Wedding Maze

Wedding Maze
Short Story With Sunny Ep.03


__ADS_3

...Selamat membaca......


...Jangan lupa tekan gambar jempol, tambahkan pada list favorit, komentar, hadiah, dan juga Vote nya ya readers baik hati sekalian......


...Terima kasih....


...•...


...Sunny Ep.03 |Secret Admirer, isn't it?|...


Sunny mengetuk-ngetuk meja kantin karena bosan. Jam makan siang sudah hampir habis, bel mungkin sepuluh menit lagi akan berbunyi, tapi Ben tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Dengan bibir dilipat kedalam, Sunny mengangkat lengan untuk melihat arloji pada pergelangan tangannya dan memastikan jika jam kantin sama dengan jam miliknya.


“Kenapa tidak datang ya?” gumam Sunny lagi-lagi melirik jam tangan. Lalu sebuah asumsi muncul didalam kepalanya. Sama seperti Sunny yang sempat berfikir tentang perbedaan mereka, apa Ben juga merasa begitu? Untuk itu ia tidak datang. Apa memang karena hal itu?


Sunny memilih tersenyum, lalu berdiri dari tempatnya menunggu, lantas ia meninggalkan kantin dan berjalan hendak kembali ke kelas. Namun ditengah perjalanan menuju kelasnya, ia melihat Ben berjalan dari arah belakang gedung sekolah. Sunny mengernyitkan dahi.


“Bukankah pintu itu menghubungkan dengan taman terbengkalai? Lalu mengapa Ben justru muncul dari sana?” gumam Sunny dalam hati. Langkahnya kembali memutar, ia mengejar Ben yang terlihat belum jauh, lantas menghentikannya.


Ben yang terkejut harus sampai membuat gelagat aneh didepan Sunny. Ia ingin menghindar dan tidak lagi berurusan dengan Sunny agar tidak terkena masalah, lantas beasiswa tetap ia terima. Namun gadis dihadapannya itu justru membuat Ben kembali dirundung rasa khawatir karena Sunny menahan langkah yang ingin kembali ia pacu untuk pergi dari sana.


“Kenapa tidak datang, Ben? Aku sudah menunggumu sejak jam istirahat kedua dimulai.”


Ben menyesali dirinya yang tidak bisa menepati janji. Namun terlepas dari itu, Ben benar-benar tidak ingin mendapatkan masalah. Kelulusan tinggal menghitung bulan, dan dia tidak ingin semuanya kacau sebelum ia lulus dari sekolah favorit ini.


“Maaf, aku lupa.”


Ada yang aneh. Tapi Sunny mencoba abai. Ia lalu tersenyum, merogoh saku blazer biru tuanya dan mengeluarkan sebungkus roti dan sekotak susu yang ia sodorkan didepan Ben. “Ini, sebagai ganti ucapan terima kasihku padamu. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman Ben.” tutur Sunny yang tak lepas menyuguhkan senyum. Ia merasa Ben tidak nyaman berada disekelilingnya, dengan perlakuannya, untuk itu Sunny memutuskan meminta maaf dan berniat tidak akan lagi mengganggu Ben mulai hari ini. Ya, mungkin asumsinya benar. Ben adalah golongan orang taat dan akan menerima sebuah pertemanan jika mereka seiman, begitu? “Terima kasih sudah—”


“Maaf. Aku harus segera kembali ke kelas.” potong Ben tiba-tiba, membuat Sunny terdiam dengan lidah kelu dan tatapan lurus melihat kepergian Ben tanpa menerima pemberiannya.

__ADS_1


Baiklah. Mungkin mereka memang tidak bisa bersama, meskipun hanya sebatas teman, tetap tidak akan bisa, walau dipaksa. Sunny menyerah dan memutuskan pergi, tanpa menoleh lagi kebelakang.


***


Setelah hari itu, Sunny dan Ben benar-benar tidak lagi bertemu. Mereka sibuk menoreh prestasi masing-masing. Ditambah lagi bebagai jenis latihan dan juga serangkaian ujian kelulusan yang padat, membuat hampir semua murid memilih berkonsentrasi belajar dan berkompetisi mendapatkan nilai terbaik.


Ben belajar dan terus belajar. Disamping itu, dia juga sudah mendaftarkan diri untuk ikut program beasiswa disebuah universitas luar negeri yang selama ini ia incar. Ben terlihat seperti gila akan sebuah gelar, tapi tidak, sama sekali tidak. Dia hanya ingin mengangkat derajat kedua orangtuanya, membantu perekonomian mereka, dan mengentas keduanya dari kemiskinan. Ben sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk itu. Dia bahkan berjanji tidak akan mengenal wanita sebelum ia sukses dan mendapat apa yang ia inginkan. Terdengar ambisius sekali bukan? Tapi Ben benar-benar tidak ingin melihat kedua orang tuanya hidup dalam rengkuhan kemiskinan terlalu lama. Karena yang miskin itu, yang disisihkan. Ben merasakan sendiri bagaimana teman-teman disekolah hanya mendekatinya jika mereka memerlukan bantuan. Jika tidak ada, mereka kembali menjauh bahkan pura-pura tidak kenal.


Sedangkan Sunny, ia pun belajar dan banyak mengikuti bimbingan belajar seperti yang diinginkan Winter, ayahnya. Mengikuti les tambahan hingga ia harus pulang malam, ditambah lagi belajar mandiri dirumah tanpa lelah. Baginya, mempertahankan prestasi adalah sebuah kewajiban.


Sunny membuka note book kecil yang berisi berbagai macam catatan penting mulai dari rumus matematika, tata bahasa asing, bahkan sejarah juga ada didalam sana, lengkap.


Akan tetapi, bukan itu yang membuat Sunny terpaku menatap buku kecil dalam genggaman tangannya itu, melainkan kenangan yang sempat terukir enam bulan yang lalu. Dimana Ben, pemuda yang sempat membuatnya berminat mengenal apa itu...cinta?, memberikan buku itu padanya. Sunny memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam dan mencoba melupakan kenangan manis itu. Sia-sia, karena dia semakin larut dan membayangkan bagaimana keadaan Ben, dan bagaimana rupanya saat ini. Terakhir kali dia melihat, Ben terlihat begitu tampan dan menggemaskan dengan rambut yang dibelah samping.


Oh God, mengapa aku tidak bisa menjadi temannya?


Pesan itu datang dari Dwynn yang memberi kabar, jika jam ujian besok di percepat satu jam, dan temannya itu meminta agar Sunny sampai di laboratorium komputer tepat waktu, karena mereka akan berbarengan dengan beberapa anak dari kelas regular.


Sunny mengetik balasan malas dan meng-iyakan permintaan Dwynn.


Tunggu! Kelas regular?


Sunny tiba-tiba bersemangat membuka pesan Dwynn, membacanya sekali lagi, kemudian tersenyum lebar ketika pesan tersebut memang benar, bukan hanya harapan karena sedang merindukan seseorang. Ups.


Sunny menggenggam ponsel dan meletakkannya didepan dada sambil menggigit bibir bawahnya, ia mendadak berdebar lagi. Bertanya-tanya apakah ini kesempatan terakhirnya bertemu Ben? Karena yang ia dengar beberapa waktu lalu, Ben lolos tahap pertama seleksi kuliahnya diluar negeri. Jadi, kemungkinan bertemu saat pelepasan dan wisuda akan sangat minim jika Ben lolos seleksi kedua. Itu artinya Ben tidak akan ikut Wisuda kelulusan karena harus sudah berangkat ke universitas tersebut.


Mengapa Sunny tau semua itu? Karena diam-diam Sunny mencari tau tentang program beasiswa yang sedang diikuti Ben.


Sunny kembali menurunkan ponsel, mengetuk layarnya dua kali, dan membuka galeri foto. Ada satu foto yang ia ambil diam-diam saat itu. Saat pertama kalinya dia melihat Ben berada di perpustakaan, sedang fokus pada buku yang dia baca. Sunny dengan lancang mengambil foto yang lumayan hasilnya, karena Ben terlihat bak seorang model foto genic majalah remaja disana. Wajah genius dan kaca mata yang bertengger di hidungnya begitu mendominasi hingga membuat Ben terlihat begitu nyata dalam foto tersebut.

__ADS_1


“Semoga kita bisa berteman, suatu saat nanti. Meskipun bukan sekarang, aku akan tetap berharap, jika kita bertemu lagi suatu saat nanti, kita bisa menjalin sebuah hubungan pertemanan. Karena aku ingin berteman denganmu.”


Sunny berdiri, mematikan lampu belajar dan mulai merebahkan diri diatas tempat tidur saat menyadari hari sudah sampai pada penghujung malam. Ditatapnya sekali lagi foto Benodick sembari tersenyum. “Selamat malam, teman.”[]


...To be continued....


...____________...


...Jangan lupa baca cerita Vi's yang lain, yang pastinya tidak kalah seru, menguras emosi dan air mata....


Baca-baca saja dulu, mana tau suka.


—White (Fiksi Modern) ; ini paling Fresh.


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


Atas perhatian dan dukungan readers sekalian, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


See You. 💕

__ADS_1


__ADS_2