
Snow sudah memasak dan menyiapkan sarapan untuk Winter. Itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri, meskipun beberapa kali Winter membuatnya jatuh dengan ucapan-ucapannya yang kasar tidak terkontrol.
Jarum menunjuk angka tujuh pagi. Biasanya, di jam-jam krusial seperti sekarang, Winter akan keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan dasi yang sudah terlilit dengan benar dilehernya, lantas menuju meja makan untuk mengisi perut sebelum memulai aktifitas. Namun hari ini tidak. Snow sampai berjinjit untuk mengetahui situasi terkini dihadapan kamar Winter yang terlihat tenang dan sepi.
“Apa dia belum bangun? Tidak mungkin.” gumam Snow sembari melangkahkan kaki ke arah kamar Winter.
Sesampainya, Snow mengetuk pelan pintu kamar Winter dan berharap pria itu hanya telat keluar dari kamarnya saja. Akan tetapi tidak seperti yang Snow harapkan, pintu kamar terbuka dan terlihat Winter yang masih lusuh dan rambutnya terlihat acak-acakan. Khas orang baru bangun tidur. Setelah itu, dengan suara serak, Winter bertanya. “Ada apa?”
Snow yang bingung hanya bisa menatap Winter dengan pandangan lurus tanpa ekspresi.
“Kenapa belum siap-siap?”
“Aku tidak masuk kerja. Sudah menghubungi Amora dan menyuruh pak Junot mengurus meeting penting di kantor, untuk hari ini.”
Untuk hari ini? Memangnya ada apa dengan hari ini?
Oh, jangan bilang—
Pertanyaan dalam benak Snow itu tentu saja segera mendapatkan jawaban, setelah otaknya kembali memutar ingatan perdebatan mereka semalam.
“Kakak ingin ikut bersamaku?”
Winter hanya mengedikkan bahu sekilas sambil menarik sudut bibirnya ke bawah, kemudian menggaruk acak surai yang sudah berantakan.
“Memangnya kenapa? Tidak boleh?”
Snow ternganga. Dia sama sekali tidak mengira jika Winter benar-benar akan ikut bersamanya untuk bertemu dengan Willy hari ini. Bahkan, Winter yang gila kerja itu sampai rela tidak datang ke kantor dan meninggalkan pekerjaan demi ikut bersamanya.
“Bukankah—”
“Sudah. Jangan banyak protes. Perutku lapar.” tukas Winter sinis lalu berjalan melewati Snow begitu saja untuk menuju meja makan yang sudah penuh dengan hidangan buatan Snow.
Apa dia sedang cemburu?
Snow hanya menerka, tidak mau berharap terlalu jauh. Tapi kenapa itu terlihat jelas sekali. Oh ayolah, man. Katakan saja alasan mengapa kamu membuat anak gadis orang jadi bingung begitu.
Demi apapun, tidak ada yang lebih menyebalkan daripada mempertemukan mantan dengan orang yang kini menjadi bagian penting dari hidup kita. Snow tidak tau harus bersikap seperti apa ketika dua orang yang bersamanya itu saling bersikap dingin dan tidak bicara apapun. Apalagi Winter, terlihat tidak suka sekali dengan sosok Willy yang tidak menyapanya. Tatapannya tajam dan lurus kepada Willy, kedua lengan kekarnya yang dililit Le Coultre Hybris Mecanica Grande Sonnerie itu dilipat didepan dada.
Seandainya saja Snow dan Willy hanya berdua, mungkin sudah mengobrolkan banyak hal. Termasuk permintaan maaf Willy dan keinginan Snow untuk tidak lagi bertemu dengan dia, karena Snow sudah terikat hubungan dengan Winter. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, mereka hanya diam seperti manequine dan saling melempar tatapan sengit. Lagi-lagi, terlebih Winter.
“Okey. Jadi harus melakukan apa, kita, sekarang?” tanya Snow putus-putus, takut salah bicara.
Sumpah demi minuman yang berembun, Snow kehabisan kata-kata dan tidak tau lagi apa yang harus dilakukan di depan dua orang ini.
__ADS_1
“Ya sudah, kalian bicara saja. Aku diam kok.” jawab Winter pada akhirnya. Menjulurkan lengan dengan telapak terbuka menghadap keatas dan kedikan bahu yang kaku sekali, terlihat sangat dibuat-buat. Setelah itu, Ia masih kembali melihat Willy tanpa mau mengalihkan sedikit saja pupilnya.
Snow sudah terlanjur sebal. Dia berdecak sembari membuang muka, menertawakan jawaban Winter yang tentu saja sangat dan sangat menyebalkan. Sekali lagi ini salah Winter, jika saja dia tidak memaksa ikut, semuanya pasti tidak akan se-awkward ini.
“Yakin tidak terganggu?” tanya Snow sengaja menjeda. “Aku harus membicarakan sesuatu yang sangat rahasia bersama Willy. Yakin mau mendengar?”
Mendengar ucapan Snow, Willy hampir saja menyemburkan tawa dan liurnya bersamaan. Snow yang dulu ia kenal lucu, menggemaskan dan polos, bisa juga berkata sarkas begitu ya.
“Ck!! Bicara saja.” sahut Winter tak kalah sinis dari wanita yang sedang PMS.
“Okey.” jawab Snow sembari mengangguk paham.
Mengabaikan tatapan aneh orang-orang kepada mereka bertiga, Snow mulai melihat Willy untuk mulai membicarakan tujuan mereka bertemu pagi ini. Yang, ah, katakan saja ini terpaksa, karena Winter memaksa ikut.
“Baiklah, katakan saja, to the point.” pinta Snow kepada Willy.
“Ah, tentu. Tujuanku mengajakmu bertemu hanya ingin menghabiskan waktu seharian ini bersamamu, Snow.”
Winter menyemburkan tawa keras-keras, membuat Snow dan Willy menoleh padanya.
“Apa kau sedang menggoda istri orang?” tanya Winter, sinis.
“Diam.” ketus Snow. Tak peduli jika Winter akan menghajar atau menghukumnya dirumah nanti. “Lanjutkan.”
“Tujuan utamaku untuk meminta maaf lagi kepadamu, Snow. Aku benar-benar menyesal sudah menyakiti dirimu saat itu.”
“Bukankah sudah aku katakan, itu sudah menjadi masa lalu untukku? Jadi, kamu tidak harus memintaku bertemu lagi hanya untuk membicarakan ini.”
Mendengar Snow mengatakan itu, Winter tertawa menang. Laki-laki bernama Willy ini kalah telak dengannya.
“Tapi aku masih belum bisa tenang sebelum kamu bicara 'ya, aku memaafkanmu' kepadaku.”
Wajah Snow berubah sendu. Hatinya terasa pilu mengingat semua kejadian buruk yang dilakukan Willy kepadanya, dan tentang perasaan cintanya yang sama sekali belum menghilang.
“Wil—”
“Aku tau semua yang aku lakukan saat itu sangat menyakitimu, Snow. Untuk itulah aku terus berusaha mendapatkan maafmu setelah keluar dari penjara.”
Seketika atensi Winter kembali berpusat pada sosok Willy yang kini sedang menatap lembut dan mencoba meyakinkan Snow.
Memangnya apa yang dilakukan orang ini sampai harus tinggal di penjara?
Winter menajamkan rungu. Sekilas melirik jemari Snow yang mengepal dibawah meja.
__ADS_1
“Aku menyesal sekarang setelah kehilangan dirimu.” Lanjut Willy. “Jika saja aku bisa menahan diri untuk tidak berusaha menyentuhmu saat itu, pasti kita masih bisa bersama sampai hari ini.”
Oh Sh*it!!
Jadi, Snow pernah hampir menjadi korban pelecehan oleh laki-laki ini?
Darah Winter mulai mendidih. Entah apa sebabnya, emosi tiba-tiba menggelegak naik kedalam kepalanya. Winter mengepalkan tangan bersiap melayangkan tinju jika sampai kalimat memuakkan kembali keluar dari bibir laki-laki bernama Willy.
“Aku menyesal, Snow.”
Hati Snow tidak lagi bisa menahan rasa perihnya luka batin yang sudah lama ia terima. Kepalanya tertunduk, air matanya berjatuhan. Melihat itu, Winter segera berdiri dan berjalan mendekat kearah Willy. Kemudian melayangkan dua bogem mentah diwajah Willy tanpa peduli perhatian orang sekitar. Lantas menjambak baju depan Willy hingga mereka berdiri sejajar.
“Kak Win—” suara Snow terputus begitu saja ketika Winter mengatakan sesuatu yang tidak ia duga kepada Willy.
“Snow milikku, dan jangan pernah lagi bermimpi untuk bertemu dia. Apalagi sampai membuat dia menangis.” geram Winter. Kali ini dia bersungguh-sungguh, Snow pantas ia lindungi.
“Kenapa? Cemburu?” tantang Willy tak kenal takut, membuat Winter kembali meninju wajahnya hingga jatuh tersungkur diatas lantai cafe, memancing beberapa orang sekitar untuk berdiri dan melerai. Termasuk Snow yang berusaha menarik tubuh kekar Winter untuk menjauh dari Willy.
“Ingat baik-baik. Jangan lagi hadir dan mengganggu hidup Snow. Dia milikku. Istriku. Dan aku tidak akan tinggal diam jika kamu masih terus berusaha menampakkan diri didepannya.”
Willy berdiri tertatih dengan bantuan salah satu pengunjung cafe sembari mengusap sudut bibirnya yang kini terasa anyir. Berdarah.
“Ayo kita pergi, kak.” pinta Snow, memohon dengan sangat agar Winter menyudahi semua kekesalan dan emosinya.
Winter belum puas. Ia kembali mendekati Willy dengan wajah pias dan rahang mengeras setelah mengibaskan lengan Snow dari pergelangan tangannya.
“Ingat dan catat didalam otak dungu mu itu, jerk.”
Laki-laki yang membantu Willy berdiri, menahan dada Winter.
“Snow milikku. Dia istriku, dan kamu tidak akan bisa mendekat apalagi menyentuhnya. Atau kamu akan berurusan denganku. Ingat itu baik-baik!” []
...🍃...
...Konflik?...
...May be yes? Or no?...
...Tinggalkan like dan komen kalian ya......
...See You soon,...
...Vi's...
__ADS_1