alasannya. Ah, katakan saja karena iba, atau menghargai pengorbanan Snow yang rela menunggunya pulang. Ya, anggap saja seperti itu.


Dan inilah untuk pertama kalinya, Winter meminta maaf kepada seseorang selain Amora, wanita yang dulu menjadi prioritas utama baginya. Dan sekarang? Mengapa Snow menjadi salah satu bagian prioritas tersebut?


“Maafkan aku, membuatmu menunggu.”[]

__ADS_1


__ADS_2