Wedding Maze

Wedding Maze
WM-36 |TEMAN MASA KECIL|


__ADS_3

Snow hampir saja lupa dengan janjinya untuk pulang setelah Winter enyah dari pandangan matanya. Seorang kawan lama yang dulu pernah tinggal dan menjadi tetangga kompleks rumahnya, mengulurkan tangan, menawari Snow sebuah pertemanan yang pernah hilang.


Mobil hitam mengkilat itu menggesa jalanan, membelah sunyi menuju tempat dimana Snow tinggal bersama seseorang yang bahkan tidak ingin dia lihat untuk saat ini.


“Jadi, kamu sudah menikah? Mengapa paman Scott tidak mengundangku?”


Snow hanya tersenyum, sesekali dia melirik pada presensi laki-laki yang memaksanya masuk kedalam mobil Range Rover hitam dan mengantarkannya pulang.


“Papa tidak tau alamat baru rumah keluargamu. Ngomong-ngomong, apa kak Kris sudah menikah?”


Kristenn Keyworddy tertawa. Menikah? Kekasih saja dia tidak punya.


“Belum Snow. Lagi pula mama belum memberiku izin untuk menikah. Papa juga masih banyak memberikan arahan padaku untuk mengembangkan usaha. Perjalananku masih panjang.” terangnya, menatap Snow sekilas, lalu kembali melihat pada bentangan aspal yang malam ini sedikit dipenuhi orang-orang yang entah mau kemana. “Sepertinya aku terlambat, sampai kamu sudah dimiliki orang lain.”


Snow anggap itu sebuah kelakar dua orang mantan tetangga yang sudah lama tidak bertemu. Kekehan meluncur begitu saja dari bibir Snow. “Iya. Terlambat sekali. Sangat terlambat.”


Hingga akhirnya mobil mewah milik Kris memasuki area perumahan elite tempat Snow tinggal saat ini. Keduanya masih asyik bermain canda hingga Snow bisa sejenak melupakan masalah yang sedang mencuat didepan permukaan kehidupan yang ia jalani.


“Yang mana?”


“Eung?”

__ADS_1


“Rumahnya, yang mana?”


Snow merasa malu akan sikapnya sendiri. Dia memang melamun membayangkan masa kecilnya bersama Kristenn yang menyenangkan. Mereka tumbuh bersama meskipun usia mereka terpaut cukup jauh, dan Kris selalu menjadi sosok kakak laki-laki yang menjaga Snow. Hingga perpisahan kedua orang tua Kris menjadi penyebab mereka berpisah. Kriss hidup bersama sang ibu yang memilih pergi keluar kota, dan hidup disana berdua. Sedangkan ayahnya, memilih menikah kembali.


“Itu. Tolong berhenti beberapa meter sebelum sampai didepan rumah. Suamiku sedang galak.” maksud hati ingin bercanda, akan tetapi Kris tidak bisa menerima sebuah masalah menjadi sebuah candaan yang bisa di pandang sebelah mata. Dia sudah pernah merasakan berada diposisi itu sebagai seorang anak, dan itu sangat menyakitkan. Kris tidak bisa menerima begitu saja ucapan Snow tentang kehidupannya.


“Mengapa kamu mau diperlakukan suamimu seperti itu?” tanya Kris, menarik tuas rem tangan saat mobil berhenti beberapa meter dari rumah Snow dan Winter.


Snow tersenyum getir.


“Kami hanya berada dalam fase tidak sejalan. Kami berbeda arah, dan kami tidak sepaham.”


“Tapi, bukan berarti suamimu itu bisa memperlakukan dirimu seperti itu. Bukankah itu sangat keterlaluan? Memaksa seorang wanita untuk menuruti ego nya, bukankah itu berlebihan dan...jahat?”


“Menurutmu,” Snow menjeda, mencoba kembali meraba keinginan yang sedang bergejolak akibat emosi yang meluap dan meletup-letup bak air mendidih. “Apakah sebuah perpisahan itu buruk?”


Kris tau arah dan maksud pembicaraan Snow. Dia menoleh pada Snow sekejap, lalu kembali menatap bentangan malam diluar kaca depan mobilnya. “Apa kamu ingin berpisah darinya?”


Snow menunduk. Ada sedikit rasa menyesal mengatakan itu kepada Kris, karena laki-laki itu dapat menangkap maksudnya dengan sangat cepat dan tepat. Lantas ia meremas tepian kaos besar yang ia gunakan seraya menggigit bibir bawahnya hingga nyeri. Kepalanya mengangguk, membenarkan ucapan Kris.


“Sejak awal, kami memang tidak saling mencintai. Dan bodohnya aku, memaksakan perasaanku yang sejak pertama kali melihat dia, sudah merasa kagum. Bodoh. Aku memang bodoh.”

__ADS_1


Ucapan yang melecut dari bibir sewarna peach itu menjadi cambuk menyakitkan yang tiba-tiba saja menyakiti hati Kris. Ia tau Snow adalah gadis periang, ceria dan selalu optimis pada keputusan yang dia ambil untuk dirinya sendiri. Tapi kali ini, Kris dapat melihat kabut putus asa yang memenuhi wajah dan mata jernih yang kini berubah sayu.


“Jika berpisah adalah jalan terbaik untuk dirimu, lakukan saja. Keputusan itu tidak akan menjadi buruk jika kamu bahagia setelah berpisah dengannya.”


...***...


Winter tidak tenang. Sudah hampir satu jam ia mondar-mandir di teras rumah menunggu kedatangan Snow yang tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Entah mengapa, sejak Snow diperkirakan sedang mengandung—meskipun belum terlihat jelas—janin yang ada didalam rahimnya, Winter bersikap lebih posesif. Dia tidak ingin Snow melakukan hal-hal yang membuat calon bayinya itu berpotensi menghilang.


Lengan tangannya kembali mengambang diudara. Winter melihat jam tangan dan jarum sudah menunjuk angka sembilan malam. Ia merasa kesal juga frustasi, sebab percaya dan melepas Snow begitu saja, bukannya memaksa pulang bersama.


Jemarinya menyusuri surai, meremas kuat dengan gigi bergemelutuk dan satu tangan lainnya berkacak pinggang. “Sial! Kemana dia? Bukankah dia sudah janji akan pulang?”


Dengan langkah tidak sabaran, Winter berjalan melewati taman kecil dan berjalan keluar dari area rumah. Namun apa yang ia lihat saat ini, membuat kedua kakinya seperti terpaku diatas aspal yang seolah terasa panas membakar dari ujung kaki hingga kepala. Telapak tangannya mengepal kuat. Wajahnya berubah pias, rahangnya mengerat.


Disana, Snow keluar dari sebuah mobil hitam mengkilat dengan bantuan seorang laki-laki yang sama sekali tidak di ketahui siapa dan apa hubungannya dengan Snow.


Sebuah seringai muncul di sudut bibir Winter. “Chh!” Winter berdecih. “Apa dia ingin membalas perlakuanku kepadanya selama ini?” gumamnya ditengah gejolak amarah yang nyatanya semakin melambung. “Baiklah. Aku akan menunggu penjelasan darinya.”


Winter memutar tungkai, memutuskan untuk meninggalkan dinginnya udara malam diluar rumah, memutuskan untuk menunggu Snow dirumah dan meminta penjelasan dari wanita itu nanti. Namun terlepas dari semua yang terjadi hari ini, setidaknya, dia tau Snow sudah berada dalam jangkauan pengawasannya.

__ADS_1


Dan entah mengapa, itu membuat hatinya sedikit berubah lega. []


...To be Continued....


__ADS_2