Wedding Maze

Wedding Maze
WM-5 |DAY MINUS ONE—30|


__ADS_3

Winter menatap kesal gelang berbentuk bulat-bulat kecil dari kayu yang sedang melingkar di lengan kirinya. Snow memenangkan gelang tersebut dan kemudian memberikannya sebagai hadiah balasan untuk Winter.


Kembali terlihat saat memutar kemudi mobil, Winter berdecak sebal saat mengingat Snow melarangnya melepas gelang tersebut dimana pun dan kapanpun ia berada.


Orang-orang akan menertawakan aku jika sampai melihatnya besok!


Winter mendumal sebal. Lalu melihat pada sosok Snow yang sudah tertidur di kursi depan di sampingnya dengan mulut sedikit terbuka.


Winter memperhatikan bibir tipis sewarna Cherry itu terlihat lucu saat diam, dan wajah lelahnya terlihat begitu menggemaskan. Winter tertawa begitu saja, namun lenyap pada detik selanjutnya saat ia menyadari ada sesuatu yang salah. Seharusnya dia tak perlu memperhatikan, apalagi mengamati Snow sampai sejauh itu.


Hingga kini mobilnya sudah terparkir manis didalam garasi mobil dan gadis itu belum juga membuka mata. Winter menatap nyalang pada Snow, lalu satu ide jahil muncul. Telapaknya menekan klakson mobil dan sontak Snow terkejut hingga kakinya terangkat dan menendang dashboard mobil cukup keras. Snow meringis kesakitan sembari mengusap tulang keringnya yang ngilu.


“Kak Winter sengaja?” pekiknya dengan bibir mengerucut sebal karena bagaimanapun juga, apa yang Winter lakukan memanglah keterlaluan.


Pria itu hanya tersenyum sarkas sembari melepas seatbeltnya lalu menatap Snow kembali sambil melepas gelang yang sedari tadi melilit pergelangan tangannya.


“Ini, aku kembalikan! Jangan harap aku akan memakai benda kekanakan ini!” tuturnya, lalu meraih telapak Snow, meletakkan gelang tersebut lalu menutup telapak Snow hingga membentuk kepalan tangan.


“Aku memberikannya untuk hadiah,” lugu Snow, merasa benda tersebut sama sekali tidak ada unsur kekanakan dalam benaknya. Dia sering melihat pasangan-pasangan kekasih memakai gelang seperti ini. “Dan ini tidak kekanakan, kak! Dimana letak kekanakannya?”

__ADS_1


“Itu hanya bagimu, tidak untukku!” sarkas Winter yang kemudian menarik tuas pintu mobil dan keluar begitu saja, meninggalkan Snow yang masih terpaku menatap punggung Winter yang benar-benar menjauh.


“ish... menyebalkan!!” gerutunya sambil memukul sebal paha kanannya.


Hari ini adalah hari ke tiga puluh, dan besok waktu akan berjalan mundur untuk hubungan mereka berdua, berkurang sampai hari itu tiba. Hari dimana keduanya akan memutuskan untuk terus bersama atau berakhir. Snow bahkan mencoba bersikap seperti tidak akan terjadi apapun padanya. Dia mencoba bersikap biasa, sebisanya.


Snow turun dari mobil dan mendapati rintik hujan menyapa kaki bersepatu Converse hitam yang membalut kaki jenjang dan pualam miliknya. Dia juga sempat berlari pada jok belakang untuk megambil boneka panda yang berukuran lumayan besar pemberian Winter tadi, lalu bergegas membawanya lari agar tidak basah kuyup. Dan tentu saja dia tidak melupakan dua buku yang dibelinya dengan penuh perjuangan dan drama tadi—satu buku panduan memasak dan satu buku panduan menjadi pasangan hidup yang baik.


Ya, setidaknya dia berjuang meskipun nanti pada akhirnya dia mungkin akan gagal. Snow White tidak akan menyerah begitu saja.


Snow mengibas lengannya yang sedikit terkena tetesan hujan, lalu melihat Winter yang sedang duduk diatas sofa ruang tamu sambil terfokuskan pada display ponsel lebar berukuran enam inci lebih itu dengan seksama.


Menaiki anakan tangga dengan menggendong boneka yang mungkin akan menjadi teman satu-satunya dirumah ini, Snow rela berbalik hanya untuk memastikan jika Winter masih duduk disana. Namun semuanya tidak seperti yang ia duga, wajahnya membentur dada liat milik Winter yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakangnya.


“Ah...” pekik Snow sambil memegangi dahinya yang tidak sakit, hanya respon sontak karena terkejut. “Kenapa kakak tiba-tiba sudah ada di belakangku?” kesal Snow dengan nada terlewat manja.


“Apalagi? Tentu saja aku mau kekamar untuk beristirahat!” sahutnya cepat dengan ekspresi datar bak papan kayu tulis dikelasnya dulu. “Memangnya kamu saja yang ingin tidur?”


Snow mengusap keningnya beberapa kali,kemudian menaikkan pandangan kearah manik Winter dan berusaha menikamnya dengan tatapan tajam. Akan tetapi satu hal tak terduga lainnya ia terima dari sosok Winter, telunjuk panjang pria itu terulur dan mendorong kepala Snow kebelakang hingga pribadi tersebut berkedip-kedip cepat.

__ADS_1


“Cepat! Mau sampai pagi berdiri disini?”


Snow berbalik dengan perasaan dongkol. Dia bahkan menaiki anak tangga dengan hentakan kaki yang lumayan keras.


“Jangan seperti itu, nanti tangga rumahku jebol!”



Snow bahkan Winter sudah berganti pakaian dan bersiap untuk tidur. Ranjang berukuran besar itu memantul lembut saat Snow merangkak naik, dan Winter menatapnya sekilas.


Menggelikan sekali, Winter tersenyum sarkas.


“Kenapa?” tanya Snow heran saat melihat suaminya itu tiba-tiba tersenyum tanpa arti.


“Tidak, tidur saja dan jangan melewati pembatas!”


Snow memanyunkan bibir. Peringatan keras yang mungkin akan selalu terbawa mimpi hingga dia tak akan bisa bergerak sedikitpun untuk melewatinya, Winter terlampau sempurna dalam hal seperti ini.


“Orang yang sedang tidur itu tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan! Jadi jangan salahkan aku jika tiba-tiba berada di wilayah kakak!” jawab Snow ketus sembari menarik selimut dengan kasar untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas bahu. Membelakangi Winter yang tentu saja selalu sibuk dengan laptop di jam malam seperti ini. Ya, setidaknya dua hari ini berjalan sama. “Dan ingat, hari ini sudah berlalu. Tinggal 29 hari tertinggal!”[]

__ADS_1


__ADS_2