Wedding Maze

Wedding Maze
WM-17 |ISI HATI KITA|


__ADS_3

Kamu pikir kamu siapa huh?


Suara hati Winter terus menggaung dengan kalimat yang sama. Ia tidak suka jika seseorang harus bertindak diluar kendali darinya. Tidak boleh ada yang membantah dirinya, termasuk Snow White.


Winter berjalan cepat kearah Snow yang sudah mengemasi baju hampir memenuhi koper. Ia berjalan tidak sabaran dengan wajah penuh Angkara karena tidak bisa mengerti mengapa Snow marah karena ia tanpa sengaja menyentuhnya karena sedikit, yeah, katakan saja khilaf. Toh mereka pasangan menikah.


Snow terbelalak ketika Winter meraih isi koper dan melemparnya kembali kedalam lemari pakaian. Ia bahkan membeku ditempat melihat ekspresi wajah Winter yang begitu menakutkan.


Ini sangat menyebalkan. Tapi Snow tidak bisa berbuat lebih jauh, hingga batas kesabarannya diuji total. Wajahnya pias. Snow sudah menahan mati-matian kemarahan ia pendam sejak semalaman.


“Hentikan.” pintanya, datar, tanpa ekspresi diwajah ayu yang biasanya selalu dihiasi senyuman ceria.


Winter tak peduli. Ia terus mengangkut pakaian Snow untuk kembali pada tempatnya.


“Sial! Aku bilang hentikan!” teriak Snow keras. Memekik hingga Winter terhenti seketika dan menoleh terkejut. Disana, ia mendapati sosok Snow yang berlinang air mata dengan wajah menyedihkan.


Winter melempar pakaian ditangannya itu kelantai. Ia berjalan penuh penekanan jika ia adalah penguasa di sini, ditempat Snow memijakkan kaki saat ini. Kemudian, Winter sedikit berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan milik Snow. Lantas, Winter tersenyum miring dan itu terlihat sangat mengerikan di mata Snow.


“Apa katamu? Sial?” tanyanya, sedikit menggeram dengan rahang mengeras dan kepalan tangan yang tiba-tiba ia pukulkan diatas ranjang tempat Snow duduk. “Aku? Sialan?” ucapnya lagi, disusul tawa menggelegar yang membuat Snow beringsut, nyalinya tiba-tiba menciut.


Winter kembali berdiri, berkacak pinggang dan tertawa terbahak-bahak sembari membuang muka. Ada tawa hambar yang ditangkap Snow dari wajah Winter sekarang.


“Kenapa? Tidak terima?” tantang Snow tidak kenal takut setelah berhasil mengumpulkan kepingan keberanian yang sempat berhambur.


Tawa Winter menghilang. “Aku sudah memberitahumu sejak awal bukan? Kamu sendiri yang nekad menerima aku yang 'Sialan' ini.” jawab Winter lancar.

__ADS_1


“Aku pikir, kamu akan mengubah sikapmu. Tapi aku salah.” sahut Snow tak mau kalah. Ia sudah benar-benar muak, tak ingin lagi bersikap sok lugu. “Aku. salah. besar.” lanjut Snow, menekan dengan tegas setiap kata yang ia ucapkan.


Winter kembali membuang muka, juga menyeringai.


“Mungkin, aku akan bertahan jika kamu tidak merendahkan aku seperti itu.”


“Merendahkan? Oh come on, Snow. We're married. What's wrong with that? **** itu salah satu hal yang lumrah dalam kehidupan rumah tang—”


“Tapi kamu tidak pernah menyebut ini sebuah hubungan rumah tangga. Kamu tidak pernah mengakui hubungan kita, dan lebih memilih kembali kepada wanita lain.”


Ya. Snow benar ' kan?


“Dan kau tau apa yang salah padamu, dan juga hubungan pernikahan ini?”


Winter diam. Bibirnya hanya bisa terkatup rapat tanpa bisa menghentikan Snow yang sedang menguarkan isi hatinya. Ia memandangi gadis itu penuh atensi.


“AKU SUDAH BILANG KAMU TIDAK AKAN KEMANA-MANA. KAMU AKAN TETAP DISINI.” teriak Winter. Suaranya menggelegar, penuh emosi.


Senyap setelahnya. Snow dan Winter hanya mampu saling tatap dengan emosi, serta alasan masing-masing. Mereka bahkan tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.


“Egois!” tuduh Snow pada Winter dengan tatapan nyaris kosong dan sendu.


“YA. AKU MEMANG SEPERTI ITU. DAN AKU AKAN TETAP MENJADI SEPERTI ITU!”


“Aku benci padamu.”

__ADS_1


“Aku tidak peduli.”


Snow menahan nafas beratnya yang seolah semakin menipis. Dadanya kembang kempis menahan rasa sakit yang begitu menyayat hati, juga harga diri. Hingga pada akhirnya, Snow menyerah dari perang tatap muka tersebut. Lantas memalingkan wajah sembari mengusap kasar pipi yang basah.


“Tolong tinggalkan aku sendiri, aku mohon.”


Sebuah tawa kembali menyapa perungu Snow, dan saat itu juga Winter keluar, membanting pintu kamar sangat keras hingga kepala Snow berdenyut sakit. Beberapa detik selanjutnya, suara mesin mobil yang terdengar semakin menjauh membuat tangis Snow pecah seketika. Ia tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk tidak menangis. Lantas ia menarik kedua kaki, memeluk erat untuk bersembunyi dari semua kenyataan memilukan yang membelit raganya.


“Pria egois.” gerutunya disela isak, ia benar-benar terjebak sekarang. Terjebak disebuah labirin pernikahan yang sangat menakutkan, kelam dan tanpa penunjuk arah. Snow hanya berharap ada orang yang menyelamatkan dirinya dari labirin ini. Labirin yang diciptakan oleh Winter dengan begitu rumit, labirin mengerikan yang Snow beri nama 'Cinta'.


...***...


“Ada apa?”


“Ayolah Je, aku bukan William yang sama.”


“Tetap saja. Kamu sudah menyakiti Snow, hingga dia traumah berat.”


“Iya, aku tau. Dan aku memang salah. Tapi aku ingin memperbaiki semuanya, Je.”


Jessy yang semula jengah setengah mati melihat wajah Willy, kini mendadak iba ketika melihat kesungguhan dalam binar mata abu-abu milik laki-laki tersebut.


“Semua manusia pernah melakukan kesalahan dalam kehidupan mereka, termasuk aku. Tapi aku benar-benar ingin Snow memaafkan aku, dan tidak takut apalagi membenciku ”


“O-okey. Akan aku usahakan. Tapi semua keputusan ada pada Snow. Dia berhak memilih. Antara menerima dirimu, atau tidak.”

__ADS_1


Willy meraih telapak tangan Jessy dan menangkupnya erat.


“Thank's, Je. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan darimu.” []


__ADS_2