Wedding Maze

Wedding Maze
WM-35 |ULURAN TANGAN|


__ADS_3

Mengatakan Winter akan pulang sebagai alasan agar ia bisa pergi dari rumah dan menenangkan pikirannya yang kalut, adalah kebohongan pertama yang dibuat Snow. Dia sama sekali tidak berniat melakukan itu. Tapi Fallen tidak akan pulang dan ia akan tau keadaan Snow jika adik iparnya itu tetap disana.


Malam semakin merengkuh hari. Sudah hampir tiga jam Snow duduk di teras kafe classic yang baru pertama kali ini ia datangi, menghabiskan tiga gelas Jus beraneka rasa sebagai peneman kesendirian. Sebenarnya, banyak yang menanyakan kursi kosong didepan Snow, tapi dia selalu bilang jika itu adalah tempat suaminya, hingga para pria yang bertanya itu mundur teratur.


Sudah hampir seminggu Snow tidak menengok sosial media yang ia miliki. Memikirkan keadaan rumah tangganya bersama Winter ternyata begitu menyita perhatian dan menguras hampir seluruh fokus Snow. Nafs*u makannya juga hancur, jam tidurnya berantakan, bahkan ia tidak lagi memiliki semangat bekerja seperti sebelum ia menikah. Otaknya terlalu lelah.


Snow melirik jam tangan hadiah dari sang mama yang membelit pergelangan tangan kanannya, lantas mendapati waktu sudah menunjuk angka delapan malam.


Astaga, ini tidak baik. Dia harus segera pulang atau ibu mertuanya yang bisa akaoan saja datang memergokinya pergi sendiri tanpa Winter, kemudian melaporkannya kepada sang putra.


Snow berjalan menuju jalan utama untuk mencari tahu. Namun tak ia sangka, sebuah mobil hitam legam yang begitu ia kenali, berhenti didepannya. Satu kaca turun, dan pada detik itu juga manik Snow terbelalak. Dari mana Winter mengetahui keberadaannya? Dan juga, sejak kapan Winter pulang?


Gawat.


Snow sama sekali tidak berniat menarik pengait pintu mobil dan masuk kedalam dan duduk nyaman di kursi penumpang. Hatinya berdenyut sakit melihat presensi Winter yang kini menatapnya datar tanpa ekspresi.


Dari tempat ia berdiri pula, Snow dapat melihat sorot tajam Winter menghardik manik matanya hingga menimbulkan remang dan panas di pelupuk. Snow ingin menangis karena ketakutan, namun ia tahan kuat-kuat dan tidak ingin lagi tunduk kepada Winter. Ia bulat dengan keputusannya. Berpisah.

__ADS_1


“Masuk!” titah Winter, tanpa memutus pandangan, dan diabaikan oleh Snow. “Snow. Masuk, kataku!”


Seperti kembang gula yang tertiup angin—mengempis juga mengerut—Snow beringsut. Namun semua rasa itu ia sembunyikan dengan rapih di balik ekspresi tak kalah tajam dari milik Winter.


“Aku sudah memesan taxi. Jadi tunggu aku dirumah. Aku akan pulang sendiri.” Jawabnya datar.


Tanpa banyak membuang waktu, Winter turun dan membanting keras pintu mobil. Berjalan dengan wajah pias kearah Snow, lantas menarik lengan Snow dan memaksanya masuk kedalam mobil setelah pintu sisi kemudian berhasil ia buka.


Snow meronta. Ia sama sekali tidak ingin kembali ke rumah bersama Winter. Ia sudah terlanjur hilang rasa pada suaminya yang mendesa*hkan nama wanita lain. Kaki Snow memaku keras di depan pintu mobil, ia benar-benar tidak ingin pulang bersama Winter. Alih-alih merayu dengan ucapan-ucapan manis yang bisa membalik hati seorang wanita menjadi tunduk dan patuh, Winter lebih suka mengancam jika itu Snow. “Jangan membuat masalah, atau kamu akan menerima akibatnya.”


Mendengar ancaman yang bahkan membuat nyalinya terbang jauh bersama tiupan angin, Snow mengeraskan hati dan membulatkan tekad jika ia tidak akan lagi bergantung pada Winter. “Tidak. Sudah aku katakan jika aku akan pulang sendiri, jadi jangan pernah memaksaku ikut bersamamu!”


“Apa?”


Snow menarik kasar telapak tangannya dari cekalan kuat Winter, lalu mengambil beberapa langkah mundur. “Pergi. Aku tidak mau ikut bersamamu.” Jawabnya, sembari meremat tali Sling bag yang bergelayut di pundaknya sebagai pengalihan rasa takut yang masih saja menguasai seluruh inci permukaan kulitnya. “Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu.”


Apa maksudnya? Winter transfer dak habis pikir dengan perubahan sikap Snow kepadanya. Sudah kepalang emosi, telapak Winter mengepal erat. Ia bahkan mengumpat dalam hati karena Snow tidak menganggapnya sebagai apapun. Winter dapat melihat kilatan sebuah rasa kecewa yang mengedar dari sorot mata Snow. Tapi apa penyebabnya? Dia tidak melakukan apapun ketika pergi keluar kota.

__ADS_1


“C'mon Snow. Jangan memancing emosiku ditempat umum.” Pinta Winter dibubuhi sebuah seringai tajam diujung bibirnya. Lalu lengannya kembali terulur ketika langkah kakinya mendekat kepada sang wanita.


Yang lebih mengejutkan dari semua drama yang sedang dilakoninya adalah, Snow yang tiba-tiba meringkuk di hadapannya. Menyembunyikan wajah diantara lengan dan lututnya yang ditekuk, kemudian menangis tersedu disana. Lengan Winter menggantung di udara, ia semakin tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi kepada Snow, wanita yang perlahan-lahan mengisi hatinya.


“Please, go away. Aku akan pulang sendiri. Tanpa dirimu.” Pintanya, disela Isak tangis yang begitu menyayat hati Winter. Snow menangis lagi, dan itu karena dirinya.


Detik selanjutnya, yang terjadi justru Winter melempar bebas lengannya di sisi tubuh. Ia hanya ingin melihat dan memastikan Snow baik-baik saja karena ia terlalu panik tidak mendapati wanita itu dirumahnya. Bahkan Winter ingin membawa Snow kedalam pelukannya saat ini. Ingin menjadi bagian dari seseorang yang dipercaya oleh Snow untuk mendengar semua tentang kehidupannya.


“Okey. Aku akan pulang.” Tutur Winter dengan nada rendah dan selintas rasa kecewa pada dirinya sendiri. “Jaga dirimu baik-baik, dan pulanglah kerumah kita.”


Rumah kita? Lucu sekali. Winter baru saja membuat lelucon paling lucu didunia.


Winter berlalu dari hadapan Snow, tidak ingin semakin menyakitinya. Ia masuk kembali kedalam mobil dan meninggalkan Snow seperti yang wanita itu inginkan. Snow mengangkat wajah perlahan demi melihat kepergian laki-laki yang dulu pernah ia sukai ketika pertama kali melihatnya dulu. Namun sekarang, semuanya telah berubah. Snow tak lagi menaruh rasa suka, melainkan kecewa. Ya, Snow kecewa.


Lalu, seseorang datang menyapa dan mengulurkan tangan didepannya. Menyita seluruh atensi Snow untuk pria bertubuh tinggi menjulang dihadapannya.


“Kamu baik-baik saja, kan?”[]

__ADS_1


...To be continued....


__ADS_2