Wedding Maze

Wedding Maze
WM-14 |KAMU BUKANLAH SOSOK YANG KUKENAL|


__ADS_3

...🛑PERHATIAN!!🛑...


...âť—âť—âť—Peringatan kerasâť—âť—âť—...


...Mengandung adegan kekerasan dan seksual yang tidak diperuntukkan dibaca oleh pembaca dibawah umur....


...Diharap bijak dalam menanggapi dan memilih bacaan....


...Thank's alot....


...•...


...•...


...•...


...•...


...•...


“Tapi aku adalah orang ketiganya.” Snow berbicara dengan seseorang dengan wearless earphone ditelinga ya sembari menggambar di layar Ipadnya. Ia memiliki beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan Minggu ini.


“Aku tau,” Snow menjeda, lalu menekan ikon warna dengan Stylus pen dan mulai mengaplikasikan pada rambut seorang laki-laki yang sedang duduk bersama seorang gadis sembari menatap langit yang ia gambar. “—tapi semuanya akan sia-sia. Dia sama sekali tidak mengharapkan aku.” lanjutnya, terkekeh kikuk sambil menyentuh ujung hidung dengan punggung jari telunjuknya.


Tiba-tiba, Snow mendengar samar pintu rumah terkatup. Ia memang sengaja tidak menutup pintu kamar, agar ia tidak tertinggal momen untuk menyambut kedatangan suaminya. Kemudian ia melirik jam dinding yang ada diatas pintu kamarnya. Sudah jam sebelas malam, Winter sudah sangat terlambat untuk sampai dirumah hari ini. Meskipun begitu, Snow tetap berfikir positif. Dia senang Winter sudah pulang dengan selamat.


“Ah, dia datang. Aku hubungi lain kali ya. See you.”


Snow mengakhiri panggilan sepihak, buru-buru melepas earphone dan meletakkannya di samping ponsel, bergegas keluar kamar, berniat untuk menyambut Winter yang baru sampai.


Tidak ada siapapun saat ia sudah berada diluar kamar. Namun ia tau betul aroma yang tertinggal diudara ini adalah milik Winter. Laki-laki itu sudah masuk ke dalam kamar pribadinya, membuat Snow sedikit kecewa karena tidak bisa menyambut dan melihat wajah penat Winter.


Bahkan Snow sadar jika dirinya tidak memiliki posisi apapun didalam hati Winter. Tapi setidaknya, ia ingin dan berusaha menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Untuk Winter.


Langkah kecil Snow tertuju pada ruangan diseberang kamarnya, yang tak lain adalah kamar milik Winter. Ia ragu, atau bahkan tidak akan tau apa yang akan dilakukan Winter ketika ia mengetuk pintu nanti. Entah makian, atau bahkan... sebuah pukulan, ia akan siap menerimanya.

__ADS_1


Ragu-ragu, jemarinya mengetuk pelan daun pintu kamar Winter.


“Kak, apa perlu sesuatu? Atau kak Winter ingin sesuatu untuk makan malam? Aku akan membuatnya.” tanya Snow lembut meskipun Winter belum membuka bilah pintu tersebut.


Hening. Winter tidak bergeming, membuat telapak Snow tergerak sekali lagi hendak mengetuk pintu, berharap kali ini di dengar. Tapi semuanya terhenti ketika pintu itu tiba-tiba ditarik kebelakang, dan menampakkan sosok Winter yang bertelanjang dada. Aroma alkohol samar-samar terendus hidung Snow, yang sontak membuatnya mual. Bahkan Snow mati-matian menahan agar tidak menutup hidung dengan telapak tangan, demi tidak menyinggung perasaan Winter.


Pikir Snow, hal ini wajar. Mungkin Winter bertemu klien, atau orang penting lain, kemudian mengajaknya minum dan Winter mau tidak mau menyanggupi sebagai bentuk hormat.


“Ada apa?” tanya Winter. Matanya terlihat sayu, bibirnya merah, dan rambutnya sedikit berantakan.


“Itu—”


Tanpa berkata hanya untuk meminta izin, Winter menarik paksa Snow kedalam kamar dan mengunci pintu. Perut Snow semakin bergolak karena didalam kamar Winter, aroma alkohol semakin pekat.


“A-aku harus keluar kak. Aku ingin muntah.”


“Lepas bajumu.”


Apa? Apa Snow tidak salah dengar? Tentu Snow tidak akan menuruti permintaan konyol tersebut. Winter sedang hang over, dan dia harus segera keluar dari kamar ini, atau hal yang sama sekali tidak ia inginkan akan terjadi.


“Aku harus bergegas kak. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini.”


“Kenapa buru-buru sekali?” tanya Winter seduktif. Dan tentu saja, dibawah pengaruh alkohol. Separuh kesadarannya sudah hampir ikut terenggut, melayang entah kemana.


Selama ini, tidak ada yang tau jika Winter memiliki toleransi rendah terhadap semua jenis alkohol, dan Snow adalah orang pertama yang tau akan hal ini karena Winter sempat beberapa kali mengumpati orang-orang yang mengajaknya meminum minuman tersebut, padahal dia sebenarnya tidak menyukainya. Hanya sebagai formalitas, tapi tetap saja, Winter tidak menyukai minuman terkutuk tersebut.


“Temani aku. Aku ini suamimu.”


Snow bergerak mundur sejumlah langkah Winter yang mendekat. Ia takut dan tubuhnya bergetar setengah mati.


“Dan juga, kita belum pernah melakukan hubungan sebagai suami istri bukan?”


Snow terbelalak. Hal yang sangat ia takutkan, tiba-tiba saja disinggung oleh Winter. Namun, yang membuat hal tersebut tidak bisa diterima Snow dengan baik, karena Winter sedang diambang batas kesadaran. Laki-laki itu tidak akan mengingat apapun setelah ini, dan itu akan menjadi hal buruk dan menyakitkan untuk dikenang jika mereka berpisah nanti. Winter memang tidak pernah mengharapkan dirinya, tapi apakah salah jika Snow berfikir mereka memang akan benar-benar berpisah pada akhirnya?


“Kak, tolong biarkan aku keluar. Akan aku buatkan pereda pengar agar pengaruh alkohol itu tidak—”

__ADS_1


Suara Snow tertahan, terhenti di kerongkongan ketika lehernya tiba-tiba dicengkeram. Nafasnya bahkan terasa tercekat dan sesak ketika Winter tidak kunjung melepas, justru semakin memperkuat rematan di lehernya.


“Kau mau pergi? Layani aku dulu sebagai suamimu. Lalu, aku akan dengan senang hati membiarkanmu keluar dari sini.”


Oh tidak. Ini tidak baik-baik saja. Snow kembali mencari celah, tapi oksigen didalam otaknya semakin menipis, membuatnya sulit berfikir dan mencari solusi agar Winter melepaskan dirinya. Snow hanya bisa menahan sakit, sesak dan juga nyeri dengan wajah memerah padam, sembari memukul bertubi-tubi pada lengan kokoh Winter yang mencengkeram lehernya dengan satu telapak tangan.


“Masih berniat keluar tanpa izinku?”


Snow mulai kehilangan tenaga. Winter sangat mengerikan. Snow bisa saja jatuh pingsan, atau bahkan kehilangan nyawa karena kehabisan nafas.


Lalu pada menit selanjutnya, Winter menarik paksa Snow hingga berdiri, dan mendorongnya hingga terjerembab diatas ranjang.


Harga diri Snow tersakiti. Dia ingin melakukan ini, akan tetapi, bukan dengan cara menyedihkan seperti ini dirinya harus kehilangan mahkota yang selama ini ia jaga dengan baik dan penuh kehati-hatian.


“Kak. Aku mohon sadar dan berhentilah.”


“Dasar munafik.” gumam Winter dengan suara dalam dan mengintimidasi. Seketika bulu roman Snow bergidik ketika tatapan mereka bersinggungan.


Karena Snow yang terus saja menghindar dan menjauh darinya, Winter merasa kesal dan meraih dua pergelangan kaki Snow dan menarik kuat-kuat hingga Snow tidak bisa berbuat apapun karena Winter serta merta menindihnya.


“Tolong jangan seperti i—mmmph...”


Bibirnya dicium paksa. Snow mencoba memberontak, akan tetapi, dengan kejam Winter menggigit bibir gadis itu hingga gadis dibawah kungkungan tubuh kekarnya itu meringis kesakitan hingga berderai air mata.


“Kamu seharusnya tidak menerima perjodohan si*alan ini, dan membiarkan aku hidup bahagia dengan Amora.” cerca Winter disela ciuman berdarah yang membuat Snow tergugu karena merasakan sakit di bibir, dan juga hatinya.


Winter menyeringai ketika melihat Snow menangis.


“Kenapa baru menangis sekarang? Apa kau menyesal melihatku seperti ini?”


Snow bergeming. Dia hanya ingin diperlakukan dengan baik dan wajar.


“Karena kamu sudah menghancurkan semua impian masa depanku. Hari ini, kamu juga harus merasakan sakitnya bagaimana aku melewati setiap detik terjebak hidup bersamamu disini.”


Snow semakin menangis keras. Dia benar-benar ketakutan. Pada detik selanjutnya, Snow semakin tidak percaya dengan kalimat yang melecut dari bibir Winter. Begitu merendahkan dan menginjak harga dirinya hingga hancur berkeping, tak bersisa.

__ADS_1


“Puaskan aku. *****.” []


__ADS_2