Wedding Maze

Wedding Maze
WM-26 |SIMPUL DAN KEPUTUSAN|


__ADS_3

Jika sebuah kejujuran selalu membawa mujur, mungkin tidak akan pernah ada orang yang sudi untuk berbohong. Nyatanya, mereka lebih memilih untuk menutupi sebuah kebenaran dari pada berkata jujur, demi keuntungan mereka sendiri. Dan sumpah, itu sangat memuakkan.


Snow bangun lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Seperti biasa, Snow akan membuat sarapan untuk Winter, meskipun ia sulit menerima kebohongan yang sudah dilakukan Winter padanya. Tapi bisa apa, selain ia hanya bisa menunggu Winter mengatakan kebenaran, atau ia akan bertanya di waktu yang tepat kepada Winter.


Matahari sudah menampakkan diri, mulai naik dan muncul ke permukaan. Sinarnya yang hangat mulai menyapa bumi. Snow tersenyum tidak kalah hangat dari sinar mentari ketika mendengar suara ketukan sepatu Winter mendekat ke arah tempat ia berdiri.


“Pagi.” sapanya. Tidak pernah Winter mengucapkan sapaan pagi kepada Snow. Tapi entah mengapa, pagi ini laki-laki itu melakukannya. Untuk menutupi kebohongan yang ia buat kah?


Snow hanya menanggapi dengan senyuman sembari meletakkan minuman kesukaan Winter dipagi hari, creamy latte. Perlahan-lahan, Snow memberanikan diri menatap Winter yang sedang merapikan dasi di lehernya.


“Mau, aku bantu?” tanya Snow menawarkan diri. Ia hanya ingin membantu, tidak ada maksud atau tujuan lain, apalagi menggoda.


Mendengar akan mendapatkan bantuan, Winter mengangguk antusias dengan senyuman lebar. Lagi-lagi itu terlihat tulus dimata Snow, dan tidak mungkin dipungkiri jika rasa benci dalam hatinya semalam, perlahan luluh.


Winter berdiri dan membiarkan Snow meraih dasi, kemudian membuat simpul yang sama seperti yang ia inginkan.


Snow memiliki keahlian dalam membuat simpul dasi. Dia tau beberapa model simpul yang sering digunakan pria, dari mamanya. Ya, mamanya itu sering mengajarinya membuat simpul dasi. Katanya, jika suatu hari nanti Snow menikah dengan seorang bos atau pengusaha, Snow tidak perlu merasa berkecil hati karena tidak bisa merapikan atau memasang dasi suaminya. Dan sekarang, hal itu sangat berguna.


“Mau simpul yang bagaimana?”


“Trinity. Aku ada pertemuan penting hari ini.”


Dengan gerakan luwes, Snow segera membuat simpul yang tergolong rumit itu pada dasi berwarna abu-abu milik Winter. Dan ketika wanita itu masih sibuk melilitkan kain mahal tersebut, Winter menggunakan kesempatan itu untuk memperhatikan wajah Snow yang berada tidak jauh darinya.


Cantik, dan Winter baru saja menyadari itu. kulitnya yang putih bersih, alisnya yang kecil dan membentuk bulat sabit sempurna tanpa polesan atau perbaikan apapun, matanya bulat dengan pupil kecoklatan yang berbinar, hidungnya yang kecil dan lancip, bibir tanpa polesan lipstik itu terlihat segar sewarna Cherry, dan collarbone yang terlihat begitu indah setelah leher jenjang yang begitu menggoda. Winter sangat menyukai bibir, leher, dada, dan juga... Aduh, mendadak Winter menginginkan Snow sepagi ini. Satu bagian dirinya memberontak ingin dipuaskan.


“Sial! Mengapa pagi-pagi begini sih?” geramnya kesal. Hormon laki-laki di pagi hari memang terkadang menyusahkan.


“Snow,” panggil Winter, serak.


“Hmm?” sahut Snow mengangkat wajah sekilas untuk melihat wajah tampan Winter sembari masih sibuk menyelesaikan tugasnya membuat dasi Winter agar terlihat sempurna.


“Aku—” Suara Winter tercekat ketika salivanya terteguk tanpa sengaja ketika bayangan dirinya dan Snow bergumul diatas ranjang.


Melihat itu, Snow tersenyum dan segera menjauhkan diri karena tugasnya sudah selesai. Dasi Winter sudah terlihat sangat rapi dan elegan.


“Sudah, sekarang segera sarapan, atau kak Winter akan terlambat.”


Ah, benar. Aku akan terlambat jika harus meminta Snow menemaniku bermain sebentar.


“Ah, iya.”

__ADS_1


Winter hanya mampu mendesah kecewa dalam hati karena keinginannya tidak tercapai. Yang di bawah sana, sudah meronta tidak keruan. Sembari duduk di kursinya, Winter diam-diam mengusap pusat tubuhnya, berharap yang satu itu mau bekerja sama untuk menunggu nanti malam saja. Ya, nanti malam.


...***...


Satu folder berisi bahan meeting yang harus ia pelajari, tertata rapi di atas meja kerja menyambut kedatangan Winter. Tentu saja, Amora selalu melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang sekretaris. Ia tidak mau kalau Winter melewatkan bahan meeting, dan berakhir kalah tender dengan perusahaan lain.


Ia melepas jas, menggantungnya di tempat tak jauh dari meja kerja, dan duduk sembari mulai membuka folder tersebut. Membosankan, tapi dia harus melakukan itu untuk mencukupi kebutuhan dan gaya hidupnya, serta memberikan hak bagi karyawan-karyawan yang bergantung penghasilan kepadanya.


Baru beberapa menit membaca, pintu ruangan terdengar diketuk oleh seseorang. Tanpa dipersilahkan, seseorang muncul dari balik bilah pintu tebal tersebut. Amora membawa satu box donat kenamaan berbagai rasa.


Winter tersenyum sekilas, lalu kembali fokus membaca folder di telapak tangannya.


“Kamu membelinya untukku, Mo?”


Amora tersenyum tak kalah manis. Dia meletakkan makanan berbentuk bulat dengan lubang ditengah itu disisi meja Winter.


“Untuk sarapan. Aku yakin kamu belum mengisi perut. Ada meeting penting dua jam lagi, dan kamu tidak boleh kehilangan konsentrasi.”


Inilah satu diantara banyak hal yang ia sukai dari sosok Amora. Wanita itu tidak pernah luput memberikan perhatian, juga semangat kerja untuknya setiap saat. Tapi sayangnya, semua itu tidak berdampak apapun, sekarang.


“Ah, terima kasih.”


Amora berdiri di samping Winter, sedikit membungkuk untuk mensejajarkan diri, namun Winter memberi jarak. Sadar akan menerima penolakan, Amora kembali menegakkan punggung dan melangkah mundur beberapa kali.


Wanita yang sejak pagi bersemangat menemani Winter untuk meeting itu, mendadak kehilangan mood. Semangat dan spekulasinya yang tinggi untuk mendapatkan perhatian Winter mendadak buyar didepan mata ketika menyadari Winter tidak menaruh sedikitpun atensi kepadanya. Ia ditolak untuk kedua kalinya. Pertama, ketika ia sakit di apartemen, dan kedua,


“Mora, kamu baik-baik saja kan? Wajahmu sedikit luar dan pucat. Apa kamu sakit?”


Buru-buru, Amora kembali mencoba meraba-raba sisa keinginan untuk kembali mereguk kebahagiaan bersama Winter.


“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit mual dan tadi pagi juga muntah. Mungkin masuk angin.”


Seolah sadar akan ketidak baik-baikan ala Amora, Winter berdiri dan berjalan mendekat ke arah wanitanya itu, lantas meraba kening Amora dengan punggung telapak tangan .


“Suhu tubuhmu naik. Kamu sakit?” tanya Winter memastikan. Tidak ingin Amora memendam rasa tidak nyaman hanya karena Winter harus meeting penting bersamanya hari ini.


“Kalau kamu sakit, aku bisa datang sendiri nanti. Kamu bisa pergi ke rumah sakit dengan sopir untuk berobat. Aku akan menyetir sendiri ke tempat meeting itu.” tuturnya khawatir. Ia bersungguh-sungguh mengucapkan itu, takut Amora menyembunyikan sesuatu yang tidak ia ketahui.


“Aku baik-baik saja.” tepis Amora kasar pada lengan Winter. Laki-laki itu sadar Amora sedang tidak dalam keadaan yang baik. Ia sudah lama mengenal Amora yang seperti ini.


“Tidak. Kamu sedang sakit dan harus kerumah sakit. Ayo! Aku akan mengantarmu jika kamu menolak pergi bersama sopir.” Elak Winter sembari menarik satu lengan Amora untuk berjalan mengikutinya. Tapi, lagi-lagi Amora menolak. Ia menepis terang-terangan tangan Winter dan menyorot tajam wajah dan menikam manik mata Winter.

__ADS_1


“Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?Aku baik-baik saja, dan bukan urusanmu jika aku harus pergi kerumah sakit atau tidak. Aku bisa mengontrol diriku sendiri.” tegas Amora, berubah egois dan tidak mau menerima kebaikan Winter.


“Kamu marah?” tanya Winter pada akhirnya. Ini bukan masalah sakit atau pekerjaan. Tapi masalah pribadi yang menyangkut hati. “Katakan. Kamu sedang marah padaku?”


“Tidak.” sahut Amora, membuang muka.


“Lalu, mengapa kamu tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan. Sekarang kamu sedang tidak baik-baik saja dan perlu kedokter, Mora. Jadi tolong jangan menolak permintaanku sebagai—”


“Hentikan!”


Winter terhenti. Semua yang ia lakukan, mendadak ia hentikan paksa ketika melihat kemarahan di wajah Amora. Selama menjalani hubungan bersama selama bertahun-tahun, ia sama sekali tidak pernah mendapati Amora yang demikian.


“Jangan berpura-pura baik kepadaku, jika pada akhirnya kamu akan mengabaikan aku.”


Dahi Winter mengerut, mencoba mencari jawaban akan kemarahan yang tersulut pada diri Amora. “Apa maksudmu?”


“Kamu sudah berubah. Kamu bukan Winter yang aku kenal. Kamu mengabaikan aku.”


Seluruh sudut ruangan mendadak berubah sunyi. Winter terdiam akan pendapat yang dikemukakan Amora. Dia tidak bermaksud demikian, apalagi mengabaikan Amora. Dia hanya tidak ingin wanita itu sakit.


“Sejak wanita itu hadir diantara kita. Kamu benar-benar sudah menjadi Winter yang berbeda.”


Cengkeraman dipergelangan tangan Amora mengendur. Winter menatap kuyu.


“Kamu mencintainya?” tanya Amora. Ingin segera mendapatkan keputusan, sebelum ia benar-benar bertindak lebih jauh untuk memisahkan keduanya dan semakin egois. Jika iya, Amora punya alasan untuk melakukan hal tersebut. Akan tetapi, Winter seolah tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Dia hanya diam dan menatap lurus pada Amora, yang semakin membuat geram pada diri kekasihnya itu.


Senyuman sarkas tercetak dibibir merekah Amora. “Aku anggap itu, iya.”


“Mora—”


“Sekarang, aku punya alasan untuk berjuang.”


“Berjuang? Apa maksudmu?”


Amora memangkas jarak. Mematik tatapan matanya untuk meyakinkan Winter jika ia sudah memiliki keputusan bulat untuk keegoisannya kali ini.


“Aku akan merebut mu kembali darinya. Dia tidak akan memilikimu, jika aku tidak.”[]


...🍃🍃🍃...


...😩😩...

__ADS_1


...Thanks udah mau baca.Tolong tinggalkan jejaknya. Aku hanya ingin disemangati....


...Vi's....


__ADS_2