
Jauh dari kata sempurna. Mungkin itu yang hadir dalam benak Snow ketika menyadari Winter tidak mengakui perasaannya sejak mereka menikah. Namun hal yang bisa ia rasakan berbeda dari itu semua, Winter sedikit berubah dari caranya berbicara dan bersikap—ada sedikit kelembutan dan perhatian disana. Sedikit mengalah meskipun tidak semuanya bisa Winter terima begitu saja.
Malam ini, di meja makan tersedia makanan siap saji yang dipesan oleh Winter sekitar tiga puluh menit yang lalu. Seperti kata dokter Anne, Winter melarang Snow untuk memasak atau melakukan hal-hal yang terlalu sibuk dan memberatkan. Winter juga memesan makanan yang banyak mengandung gizi—tidak serta Merta membeli makanan yang bisa dimakan—agar kandungan yang kemungkinan sedang di hadiahi sebuah kehidupan itu bisa tumbuh dengan baik.
“Makan sayurnya juga, supaya kamu nggak lemes.” titah Winter yang di amini oleh Snow. Wanita itu memakan berbagai jenis sayuran yang terhidang didalam sup. Suara denting sendok yang beradu dengan piring menjadi satu bagian krusial yang menjadi saksi kebersamaan mereka yang hangat malam ini.
“Lusa, aku harus meninjau proyek diluar kota. Apa kamu ingin mengajak seseorang tinggal disini? Lakukan saja. Anggap saja itu bonus dariku.” angkuh Winter percaya diri. Snow sampai melongo mendengar kalimat itu. Snow bahkan berfikir jika Winter saat ini ingin mendapatkan pujian dari dirinya.
“Baiklah, aku akan mengajak ibu bermalam di sini.”
“Ibu siapa?”
“Mertua.”
Entah sebab apa, ada rona merah merambat ke pipi Winter. Ia tidak pernah merasa seriang dan sebahagia ini sebelumnya. Mulai malam ini, Winter akan berusaha sebaik mungkin menjaga Snow dan tidak membuatnya terbebani, baik fisik maupun psikis.
“Aku akan memberitahu mama.” ucapnya, mengambil ponsel yang ia letakkan disisi lengan kanan, lalu men-dial nomor ibunya.
Nada hubung terdengar samar, dapat didengar Snow meskipun hanya lirih. Lalu, suara lembut menyapa diseberang. “Halo, ma. Apa mama sedang kosong Minggu ini?” tanya Winter sembari menyendok nasi dari piring dengan ukuran cukup besar dan melahapnya.
“Kenapa?”
Winter memandang Snow sekilas, kemudian kembali berbicara. “Aku harus pergi keluar kota untuk beberapa hari. Snow membutuhkan teman. Apa mama bersedia bermalam dirumah kami?”
Rumah kami ya? Baiklah, ini cukup menyenangkan.
Snow yang mencoba diam tanpa ekspresi, kini tersenyum dengan rona dikedua pipinya. Apa dia sudah diakui, sekarang? Di anggap sebagai bagian dari hidup Winter.
Keesokan hari, ibu Winter datang pagi-pagi sekali, sebelum Winter pergi. Mereka sempat sarapan bersama, kemudian mengantar Winter sampai didepan pintu dan mobil mewahnya menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Ada rasa tidak rela dalam benak Snow ketika Winter pergi. Prasangka dan praduga buruk selalu menyapa ingatannya tentang hubungan Winter dengan sang sekretaris yang tidak lain berperan sebagai kekasih Winter.
“Sedang melamun apa sayang?” tanya Nyonya Hellen ketika mendapati Snow menatap kosong pada jus tomat dihadapannya.
“Tidak, ma. Snow hanya sedang memikirkan sesuatu ”
“Winter bilang pada mama agar melarangmu berfikir dan melakukan pekerjaan berat.”
Snow tersenyum. Winter memang seantusias itu ketika dokter Anne bilang kemungkinan sedang ada janin didalam kandungan Snow.
“Mama benar tidak ada kegiatan apapun? Snow jadi nggak enak ketika kak Winter menghubungi mama kemarin. Padahal Snow tidak mau merepotkan mama.”
Hellen memang sibuk, tapi dia tidak pernah keberatan jika salah satu anaknya meminta waktu senggang untuk mendapatkan kebersamaan.
“Tidak. Mama akan selalu ada waktu luang untuk kalian. Mama tidak ingin melewatkan apapun dari anak-anak mama, termasuk dirimu.”
Hellen mengusap punggung Snow penuh kasih. “Sama-sama sayang. Oh ya, Fallen juga ingin berkunjung kisini nanti, setelah pulang dari kampus.”
...***...
Winter memilih jam penerbangan siang, agar sesampainya ditempat tujuan, dia bisa beristirahat terlebih dahulu untuk menghilangkan jet lag yang selalu ia derita setelah turun dari pesawat terbang. Ia akan terlihat seperti orang linglung dan sering terbawa emosi jika sedang mengalami hal tersebut.
Akan tetapi, hari ini dia terlihat seperti memiliki energi berlebih. Alih-alih lelah, dia malah ingin melakukan Video Call dengan mamanya. Ah, ralat, Snow. Namun semua harus rela ia tanggalkan ketika Amora datang dan duduk disampingnya, membelai dadanya yang masih mengenakan kemeja sama dengan yang tadi siang ia gunakan.
“Aku ingin pergi makan diluar.”
Winter tidak begitu menggubris, dia lebih memilih sibuk berbalas pesan dengan sang mama hingga membuat Amora geram sendiri. Ia melirik nomor kontak yang sedang Winter hubungi. Mama.
“Tumben, ada urusan penting apa sampai kamu harus berbalas pesan seserius itu dengan mama kamu?”
__ADS_1
Tidak menjawab, Winter diam sembari sibuk berkutat dengan ponselnya. Tersinggung, Amora bangkit, merogoh ponsel dari saku blazer dan menekan sebuah aplikasi tanam dalam ponsel.
Rekam.
Lalu meletakkan kembali ponselnya, kali ini di atas sofa tempat dirinya dan Winter berada.
“Sayang,” panggil Amora merayu, sembari duduk dipangkuan Winter, lantas mengecup beberapa kali bibir laki-laki yang dicintainya yang kini mungkin sedang mencoba berpaling.
“Eumm,” gumam Winter yang kemudian mendesis karena pusat tubuhnya dengan sengaja di permainkan oleh Amora.
“Apa kamu mencintaiku? Jawab dengan jelas dan aku tidak mau kamu membuatku menunggu hal yang tidak pasti.”
“Ya. Aku mencintaimu. Sss... Amora...” jawab Winter sedikit mendesis.
“Kalau begitu, boleh aku meminta satu hal?”
Winter hanya mengangguk tanpa suara.
“Bisakah kamu tinggalkan wanita itu untukku?” []
...To be continued....
...°•°•°•°•°•°•°...
...Ayo sini, mau jadi timnya Winter-Snow, atau Winter-Amora? Tulis di kolom komentar yuk!...
...Luangkan juga waktu kalian untuk sekedar menekan tombol like, fav, serta rate sebagai dukungan untuk Wedding Maze ya......
...Thank you....
__ADS_1