Wedding Maze

Wedding Maze
WM-42|DAY MINUS SIXTEEN—15|


__ADS_3

...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan Wedding Maze kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...


“Aku tidak mau.”


Pernyataan Amora sukses membuat Winter menarik mundur dirinya sendiri. Ia bahkan tidak menyangka jika Amora akan segigih itu pada pendiriannya. Winter tau, jika Amora memang keras kepala. Tapi ia tidak menduga, jika terjebak dengan seorang wanita yang keras kepala itu sangat menyebalkan, juga sangat menyulitkan.


“Amora. Please...”


“Tidak.” Amora menatap nanar sosok Winter. Ia bahkan tersenyum asimetris untuk menunjukkan ketidak sukaannya terhadap ungkapan Winter yang sungguh menyakiti harga diri dan perasaannya. Amora seperti sudah kehilangan akal dan tetap menginginkan Winter. “Jika aku tidak bisa memilikimu, maka Snow juga tidak!”


Winter menyugar surainya kebelakang. Meremat nya frustrasi dengan bibir mengatup rapat dan mata memejam. “Mora, please...”


Entah sudah berapa kali Winter memohon? Bagaimana ini? Mengapa semuanya semakin runyam? Padahal Winter hanya ingin pernikahannya dengan Snow, berakhir. Itu saja. Tapi, mengapa semuanya menjadi sesulit ini?


...***...


Sebuah notifikasi pesan singkat mengejutkan Snow. Ia bangkit perlahan, memicing menahan nyeri, lantas meraih ponselnya diatas nakas dan membaca isi pesan itu.


^^^Sudah tidur?^^^


Snow menggigit bibir bawahnya. Winter mengirim pesan, menanyakan apa dia sudah tidur atau belum. Perlu dicatat, ini untuk yang pertama kalinya.


Belum. Ada apa?


Snow mengetuk-ngetuk layar ponsel, menempelkannya dibibir, menunggu dengan perasaan gelisah jawaban dari Winter yang tak kunjung ia terima. Tapi, alih-alih sebuah pesan yang ia terima, ponsel Snow kini berdering, sebuah panggilan telepon masuk atas nama Winter.


Jari telunjuk Snow terdiam mengambang beberapa detik diatas layar ponsel yang berubah hijau dengan tombol hijau muda yang melompat-lompat, dan foto profile Winter bergambar default muncul. Memang, selama menjadi istri laki-laki itu, Snow tidak pernah melihat foto profil Winter berubah sekalipun. Winter itu istimewa.

__ADS_1


Untuk sesaat, Snow berfikir. Apakah dia harus menjawab panggilan tersebut atau tidak. Namun pada akhirnya, jarinya sudah tidak sabar untuk menggeser tombol tersebut dan mendengar suara Winter.


“Halo.”


“Kenapa belum tidur?”


Khas orang pacaran. Khas sekali.


Snow juga tidak tau. Sejak makan malam bersama kedua orang tuanya berakhir berakhir beberapa menit yang lalu, ia masuk ke kamar, bersiap memejam mata, atau paling tidak menggambar, tapi semua acara yang ia rencanakan itu tidak satupun terlaksana. Dia hanya diam tanpa melakukan apapun, sesekali menatap kosong pada dinding ruangan, menerawang dengan isi kepala nyaris kosong, pikirannya melayang dan terbang entah kemana. Atau, sedang memikirkan Winter, mungkin?


“Aku belum mengantuk.”


“A~h, apa aku mengganggu?” tanya Winter merasa tidak enak.


Snow menggeleng, namun sesaat kemudian dia sadar jika Winter tidak akan melihatnya. “Tidak, kok.”


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”


Lagi-lagi, Snow diam. Winter seakan sadar, jika diam seorang Snow merupakan sebuah izin agar dia melanjutkan ucapannya. “Amora bilang, dia mengirim sesuatu padamu, benar?”


Snow masih tidak ingin bersuara. Hingga Winter kembali melanjutkan kalimat yang ia jeda namun tidak direspon oleh Snow. “Snow. Aku sedang ada masalah dengan Amora, hubungan kami tidak baik-baik saja.


Aku mencoba mengakhiri hubungan dengannya, tapi dia menolak dan mengatakan semuanya sudah terlanjur. Dia juga mengatakan sudah mengirim sebuah pesan untukmu. Sebenarnya, apa yang sedang kamu sembunyikan dariku?


Sesuatu apa yang tidak pernah kamu bagi tau denganku?”


Snow menimbang sesuatu yang sedang memenuhi isi otaknya. Ia juga tidak mau salah bicara atau menabur fitnah kebencian agar Winter membenci Amora. Dia hanya ingin semuanya berjalan seperti saat ini, karena perpisahan dengan Winter sudah didepan mata. Dia akan segera bebas, dan Winter juga akan mendapatkan kebahagiaannya sendiri.


“Ya. Beberapa hari lalu, aku memang menerima pesan dari seseorang yang tidak aku ketahui siapa pemilik nomor itu. Aku tidak bisa menyebut orang itu adalah Amora, karena aku memang tidak tau siapa orangnya.


Sebuah pesan suara, yang...”


Seharusnya, ini menjadi rahasia yang hanya ia ketahui seorang diri. Snow tidak ingin Winter tau tentang pesan suara itu, pesan suara yang menjadi dasar keinginannya berpisah dengan Winter. Mungkin, sesuatu buruk tidak akan terjadi pada Amora—jika benar-benar dia pelakunya— saat Winter mengetahui, sebab Winter memang sesayang itu kepada Amora. Tapi tetap saja, seharusnya Snow tidak boleh mengatakan hal ini kepada siapapun, termasuk kepada sosok Winter.

__ADS_1


“Pesan suara?” tanya Winter. Ada nada menelisik pada suara Winter diseberang. “Pesan suara apa yang kamu maksud? Mengapa kamu tidak pernah mengatakan hal itu kepadaku?”


“Apa kamu tau arti privasi?” sahut Snow cepat. Ia seolah sedang dipojokkan, dan Snow tidak bisa menerima hal itu. “Sama seperti kamu, aku juga memiliki beberapa hal yang ingin aku ketahui seorang diri dan tidak mengumbarnya di hadapan khalayak umum.”


“Snow, aku ini suamimu. Bukan orang yang harus kamu anggap sebagai—”


“Tidak, sejak awal kamu memang orang lain yang tidak pernah bisa aku beri sebuah kepercayaan.”


“Apa maksudmu?”


“Sudah, aku tiba-tiba lelah dan ingin beristirahat. Terima kasih sudah menelepon hari ini.”


Tidak seharusnya Snow bersikap seperti ini. Dia hanya tidak ingin Winter berubah pikiran untuk berpisah dengan dirinya. Ya, tujuannya saat ini hanyalah berpisah. Falid.


Panggilan telepon itu di akhiri sepihak oleh Snow. Lantas ia menopang kepala dengan dua telapak tangan menutupi wajah, mengusapnya kasar, dan mengusap surainya sendiri kebelakang karena bimbang.


”Sial. Mengapa sesulit ini?” umpat Snow. Nyatanya, Winter masih belum bisa menghilang dari pikirannya, masih mendominasi otaknya yang kerdil dan tidak bisa melangkah sedikitpun—stuck—pada tempatnya berada demi menghapus semua jejak kenangan yang ia simpan rapat dalam laci memori.


Bagi Snow, Winter memang bukanlah orang pertama yang menempati hatinya, tapi Winter menjadi orang terakhir yang membuat hati Snow terbelenggu dalam sebuah jalinan rumit, lebih rumit dari benang kusut yang ia coba urai.


Ya. Snow menyebutnya, cinta.


Sedangkan ditempat lain, Winter yang tak kalah bimbang juga tidak bisa menghindari pening dikepalanya yang terasa semakin berat setiap detik. Menghubungi Snow sepertinya bukan menjadi sebuah jawaban baik yang membuat kegelisahannya menghilang.


Lengannya terulur mengambil stopmap biru yang ada diatas meja kaca persegi diruang tengah. Hanya dengan cahaya yang bersumber dari televisi tanpa volume suara, Winter dapat melihat bagaimana tanda tangan Snow begitu nyata diatas materai, dan nama itu yang mengapa semakin terukir jelas dikepalanya.


Hidup Winter seolah benar-benar seperti sebuah boomerang. Semua dampak dari permainan labirin pernikahan yang sengaja ia ciptakan itu, kini kembali menyerangnya. Menyerang tepat sasaran dan membuatnya tidak sanggup mencari pintu keluar selain mengakhiri semuanya dengan sangat tragis tepat diatas kakinya berpijak saat ini.


Menyesal, hanya tersisa kata tidak berguna itu yang mendominasi setiap tarikan nafas Winter yang ia hirup serakah. Nafasnya memburu, Winter ingin menyerah, lalu kembali membawa Snow kembali padanya.


Winter melempar berkas perceraian itu hingga berhambur. Lantas mengusap kasar wajahnya. Ingin menangis, tapi terlalu malu pada dirinya sendiri. Ia mendengus putus asa, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sembari menatap langit-langit ruangan.


“Aku hancur.” []

__ADS_1


...To be continued....


__ADS_2