Wedding Maze

Wedding Maze
Short Story With Sunny Ep.08


__ADS_3

...Ada pelangi setelah hujan....


...Ups......


...Ada konflik kecil di part ini, man-teman....


...Jangan lupa Like, komentar, dan jika berkenan beri hadiah dan juga Vote untuk Ben-Sunny ya......


...Terima kasih,...


...Happy Reading......


...•...


...Sunny Ep.08|More Than Assumption|...


Jika sinar matahari membutuhkan waktu 8 menit 17 detik untuk melalui jarak rata-rata dari permukaan matahari ke bumi, maka tidak butuh waktu selama itu bagi Ben untuk menemukan sinar mataharinya sendiri.


Ya, disana, mataharinya terlihat begitu berbeda dari yang lain. Gadis bersurai ash brown, mengenakan kemeja satin berwarna biru langit, rambut yang diikat rapi menjadi satu, dan tentu saja yang tidak pernah berubah dari mataharinya itu adalah wajahnya yang masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, masih sangat cantik dimata Ben—atau mungkin semua laki-laki, sedang menunggunya. Menunggu dengan raut yang terlihat berbinar, bibir melukis senyuman manis, dan manik rusa yang menyorot hangat kehadirannya.


Ben berjalan mendekat, dan disambut sebuah senyuman manis milik Sunny yang tak akan pernah lekang oleh waktu. “Hai.” sapanya sembari mengulurkan tangan dan disambut oleh Sunny.


“Hai.”


Ben tau dengan jelas jika Sunny sama gugupnya dengan dia. Telapak tangan Sunny terasa sangat dingin dan juga berair, itu sudah menjadi bukti jika seseorang sedang gugup, bukan?


Tak menunggu di perintah, Ben menarik kursi yang berada tepat didepan Sunny. Merekam setiap fitur wajah Sunny yang sudah lama tidak ia lihat. Namun semua rasa kagum yang hampir muncul ke permukaan itu harus sirna karena Sunny tiba-tiba membuka topik.


“Oh wow, Ben. Aku hampir tidak mengenalimu tadi. Kamu benar-benar berbeda sekarang.”


Ben tertawa kecil sambil mengusap tengkuk lehernya. Wajahnya pasti memerah sekarang.


“Benarkah? Terlalu mencolok ya?”


Sunny mengangguk. “Kemana kaca mata yang dulu selalu bertengger dihidungmu itu?”


Ben terkikik geli. Ternyata Sunny masih mengingat dirinya yang dulu. “Aku mengikuti saran teman satu kerjaan untuk ikut lasik. Jadi aku nggak perlu lagi kaca mata itu, ya meskipun aku masih menyimpannya sampai sekarang.”


Kali ini giliran Sunny yang tertawa. “Okey. Pilih minuman dulu. Haus.” canda Sunny sambil meraih buku berisi menu-menu legendaris dari cafe YOLO. “Mau minum apa, Ben?”

__ADS_1


Ben yang juga sedang membaca menu, terlihat bingung sebab semuanya terlihat enak dan ingin ia pesan setiap menu yang terdaftar di dalam buku tersebut. “Menurutmu, minuman apa yang paling enak disini?”


“A-aku juga tidak tau.” sahut Sunny tergagap, karena jujur dia juga tidak tau menahu tentang cafe ini. Dia hanya pernah mendengar mamanya berdongeng tentang masa mudanya dulu di cafe YOLO ini.


Hampir lima menit mereka sibuk membolak-balik isi menu, akhirnya mereka menyerah, Ben memberi interupsi pertama kali. “Okey, kita butuh clue.” ucapnya, kemudian membalik badan dan mengangkat lengannya setengah tinggi untuk memanggil salah satu pramusaji.


Sunny tertawa. Tidak tau lagi, giginya mungkin sudah kering sangking antusiasnya dia menunjukkan tawa kepada Ben. Sedangkan Ben, dia juga suka memperhatikan tawa Sunny yang terus mengembang sejak ia datang.


Setelah pramusaji memberi rekomendasi, dan keduanya setuju, pesanan pun ditentukan. Mereka memilih Americano with extra espresso and smooth caramel, dan dua pancake maple. Sembari menunggu pesanan mereka datang, Sunny dan Ben mengobrol banyak tentang masa kuliah, pertama kali terjun ke dunia kerja, dan lain-lain yang membuat Sunny dan juga Ben tidak berhenti memamerkan deretan gigi putih mereka.


Hingga suara gemerincing pintu tak didengar keduanya. Tiba-tiba seseorang muncul, dengan raut wajah tak kalah ceria dari Sunny berdiri disisi meja mereka.


“Hai, Ben. Mengapa tidak menjawab teleponku?” tanya wanita berparas cantik, bermata sipit, berkulit putih, berhidung mungil nan lacip, rambut sebahu sewarna madu, dan kulit putih bersih serta proporsi tubuh yang, Wow, sempurna.


Mata Sunny menyipit penuh telisik, lantas memandang Ben yang terlihat sedikit salah tingkah. “O-oh, kamu sudah disini? Aku tidak mendengar panggilan teleponmu.” jawab Ben lantas berdiri canggung, sempat menendang body meja hingga menimbulkan kebisingan, kemudian memberikan pelukan ringan dan singkat pada si wanita yang membuat Sunny sedikit tidak nyaman.


“Kebiasaan!”


Melihat kedekatan itu, membuat sebuah asumsi muncul dalam benak Sunny. Telapak tangannya tanpa sadar meremat tali tas kecil yang ada diatas pangkuannya, rahangnya mengeras samar, dan ekspresinya berubah kecewa. Ya, Sunny kecewa karena pada kenyataannya, semua tidak sesuai dengan seperti yang ia harapkan.


Maniknya berkabut, dan dia tidak bisa memperlihatkan itu didepan Ben yang sedang berbahagia.


Pada detik berikutnya, sesuatu yang dikeluarkan wanita itu dari dalam tas, membuat Sunny merasa kecil dan tidak ada lagi harapan. Jantungnya berdebar kacau, hatinya berdenyut nyeri, dan tenggorokannya terasa kering ketika melihat sebuah kotak perhiasan berwarna hitam berbentuk hati di julurkan kepada Ben.


Ben membuka dan tersenyum puas setelah melihat isinya. “Kamu memang paling bisa di andalkan.” ucap Ben sambil mengacak surai si wanita yang terlihat lebih muda itu.


Oh God. Aku tidak bisa melihat ini lebih lama.


Sunny berdiri seketika, dengan alasan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, ia meninggalkan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu.


Salahnya terlalu berharap selama ini. Salahnya jika menganggap selama sepuluh tahun ini Ben akan tetap mengingat dirinya, dan salah Sunny juga, mengapa dia berangan terlalu tinggi. Dan lihatlah sekarang, dia di hempaskan dengan kuat kedasar bumi hingga luluh lantak, hancur tak meninggalkan sisa.


Sunny menatap pantulan dirinya yang menyedihkan pada kaca besar toilet. Sebisa mungkin dia membingkai ekspresi di wajahnya seperti pertama kali mereka bertemu tadi. Well, sebisa mungkin, walaupun itu sangat-sangat sulit.


“Kamu bisa Sunny. Karena kamu adalah putri Snow dan Winter yang pantang menyerah.” ucapnya memberi semangat pada diri sendiri. Lalu dia meraih tas kecilnya dan berjalan keluar dari toilet dengan langkah 'sok' tegar.


“Maaf meninggalkan kalian,” kelakar Sunny basa-basi. Ia sempat melirik sekilas wanita yang duduk disamping Ben. Mereka cocok. Lantas ia juga melihat pesanan yang sempat mereka sudah buat tadi, sudah berjejer rapi diatas meja. “Dan Ben, maaf. Aku harus bergegas karena ada klien yang tiba-tiba meminta bertemu.”


Ben menangkap gelagat sebuah kebohongan dari gestur Sunny. “Ah, begitu ya.” jawab Ben datar tanpa memutus pandangan dari wajah Sunny.

__ADS_1


“Untuk pesanan ini, biar aku saja yang bayar, sebagai permintaan maaf.”


“Tidak, tidak. Aku yang akan membayar—”


“Tolong, biarkan aku yang membayarnya.” sentak Sunny sedikit mengejutkan kedua presensi didepan nya. “Aku yang bayar, sebagai permintaan maaf, okey.” lanjut Sunny dengan intonasi lebih rendah dari sebelumnya. Dia melihat Ben yang sepertinya tidak terima dan mengerutkan dahi. Tapi laki-laki itu memilih diam. Okey, mulai sekarang panggil dia tanpa nama. Karena nama pria itu sedikit...menyebalkan, atau mengecewakan?


“Baiklah. Terserah.” putus Ben akhirnya, tidak mau menambah runyam dan menjadi konsumsi publik seperti serial drama televisi.


Sunny membungkuk lima belas derajat kepada Ben, dan juga, wanita yang belum sempat Ben perkenalkan kepadanya.


“Bye.”


Sunny kecewa. Ia terlalu membesarkan harapannya sendiri. Ia ingin segera pulang dan menangis keras dibalik selimut, mengumpati Ben yang ternyata sudah memiliki pasangan. Mereka bahkan terlihat serasi dan pantas hidup bahagia bersama, apalagi sudah membeli cincin yang sepertinya akan segera membawa hubungan mereka ke jenjang serius.


Sunny tak bisa berhenti menyebut nama Tuhan. Ia terlanjur jatuh. Ben yang ia harapkan bukan Ben yang dulu. Pria itu sudah berubah. Dan yang baru Sunny sadari, Ben dan dirinya benar-benar tidak lagi bisa bersama, meskipun hanya sebatas teman. Karena Ben, menemukan pasangan hidupnya. []


...To be continued....


...💨💨💨...


Hayo, kira-kira ini hanya asumsi Sunny atau memang kenyataan...?


Clue:


Bermata sipit.


Kira-kira siapa wanita yang mendatangi Ben itu?


Jangan lupa untuk menyimak kelanjutan Short storynya Sunny-Ben ya teman-teman...


...See You....


..._________________________________...


Just info:


Jangan lupa membaca dan memberi dukungan untuk cerita Vi's yang berjudul WHITE. Dijamin seru dan menarik.


Thank you...💕

__ADS_1


__ADS_2