Wedding Maze

Wedding Maze
WM-27 |APA KAU TAU?|


__ADS_3

Kata orang, jika kamu cantik, kamu akan mendapatkan status sosial yang baik pula. Mereka akan mengakui keberadaanmu, menganggapmu sebagai teman dekat mereka, atau bahkan menerima banyak pernyataan dan surat cinta. Namun dari pada itu, poin terpenting yang juga sering diasumsikan banyak orang, kamu akan menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi pendamping hidup sesuai keinginanmu, karena parasmu yang sempurna. Begitu seharusnya sistem dunia bekerja, sesuai dengan 'kata orang-orang'. Tapi bagaimana semua itu bisa tidak bekerja pada Snow White?


Snow tidak ingat, sejak kapan ia menjadi pelupa. Apa sejak Winter mengecup keningnya sebelum berangkat bekerja, tadi pagi? Ah, mengingat itu, mendadak perut Snow seperti tergelitik dan ingin senyum-senyum sendiri ketika melihat kotak bekal yang akan ia bawakan kepada Winter tadi pagi. Menu makan siang sederhana yang ia buat, dan juga harapannya yang besar jika Winter akan menerima dan memakannya, tiba-tiba sirna karena kecerobohan yang ia lakukan.


Dengan gerakan gesit, ia menyambar kotak bekal dalam kantung kain berwarna biru Dongker itu, lalu bergegas mengganti baju dan menata sedikit helai rambutnya yang berantakan. Langkah kaki indah nya bergerak cepat menuju garasi mobil.


“Bodoh. Aku belum punya SIM!”


Bibir penuh senyuman itu bergegas keluar area rumah, berlari secepat mungkin menuju halte bus yang ada diluar kompleks. Snow hanya berharap agar bus itu mau berkompromi dan belum pergi dari sana untuk membuat Snow kembali menunggu kedatangan mereka sejam lagi.


Dan beruntung, sepuluh menit lebih cepat dari perkiraannya ketika menarget waktu lari cepat ala atlet maraton. Nafas Snow terengah hebat, ia sesekali terbatuk karena paru-parunya kekurangan oksigen dan udara yang ia hembuskan terasa panas. Namun ia masih tersenyum lebar ketika membayangkan Winter akan terkejut akan kedatangannya ke kantor nanti.


Lalu,


Bagaimana perasaanmu, jika seseorang yang baru saja kita harapkan akan menyambut kedatangan kita dengan senyuman hangat, sedang memperhatikan wajah lain selain kita? Bagaimana perasaanmu, jika kita, seorang istri melihat suami kita sedang memeluk wanita lain ketika kita sedang berada ditempat yang sama dengannya? Dan satu lagi. Snow tidak lagi bisa menggambarkan bagaimana suasana dan bentuk hatinya kali ini.


Selama ini, dia hanya mendengar jika Winter memiliki kekasih. Namun Snow tidak pernah menduga jika rasanya akan sesakit itu saat melihat mereka sedang bersama. Satu pukulan telak untuk Snow agar tidak lagi berharap apapun tentang hubungan mereka. Labirin ciptaan Winter begitu mengerikan.


Perlahan, Snow melangkah mundur. Tubuhnya bergetar hebat seolah kehilangan semua keberanian yang selama ini ia bangun. Bukan ranah Snow berada disini. Dia bukan siapa-siapa. Air matanya pun seperti sudah tidak mau lagi keluar kali ini. Ia sulit sekali ketika ingin menangis. Ia berlari, entah kemana, yang terpenting dia tidak lagi berada disini.


Dan ketika dia sampai di meja resepsionis, wanita dibalik meja kerjanya itu berdiri dan menyapa Snow. Karena tau Snow adalah istri dari bos besarnya, Winter.


“Anda sudah bertemu pak Winter?”


Snow menghentikan langkah. Akan sangat tidak sopan jika dia mengabaikan resepsionis itu begitu saja.


“Ah, iya. Maksud saya, tidak. Dia tidak berada diruangannya.”


“Aneh. Padahal pak Winter tidak terlihat keluar lho.


Sejenak, Snow melirik kotak bekal yang ia bawa, kemudian buru-buru mengulurkannya kepada wanita tersebut untuk mengalihkan topik.


“Ini, ada bekal untuk kakak.”

__ADS_1


“Untuk, saya?” jawab resepsionis itu ragu. Dia tidak pernah menduga jika istri bosnya masih begitu muda, cantik dan juga baik hati.


Snow mengangguk antusias dengan binar cerah di matanya.


“Saya lupa, pak Winter ada meeting hingga sore. Mungkin dia akan makan siang diluar, bekalnya akan sia-sia jika tetap aku berikan padanya. Jadi, untuk kakak saja.”


“Terima kasih.”


Senyuman lembut dan hangat merekah dibibir Snow. kemudian dia berpamitan.


Seperginya Snow, resepsionis itu mencoba menilik isi bekal. Kotak nasinya terlihat mahal, khas orang kaya. Di bagian atas penutup, ada sebuah sticky note yang bertulis sebuah pesan singkat memberi ucapan penyemangat kepada Winter, lalu ditutup dengan emoji senyuman dan nama Snow White disana.


“Dia gadis cantik yang sangat manis.” gumam Si resepsionis, ia kagum kepada sosok itu.


Kemudian, pada menit selanjutnya, Winter berjalan keluar diikuti Amora.


“Pak Winter.” panggilan sang resepsionis, membuat langkah Winter seketika berhenti. “Ah, syukurlah.” lanjut resepsionis bernama Joana itu, lantas berjalan menghampiri Winter sambil menenteng kotak bekal yang diberikan Snow kepadanya tadi.


“Ada apa? Apa ada hal penting? Saya harus segera ke rumah sakit.”


“Bukan saya, tapi Amora.”


Kening Joana mengerut tipis sembari menatap Amora yang memang terlihat sedikit pucat. Seharusnya, Amora bisa pergi bersama sopir atau seseorang yang bisa mengantarnya kerumah sakit. Seakan membenarkan rumor, Amora justru memilih meng-iyakan ketika Winter yang mengantarkan berobat.


“Ini, dari istri anda.”


Winter menatap bungkusan berwarna biru dongker di tangan Joana, lantas menerimanya ragu.


“Maaf, sudah sempat saya buka dan saya baca sticky note nya, karena nona Snow bilang bapak tidak ada di ruangan dan memberikan bekal itu kepada saya. Tapi saya melihat bapak sekarang, dan saya rasa bekal itu khusus dibuat untuk bapak. Jadi maaf sekali lagi, karena saya sudah membuka dan membaca pesan yang ditulis istri anda didalam sana.”


Winter masih terdiam. Kemudian melempar senyuman ringan untuk Joana.


“Terima kasih, Jo. Nanti akan saya makan bekalnya. Dan tidak perlu meminta maaf. Seharusnya bekal ini jadi milikmu.”

__ADS_1


“Ah, tidak. Tidak. Bapak lebih berhak menerimanya, karena nona Snow membuatnya untuk anda. Istri anda sangat baik. Dan dia juga sangat cantik.” Joana melirik Amora, mengisyaratkan jika kedudukan Snow lebih bermakna dari pada wanita tidak tau malu seperti wanita itu.


“Thanks, Jo. Nanti, kalau ada tamu sebelum saya menghadiri meeting, tolong kabari saya. Saya harus mengantar Amora berobat sebentar kerumah sakit.”


“Baik, pak.”


***


Range Rover hitam mengkilat itu keluar dari area kantor. Snow yang duduk di halte depan kantor Winter bekerja, harus sekali lagi melihat pemandangan yang begitu menyayat hati. Snow duduk tegap dengan dua lengan bersarang diatas paha, matanya tak berhenti memperhatikan mobil Winter yang semakin menjauh hingga hilang di pertigaan jalan.


Dengan gerakan lambat, dia mengarahkan telapak tangannya ke dada. Meremas kaos putih polos yang tertutup sweater hijau tua dengan tatapan lurus dan datar.


Ia benar-benar tidak bisa lagi menangis. Air matanya beku. Dan semua ungkapan yang ingin ia luapkan sebagai bentuk kemarahan, sudah tidak lagi menemukan titik yang seharusnya. Snow lelah. Tubuh ringkihnya yang kurus itu semakin kehilangan tenaga. Menyerah.


“Kak.” panggil Snow pilu. Ia tau akan sia-sia, tapi ia tidak bisa mengatakan isi hatinya jika ada Winter berdiri nyata dihadapannya. “Apa kakak tau, bagaimana menjadi seorang Snow White?” Snow menjeda, mengeratkan rematan pada dada yang terasa ditekan luar biasa kuat oleh sesuatu, dan begitu menyakitkan. “Aku, sendirian, memperjuangkan.


“Tanpa perlu kakak tau bagaimana aku sulit melakukan itu semua.


“Apa kakak tau, ketika kakak berada di sekitarku, aku sangat bahagia.


“Apa kakak tau, jika aku sangat bergantung pada kakak?”


Snow tertunduk lesu dengan sebuah tawa kecewa.


“Ah, benar. Kakak tidak perlu dan tidak harus tau. Biar aku saja, karena semua ini sangat sulit.”


“Aku,” gumam Snow, suaranya tercekat sebab saliva melecut cepat melewati tenggorokan tanpa ia minta. “A-aku, harus segera pergi.” []


Bersambung.


...🍃🍃🍃...


...Tidak lupa untuk selalu meminta dukungan kepada Reader baik hati yang mampir kesini. Beri dukungan like, juga komentar untuk Wedding Maze, karena dukungan reader semua, adalah semangat untuk Vi's....

__ADS_1


...Thanks....


...Vi's...


__ADS_2