Wedding Maze

Wedding Maze
WM-32 |VOICE MESSAGE|


__ADS_3

Hari kedua Winter pergi, Snow dirumah bersama Fallen—adik bungsu Winter—yang menginap dan menemani. Sebab Hellen mendadak mendapat telepon dan harus datang pada meeting darurat di salah satu perusahaan yang ia kelola.


Fallen memiliki sifat yang berkebalikan dengan Winter. Jika Winter cenderung pendiam dan cuek, Fallen memiliki kosa kata yang tumpah ruah dan hampir tidak bisa berhenti berbicara. Ada sebenarnya, satu cara membuat Fallen berhenti bercakap. Memberinya makanan. Dengan begitu, ia akan sibuk mengunyah dan minim bicara.


“Kak Winter tidak menghubungimu?” tanya Fall—panggilan Fallen, sambil mengunyah sekantong keripik kentang berukuran jumbo.


Snow menggeleng, sambil memotong wortel untuk persiapan makan malam nanti. “Kakakmu pasti sibuk.”


“Winter memang keterlaluan.”


Sebenarnya, Snow dan Fallen berada diusia sama. Itu salah satu alasan yang membuat Snow merasa sedikit canggung ketika berbicara dengan Fallen.


“Dari dulu Winter memang seperti itu. Jika aku jadi kamu, aku pasti akan memukul kepalanya setiap hari.” cerocos Fallen tanpa berhenti mengunyah makanan dan menjejalkan lagi satu tangkup keripik kedalam mulut hingga penuh.


Snow menggeleng. Ia mungkin akan bersikap seperti itu jika masih single. Tapi dia sudah menikah, mau tidak mau dia harus bersikap dewasa. “Tidak apa-apa, Fall. Lagian, sudah ada kamu disini. Aku tidak kesepian.”


Fallen meraih remote TV dan menyalakannya. Mencari film kartun berbentuk kotak seperti spons, berwarna kuning, dan memiliki teman berbentuk bintang berwarna pink, kesukaannya.


“Papa benci dengan Amora.”


Seketika gerakan pisau dalam genggaman Snow terhenti. Ia mengangkat wajah dan menatap Fallen yang fokus pada spons kuning yang sedang membuat burger.

__ADS_1


“Amora?”


“Eumm. Kamu tidak tau Amora?”


Snow menggeleng lemah. Baru beberapa hari yang lalu ia melihat wanita itu untuk pertama kalinya.


“Amora itu sekretaris Winter. Ia pernah diajak Winter pulang, tapi papa langsung meninggalkan mereka.”


“Ke-kenapa?”


Fallen mengedikkan bahu, melengkungkan bibir kebawah sekilas, lantas melanjutkan ucapannya. “Entahlah. Kak Leavy juga benci sama wanita bernama Amora itu.”


Benarkah? Jadi, seburuk apa Amora Dimata keluarga Winter?


Snow ingin tertawa dibagian itu. Bagaimana bisa Fallen selucu itu? Dia saja yang berusia sama, tidak pernah mengatakan hal-hal pribadi keluarga, meskipun kepada sahabatnya. Mungkin jika diibaratkan, Winter adalah orang kaya yang selalu menjaga image dirinya agar tidak di permalukan, tapi Fallen, tipikal orang kaya yang tidak tau malu.


“Oh ya? Benarkah?”


Fallen mengangguk pasti. Dia memang terlalu jujur untuk beberapa hal. “Jika Winter menyakitimu atas nama Amora, katakan padaku. Aku akan mengatakannya kepada papa agar mencoret Winter dari daftar penerima warisan. Biar kapok.”


Snow tertawa kali ini. Bahasa yang digunakan Fallen ketika bicara benar-benar kasar. Tapi Snow suka, dia seperti bicara dengan seorang teman. Fallen menyenangkan, dan Snow mengakui itu.

__ADS_1


Namun, disela canda tawanya bersama si bungsu ipar, tiba-tiba ponsel Snow berdering singkat. Tanda pesan masuk. Ia letakkan pisau dimeja, lantas meraih ponselnya dan menekan balon pesan yang ia berharap sekali pengirimnya adalah Winter untuk menanyakan kabarnya hari ini. Namun semua urung dan tidak sesuai yang ia harapkan ketika sebuah nomor tanpa nama muncul. Sebuah pesan suara.


“Aku tinggal sebentar ya Fall.”


Gadis itu terlalu sibuk mengunyah dan melihat kartun sponge nya, hingga tak mengindahkan ucapan Snow yang sekarang memilih berdiri dan meninggalkan Fallen untuk mendengar suara pesan di ponselnya.


Suara laki-laki yang familiar sedang berbicara dengan seorang perempuan. Kemudian wanitanya bertanya dan si laki-laki menjawab. Pada detik selanjutnya, mereka saling mengungkapkan perasaan satu sama lain. Hingga nama Amora disebut, dibarengi suara erangan dan desisan laki-laki yang Snow yakini adalah Winter.


Sontak ponsel dalam genggaman Snow jatuh bebas ke lantai. Ia mematung ditempatnya, tangannya yang menggantung di udara perlahan naik menyentuh bibir. Lantas menutup birai yang menganga tidak percaya itu dengan kesepuluh jarinya. Air matanya jatuh begitu saja. Mengapa dia harus mendengar itu? Apa ia hanya salah dengar? Atau voice message itu sengaja dikirim sebagai kejutan untuknya?


Snow menggeleng. Menahan suara tangisnya agar tidak terdengar Fallen.


“Tidak mungkin, kan?” sangkal Snow. Ia tidak akan percaya begitu saja, namun hatinya menolak. Jika memang benar itu Winter, jadi dia pergi bersama Amora? Mengapa tidak memberitahunya?.


Snow kembali melihat kearah ponselnya di lantai. Siapa yang tega mengirim pesan seperti itu?


Apa ini ulah Winter agar Snow mundur? Jika iya, mengapa dia membuat Snow tenggelam dalam perhatiannya beberapa waktu lalu?


Snow merosot di balik tembok kamar. Ia memeluk diri sendiri sembari membiarkan airmatanya menganak sungai.


“Labirin cinta yang memuakkan!” []

__ADS_1


...To be continued....


__ADS_2