Wedding Maze

Wedding Maze
WM-41|KEPUTUSAN WINTER|


__ADS_3

...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan Wedding Maze kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...


Sekali lagi, Snow membuat kebohongan untuk kepergian Winter dari rumah orang tuanya. Dia mengatakan bahwa Winter memiliki pekerjaan luar kota yang harus dilakukan dalam waktu beberapa hari kedepan. Dia tidak punya pilihan, karena Snow betul-betul belum siap untuk mengatakan jika ia dan Winter akan segera berpisah dalam waktu dekat.


“Kenapa tidak bilang ke mama jika kamu hamil? Mama bisa datang kesana atau mengirim makanan untuk kalian berdua.”


“Tidak, mam. Kak Winter cukup tau cara memasak kok. Kami juga sering memesan makanan bergizi siap saji.”


Marry memandangi putrinya yang terlihat kosong. Tatapan Snow seperti tidak memiliki makna, hanya sebatas melihat tanpa arti.


“Apa terjadi sesuatu dengan pernikahan kalian?”


Hampir saja Snow tersedak bubur kacang hijau kesukaannya. Ia sama sekali tidak mengharapkan pertanyaan itu yang muncul. Tapi pada kenyataannya, pertanyaan itu tetap melecut dan dia harus memberikan jawaban.


“Ti-tidak, mam. Kami baik-baik saja.”


“Mama lihat kamu seperti kehilangan semangat. Biasanya kamu ceria dan—”


“Snow baik-baik saja kok mam. Mama tidak perlu khawatir atau berfikir yang tidak-tidak.”


Oh baiklah. Marry mungkin hanya salah menebak dan perasaan itu hanya sebuah terkaan tidak berdasar. Mungkin Snow masih tertekan akibat kehilangan janin dan dia harus menerima kenyataan itu. Ditambah lagi Winter yang harus pergi keluar kota setelahnya. Mungkin itu penyebab Snow terlihat gusar.


“Jadi, apa yang menyebabkan kamu sampai keguguran?”


Snow yang hampir menyendok bubur, harus menghentikan pergerakan. Ia mengangkat wajah dan manautkan pupil matanya pada pupil mata sang ibu.


“Terjatuh. Snow kurang hati-hati dan terjatuh.”


Sekali lagi kebohongan yang ia buat. Entah sampai kapan Snow bisa bertahan dengan kebohongan-kebohongan yang terus saja ia buat untuk menutupi semua kenyataan pahit yang mendera dirinya.


Marry mengusap rambut Snow, mencoba memberi ketenangan untuk sang putri tercinta, lalu tersenyum. “Bersabarlah, semua akan terbayar impas jika kau mau sekali lagi menunggu kehadirannya.”


...***...


Suhu ruangan kerjanya lebih rendah dari biasanya. Jika Winter menetapkan angka 20 sebagai batas untuk pendingin ruangannya, kali ini dia membiarkan angka 10 derajat menjadi patokan pendingin ruangan itu untuk melengkapi kekecewaan hatinya untuk dirinya sendiri.


Otak Winter tidak bisa fokus pada pekerjaan yang menuntutnya untuk menjadi profesional dan mengesampingkan masalah pribadi. Tapi nyatanya itu sangat sulit, Winter bahkan tidak sedikitpun memikirkan tumpukan berkas yang perlu ia tanda tangani di atas meja kerjanya.


Satu desa*han frustrasi meluncur dari bibir Winter, lantas memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri karena semalaman tidak bisa tidur nyenyak. Ya, dia memikirkan Snow semalaman, dan entah mengapa dia jadi memikirkan wanita itu terus-menerus.

__ADS_1


Hingga sebuah ketukan pada pintu ruangan terdengar. Sosok Amora muncul dengan beberapa lembar kertas di atas papahan lengan.


“Ada beberapa berkas dari pemerintahan yang perlu anda tinjau dan tanda tangani hari ini,” ucap Amora memberitahu. Winter hanya mengangguk sebagai respon kemudian membiarkan Amora mendekat dan meletakkan berkas itu di atas meja kerjanya.


Amora sadar betul, setelah apa yang ia lakukan ketika dia dan Winter berada di luar kota beberapa hari lalu, Winter berubah dingin. Mereka menjadi canggung, bahkan Winter seolah sedang menunjukkan dengan gamblang jika dia sedang menjauh.


“Kapan proyek itu akan dikerjakan? Bukankah seharusnya sudah dilakukan dua hari yang lalu?”


“Kita sedang menunggu, sampai bahan-bahan baku rampung dikirim ke tempat proyek.”


Lagi-lagi Winter mengangguk, lalu memeriksa laporan yang baru saja dibawa Amora. Sedangkan wanita itu, sibuk melirik tumpukan kertas, Winter, dan telapak tangan Winter secara bergantian. Ada yang berbeda, ada cincin melingkari jari manis kanan laki-laki itu, setelah hampir dua Minggu pernikahan Winter berlalu tanpa makna, mengapa tiba-tiba ada cincin di jari manisnya?


“Anda harus profesional, karena proyek ini akan berakibat fatal jika sampai gagal.”


Entah, Amora tiba-tiba saja bicara seperti itu kepada Winter. Presensi bertorso tinggi gagah itu sampai terkejut dan mengambangkan jari yang sedang membuka lampiran kertas yang hendak ia periksa. Dari mana Amora tau jika dia sedang tidak fokus? Apa sedang terlihat jelas?


“Kamu pikir aku sedang bermain-main sekarang?” tanya Winter menelisik.


“Tidak. Anda hanya terlihat sedang tidak fokus, dan akhir-akhir ini, anda seperti sedang mengabaikan saya.”


“Mengabaikan? Bukankah hubungan kita biasa saja? Seorang atasan dengan sekretaris?” tukas Winter. Ia ingin semuanya jelas. Bukan dirinya yang bingung menentukan dan mengambil keputusan. Winter ingin mengakui perasaannya yang ada untuk sosok Snow.


“Lalu apa kita selama ini?” tanya Amora meminta penjelasan.


Winter memijat pelipisnya lagi. Ia benar-benar ada diujung sebuah rasa yang begitu menyiksa. “Amora, maafkan aku.”


Mungkin memang kesalahannya sejak awal. Seharusnya Winter menyudahi hubungan mereka ketika Winter memutuskan untuk menikahi Snow. Bukan malah kembali dan mengikat diri bersama Amora untuk kesekian kali, yang notabenenya adalah sebuah masa lalu. Ya, ini salahnya sendiri, bukan salah siapapun, hanya dirinya.


Winter terus meyakinkan jika dirinyalah yang bersalah. Baik itu kepada Snow, maupun Amora. Hingga dia dapat melihat seringai tajam diwajah Amora. Senyuman yang belum pernah ia lihat. Senyuman mengerikan yang selama ini tidak pernah ditunjukkan oleh seorang Amora kepadanya.


“Jika kamu tetap ingin meninggalkan aku,” Amora menjeda, memangkas jaraknya dengan Winter, mencondongkan badan demi mempertemukan wajahnya dengan Indra perungu Winter, lantas berbisik. “—maka, siapapun tidak boleh memilikimu. Termasuk Snow.”


Terkejut bukan main, kedua manik Winter melebar. Winter benci harus mengakui jika ia salah langkah. Tapi semuanya sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur, dan ia terpaksa harus menelannya.


“Sebenarnya, apa mau mu?” tanya Winter bernada rendah, mengintimidasi dan penuh sarat ancaman.


Amora menarik mundur tubuhnya. Dia berdiri angkuh dengan sorot tajam menghujam pada manik Winter yang sedang menyorotnya.


“Okey. Mari kita bahas tanpa mempersingkat bagian apapun dari cerita yang sudah kita lewati berdua selama ini.” jawab Amora tak kenal takut. Kali ini, dia sudah bertekad untuk mempertaruhkan semua sisa keberanian yang ia miliki. “Aku menyukaimu, sejak lama, dan kamu membalasnya. Kita hidup bersama, memperjuangkan cinta kita didepan orang tuamu yang tidak pernah menerimaku, dengan tujuan agar mereka mau mengakui dan menerima aku apa adanya. Tapi, kamu memutuskan untuk menerima perjodohan dan menikahi wanita lain selain aku, yang tentu saja sudah menemanimu bertahun-tahun.”


Winter diam. Dia tidak mengatakan apapun.


“Sekarang, coba katakan, wanita mana yang tidak sakit hati ditinggal begitu saja setelah ia lelah berjuang dan berkorban?”


Kali ini Winter sedikit goyah. Apa yang dikatakan Amora ada benarnya. Mereka berdua berjuang selama bertahun-tahun untuk meyakinkan orang tua Winter, tapi mengapa pada akhirnya mereka harus berakhir miris? Bukankah itu buang-buang waktu? Apa makna perjuangan mereka selama ini?

__ADS_1


Winter terus terperosok kedalam lubang masa lalu, ia terus berusaha kembali memutar waktu dimana dia dan Amora bersama, dahulu.


“Jawab aku, Winter!” tekan Amora sedikit berteriak. Dia lelah. Terlalu lelah untuk berjuang seorang diri untuk meyakinkan Winter akhir-akhir ini.


“Maafkan aku.” Ucap Winter, lebih terdengar seperti sebuah bisikan. Wajahnya tertunduk frustrasi, dan kekecewaan sedang menguasai benaknya. “Mari kita akhiri semua ini, Mora. Aku harus melakukan apa yang seharusnya sudah aku lakukan sejak dulu. Bukan kembali menarik mu kedalam pelukanku, dan kita mengkhianati seseorang dibalik ikatan suci yang sudah aku ucapkan.”


Amora meneteskan air mata. Penjelasan yang ia katakan panjang lebar tidak berguna. Nyatanya, ia tidak bisa membawa Winter kembali untuknya. Ia kalah.


“Aku mencintai Snow, lebih dari mencintai diriku sendiri.”


Amora tertawa miris. Ia menunduk dan meremat kesepuluh jarinya untuk menahan sesak dalam dadanya. “Jadi, kamu mau menyerah dan melepaskan aku?”


Winter mengangguk ragu. Ia menyakiti hati wanita yang pernah sangat ia cintai, dan itu menyakitkan satu sisi hatinya yang masih dibalut oleh ego. “Ya.”


“Dan kamu ingin kita berpisah?”


“Ya.”


“Kenapa kamu melakukan ini padaku, Honey?”


Winter berdiri, berjalan mendekat pada Amora dan meraih telapak tangan wanita itu untuk ia genggam lembut sebagai bentuk penyesalan.


“Karena aku sadar, Snow adalah wanita yang dikirim Tuhan untukku. Dia adalah tujuan akhir hidupku. Sekarang aku sadar, aku sangat mencintainya, dan tidak bisa hidup tanpa dia.” []


...To be continued....


...🌼🌼🌼...


...Vi's Ucapkan Selamat hari raya idul Fitri bagi pembaca setia Wedding Maze yang merayakan. Minal Aidin wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Maaf jika Vi's selama berada disini ada salah-salah kata yang disengaja maupun tidak disengaja.🙏🙏🙏...


...Dan juga, disini Vi's mau promosi novel karangan Vi's, yang siapa tau readers berkenan mampir dan baca-baca sebagai peneman libur lebaran kali ini....


Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)

__ADS_1


...Atas perhatiannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih....


...See You....


__ADS_2