
Setiap detik yang berputar, membuat nafas Winter seolah digelayuti beban yang begitu berat mengingat kondisi Snow yang cukup memprihatinkan. Tadi sore, setelah Snow mencoba menolak kehadirannya dengan binar dikuasai rasa takut, Winter kini mencoba menjadi sosok yang berguna untuk gadis tersebut.
Winter tinggal dikamar Snow, malam ini. Snow melarang Winter pergi dan menahannya dengan sebuah pelukan erat.
Kini, gadis itu terlelap dalam dekapan yang sedari tadi tidak ia lepaskan. Memejam sejenak, Winter mengecup singkat puncak kepala Snow.
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu?” tanyanya dalam sunyi. Ia yakin Snow tidak akan mendengar, sebab meminum obat penenang yang sempat tidak lagi Snow konsumsi. Tapi hari ini, Snow harus kembali menelan pil pahit itu untuk menenangkan jiwanya.
Namun, ditengah-tengah Winter yang sedang mencoba mencari kenyamanan untuk ia turut memejamkan mata, ponsel yang ia letakkan di atas nakas itu bergetar. Nama Amora muncul.
Dengan gerakan perlahan, Winter memindah kepala Snow dari lengannya ke atas bantal. Tanpa mau mengganggu tidur nyenyak gadis itu, Winter bergerak sangat perlahan hingga berhasil menapak di lantai dan berjalan keluar dari kamar Snow untuk menerima panggilan Amora.
“Ada apa, Mora?” tanya Winter sembari berjalan menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya yang kering dengan air dingin.
“Kamu dirumah kan?”
“Eum. Kenapa?” jawab Winter, lalu mulai meneguk air yang sudah ia tuang kedalam gelas.
“Aku ada didepan rumahmu.”
Air didalam mulut itu menyembur seketika. Ia begitu terkejut bahkan tidak percaya Amora akan nekad datang kerumahnya hari ini. Beruntung Snow sudah tidur, bagaimana kalau tidak?
“Mengapa kamu datang ke sini?” tanya Winter gugup disertai batuk-batuk kecil akibat tersedak, lalu berjalan cepat menuju pintu depan untuk bertemu Amora.
Sesampainya, dia melihat Amora yang melambaikan tangan ke arah dia berdiri, lantas mendekat dan mencuri satu kecupan di bibir Winter.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Winter datar. Ia sama sekali tidak mengharapkan Amora berada disini hari ini.
“Aku merindukanmu, memangnya apa lagi?” sahut Amora dengan nada ketus dan sikap manja yang dibuat-buat.
Sh*it! Semoga tidak ada yang melihat, terlebih Snow yang sedang terguncang.
Winter terus merapal do'a agar Snow tidak membuka mata beberapa jam ke depan, atau paling tidak sampai Amora pergi dari rumahnya.
__ADS_1
Tanpa dipersilahkan, Amora mengambil langkah untuk masuk kedalam rumah. Melewati Winter begitu saja. Dia benar-benar merealisasikan rencana yang sudah ia susun agar Winter kembali kepadanya, memilihnya dan hidup bersamanya.
“Mora, kita bisa bertemu ditempat lain. Bukan dirumah. Snow sedang kurang sehat.”
“Kenapa memangnya? Dia juga perlu tau siapa aku, dan apa hubungan kita.”
Winter menahan nafas mendengar jawaban Amora yang sangat percaya diri, telapak tangannya tiba-tiba mengepal disisi tubuh. Ia tau harus membicarakan ini dengan Snow, cepat atau lambat. Tapi tidak sekarang. Tidak ketika Snow sedang terpuruk dan tertekan.
“Aku tau. Aku akan memberitahu Snow jika waktunya sudah tepat.”
“Kapan? Bahkan aku tidak merasa kamu sedang berusaha menolak kehadirannya akhir-akhir ini.”
Ya. Winter juga merasa demikian. Pendapat Amora tidak salah. Wanita itu memang selalu peka dengan semua tindak tanduknya.
“Mora, Snow sedang sakit. Jadi aku rasa bukan tindakan yang etis jika kita memberitahu dia tentang siapa dirimu dan apa hubungan kita saat ini.”
Mendengar itu, Amora kini melempar tatapan tajam dan wajah kesal penuh amarah kepada Winter.
“Aku janji akan membicarakan itu bersama Snow. Dia juga sudah tau tentang hubungan kita. Aku memberitahunya.” cerocos Winter, berharap Amora mau menerima dan segera pergi dari sini sebelum Snow bangun karena pembicaraan mereka yang sedikit gaduh.
“Bukan seperti itu, aku sama sekali tidak ada niat mengusirmu, tapi Snow benar-benar sedang sakit hari ini. Aku hanya merasa tidak pantas jika dia mendengar semuanya ketika ia sedang dalam kondisi kurang baik.”
Amora mengangguk. Ia tau betul jika Winter berusaha mencari-cari alasan agar dia segera pergi.
Dengan langkah sedikit lebar, Amora berbalik dan kembali mengecup bibir Winter. Lalu berpamitan pulang, merasa harus membuat rencana lebih matang dari hari ini.
Namun disudut lain, Snow yang melihat Winter sedang berciuman dengan seorang wanita, hanya bisa menahan genangan air mata yang terus mendesak paksa untuk jatuh. Akan tetapi, hari ini terasa begitu berat untuk Snow. Rasa-rasanya, tubuhnya tak akan bisa lagi berdiri lebih lama dari tempatnya berpijak. Hatinya ngilu, sakit sekali melihat Winter dan wanita itu berciuman tepat didepan matanya.
Dan sebelum Winter menyadari keberadaannya, Snow kembali naik ke ranjang, menarik selimut sebatas dada, kemudian membelakangi pintu kamar agar Winter tidak bisa melihatnya yang sedang hancur.
Suara derit halus pintu terdengar, dan benar dugaan Snow jika Winter akan kembali ke kamarnya. Ia bahkan merasakan ranjang empuk itu memantul lembut, dan seseorang menyelipkan lengan di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Winter, laki-laki yang selalu membuat Snow berfikir jika tidak seharusnya ia masih berada disini.
Diam. Sunyi. Winter tidak berkata apapun selain memeluk tubuhnya dari balik punggung. Nafas Winter terdengar sedikit kacau, dan Snow bisa dengan mudah menebak. Winter tidak tenang.
__ADS_1
Snow menggeliat kecil, membalik badan dan wajah mereka bertemu. Snow mencoba tersenyum meskipun terasa begitu sulit, dan ia tidak menduga jika Winter membalasnya dengan senyum lebar yang terlihat hangat dan tulus.
“Sudah bangun? Apa kamu lapar?”
Snow menggeleng lemah, hatinya yang lelah dan hancur itu bisa merasa sedikit lega hanya dengan melihat senyuman yang terbit dibibir Winter.
“Tidurlah lagi. Aku akan menemanimu disini.”
“Aku tadi mendengar suara seseorang berbicara, apa ada tamu?” tanya Snow, memancing jawaban apa yang akan dikatakan Winter. Jika ia mendengar jawaban itu sesuai kebenaran yang ia lihat, Snow akan memaafkan dan melupakan semuanya tanpa harus merasa sakit hati karena dibodohi. Hanya perlu berfikir bagaimana cara mengakhiri hubungan mereka secepat mungkin, meskipun belum berada dititik tiga puluh hari. Snow tidak mau menjadi penghambat hubungan mereka.
Winter tersentak. Dia berharap Snow tidak mendengar pembicaraannya dengan Amora.
“Itu tadi... ada seseorang yang mengirim paket dan salah alamat. Oh iya, apa itu paket milikmu? Mengapa aku bodoh sekali tidak menanyakan nama penerimanya, tadi?”
“Ah, pengirim paket ya. Aku tidak memesan apapun, kok. Jadi kak Winter tidak perlu khawatir apapun.”
Winter terlihat tersenyum lega, tanpa tau bagaimana hati Snow yang semakin berkeping karena sebuah kebohongan. Apa ia sebodoh itu sampai-sampai dipermainkan oleh setiap laki-laki yang hadir didalam hidupnya? Oh, Snow rasa dia memang bodoh. Bodoh sekali hingga bisa menyuguhkan sebuah senyuman setelah rasa percaya yang ia berikan kepada Winter menghilang entah kemana.
“Aku lelah, mengantuk.” tutur Snow, parau sembari memejam untuk menghentikan kabut yang mulai menguasai matanya.
“Eum. Tidurlah. Aku akan tetap disini sampai kamu tidak lagi merasa sendiri.”
Snow ingin sekali tertawa mendengar hal itu. Tidak lagi merasa sendiri, lucu sekali. Winter sangat lucu.
Kepala Snow mengangguk samar memberi izin. Ia akan tetap memendam semuanya sendiri dan tidak akan melibatkan siapapun lagi kali ini. Jika harus terluka, ia pikir hanya dirinya yang pantas menerima itu. Tidak orang tuanya, tidak juga Winter. Hanya dia sendiri.
“Good night, Snow White.”[]
...🍃🍃🍃...
...Harus diapakan ya, si Winter ini?...
...Tinggalkan Like dan komentar kalian ya, tambahkan juga Wedding Maze kedalam bacaan favorit kalian jika tidak ingin ketinggalan kelanjutan ceritanya....
__ADS_1
...See You Soon....
...Vi's...