Wedding Maze

Wedding Maze
WM-46|MAAF, KITA TETAP BERPISAH|


__ADS_3

...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan Wedding Maze kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...


Ada gelegak aneh yang membuat hati Snow menghangat kala mentari menyapa wajahnya dari celah gorden yang tertiup angin dari pendingin ruangan. Satu rangkulan erat di pinggang kecilnya, kepala yang bersandar dibalik punggungnya, juga dengkuran dan nafas halus seseorang yang terasa hangat ketika menyentuh permukaan kulitnya.


Ini bukan mimpi. Winter benar-benar berada dikamarnya, memeluk erat, dan menyentuhnya semalam. Ya, mereka benar-benar terbawa suasana dan melakukan penyatuan yang seharusnya bisa mereka hindari.


Dokter menyarankan agar Snow sementara tidak melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu, agar rahimnya kembali kuat dan siap ditempati calon kehidupan baru selanjutnya. Tapi ia mengabaikan semua, menjadi bodoh, lantas membiarkan Winter menyentuh tubuhnya sekali lagi. Melepas bukti cinta mereka didalam tempat yang seharusnya belum boleh di jamah.


Snow menggeliat, berusaha menarik diri dari pelukan Winter yang nyatanya semakin melilit. Kemudian, dengan suara serak dan berat, Winter menyapa Snow. “Selamat pagi,” ucap Winter sembari menyembunyikan wajahnya di dalam ceruk leher Snow.


Seharusnya ini terjadi sejak dulu, bukan disaat hubungan mereka diujung perpisahan seperti ini. Snow tersenyum. “Selamat pagi. Aku harus bangun, tolong lepaskan aku.”


“Jangan pergi dulu.” rengek Winter, mempererat lilitan lengannya pada pinggang kecil Snow yang kini terasa begitu nyaman.


Okey. Snow mengalah. Dia berhenti membuat pergerakan dan membiarkan dirinya menjadi bodoh sekali lagi dengan membiarkan Winter menguasai seluruh jiwa dan raganya.


Akan tetapi, sebuah ingatan kembali berkelebat di dalam kepala Snow. Ia kembali mengingat ketika resepsionis memberikan sebuah kotak kecil kepadanya, yang katanya itu adalah pemberian Winter, Snow ingin menanyakan itu.


“Eum, aku ingin bertanya sesuatu.”


“Katakan.”


Snow menggeliat tanpa berusaha melepas pelukan Winter. Ia mengubah posisi untuk menatap wajah tampan laki-laki yang akan menjadi mantan suaminya itu dengan penuh telisik. Manik mata mereka beradu.


“Kotak yang kamu titipkan resepsionis rumah sakit. Sebenarnya apa tujuanmu memberikan itu kepadaku?”


Winter diam sejenak, mengingat kembali tentang apa yang dikatakan Snow.


“Ah, itu. Apa kamu sudah melihat isinya?”


Snow menggeleng. “Aku tidak membukanya.”


“Kenapa?”


Snow mengedikkan bahu. Ia tidak ingin mengatakan alasan jika dia sangat membenci Winter saat itu.


“Bagaimana kalau kamu melihatnya sekarang?”


Snow menggeleng. Ia bergerak dan membawa tubuh polosnya bangkit dan bersandar pada kepala ranjang. “Tidak. Katakan saja, aku lupa meletakkan barang itu dimana.”


Winter turut bangkit, dia juga bersandar pada kepala ranjang dan mengusuk surai Snow yang berantakan. “Sebuah kalung. Aku membelinya ketika perjalanan pulang dari luar kota, dan ingin memberikan itu sebagai hadiah. Tapi kamu tidak ada dirumah, membuatku panik, kemudian kamu pulang dengan pria yang sama sekali tidak pernah kamu tunjukkan kepadaku.”

__ADS_1


Ah, mengapa Winter yang seperti ini terlihat menggemaskan dimata Snow. Laki-laki yang biasanya tegas dan menakutkan itu menjelaskan dengan detail kejadian suram yang sebenarnya ingin Snow lupakan. Tapi entah mengapa, mendengarnya dari Winter, Snow seolah sudah rela dan tidak lagi ingin menyimpan rasa sakit yang dulu begitu menyiksanya.


“Aku jadi urung memberikannya padamu.” lanjut Winter dengan sorot menyesal. “Dan tentang kejadian itu, aku juga sangat menyesal. Andai saja aku tidak memperlakukan dirimu sekasar itu, pasti dia masih ada didalam pe—”


“Ah, sudahlah. Aku sudah rela melepas kepergiannya.”


Winter mengangguk dengan binar redup penuh getir. “Maafkan aku.”


“Ya. Aku memaafkanmu. Jadi, tolong jangan pernah lagi mengungkit masa itu.” Snow meraih telapak tangan Winter dan menepuk lembut punggung tangan Winter dengan telapak tangannya. “Semua orang pasti memiliki sebuah penyesalan. Tapi, mereka juga berhak mendapatkan kebahagiaan dimasa depan sebagai gantinya.”


“Ya. Kamu benar. Dan sebagai gantinya, jika ada sesuatu yang terjadi setelah kita melakukan nya hari ini, beritahu aku, jangan menyimpannya seorang diri. Aku akan bertanggung jawab, apapun resikonya nanti.”


...***...


Siapa sangka, pertemuan dengan Winter hari itu membuat Snow merasa lebih bebas. Beban yang ia pikul tidak seberat sebelumnya, ia juga terlihat lebih cerah, bahkan kebencian itu menguar begitu saja. Ya, katakan saja Snow lebih bahagia sekarang.


Sebelum berpisah, Snow juga memiliki satu permintaan kepada Winter, yakni bertemu dengan kedua orang tua Winter untuk meminta maaf dan berterima kasih. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan selain sedih berkepanjangan dan meratapi nasib.


Tapi kembali lagi, setelah pertemuan dengan Winter, suasana hati Snow benar-benar berbeda. Dia jauh lebih bahagia.


Dan sekarang adalah harinya. Hari dimana keinginannya untuk bertemu ibu dan ayah mertuanya akan terwujud.


“Kenapa tersenyum seperti itu?” tanya Winter dibalik kemudi. Sejak beberapa menit lalu, ia menangkap bibir penuh senyum membingkai wajah ayu Snow. Wanita itu terlihat cukup senang saat ini.


“Tidak. Aku hanya senang bisa bertemu dengan mama sebelum kita berpisah.”


“Apa ada hal...lain yang sedang kamu pikirkan hingga membuatmu terlihat aneh begitu?”


Aneh ya? Snow baru menyadari jika ekspresinya saat ini terlihat aneh. Apa dia terlihat seperti—orang gila?


“Ah, maaf.” sahutnya kemudian. Ia tidak bisa mengontrol kebahagiaanya hingga terlihat aneh didepan Winter, dan itu sangat memalukan.


Mobil Range Rover Evoque itu kini telah memasuki halaman kediaman kedua orang tua Winter. Jantung Snow berdetak kencang, serta gugup ketika ia mengingat kembali tujuannya datang kesini. Ia yakin, jika orang tua Winter pasti kecewa kepadanya karena telah memutuskan berpisah.


Tetapi, semua kegundahan itu menguar kala melihat dua orang yang menunggu kedatangannya itu tersenyum hangat ketika langkahnya mencapai ruang keluarga.


Hellen berjalan kearahnya untuk menyambut. Sebuah pelukan mendarat erat, dan usapan penuh kasih ia rasakan sepanjang surainya yang terikat. “Bagaimana kabarmu sayang? Maaf mama tidak bisa datang ke rumah sakit untuk menemanimu.”


Snow hampir tersedak salivanya sendiri. Dia sama sekali tidak menerka jika Hellen akan mengatakan itu. Snow memberanikan diri untuk membalas pelukan, lantas memberi tanggapan kepada Hellen. “Tidak apa-apa, ma. Snow baik-baik saja. Snow yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menjaganya dengan baik.”


Hellen menggeleng diatas bahu Snow, kemudian menekan tengkuk leher Snow agar menyarangkan dagunya di bahu Hellen. “No, no! Winter yang salah. Dia sudah mengatakan semuanya kepada mama dan papa. Maaf.”


Ya ampun. Mengapa Snow merasa begitu berharga? Mengapa kedua orang tua Winter memperlakukannya sebaik ini?


Bulir air mata Snow tidak lagi sanggup tertahan. Sekali lagi ia tercenung oleh perlakuan Winter yang sudah menceritakan semuanya kepada orang tuanya.


“Mama tidak bisa mencegahmu meminta perpisahan itu dari Winter. Karena Winter memang melakukan kesalahan fatal terhadap dirimu, dan calon anaknya sendiri.”

__ADS_1


Snow tergugu, ia memeluk erat Hellen tanpa ragu sama sekali. “Maafkan mama tidak bisa menjadikan Winter pria yang baik untukmu.”


Tiba-tiba, pandangan Snow tertuju pada Winter yang berdiri tidak jauh darinya. Laki-laki itu sedang menunduk pilu sembari memainkan kunci mobil yang ia bawa. Snow dapat melihat kabut penyesalan di wajah rupawan Winter.


“Mam, mama tidak perlu mengatakan itu. Bukan sepenuhnya salah kak Winter. Snow juga bersalah. Dan—” Snow menjeda, mengambil nafas besar, kemudian melanjutkan. “—terima kasih sudah menerima Snow ke dalam keluarga Bruddy.”


Hellen menggeleng, lantas menarik tubuhnya dari pelukan dan menangkup hangat pipi Snow yang basah oleh air mata, kemudian mengusapnya penuh kasih. “Mama hanya memintamu untuk tetap memanggil mama dengan sebutan mama, dimanapun kamu melihat mama, nanti.” pinta Hellen dengan airmata yang mulai jatuh, dan Snow memberikan usapan pada lengan dan sebuah anggukan sebagai jawaban.


Snow beralih menatap papa Winter. Rehan Bruddy, laki-laki itu pun menyodorkan sebuah pelukan terbuka lebar untuk Snow. Rehan tak kalah terkejut ketika mendengar berita jika Snow meminta berpisah dari putranya. Namun, setelah mendengar semua penjelasan, dan juga ia sempat melayangkan bogem kepada putranya sendiri, Rehan pun memahami, menerima dengan lapang dada jika Snow meminta perpisahan itu.


“Maafkan Snow, papa.” ucap Snow ketika tiba dalam rengkuhan kedua lengan Rehan. Snow meletakkan kepalanya didada papa mertuanya, menangis disana, menyesal sudah tidak bisa menepati janjinya ketika memutuskan untuk menikah dengan Winter. “Maaf, Snow tidak bisa menepati janji Snow kepada papa. Dan Snow harap, papa tidak kecewa.”


Rehan mengusap puncak kepala Snow, lantas menyandarkan satu sisi wajahnya disana. “Kamu sudah berusaha. Papa yang seharusnya meminta maaf karena tidak bisa membuat Winter menjadi sosok laki-laki yang baik, menyayangi, dan menghargaimu. Papa harap, setelah berpisah dengan Winter, kamu akan menemukan sosok baru yang mencintaimu dengan tulus.”


Ada rasa tidak terima, juga denyutan sakit dihati Winter saat mendengar do'a ayahnya untuk Snow. Dia bahkan tidak rela ketika mendengar harapan itu, yang mungkin suatu saat akan menjadi kenyataan, lalu Snow...menjadi milik orang lain.


Snow mengangguk. Ia hanya ingin Rehan lega akan jawaban yang ia berikan, meskipun dalam batin Snow, dia masih ingin semuanya berjalan mundur, membawanya kembali ke memori dimana ia dan Winter pertama kali bertemu. Lalu mereka menerima perjodohan, melewati rintangan dan perbedaan karakter bersama-sama. Lantas mereka berakhir bahagia.


Tapi itu semuanya hanya angan kosong yang terbang terbawa angin. Menghilang entah kemana.


“Papa, juga tetap menjadi papa bagi Snow. Snow janji, akan menjawab panggilan telepon papa, atau menemui papa jika papa ingin bertemu. Meskipun Snow dan kak Winter—”


“Bisakah kita memulainya lagi dari awal?” sahut Winter, tiba-tiba memotong pembicaraan Snow dan papanya. Ia sudah tidak lagi sanggup menahan setiap goresan luka ketika Snow berkata ingin berakhir dengannya.


Suasana menjadi senyap. Tiga pasang mata menyorot ke arah Winter yang masih berdiri di tempatnya semula. “Tidak ada kata tiga puluh hari. Tidak ada sebutan istri menyusahkan,—”


Ucapan Winter terhenti ketika melihat Snow berjalan mendekat kearahnya dengan langkah pilu. Mungkin, Snow menginginkannya, sangat ingin. Tapi, hatinya tetap menolak. Untuk itu, ketika ia berdiri tepat didepan Winter, ia menatap manik indah pria itu lamat-lamat. Lalu, dengan bibir bergetar, ia berkata. “Maaf, kak. Kita akan tetap berpisah.” []


...To be continued....


...🌼🌼🌼...


Mampir juga di cerita Vi's yang lain. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.

__ADS_1


...See You....


__ADS_2