Wedding Maze

Wedding Maze
WM-30 |SEBUAH HARAPAN YANG TIDAK TERDUGA|


__ADS_3

Matahari sudah lebih tinggi. Snow duduk di kepala ranjang dengan bantal dipangkuan dan selimut menutup bagian kaki hingga pangkal paha. Matanya menyorot tajam ke arah presensi yang duduk ditepian ranjangnya, memaksa dia untuk membuka mulut dan mengunyah bubur yang di suapkan.


Sejenak, Snow merasa berharga akan perhatian Winter. Ia bahkan menahan buncahan kebahagiaan di dadanya tatkala Winter yang tadinya memakai kemeja rapi, sudah berganti dengan kaos rumahan yang terkesan santai dan celana pendek selutut. Namun tidak pernah mengurangi kadar ketampanan diusianya yang ada pada angka 33 tahun.


“Sudah. Aku mual.”


“Kamu tidak dengar apa yang dikatakan dokter Robert tadi? Lambungmu sedang bermasalah, dan kamu harus mengatur pola makan sesuai yang disarankan dokter Robert tadi.” cerocos Winter. Kemudian ponselnya bergetar. Winter melirik ke arah Snow yang juga sedang memperhatikan. “Joana, resepsionis yang kamu beri bekal kemarin.”


Mendadak Snow merasa tenang ketika tau yang menghubungi Winter adalah Joana, bukan Amora.


“Iya, Jo. Aku absen hari ini. Beritahu Amora untuk menunda semua jadwalku untuk hari ini dan besok.”


Besok? Dia berencana menemaniku dirumah selama dua hari?


Snow menatap lurus pada Winter yang masih berbicara dengan resepsionis diseberang.


“Iya. Aku sedang kurang sehat.”


...***...


Seharian ini, Snow harus bergelut dengan rasa tidak nyaman akan kehadiran Winter dirumah. Ia merasa sedikit aneh mendapati Winter menemaninya. Akan tetapi, terlihat semakin aneh jika dia merasa baik-baik saja.


Selain mencoba menikmati waktu bersama, hari ini mereka memiliki satu hal yang harus dilakukan berdua. Tadi pagi, selain memeriksa keadaan dengan keluhan umum yang dikeluhkan oleh kebanyakan pasien penderita gangguan lambung, dokter Robert juga menyarankan mereka berdua untuk mengunjungi dokter kandungan.


Meskipun Snow dan juga Winter sempat menolak dan menyangkal akan keluhan yang disinyalir sebagai keluhan orang yang sedang berbadan dua, pada akhirnya Winter memutuskan untuk membuat janji dengan salah satu dokter kandungan yang direkomendasikan dokter Robert, kemudian membawa Snow ke rumah sakit swasta tersebut dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


Satu sisi dirinya begitu antusias dan berharap banyak jika Snow benar-benar akan memberikan seorang anak padanya. Satu sisi lain memberontak menolak. Usia pernikahan mereka masih dibilang seusia jagung, ah, tidak, masih dalam kategori hitungan hari. Tidak mungkin Snow sudah mengandung hanya dalam waktu singkat dan hubungan senggama yang dilakukan juga tidak intens.


Namun satu hal yang tidak diketahui oleh Winter. Dia menggauli Snow ketika gadis itu berada dalam masa subur.


“Kapan terakhir kali Anda datang bulan, nyonya Snow?” tanya dokter Anne, mencoba menarik kesimpulan.


”Sekitar setengah bulan yang lalu, dokter.”


Pantas saja.


Dokter Anne tersenyum penuh makna, membuat Winter yang melihatnya semakin berdebar. Apakah benar dugaan dokter Robert?


“Masih belum terlihat. Coba nanti datang kembali jika nyonya Snow bulan depan tidak mendapati mens, ya?” dokter paruh baya itu duduk diatas kursi kerjanya, menulis sesuatu di kertas yang berisi informasi rekapitulasi kesehatan Snow. “Atau, nyonya dan tuan bisa melakukan tes mandiri dulu dirumah. Nanti kalau tidak yakin dengan hasilnya bisa menghubungi saya atau datang lagi kesini.”


Snow yang baru saja turun dari bangkar, duduk disamping Winter dan ikut mendengarkan solusi dari dokter Anne.


Wajah pucat Snow terlihat semakin pasi. Dia tidak menyangka jika akan terjadi secepat ini. Apa Tuhan memang sengaja memberikan semua ini kepadanya? Agar dia maupun Winter bisa saling menginspeksi diri mereka masing-masing?


“Saya resepkan vitamin dulu, nanti diminum rutin ya?” tutur dokter Anne sembari mendorong selembar kertas resep bertulis tegak bersambung yang tidak terbaca dengan jelas kearah Winter dan Snow. “Semoga benar-benar ada ya.”


Snow tersenyum getir. Bukan tidak bersyukur, tapi hanya masalah waktu, yang tentu saja tidak dalam keadaan tepat.


...***...


Sepanjang perjalanan pulang yang ditemani suasana riuh jalan raya, Snow dan Winter hanya bertema diam. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing, dan tentu saja tidak menyangka akan kemungkinan kehadiran calon kehidupan baru didalam diri Snow.

__ADS_1


“Maaf.” ucap Winter lirih, membuka suara untuk memecah keheningan. “Aku tidak pernah menduga akan terjadi secepat ini.” Ada binar bahagia yang bisa ditangkap oleh Snow diwajah Winter. Melihat itu, manik Snow mulai berkabut.


“Mungkin semuanya tidak akan seperti ini jika aku bisa menahan diri untuk tidak menyentuhmu.”


Harga diri Snow tersakiti. Ia memutar wajah geram dengan sorot tajam menghujam. “Kamu menyesal? Tentang kemungkinan jika aku sedang mengandung?”


“Bukan begitu. Aku tidak bermaksud bicara seperti itu.” Winter menyangkal apa yang memang diterka snow itu tidaklah benar. “Bahkan aku berharap jika kamu benar-benar mengandung anakku. Aku senang bukan kepalang, Snow. Aku tidak sabar menunggu kabar kehadirannya bulan depan.”


Apa boleh Snow berkhayal jika Winter akan mencintai dia dengan sungguh-sungguh? Snow tidak ingin terluka lebih jauh, tapi hatinya selalu menolak jika raganya meminta untuk mundur.


“Aku akan menjadi orang pertama yang sangat bahagia dan bangga kepada diriku yang bisa menghadirkan sesosok manusia kecil menggemaskan dalam dirimu.” tutur Winter berapi-api. “Itu tandanya, kita berdua orang hebat. Benar kan?” kelakarnya sembari mengerling genit kearah Snow.


Ada sepercik kebahagiaan yang mencetak rona diwajah Snow. Winter selalu berhasil membuat pipinya merona secara alami.


“Mulai sekarang, aku akan berusaha selalu ada untuk kamu.”


Snow kehabisan kata-kata. Kerongkongannya serasa kering karena ucapan-ucapan manis dari Winter.


“Meskipun nanti, aku akan berada diluar kota selama empat hari. Aku akan selalu memberi dan bertanya kabar denganmu. Kita harus tetap saling berkomunikasi.”


Kalimat itu ditanggapi dengan sebuah anggukan oleh Snow, meskipun beberapa pertanyaan seperti 'apakah dia tulus melakukan ini?' selalu berkelebat dan membuat hati dan pikirannya runyam. []


...Bersambung....


...Jangan lupa follow, favorit, like, serta tinggalkan komentar kalian yang membangun ya......

__ADS_1


...Thanks....


__ADS_2