
"aku pulang"
Dona pulang sehabis dari sekolah,hari sudah sore dan kepalanya pusing karena memikirkan hal-hal yang terjadi beberapa hari ini
Saat dia membuka pintu dan masuk kedalam rumah,suara berisik dari ruang tengah langsung terdengar dan itu berasal dari ayah dan ibunya
"ma..pa..?"
Dona berjalan menuju ruang tengah dan suara yang dia dengar pun semakin jelas. Saat dia sudah sampai di tengah,Dona melihat ayahnya sedang menampar ibunya sehingga Dona langsung menghampiri dan marah-marah kepada ayahnya
"papa kenapa sih?!kenapa menampar mama?!"
"Cepat pergi ke kemarmu sana!"
Sang ayah menatap Dona tajam dan membuat Dona terkejut,ini pertama kalinya baginya. Tapi meskipun begitu,Dona sama sekali tidak berniat untuk mengikuti perintah ayahnya
"papa kenapa sih?!!"
Sang ayah pun kesal dan langsung menarik Dona kekamarnya secara paksa,dan setelah itu dia langsung mengunci Dona dikamar
"pa buka pa!!jangan sakiti mama!!"
Dona terus saja menggedor pintu berharap ayahnya mau membukakan pintu,tapi suaranya sama sekali tidak didengar oleh ayahnya. Suara perdebatan pun kembali didengar olehnya
Dona akhirnya berhenti menggedor pintu dikarenakan kelelahan,diapun menyandarkan punggungnya dipintu seraya menangis dengan apa yang terjadi kepada keluarga nya
'kenapa jadi begini?'
Dona sangat stres dan pusing karena kedua orang tuanya. Keluarga nya menjadi berantakan dan itu membuat Dona ketakutan,dia takut kalau orang tuanya akan berpisah
"Kalau seperti ini sebaiknya kita pisah saja!!"
"Baiklah!aku juga sudah muak denganmu!!"
Dua kalimat itu terdengar oleh Dona dari balik kamar dan membuat Dona langsung menangis keras dan membuat dadanya sesak. Padahal baru saja dia takut dengan hal itu dan sekarang malah benar-benar terjadi
'kenapa semuanya begini?!!'
.
.
Keesokan harinya,Dona datang kesekolah dengan wajah yang lesu dan juga mata yang masih sedikit bengkak karena semalaman menangis mengingat perpisahan kedua orangtuanya
Saat ini Dona tinggal bersama ayahnya,namun sikap ayahnya tidak sehangat dulu melainkan sangat dingin dan seperti orang yang berbeda
'apa aku bunuh diri saja ya?'
Sepanjang Dona berjalan,selalu saja ada orang yang berbisik-bisik serta mengejek Dona. Namun itu dia abaikan karena dia benar-benar tidak punya tenaga untuk berdebat sekarang ini
Dona sibuk melihat sekeliling dan mencari-cari Viktor sedari tadi. Dia berniat untuk meminta tolong kepada Viktor ataupun menipunya. Ayahnya bilang kalau dia akan berbaikan lagi dengan ibunya jika Dona berhasil mendapatkan Viktor dan oleh karena itulah Dona sibuk mencari-cari nya sekarang ini
Dona akhirnya melihat Viktor yang sedang berjalan dilorong,meski menghadap belakang, dia masih mengetahui kalau itu adalah Viktor. Dona pun berniat untuk menghampirinya, namun sekelompok gadis yang lebih tepatnya penggemar Viktor,datang menghalangi dan menghentikan langkahnya
"Jangan harap kau bisa mendekati tuan Viktor!"
Viktor semakin jauh kemudian menghilang ditikungan,Dona hanya menatap kepergian Viktor tanpa bisa mengejarnya sama sekali
.
.
'kalau aku melompat,apakah aku bisa terlepas dari semua rasa sakit ini?'
Ucap Dona seraya melihat kebawah dimana hanya terdapat tanah dan sebuah pohon. Yap,dia sekarang ini sedang berdiri dibalik dinding pembatas atap gedung dan berniat untuk lompat karena sudah tidak tahan dengan keadaan nya saat ini
"apa kau ingin bunuh diri?"
Dona terkejut dengan suara yang berasal dari belakang nya,dia yakin sekali kalau hanya dia sendiri yang ada di atap tadi. Dia pun refleks menoleh kebelakang dan mencari-cari sumber suara
"siapa?!!cepat keluar!!"
Orang itupun bangun dari posisi tidurnya kemudian duduk dan menoleh kearah Dona yang masih setia berdiri di balik pagar pembatas
Selain Viktor masih ada orang yang suka keatap,orang itu adalah Doni. Doni sedikit menguap karena masih sedikit mengantuk,Dona yang melihatnya pun menjadi kesal kepada Doni
"sedang apa kau disini?!!"
"hanya bersantai di tempat favorit ku. Apa kau ingin tau kenapa hidupmu seperti ini?"
"apa maksudmu?"
Doni pun turun kemudian berdiri menghadap kearah Dona. Dia melihat sejenak kearah kanan,menghela napas sejenak kemudian menatap tajam kearah Dona
"kau bagaikan tikus yang membangunkan sang singa. sang singa kesal karena diabangunkan dan akhirnya dia memakan sang tikus,tamat.."
"apa maksudmu?!berhenti mengatakan hal-hal yang aneh!"
"kau ini..aku sedikit kasihan padamu..karena kau sudah memilih lawan yang salah"
Doni pun membuka pintu untuk turun dari atap,dia sudah selesai dengan tidur siangnya dan ingin mengisi perutnya yang kosong. Dona yang mendengar perkataan Doni tadi pun menjadi tersinggung dan membuat amarah nya meluap
"aku tidak butuh belas kasihan mu!"
'dasar orang aneh'
.
.
Sementara itu dilorong,Viktor sedang berjalan santai sambil meminum susu cokelat yang baru saja dia beli. Dia sedang dalam mood yang baik hari ini
"apa permainan mu akan segera berakhir?"
Sebuah suara muncul dibalik dinding dan Viktor juga sudah tau siapa itu sedari awal. Viktor pun menghentikan langkahnya kemudian menoleh kearah Doni yang bersandar di dinding. Jika biasanya Viktor akan memukul atau menendang nya jika bertemu, sekarang ini Viktor malah memberikan senyuman kepada Doni yang menatapnya dengan datar
"yah begitulah..sebentar lagi akan game over"
"kenapa kau melibatkan keluarga nya juga?aku pikir kau tidak suka melibatkan orang lain dalam urusanmu?"
"aku hanya menjalankan apa yang pak tua itu katakan. Lagipula ayahnya Dona itu bukan orang baik Lo..dia selingkuh dibelakang istrinya,menjadi buaya darat dan sudah banyak sekali korbannya, dia juga melakukan korupsi terhadap uang pemerintah. orang seperti itu harus disingkirkan bukan?yah..aku sedikit kasihan kepada istrinya karena memiliki suami seperti itu. Ah tidak,dia kan ikut menyakiti Sena juga"
Ucap Viktor seraya memegang dagunya kemudian melihat keatas. Doni yang akhirnya paham pun menyingkirkan punggungnya dari dinding kemudian berdiri menghadap Viktor
'tumben mau bicara banyak'
"karena aku sedang senang"
Ucap Viktor seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Doni saat ini. Doni yang mendengar itupun hanya mendengus kemudian menyeringai
"Viktor tetaplah Viktor ya. tapi berhati-hatilah,karma bisa saja menghampiri mu kapan saja"
Viktor hanya diam dan menatap datar kearah Doni yang baru saja mengatakan itu tadi. Doni pun merogoh sakunya dan mengambil sesuatu dari sana
"ini dari papa"
Ucapnya seraya melemparkan sebuah benda berbentuk persegi panjang dan dibalut dengan kertas kado. Viktor dengan sigap menangkap benda itu kemudian memeriksa benda apa yang diberikan oleh papanya itu
Wajah Viktor seketika berbinar dan senyuman muncul di wajahnya, bagaimana tidak,itu adalah sesuatu yang selalu menjadi kesukaan nya
"wah...aku mendapat seri buku yang baru.."
"dia bilang akan mengunjungimu beberapa hari lagi"
"apa aku perlu mengucapkan terimakasih?"
Ucap Viktor seraya memperlihatkan buku tadi kepada Doni. Sepertinya Viktor enggan sekali untuk berterimakasih kepada orang yang ada didepannya itu
Doni yang mendengar perkataan Viktor pun hanya tertawa kecil
"kenapa kau sangat membenciku Viktor?"
__ADS_1
"aku juga tidak tau. Rasanya aku sudah mengenalmu sejak lama dan kau adalah tipe orang yang paling ku benci,mungkin seperti itu"
"wah jahat sekali kalau begitu!dah..jangan melukai yang tidak bersalah ya"
"itu tidak akan pernah terjadi"
Doni pun mendengus lagi sambil tersenyum kemudian pergi meninggalkan Viktor dan menuju ke kantin. Dan Viktor pun kembali melanjutkan langkahnya dan kembali ke kelas
.
.
Matahari sudah lama terbenam dan waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam,namun Dona sama sekali tidak bisa tidur. Kepalanya pusing dan dia sangat frustasi sehingga dia tidak henti-hentinya memegangi kepalanya sambil menutupi semua tubuhnya dengan selimut
Sementara itu diluar,dibawah sinar bulan,Viktor berdiri diatas atap rumah sambil menyeringai,dia akan mengakhiri permainan ini malam ini
Lampu tiba-tiba saja mati. ini bukan mati lampu karena dari rumah tetangga masih terlihat menampakkan cahaya
Dona yang terkejut langsung bangun dan mencari saklar untuk menghidupkan lampu. Dia takut dengan kegelapan karena itu mengingatkan nya akan mimpi buruknya hari itu
Sebuah suara langkah mendekat kearah Dona yang masih sibuk mencari saklar lampu. Suara langkah itu bukan berasal dari balik pintu,melainkan dari dalam kamarnya yang entah sejak kapan jendela kamarnya terbuka
Dona ketakutan dan dengan sekuat tenaganya mencari tombol untuk menghidupkan lampu,namun dia sama sekali tidak bisa menemukan nya karena dia sudah sangat panik
'aku benar-benar orang terburuk didunia'
Ucapnya dalam hati seraya menyeret sesuatu dan terus berjalan mendekat kearah Dona yang sudah terduduk dilantai
Viktor memakai kacamata malam untuk melihat bagaimana ekspresi Dona dengan jelas,dia puas dengan ekspresi yang Dona buat
Suara benda yang dilempar kelantai pun terdengar,itu adalah sesuatu yang diseret oleh Viktor tadi. Viktor sengaja melemparkannya tepat didepan Dona dan setelah itu dia langsung pergi
Lampu kembali menyala dan ruangan kamar Dona kembali jelas
"A..a.."
Dona terus mundur kebelakang hingga menyentuh dinding,dia ingin menghindari apa yang sedang ada dihadapannya saat ini. Saat sudah tidak bisa mundur lagi,Dona menggeleng-gelengkan kepalanya seraya meneteskan air matanya,dia takut dengan yang dilihatnya
Didepannya terdapat sebuah tubuh yang penuh dengan luka,dan tubuh itu memakai cincin yang biasa ayahnya pakai. Dona memegangi kepalanya dan..
"Aaaaaaa!!!"
"game over"
Keesokan harinya disekolah, seluruh siswa membicarakan soal Dona yang menjadi gila dan masuk kerumah sakit jiwa. Topik yang dibahas selalu saja itu. Ada yang mengejek,ada yang kasihan,dan ada juga yang tidak peduli sama sekali
"Ya dia memang pantas sih"
"Kau tidak boleh berkata seperti itu"
"Apa kau lupa apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu pada kita?!!"
"aku kasihan dengan kak Dona"
Seperti biasa Sena terlalu baik,meski Dona sudah jahat kepadanya namun dia tetap saja mengkhawatirkannya
"kenapa?"
Tanya Viktor datar sambil menoleh kearah Sena yang sedari tadi terlihat murung
"apa tuan tidak kasihan?keluarganya hancur dan kini dia ada dirumah sakit jiwa,bukankah itu sangat kasihan?!"
"ah begitu ya..tapi kurasa dia menerima itu karena perbuatannya sendiri"
Sena terdiam dengan perkataan Viktor barusan,dia tidak tau lagi apa yang bisa dia katakan sehingga dia hanya menunduk dan terus berjalan. Viktor pun memilih untuk ikut diam dan terus berjalan menuju kelasnya
Sesampainya dikelas 1-5,Viktor langsung duduk di kursinya kemudian mulai membaca buku yang diberikan oleh papanya kemarin
"ternyata benar-benar game over"
"yah begitulah..aku sudah bosan bermain dengannya"
Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari buku yang sedang dia pegang. Doni pun memilih untuk diam dan memperhatikan Viktor sejenak dan setelah itu dia memilih untuk mendengarkan lagu saja sambil menunggu bel masuk berbunyi
Benda yang dilempar Viktor didepan Dona kemarin adalah patung manekin yang Viktor hias dengan kemampuan seninya. Dia membuat tubuh manekin itu semirip mungkin dengan ayahnya Dona dan membuat Dona menjadi gila
Viktor tidak mungkin membunuh ayahnya Dona,karena pak Zora tidak masuk kedalam daftar orang-orang yang harus dibunuh oleh Viktor
.
.
.
Hari sudah sore dan langit sudah berwarna jingga. Viktor baru selesai kegiatan klub,jadi dia sedang berjalan sendirian sekarang
"ah..Hyuga masih lama pulangnya,dan aku bosan berjalan sendiri sekarang"
Ditengah perjalanan pulang,Viktor melihat ada nenek-nenek yang sedang kesulitan mengumpulkan buah-buahan miliknya yang terjatuh. Viktor dengan segera menghampiri nenek itu kemudian membantunya untuk mengumpulkan belanjaannya
"biar aku bantu ya nek"
"Wah terimakasih ya cu.."
Setelah kurang lebih lima menit akhirnya semua buah-buahan nya berhasil terkumpulkan
"ini nek"
Ucap Viktor seraya menyerahkan kantong plastik yang isinya buah-buahan milik nenek itu. Nenek itu tidak langsung mengambil kantong plastik itu,dia sibuk mencari-cari sesuatu dari balik mantelnya
"Nenek ingin memberikanmu hadiah karena sudah menolong nenek"
"ah itu tidak perlu"
"Tidak tidak,kau harus mengambil hadiahnya"
Nenek itu tiba-tiba saja menyeringai kemudian dengan cepat menyemprotkan sesuatu kepada Viktor. Viktor yang terkejutpun tidak sempat untuk menghindar dan tubuhnya tiba-tiba mati rasa
Viktor terbaring ditanah dan pandangan matanya perlahan menggelap,dan sosok nenek tadi tiba-tiba saja berubah menjadi seorang wanita dewasa dengan pakaian serba hitam. Viktor bisa mendengar kalau wanita itu sedang tertawa dan setelah itu Viktor tidak bisa merasakan apapun lagi
.
.
★Dirumah
"kenapa tuan Viktor lama sekali?"
Sena sudah menunggu kepulangan Viktor sejak 20 menit yang lalu,dia tau tentang kapan Viktor akan sampai ke rumah setelah selesai dari ekskul basket. Namun kali ini Viktor tidak kunjung pulang dan itu membuat Sena khawatir
"dia bilang ada latihan hari ini kan?"
Ucap pak Kim sambil membereskan rumah dan hendak bersiap untuk menyiapkan makan malam
"ya..tapi itu seharusnya sudah selesai. Aku akan menelpon kak Leo dulu"
Sena langsung mengambil HP nya kemudian menelpon Leo untuk menanyakan soal ekskul basket mereka. Tidak butuh waktu lama sampai Leo mengangkat teleponnya
"halo,ada apa Sena?"
"kak Leo,apa latihannya masih belum selesai?"
"latihan?itu sudah selesai sejak satu jam yang lalu,aku bahkan sudah bersantai sekarang ini. Apa Viktor masih belum pulang?"
"belum"
"apa dia tidak mengatakan sesuatu padamu?"
Meski melalui telepon, Leo tau kalau Sena sedang khawatir dan Leo juga sedikit khawatir dengan juniornya itu
"tidak. Tuan Viktor bukan orang yang suka keluyuran jadi dia pasti akan langsung pulang setelah sekolah. Ini membuatku cemas"
__ADS_1
"kau tenang saja dulu,aku akan coba mencarinya disekolah. Mungkin dia masih ada disana"
"terimakasih banyak kak Leo,aku juga akan terus menghubungi hp nya"
"yah, kabari aku kalau Viktor sudah pulang nanti ya"
"baik"
Telepon pun ditutup. Leo segera pergi kesekolah untuk mencari Viktor dan Sena pun terus menghubungi Viktor sejak tadi,namun teleponnya tidak ada yang diangkat dan itu membuat Sena semakin cemas
Sudah malam namun Viktor belum juga pulang sehingga pak Kim memutuskan untuk memeriksa keluar,mungkin saja tuannya itu sedang dalam perjalanan pulang. Sementara itu Sena tidak bisa duduk dengan tenang sedari tadi,dia mondar-mandir diruang tengah sambil terus menghubungi nomor Viktor
'tuan Viktor kemana?ini sudah pukul 8 malam'
Ring!Ring!
Telepon Sena berbunyi,awalnya dia pikir itu adalah Viktor tapi ternyata Leo. Sena langsung saja mengangkatnya dan berharap semoga saja kakak kelasnya itu punya kabar baik tentang keberadaan Viktor
"halo kak Leo,apa kakak menemukan tuan Viktor?"
"maaf Sena,aku sudah mencarinya diseluruh sekolah dan tempat-tempat yang kemungkinan dia datangi,tapi aku sama sekali tidak bisa menemukan nya"
Suara Leo dari seberang telepon terdengar terengah-engah karena dia mencari-cari Viktor sejak tadi sore dan itu sangat menguras tenaganya. Sena merasa tidak enak karena sudah merepotkan kakak kelasnya itu
"Maaf merepotkan kak Leo. apa kita harus lapor polisi?"
"polisi hanya akan bertindak setelah Viktor menghilang selama 24 jam,jadi itu hanya bisa dilakukan besok"
"lalu bagaimana.. bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya?"
"pokoknya kita harus berpikir positif saja sekarang. Aku yakin Viktor pasti baik-baik saja"
"aku harap kak Leo benar"
Panggilan diakhiri dan Sena pun terduduk lesu disofa kemudian melihat kelayar hp nya,berharap jika Viktor menelpon saat itu juga
"ayah akan coba mencarinya"
Ucap pak Kim seraya memakai mantelnya karena udara diluar dingin. Sena mengangguk sebagai jawaban dan pak Kim pun langsung pergi keluar untuk mencari Viktor
Sena memiliki firasat buruk, sesuatu yang buruk pasti terjadi kepada tuannya itu. Dia mencoba untuk tetap berpikir positif namun dia tidak bisa duduk dengan tenang dan menunggu kepulangan Viktor
Sena pun memutuskan untuk menelpon Hyuga,mungkin saja Viktor menghubunginya
"halo,ada apa Sena?"
"maaf mengganggu tuan Hyuga..aku punya berita buruk,tuan Viktor masih belum pulang juga sampai sekarang"
"apa?!ini kan sudah malam!!anak itu..pergi kemana dia?!aku akan coba mencari tahu, telepon aku jika dia sudah pulang"
"baik"
Ternyata Hyuga juga tidak memiliki info tentang keberadaan Viktor. Telepon berakhir cepat karena Hyuga terlihat terburu-buru menutup telepon untuk mencari info tentang keberadaan Viktor
Hyuga yakin kalau Viktor pasti masih hidup dan baik-baik saja,tapi dia tidak bisa tenang karena Viktor bisa saja lepas kendali dan melakukan perbuatan seperti satu tahun yang lalu
.
.
.
Hari sudah berganti,namun Sena belum juga mendapat kabar tentang keberadaan Viktor sehingga dia menjadi murung dan lesu karena tidak cukup tidur semalam. Meski Viktor hanya berbicara dengannya baru sebulan ini,tapi Sena sangat menghormatinya dan menganggap Viktor sebagai penyelamat dirinya dan juga ayahnya,oleh karena itulah Sena sangat cemas dengan keadaan Viktor
"Sena, bagaimana?"
Leo yang baru saja sampai dan melihat Sena langsung saja menghampiri dan bertanya tentang perkembangan keadaan Viktor
Sena menggeleng dan perlahan air mata keluar mengalir. Leo bingung harus mengatakan apa dalam situasi seperti ini
"bagaimana kalau tuan Viktor diculik? bagaimana kalau dia dalam bahaya..aku..aku.."
"Tenanglah,kita pasti akan menemukan Viktor secepatnya. aku sudah melaporkan hal ini kepada polisi, sekarang kita tunggu saja laporannya"
Sena pun mengangguk dan mengusap air matanya. Mereka berdua pun berpisah ditikungan kemudian pergi ke kelas mereka masing-masing
.
.
.
Sesampainya dikelas Sena langsung duduk di kursinya dan membenamkan wajahnya di lipatan tangannya
"Sena,dimana Viktor?kenapa hari ini aku tidak melihatnya?"
"Apa dia sakit?
"Apa kalian bertengkar?
Semua siswa-siswi mengelilingi Sena dan memberikan pertanyaan bertubi-tubi tentang keberadaan Viktor. Namun Sena memilih untuk diam dan tetap menyembunyikan wajahnya
Sementara itu di negara A,Hyuga sedang berdebat dengan sang penitia karena dia tidak mengizinkan Hyuga untuk kembali ke negara D
"pokoknya aku akan kembali ke negera D sekarang!anda tidak punya hak untuk melarangku!"
"Disana pasti sudah ada orang yang mencarinya,kau tidak boleh pulang karena kau masih harus melakukan kegiatan beberapa Minggu lagi"
Hyuga menggertakkan giginya kesal,kenapa dia harus peduli dengan kegiatan ini dan mengabaikan tentang keadaan sahabatnya yang sedang menghilang
"tapi ini tidak seperti Viktor!!dia tidak mungkin menghilang seharian tanpa ada kabar sedikitpun,pasti terjadi sesuatu!"
"Tapi anak bernama Viktor ini pasti tidak mau kau membatalkan kegiatanmu gara-gara dirinya"
"aku tidak peduli. Minggir atau aku akan membuatmu minggir secara paksa"
Hyuga pun menatap tajam kearah sang panitia itu. Panitia itu seketika merinding dengan tatapan yang diberikan Hyuga, namun dia sama sekali tidak berniat untuk menyingkir
Merasa perkataan nya tidak akan berhasil,Hyuga memutuskan untuk pergi secara paksa dengan cara menghajar orang yang ada didepannya itu. Namun itu terhenti karena kepala sekolahnya tiba-tiba saja datang dan menenangkan dirinya
"Apa menurutmu itu akan menyelesaikan masalah Hyuga?jika dibandingkan denganmu,akulah yang lebih cemas karena aku sudah menganggap nya seperti anakku sendiri"
"kalau begitu bisakah anda membuat orang ini pergi dari hadapan ku dan membiarkan aku kembali ke negara D?"
Ucap Hyuga seraya memasukkan tangannya kedalam kantong dan menatap kearah kepala sekolahnya itu. Sang kepala sekolah hendak berbicara namun sang panitia langsung saja memotongnya
"Itu tidak akan mengubah keputusan saya,kau tetap tidak bisa pergi Hyuga karena kau adalah anggota dari kegiatan ini. Kau harus menyelesaikan ini baru kau bisa pergi. Ini mungkin terlihat hanya pelatihan biasa,tapi ini lebih penting dari yang kau ketahui"
"Kau—"
"aku yang akan menggantikan Hyuga disini"
Suara Febi terdengar dari belakang dan membuat semua mata tertuju kepadanya. Febi berjalan mendekat dan berhenti tepat disamping Hyuga kemudian menatap lurus kearah sang panitia
"asalkan ada perwakilan dari sekolah itu tidak masalah kan? lagipula aku juga tidak terlalu buruk"
"Ya itu memang benar"
"kalau begitu aku yang akan tinggal dan Hyuga boleh pergi. Aku benarkan?"
Sang panitia pun berpikir sejenak kemudian mengangguk sebagai pertanda kalau dia setuju dengan perkataan Febi barusan. Hyuga langsung saja tersenyum kemudian langsung pergi menuju bandara
"terimakasih Febi,aku akan mengabarimu nanti"
Setelah Hyuga tidak terlihat lagi,sang panitia pun langsung kembali ke ruangannya. Febi dan sang kepala sekolah masih setia berdiri disana
"Apa anda tidak akan kembali pulang kenegara D?"
Tanya Febi kepada kepala sekolahnya yang sekarang ini sedang melihat keluar jendela dan melihat Hyuga yang tengah menaiki taksi
"Aku memang mencemaskan nya,tapi sepertinya dia akan marah padaku jika aku meninggalkan mu sendirian dinegara A ini"
__ADS_1
'ah jadi dia pikir aku tidak bisa menjaga diri ya?'
Sang kepala sekolah pun tersenyum,tau apa yang sedang dipikirkan oleh Febi melalu ekspresi wajahnya Sekarang ini