
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan Wedding Maze kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
Sepanjang jalan menuju rumah orang tua Snow, keduanya hanya saling diam. Suasana didalam mobil yang dikemudikan Winter itu benar-benar sunyi. Hari ini, Winter memilih Blue Mini Cooper kesayangannya. Dia juga ingin Snow berada sedikit lebih dekat dengannya untuk yang terakhir kali. Itulah alasan dirinya memilih mobil kecil ini.
“Mau dengar musik?”
Snow yang sejak awal hanya menatap kosong pada jalanan yang membentang luas dibalik kaca depan mobil, terkejut akan suara Winter yang tiba-tiba saja menawarkan musik sebagai pemecah sunyi diantara mereka. Snow menggeleng, tapi Winter tetap meraih monitor kecil yang ada pada dashboard mobil dan menyambungkan bluetooth dengan ponselnya. Lagu yang beberapa hari ini selalu Winter putar ketika sendirian. Yesterday—the Beatles.
Snow terdiam. Lagu itu seolah menjadi tamparan dan hal yang ingin disampaikan Winter untuknya. Dalam diam pula, Winter meresapi setiap lirik yang menyapa perungunya.
Disusul lagu selanjutnya yang kini, membuat denyut nyeri dalam hati Snow mengalirkan kabut airmata. Lagi-lagi Winter seolah sedang mengatakan itu kepadanya.
“Bi-bisa di matikan saja. Aku sedang tidak mood mendengarkan musik.” pinta Snow, agar Winter mengakhiri lantunan lagu Love of my life dari band era 80-an, Queen.
Winter menyanggupi permintaan Snow. Ia menekan stop, dan suasana kembali sunyi. Tidak ada percakapan atau basa-basi saling tegur. Suasana sudah benar-benar berubah.
Memandang pagar kayu berwarna coklat madu itu membuat jantung Snow berdebar kacau. Biasanya, dia akan sangat gembira ketika melihat rumah. Tapi tidak untuk detik ini. Seluruh keberanian pada dirinya ia pertaruhkan, bahkan dia juga sudah bersiap untuk menerima sebuah kebencian yang pasti akan di berikan oleh sang ayah atau sang ibu. Atau kedua-duanya. Snow siap menerima itu karena dia yang menginginkan pernikahan itu, dia juga yang meminta perpisahan ini terjadi.
“Aku tidak akan lama. Aku hanya akan bicara tentang tujuanku datang kemari.”
Ya. Snow tau Winter bukanlah sosok yang suka berbasa-basi. Tapi Snow berharap jauh dalam lubuk hatinya, agar Winter berada di rumah orang tuanya lebih lama agar dia selamat dari cercaan pertanyaan yang mungkin akan menyudutkan keberadaan Snow disana.
Berbeda dengan isi hatinya, Snow malah mengangguk menyanggupi perkataan Winter. “Ya. Terserah padamu. Tidak ada lagi yang perlu kita lakukan lebih dari mengatakan tujuan utama kita datang kesini.”
Winter mengangguk, memutar kemudi mobil dan membuka pintu mobil untuk menekan bel agar petugas keamanan yang menjaga rumah orang tua Snow, membuka gerbang untuk mereka.
Snow yang tidak bisa lagi menahan kegundahan dalam hatinya, memijat pelipis yang semakin lama, semakin berat. Belum lagi rasa nyeri diarea pribadi dan perutnya yang belum sepenuhnya hilang akibat keguguran, Snow kini menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Membuka sedikit bilah bibirnya agar oksigen masuk lebih banyak kedalam paru-paru dan membantunya tenang.
Hingga akhirnya ia melihat Winter berlari kembali ke arah mobil dan bersamaan dengan itu, pintu kayu itu bergeser otomatis.
Winter kembali menginjak pedal gas dan membawa mobil mini Cooper miliknya memasuki halaman luas rumah keluarga Scott. Sekilas, manik Snow dan Winter bertemu, dan Snow mendapati senyuman hangat di bibir Winter.
__ADS_1
“Aku akan menerima apapun yang dikatakan papamu nanti. Kamu cukup diam dan jangan bicara apapun. Mengerti?”
...***...
Winter dan Snow duduk di sofa ruang tamu. Tidak jauh dari tempat duduk mereka, ada dua koper Viber besar yang beberapa Minggu lalu di bawa Snow ketika meninggalkan rumah.
Tak lama kemudian, Papa dan mama Snow muncul dengan senyuman lebar yang perlahan surut saat melihat pemandangan yang tidak biasa. Scott bahkan menyatukan alisnya ketika melihat Snow yang cemas, dan dua koper Viber yang sangat ia ketahui itu milik siapa.
Scott duduk dan merotasikan bola matanya kearah Winter. Mencoba mencari tahu dengan bahasa tubuh, menuntut sebuah penjelasan masuk akal akan pemandangan ganjil didepan matanya.
Dan itu berhasil. Winter menegakkan punggung, menata aliran udara yang semakin sesak didalam dadanya, lantas memulai pembicaraan dengan sebuah sapaan hangat.
“Selamat sore, Papa.” katanya. Entah sejak kapan dia memanggil ayah Snow dengan sebutan papa. Apakah hari ini? Atau khusus untuk hari ini saja?
“Sebenarnya, ada apa ini? Mengapa kalian datang tanpa memberitahu terlebih dahulu. Dan untuk apa dua koper besar milik Snow itu dibawa kesini?” tanya Scott, tidak mau semakin lama menahan rasa ingin tau tentang yang sebenarnya terjadi.
Winter menoleh kepada Snow. Ia meremas lutut dengan kedua telapak tangan, lalu menghela nafas pelan. “Saya, ingin mengantar Snow kembali.”
Scott tidak paham. Alisnya semakin mengkerut.
“Aku baru saja mengalami keguguran, Pa. Dan aku ingin tinggal disini untuk beberapa waktu.”
“Apa? Keguguran?” tanya Scott terkejut, karena ia tidak mendengar kabar kehamilan Snow sama sekali. Dan sekarang tiba-tiba putrinya itu datang dan membawa kabar duka.
“Iya. Snow keguguran dua hari lalu. Dan dokter bilang agar Snow beristirahat sungguh-sungguh tanpa melakukan apapun. Kak Winter khawatir jika Snow akan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya ketika kak Winter bekerja. Untuk itu, Kak Winter menyarankan Snow untuk tinggal disini sementara waktu.” jelas Snow panjang lebar agar sang papa percaya akan alasan mereka datang.
Winter ternganga. Dia terlihat seperti orang linglung yang baru saja ditampar keras oleh sebuah kenyataan. Mengapa Snow berbohong? Mengapa Snow ingin menutupi perceraian mereka?
“Ah, jadi begitu.” sahut mama Snow, lega. Dia sudah menerka tentang hal buruk yang terjadi diantara anak dan menantunya itu. “Kalau begitu, kami akan merawat Snow dengan baik hingga dia pulih dan bisa kembali pulang kerumah nak Winter.”
Sebuah senyuman kaku Winter berikan. Skenario yang diciptakan Snow terlalu sulit untuk di atasi nanti pada akhirnya, dan malah akan menimbulkan masalah baru untuk mereka berdua nanti ketika dua orang itu mengetahui semua kebohongan mereka berdua.
“Sebenarnya—”
Snow meraih telapak tangan Winter, lalu meremasnya secara lembut hingga ngga membuat presensi itu menoleh begitu saja tanpa diminta. Ia menatap penuh harap agar Winter tidak mengatakan masalah perpisahan mereka, setidaknya untuk saat ini.
“Sebenarnya apa, nak Winter?”
__ADS_1
Winter merotasikan matanya kearah Marry, ibu Snow. “Se-sebenarnya i-itu yang hendak saya katakan kepada mama.”
Terpaksa, Winter mengikuti skenario Snow.
“Baiklah kalau begitu. Bibi, tolong bawa koper Snow kedalam kamarnya!” titah nyonya Marry pada salah satu pelayan yang bekerja dirumah mereka. Lantas mempersilahkan Snow dan Winter untuk beristirahat.
Sesampainya didalam kamar pribadi Snow yang baru sekali ini Winter masuki, Laki-laki itu menelisik seisi ruangan kamar Snow yang bernuansa pastel lembut dengan beberapa pajangan gambar digital yang terlihat sangat indah.
Ada sebuah ranjang besar dengan sprei berwarna putih tulang, dan selimut berwarna cream latte. Dua nakas disisi kanan dan kiri dihiasi lampu tidur, lalu tak jauh dari ranjang, ada sebuah meja rias kecil dan meja kerja lengkap dengan komputer berlayar lebar. Kemudian, disalah satu sisi lain, ada lemari pakaian yang terbuat dari kaca, dan sebuah kamar mandi.
“Apa kakak membutuhkan sesuatu? Aku bisa memintanya kepada bibi—”
“Tidak. Aku akan kembali setelah ini.”
Snow dihempaskan kembali oleh kenyataan hingga nyeri dadanya terasa begitu menyiksa. Ia tau, tidak seharusnya dia melakukan hal bodoh dengan membohongi kedua orang tuanya. Kini, dia bisa menangkap raut kecewa diwajah Winter.
“Ah, ya.” Snow menjeda ucapannya beberapa detik. Lantas kembali mengangkat wajah demi menatap presensi Winter yang mungkar n tidak akan sudi lagi menengok, atau menginjakkan kakinya dirumah ini. “Masalah ucapanku tadi, aku belum siap mengatakannya kepada papa dan mama. Jadi aku mohon, selama perceraian kita masih dalam tahap proses lebih jauh, rahasiakan ini semua dari kedua orang tuaku. Aku tidak ingin mereka kecewa padaku.”
Winter menggosok tengkuk lehernya, lalu mengangguk paham. “Ya. Aku tau. Memang sepatutunya kita merahasiakan ini sampai kita benar-benar berpisah. Aku harap mereka mau memaafkan kebohongan kita.”
Snow memekik tertahan dalam hati. Ia mendudukkan tubuhnya diatas ranjang hingga menimbulkan pantulan kecil. Matanya nanar ketika mendapati bayangan Winter yang tercetak diatas lantai kamar yang terasa begitu dingin. “Ya. Ketika perpisahan itu sudah terwujud, aku sendiri yang akan mengatakan kepada mereka. Dan kak Winter, tidak harus mengatakan dan menanggung akibat dari kebohongan yang sudah aku buat.”
Winter hanya diam mematung ketika mendengar penjelasan Snow.
“Aku tidak ingin nama kak Winter buruk didepan mata papa dan mama, jadi aku sendiri yang akan mengatakan hal itu.
Snow membuka tas, dan mengeluarkan stopmap yang tadi diberikan Winter untuknya. Suara ketukan sepatu dan lantai yang beradu terdengar jelas ketika Snow berjalan memutari ranjang menuju meja kerjanya untuk mengambil sesuatu.
Sekembalinya Snow, Winter semakin terkejut dan tidak bisa menerima dengan mudah semua kenyataan bahwa ia akan berpisah dengan Snow, dan itu adalah nyata.
Winter tidak memiliki harapan lagi ketika Snow membuka Stopmap, memeriksa isi surat perceraian itu dengan lamat, lantas membubuhkan tanda tangan diatas kertas bermaterai itu.
“Aku tidak akan mempersulit perpisahan ini, karena aku yang meminta.” Snow menutup kembali ballpoint, kemudian mengangkat wajah dan tersenyum kearah Winter. “Terima kasih sudah mau menerima ide konyol dan bodoh dariku.” lanjut Snow, menyodorkan Stopmap kepada Winter, lalu membuang muka dalam tundukan pilu
Winter tidak menyuguhkan senyuman seperti sebelumnya. Dia kini menatap lurus kearah Snow yang juga sedang menatap padanya. Tatapan yang biasanya terlihat begitu dingin, kini terasa begitu hangat. “Maafkan aku, sudah membuatmu mengambil keputusan seperti ini.” []
...To be continued....
__ADS_1