Wedding Maze

Wedding Maze
WM-44|PEMILIK NOMOR ITU ADALAH,|


__ADS_3

...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan Wedding Maze kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...


from: xxxxxxxxx000


Bisa kita bertemu? Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.


Aku menunggumu di cafe YOLO, pukul lima sore.


...________...


YOLO cafe, 5 pm.


Snow membawa langkah kaki berbalut flat shoes nya memasuki area cafe, menuju salah satu meja bernomor tujuh yang ia ketahui dari pesan dengan nomor pengirim yang sama si pengirim pesan suara beberapa waktu lalu, pemilik nomor itu meminta bertemu dengannya.


Disana, seseorang telah menunggunya.


Dan ya, jantung Snow benar-benar berdebar kacau melihat presensi tersebut. Ia tidak mungkin datang jika tidak karena ingin memastikan bahwa nomor tersebut adalah orang yang ia terka.


Amora. Dia sedang duduk disana, memandang keluar dari balik bentangan kaca cafe dan memunggungi Snow.


Perasaan gamang menyergah seluruh pikiran Snow. Tiba-tiba, otaknya menawarkan dua pilihan untuk ia pilih salah satu sebagai keputusan agar kebimbangan yang ia alami mendapatkan jalan keluar. Pertama, menemui Amora dan mengobrol banyak tentang topik yang akan dibawa wanita itu. Atau dua, pergi seperti seorang penakut.


Snow meremas ujung syal yang menggantung didepan dada, mengatupkan bibir dengan manik terkunci pada punggung Amora yang masih belum berubah posisi.


Satu pertanyaan muncul. Bagaimana bisa dia termakan rasa penasaran dan menuruti keinginan Amora untuk bertemu? Meskipun pada kenyataannya, Snow sama sekali tidak ingin bertemu dan bertatap muka dengan wanita yang berhasil memenuhi hati Winter, suaminya, hingga pernikahan mereka berakhir tragis.


Ketukan flat shoes itu teredam suara hujan yang tiba-tiba turun beberapa detik lalu, seolah menyuarakan isi hati Snow yang kacau balau bak dihantam badai.


“Jadi, ternyata kamu pemilik nomor itu?”


Amora yang terkejut dengan suara Snow, menoleh kasar dan menendang kaki meja hingga menimbulkan kebisingan yang menarik perhatian beberapa pengunjung. Keduanya saling tatap. Berbeda dengan Snow yang melihat Amora dengan tatapan lurus dan datar, Amora menatap Snow dengan wajah sedikit pongah.


“Ah, kamu sudah datang? Duduk dan pesan sesuatu terlebih dahulu. Mari kita bicara pelan-pelan.”

__ADS_1


Batin Snow, apa Winter tau perihal pertemuan ini? Apa Amora melakukan ini atas izin Winter?


“Eummm.” jawab Snow, memposisikan diri, menarik satu kursi tersisa didepan Amora dan duduk disana lantas meraih buku menu dan memesan segelas jus Apel. Ya, mungkin Jus apel bisa meredam amarahnya jika nanti tanpa diduga Amora akan mengatakan hal-hal yang tidak ingin ia dengar. “Jadi, apa tujuanmu mengajakku bertemu, nona Amora?”


“Bahkan kamu sudah tau namaku sebelum aku memperkenalkan diri. Apa Winter sudah bercerita banyak tentang aku?” tanya Amora balik. Ada seringai licik dan bangga dibalik senyuman yang sedang ia suguhkan didepan Snow. Ia yakin jika wanita yang menjadi rival nya itu akan terhasut dan meninggalkan Winter untuknya.


“Ya. Dia sudah bercerita banyak. Bahkan tentang hubungan terlarang kalian.”


Entah, mendengar hubungannya dan Winter disebut Snow dengan hubungan terlarang, emosi Amora terpatik. Senyuman diwajahnya memudar, berganti tatapan tajam penuh angkara. Ia menatap lurus-lurus ke arah pupil mata Snow, kemudian menarik satu sudut bibirnya. “Hubungan terlarang? Kami bahkan sudah berpacaran sebelum kamu hadir dan menjadi orang ketiga dalam hubungan kami.”


Ya. Snow tau. Untuk itu dia menganggukkan kepalanya. Ia paham jika mereka memang sepasang kekasih sejati yang tidak akan mungkin terpisahkan, bahkan dengan kehadirannya, Winter akan lebih memilih berada disamping Amora ketimbang dirinya. “Aku tau. Tapi, bukankah tidak elok jika seorang gadis, tetap menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri? Meskipun kalian berpacaran selama bertahun-tahun, bukankah sebuah keharusan untuk kalian mengakhiri hubungan tersebut, jika salah satu dari kalian sudah mengambil komitmen untuk hidup bersama orang lain?”


Amora bak tertohok dengan kalimat yang diucapkan oleh Snow. Dari pengamatan yang ia lakukan selama ini, Snow adalah wanita lemah yang akan mengalah dengan apa yang di jejalkan kenyataan dalam hidupnya, lantas menerima dengan lapang dada dan merelakan diri untuk diperlakukan seperti apapun. Tapi setelah bertemu dan berbicara langsung dengan Snow, dugaannya selama ini salah.


“Seharusnya aku yang menempati posisimu sekarang.” jawab Amora datar. Ia sudah kehabisan kata-kata.


Pembicaraan mereka terjeda sesaat ketika pramusaji datang membawa jus apel dan americano yang mereka pesan.


“Ya. Dan seharusnya, aku tidak pernah mengenal kalian berdua.” kata Snow. Ia tidak mau menutup-nutupi sedikitpun rasa kecewa didepan Amora yang sudah berhasil mengacaukan semuanya. Membuat hubungannya bersama Winter diujung tanduk, hingga Snow yang harus menerima kehilangan janin karena belenggu kemarahan Winter saat itu.


Snow sukses menyulut bara api. Wajah Amora pias, kedua maniknya menatap tidak suka pada Snow, wajah dan telinganya memerah sarat emosi.


Amora memicing, mencoba menerka makna dibalik ucapan Snow yang terdengar tegas.


“Tanpa pesan suara itupun, kami memang sudah berencana berpisah.”


Bohong. Jika bukan karena pesan suara itu, Snow pasti akan jatuh cinta semakin dalam kepada sosok Winter. Namun sekarang, kenyataan seolah menjungkir balikkan isi kepalanya. Ia membuat kebohongan-kebohongan lain untuk menutupi perasaannya sendiri.


“Aku dan Winter sepakat mengakhiri pernikahan kami setelah hari ke tiga puluh. Tapi aku juga harus berterima kasih atas usahamu itu, nona Amora. Karena pesan suara itu, aku jadi sadar harus berjalan di arah yang sudah seharusnya aku ambil sejak dulu. Bahkan mungkin, seharusnya aku dan Winter memang tidak bersama sejak awal.”


Dada Snow bergemuruh. Jari-jari tangannya bergetar ketika mengatakan kebohongan yang sedang ia buat. Snow terlalu takut jika dia akan mengatakan dan mengakui perasaannya untuk Winter, kepada Amora.


“Aku sudah menandatangani surat perceraian kami. Dan selamat,” Snow tersenyum lembut, mengulurkan tangan didepan wajah Amora, menunggu wanita itu menyambutnya dengan wajah bahagia tanpa rasa bersalah.


Namun Amora abai. Ia membiarkan telapak tangan itu menggantung diudara, dan Snow terpaksa menarik kembali lengannya yang akan bergetar dan ia tahan mati-matian.


“Ah, kamu tidak suka menerima ucapan selamat dariku, ya?” cebik Snow dengan nada rendah dan senyuman yang masih membingkai di wajah ayu nya. “Selamat atas keberhasilanmu mempersingkat usia pernikahan kami. Aku sangat berterima kasih kepadamu, karena kamu membuatku sadar, dimana seharusnya ranahku berada.”


Amora memaku. Ia benar-benar kehabisan kata-kata. Semua kalimat yang ia susun sejak dua hari lalu, menguar begitu saja setelah mendengar setiap kalimat yang melecut dari bibir Snow. Wanita ini memang baik, sama seperti yang dikatakan Winter kepadanya beberapa hari lalu, sebelum ia memutuskan untuk mengajak Snow bertemu.

__ADS_1


“Aku rasa cukup. Aku harus segera kembali karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan terima kasih sudah mengajakku bertemu hari ini, Nona Amora. Semoga hubungan kalian langgeng. Dan jangan lupa untuk ikut hadir di sidang perceraian kami. Aku menunggu ucapan selamat darimu.” kata Snow sembari meletakkan selembar uang seratus dollar dan hendak beranjak pergi.


Amora seperti sedang di intimidasi. Ini bukanlah hal yang ada didalam rencananya. Seharusnya, Snow lah yang merasa sakit hati. Seharusnya, Snow lah yang akan bersedih dengan keadaan ini. Seharusnya, Snow lah yang merasa terbuang, bukan dirinya. Kalimat itu terus berputar, hingga Amora meremat ujung blazer yang masih mempercantik penampilannya.


Tapi mendengar kegigihan wanita itu dalam menghadapi perpisahan dengan sosok pria yang kini menjadi boomerang baginya, Amora berkabut. Ia merasa sudah salah menempatkan diri. Seharusnya dirinyalah yang bersedih, sakit hati, dan terbuang. Winter tidak pernah salah memintanya untuk mengakhiri hubungan demi wanita seperti Snow.


“Winter mencintaimu.” tiba-tiba, kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Amora. Ia harap, setelah Snow tau tentang itu, beban bersalah yang bergelayut dipundaknya akan jatuh dan membebaskan dirinya.


Akan tetapi, alih-alih sebuah tatapan penuh binar bahagia yang ia lihat pada kedua manik indah Snow, Amora melihat kabut kesedihan disana. Snow terlihat sedang menahan sebuah kesedihan yang siap tumpah dan meledak saat itu juga, tapi semuanya berhasil disembunyikan kembali oleh wanita itu dalam bingkai senyum dibibir sewarna peach miliknya.


“Terima kasih sudah memberitahu hal itu kepadaku. Tapi semuanya terlambat, dan aku juga sudah menghapus semua perasaan yang selama ini sudah aku coba bangun. Jika memang Winter mencintaiku, dia tidak akan memilih perpisahan ini. Dan perlu kamu tau, nona Amora.” Snow menarik nafas samar, mencoba menutupi rasa perih yang meremat ulu hatinya. Ia ingin sekali berteriak dan menangis, tapi tidak didepan Amora. “Winter juga mencintaimu. Jadi, tidak ada harapan untukku dicela hatinya.”


“Kamu salah. Aku mengenal Winter jauh lebih baik darimu. Dan aku tau bagaimana Winter ketika mencintai seseorang.”


Snow yang tadinya sudah hendak pergi, kini harus berdiri mematung tak jauh dari Amora berada. “Winter akan sangat terluka dengan perpisahan kalian. Dia sangat mencintaimu bahkan hanya dalam hitungan hari, yang dulu tidak bisa ia lakukan kepadaku.”


Snow benar-benar tidak bisa lagi menahan air matanya. Satu tetes airmata pada masing-masing kelopak matanya, luruh. “Sebelum terlambat, batalkan perceraian kalian, dan kembalilah bersama. Winter sangat mencintaimu, lebih dari cintanya kepadaku.”[]


...To Be Continued....


...🌼🌼🌼...


Mampir juga di cerita Vi's yang lain. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


See You.

__ADS_1


__ADS_2