
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan Wedding Maze kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
Takut kehilangan keduanya, adalah hal yang sejak tadi menghantui isi kepala Winter. Ia bahkan tidak menduga jika Snow akan mengalami pendarahan akibat jatuh, dan semua terjadi karena dirinya.
Jika saja dia bisa mengontrol emosi, jika saja dia bisa sedikit membuka hati dan rela Snow bersama laki-laki itu, jika saja dia tidak memperlakukan Snow dengan kasar, semua ini pasti tidak akan terjadi.
Kini, yang tersisa hanya kata 'Jika saja' yang terus membelenggu hati Winter.
Langkahnya tidak tenang ketika menunggu dokter yang sedang memberikan pertolongan terbaik untuk Snow dan juga mungkin calon bayi yang sedang ada didalam rahim Snow, tak kunjung keluar. Winter menggigit kepalan tangannya sambil terus berjalan mondar-mandir tiada lelah, pikirannya kacau balau. Dan semakin tak nyaman ketika melihat presensi laki-laki bernama Kris juga menunggu disana, diruangan dengan udara yang sama. Laki-laki itu terlihat cemas, namun dalam wujud sebuah ketenangan. Kris duduk di kursi tunggu, kedua lengannya menopang diatas lutut, sesekali kakinya bergerak tidak nyaman.
Hingga lampu yang menyala berwarna merah diatas pintu ruang ICU itu berubah hijau. Pintu terbuka beberapa saat kemudian, lalu dokter keluar masih dengan pakaian OKA lengkap. Dokter Anne, dokter yang beberapa hari lalu ia dan Snow datangi untuk berkonsultasi, terlihat berjalan dengan manik terlihat sendu.
Sesuatu telah terjadi.
“Bagaimana keadaan Snow, Dokter Anne?” tanya Winter berlari kecil mendekat pada dokter Anne. Tatapan Winter dipenuhi rasa khawatir dan takut.
Dokter Anne menghembus nafas besar dari hidung, lantas mengusap lengan Winter dengan sebuah senyuman getir dan penuh penyesalan.
“Kami sudah berupaya sebisa dan sebaik mungkin. Tapi Tuhan memiliki rencana lain. Snow memang sedang hamil, tapi dia mengalami pendarahan hebat, dan janinnya tidak bisa kami selamatkan.”
Seketika itu juga tubuh winter lemas. Otaknya kembali memutar kejadian beberapa saat lalu, dimana dia dengan sengaja dan keras melempar Snow hingga jatuh terjerembab diatas lantai. Semua ini salahnya. Ia yang menyebabkan dia dan juga Snow harus kehilangan calon anak mereka.
__ADS_1
“Kondisi psikis nyonya Snow masih sangat terpukul karena kehilangan janinnya. Tapi kondisi fisiknya sudah berangsur membaik. Tolong dampingi dia agar bisa menerima kenyataan yang sudah terjadi. Beri dia semangat agar kembali bangkit dan tidak melakukan hal nekad yang akan mengancam jiwanya.” pinta Anne bersungguh-sungguh seraya menatap manik Winter.
Winter mengangguk paham. Dadanya bergemuruh. Air mata penyesalan perlahan jatuh membasahi pipinya tanpa ia minta. Winter menangis untuk pertama kalinya setelah 20 tahun kehidupannya berlalu. Ia ingat terakhir kali ia menangis ketika berusia 13 tahun. Alasannya ketika itu masih sangat naif dan konyol. Saat itu, Ia melihat Lily—cinta monyetnya—lebih memilih laki-laki lain ketimbang dirinya. Apalagi laki-laki itu adalah sahabat Winter sendiri, sahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dan sekarang, ia menangisi satu hal yang lebih menyakitkan dari pada itu. Ia kehilangan sosok yang sangat ia harapkan.
Ia menyeret kedua kakinya yang terasa seperti diberi beban beton, untuk menengok Snow yang masih berada di dalam ruangan Instalasi Gawat Darurat. Jemarinya bergetar kala hendak mendorong handle besi untuk melihat presensi Snow didalam sana. Ia takut. Takut sekali jika pada kenyataannya, Snow tidak lagi mau menerima dirinya setelah apa yang terjadi karena ulah ceroboh yang ia lakukan.
Aroma disinfektan masih tersisa diruangan tersebut. Winter melihat Snow terbaring diatas ranjang rumah sakit itu dengan wajah pucat, mata bengkak karena tangis, dan juga infus yang menancap pada lengan kirinya. Hati Winter begitu teriris. Penyesalan memukul telak setiap sudut kewarasan, dan setiap inci tubuh tegapnya.
Manik mereka bertemu sesaat sebelum Snow membuang muka seolah tidak lagi Sudi menerima Winter berada disekelilingnya.
Ya. Winter sadar akan kemarahan Snow itu ia tujukan untuk dirinya. Snow pantas membencinya karena menjadi orang kejam yang tega menghilangkan calon anak mereka. Namun Winter tak gentar, dia tetap melangkah mendekat kepada Snow ketika dua perawat yang ada didalam sana mendorong meja berisi alat-alat medis untuk meninggalkan ruangan.
Air mata Snow kembali jatuh. Ia benar-benar tidak ingin melihat Winter disini, saat ini.
“Tinggalkan aku sendiri.” titahnya.
“Aku mohon. Tinggalkan aku sendiri.” pintanya sekali lagi dengan suara lirih dan bergetar. Snow terpukul, bahkan kehilangan semangat hidup saat tau dia harus kehilangan janin dalam kandungannya.
“Maafkan aku.”
Snow memalingkan wajah, menatap nanar pada sosok Winter yang kini tertunduk dalam tangis. Ia menyesal.
“Pergi, dan tolong katakan kepada Kris untuk menemuiku.”
Laki-laki itu lagi.
Tidak ada yang pernah menyakiti hatinya seperti ini. Snow adalah orang pertama yang berhasil membuat hati Winter bak di remat habis tak bersisa. Dadanya begitu nyeri ketika mendengar permintaan Snow. Lantas sebuah pertanyaan terbesit dalam benaknya. Apa ini yang Snow rasakan saat ia mengatakan tentang kebenaran hubungannya bersama Amora? Apa sesakit ini?
__ADS_1
Winter membalik tubuh, bersiap meninggalkan ruangan dan meminta Kris untuk menemui Snow seperti keinginan wanita itu. Namun langkahnya kembali tertahan oleh suara sendu dan serak yang menyapa perungunya. Snow kembali berbicara. “Tidak ada lagi yang harus aku pertahankan. Mari kita berpisah saat aku sudah dinyatakan sembuh, dan keluar dari rumah sakit.” ucap Snow. Menarik seluruh sisa kebahagiaan yang beberapa waktu lalu sempat memenuhi dada Winter, mengubahnya menjadi sebuah guncangan hebat yang menggoyahkan setiap sudut pikiran Winter.
Kini, keadaan seolah berbalik menyerangnya. Seperti boomerang yang dilempar dan datang lagi kepadanya, Snow membalik keadaan tanpa ia duga.
Winter yang terpaku diatas kedua kakinya, kini berbalik untuk menatap Snow. Maniknya berkabut dan bibirnya bergetar. Lantas ia menanggapi keinginan Snow dengan sebuah senyuman tulus. “Jika itu membuatmu bahagia, aku akan mengabulkan permintaanmu untuk mengakhiri pernikahan ini.” putus Winter. Ia tak tau lagi apa yang harus ia lakukan sampai-sampai kehilangan akal dan meng-iyakan kemauan Snow untuk berpisah. “Untuk itu, cepatlah sembuh. Agar bisa berpisah denganku lebih cepat.”
Gila.
Mengapa bibirnya berkata seperti itu ketika hatinya menolak untuk pergi dari kehidupan Snow. Winter benar-benar kehilangan kewarasan sejak Snow mengatakan tentang sebuah permintaan, tentang sebuah perpisahan.
Waktu seolah berjalan sangat lamban hari ini. Sederet kejadian tak diinginkan muncul dan memenuhi setiap hembusan nafasnya, berputar bak memenuhi jarum jam yang masih terus setia mengubah detik menjadi menit, menit berubah menjadi jam, dan jam berubah menjadi hari. Winter Mendes*ah lelah dalam hati. Ya. Dia sangat lelah hari ini. Rentetan kejadian nyata yang terjadi bukan hal yang menyenangkan untuk dikenang.
Dengan langkah mantap ia kembali mengambil jarak dengan bilah pintu. Meraih handle besi itu sedikit kasar hingga terbuka penuh dan ia dapat melihat dengan jelas bagaimana Kris sedang cemas diatas tempat duduknya, menunggu gilirannya untuk menengok keadaan Snow. Laki-laki tampan yang terlihat lebih muda darinya itu terlihat begitu mengkhawatirkan Snow.
Winter berjalan mendekati Kris.
“Snow membutuhkanmu. Dia ingin kamu yang menemaninya didalam sana.” tuturnya dengan lidah yang terasa getir dan pahit. “Ah, tolong jaga Snow dengan baik selama dirawat disini.”
Kris menautkan alis matanya sebab tak mengerti. Ucapan Winter terasa tidak memiliki sebuah massa, melainkan hanya ucapan kosong yang melecut begitu saja tanpa arti.
“Anda suaminya, jadi anda yang akan menjaga Snow.” tegas Kris. Dia tidak mengerti dengan sistem dunia yang semakin menggila. Bagaimana bisa seorang suami merelakan istrinya bersama laki-laki lain?
Namun Sesaat kemudian, sebuah alasan yang diucapkan Winter menjadi sebuah jawaban untuk Kris. Menjaga Snow dengan baik. Ia akan melakukannya.
“Snow sedang terpukul dan tidak ingin melihatku. Jadi, tolong jaga dan rawat dia hingga membaik. Setelah itu, kami akan bertemu di meja persidangan untuk mengakhiri semua kegilaan ini. Kami memutuskan untuk berpisah. Jadi, jaga dia dengan baik. Aku mohon.”[]
...To be Continued....
__ADS_1