
Viktor terbangun di tempat yang asing menurutnya,tempatnya sangat sepi dan sejuk,sama sekali tidak ada suara kendaraan yang terdengar jadi dia memutuskan untuk bangun dan memeriksa keadaan di luar. Setelah membuka jendela baru Viktor menyadari kalau dia sudah tidak ada di kota lagi,melainkan sudah berada di pedesaan. Viktor pun mengingat-ingat mengapa dia bisa berada disini
'pria tua sialan!!! berani-beraninya dia membawaku secara paksa kesini!'
Cklek! Suara pintu terbuka dan menampilkan sesosok pembantu dengan beberapa makanan di tangannya. Awalnya Viktor berniat menendang orang yang masuk tadi,tapi setelah melihat siapa yang masuk dia membatalkan niatnya
"Kau sudah bangun tuan,ayo dimakan dulu" ucap pelayan itu ramah sambil meletakkan nampan makanan yang dibawanya tadi ke atas meja
"Dimana pria tua sialan itu?!" Tanya Viktor tanpa sopan santun sedikitpun. Wanita itu hanya tersenyum mendengarnya "dia itu kakek mu Lo,tidak bibi sangka kalau kau akan memanggilnya seperti itu"
"Dia bukan kakek ku!orang yang sudah menyakiti ibuku tidak pantas ku sebut sebagai kakek!"
Viktor berjalan keluar kamarnya dan melewati pembantu itu begitu saja,dia tidak napsu untuk makan saat ini. Viktor melihat-lihat rumah sederhana itu hendak mencari kakeknya,namun dia tidak menemukan siapapun di rumah selain pembantu tadi
Viktor pergi untuk mencari sinyal supaya dia bisa menelepon,tapi sangat sulit untuk mendapatkan nya karena dia sedang ada di desa 'tidak ada sinyal.. bagaimana aku pulang kalau begini?!'
"Sudah bangun?"
"Tch!"
Bugh!!Viktor langsung saja menendang kearah belakang sesaat setelah mendengar suara di belakangnya. Tapi orang yang ada di belakang bisa menahan tendangan Viktor hanya dengan satu tangan "Apa Ana tidak mengajarimu sopan santun?"
"Jangan menyebut nama ibuku!!"
Karena kesal,sang kakek langsung saja menyerang Viktor dan mengunci tangannya di belakang supaya Viktor tidak bisa menyerang lagi 'sial!kenapa aku tidak bisa lepas dari kunciannya?!'
"Berhentilah melawan bocah tengil,aku disini karena ingin membantumu berlatih dan mengendalikan emosi mu itu. Apa kau pikir dengan kekuatan mu yang sekarang kau sudah bisa mengalahkan ketua kelompok darah naga?kau hanya akan membuat orang lain terbunuh karenamu!"
Viktor seketika diam, perkataan sang kakek sangat benar adanya dan Viktor tidak bisa membantah. Saat ini dia terlalu lemah,dia hanya akan kehilangan orang-orang terdekatnya lagi jika tidak bertambah kuat
Karena Viktor sudah tenang,sang kakek pun melepaskan kunciannya dan menyeret Viktor untuk kembali ke rumah "latihannya di mulai besok jadi beristirahatlah yang banyak hari ini. Meski kau menelpon Alex dia tidak akan menjemput mu karena ini adalah keinginannya Langsung. Jangan coba-coba lari Viktor jika kau tidak ingin kehilangan siapapun lagi"
'jangan menasehati ku sialan!'
.....
Keesokan harinya Viktor kembali berdebat dengan kakeknya di meja makan. Viktor yang membara karena kesal dan hanya di tanggapi dengan santai oleh kakeknya itu
"Kenapa aku harus berpenampilan seperti ini?!" Protes Viktor karena dia di pinta untuk berpenampilan seperti orang culun,memakai kacamata dan dengan rambut yang berantakan,tentu saja Viktor tidak mau
"Itu supaya kau tidak dikenali siapapun,kita tidak tau apakah mata-mata kelompok darah naga juga menyelidiki sampai sini. Cepat pergi sana,jangan sampai kau membuka samaran mu itu!"
Ting Tong!Ting Tong!
"Dia sudah sampai,pergi sana!" Ucap sang kakek sambil menyeruput kopinya. Viktor kesal karena dia harus berpenampilan yang bukan gayanya, tapi terpaksa dia turuti karena dia harus bertambah kuat disini. Viktor pun menurut dan pergi ke pintu depan untuk melihat siapa yang menjemputnya itu
"Halo kau pasti Viktor,senang bertemu denganmu. Namaku Stella,aku tetanggamu dan Paman Arvin memintaku untuk menjemput mu hari ini" sapa seorang gadis yang lebih pendek dari Viktor dengan sangat ramah "ayo kita berangkat"
Tanpa aba-aba sama sekali,Stella langsung saja menarik tangan Viktor dan berangkat ke sekolah. Jarak antara rumah dengan sekolah tidak terlalu jauh jadi mereka berjalan kaki untuk ke sekolah. Udara di pedesaan sangat sejuk dan itu membuat Viktor merasa lebih santai. Orang-orang yang ada disana juga ramah,mereka menyapa Viktor dan juga Stella yang hendak ke sekolah
"Mereka ramah sekali"
"Disini orang-orangnya memang ramah,kau bisa meminta bantuan kepada mereka jika kau perlu sesuatu dan mereka pasti akan membantumu. Apa orang-orang di kota tidak seperti ini?" Tanya Stella kepada Viktor yang juga ikut menyapa penduduk desa
__ADS_1
"Ada yang baik dan juga ada yang jahat di kota,bukankah disini juga begitu?"
"Ya kau benar,tidak sepenuhnya orang itu baik"
.....
"Silahkan perkenalkan dirimu"
"Namaku Viktor,aku pindahan dari kota salam kenal" ucap Viktor memperkenalkan diri dengan apa adanya. Para siwa di kelas itu langsung saja membicarakan dan bergosip tentang penampilannya yang culun. Viktor sudah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi. Di setiap sekolah pasti ada saja yang membully orang yang terlihat lemah ataupun cupu,itu sudah sering terjadi
"Baiklah kau boleh duduk Viktor"
Viktor pun mengangguk dan berjalan kearah tempat duduknya yang terletak di belakang
Bugh!Viktor terjatuh karena seorang siswi tiba-tiba saja menjulurkan kakinya dan membuat Viktor tersandung. Bukannya meminta maaf,siswi itu malah tertawa mengejek kemudian di ikuti oleh para siswa di kelas itu "dasar culun" ejek siswi itu. Viktor yang tidak mau membongkar penyamaran hanya diam saja lalu berdiri dan berjalan ke kursinya. Para siswa di kelas itu tidak henti-hentinya mengejek Viktor
"Sudah diam kalian!" Bentak seorang pria yang duduk di samping Viktor. Semua siswa seketika diam dan pria tadi pun duduk kembali ke kursinya "apa kau baik-baik saja?" Tanyanya kepada Viktor yang sedang mengeluarkan bukunya
"Ya, terimakasih"
"Bukan apa-apa,temannya Stella adalah temanku juga. Namaku Amir,salam kenal Viktor" ucap Amir seraya tersenyum dan menjulurkan tangannya. Viktor pun menyambut tangan Amir seraya tersenyum lalu menoleh kearah Stella yang terlihat sedang kesal "sudah,sudah Stella,mereka tidak membicarakan Viktor lagi kok" bujuk Amir membuat Stella kembali duduk di kursinya lalu melipat tangan di depan dada pertanda kesal
"Kenapa dia?" Tanya Viktor seraya menunjuk Stella yang mengerucutkan bibirnya pertanda kesal
"Dia memang begitu,setiap ada yang membully siswa lain pasti dia akan marah" jelas Amir sambil tersenyum dan hanya diangguki oleh Viktor
.....
"Kami akan mengajak mu berkeliling,kau mau kemana dulu"
"Memang sesuai dengan dirimu ya" ucap Amir seraya tersenyum lalu berjalan duluan,Stella dan Viktor mengikuti di belakang. Kedua orang itu mengenalkan seluruh lingkungan sekolah kepada Viktor dan kepada beberapa teman mereka. Sudah mereka duga kalau Viktor akan kesulitan untuk beradaptasi di sekolah ini
.....
"Aku pulang"
"Bagaimana sekolahmu?" Tanya sang kakek kepada Viktor yang hendak pergi ke kamarnya. Viktor tidak menimpali perkataan kakeknya itu dan terus naik karena dia sangat lelah hari ini
"Latihannya dimulai sore nanti"
"Iya,iya"
.....
Sesuai dengan yang sang kakek katakan,mereka kini sedang berlatih di halaman belakang. Disana terdapat lampu sorot yang memang sengaja dipasang,jadi mereka tetap bisa melihat dengan jelas Walaupun hari mulai gelap
"Kenapa aku harus tetap berpenampilan seperti ini?!"
Sang kakek menghela napas lelah,tidak dia sangka kalau cucunya ini sangatlah rewel dan susah di atur "kau harus membiasakan dirimu bertarung dengan posisi tidak terbaik mu,kalau ini saja kau tidak bisa maka kau tidak akan pernah bisa mengalahkan pria itu"
Perkataan sang kakek ada benarnya dan membuat Viktor tidak mengeluh lagi walaupun masih sedikit kesal. Latihan pun dimulai,Viktor diminta menyerang duluan sedangkan Arvin hanya menghindar dan memberitahu letak kesalahan Viktor "kau terlalu banyak membuang-buang gerakan Viktor,kau akan kehabisan tenaga lebih cepat dari lawanmu,dan juga..kenapa gerakan mu mudah sekali ditebak..?!!apa ini yang orang-orang sebut pembunuh terhebat di negara D"
"Apa kau bilang pak tua!!"
__ADS_1
Viktor dan kakeknya kembali berdebat,mereka terlihat sangat akrab jika orang lain melihat mereka saat ini. Ya terutama bagi Stella yang memang memperhatikan latihan Viktor sedari tadi,dia tidak sendiri,Amir juga ikut menonton bersamanya
"Kenapa kau tersenyum?"
"Mereka telrihat akrab bukan?Paman Arvin bilang dia ingin memperbaiki hubungannya dengan cucunya,jadi melihat mereka seperti ini aku jadi senang" ucap Stella seraya tersenyum lebar dan menatap kakek dan cucu itu
"Apa mereka tidak dekat?"
"Ya..aku dengar dari ibuku,kalau Paman Arvin dulunya pernah menyakiti anaknya,ibunya Viktor di depan Viktor. Dan kurasa semenjak itulah Viktor membenci kakeknya"
"Kalau begitu kenapa Viktor kesini?" Tanya Amir yang tidak mengerti lalu melihat kearah Viktor dan kakeknya yang kembali berlatih. Kedua orang itu menyadari kalau Stella dan Amir memperhatikan mereka,jadi Viktor diminta untuk berpura-pura lemah dan tidak menunjukkan kemampuan aslinya
"Aduh.." Viktor pura-pura ceroboh dan terjatuh,karena dia sangat hebat dalam berakting jadi Stella dan Amir tidak sadar sama sekali kalau Viktor sedang berbohong
'benar-benar mirip dengan penampilannya'
"Apa kau baik-baik saja Viktor?" Tanya Stella yang kini sudah memasuki tempat latihan lalu membantu Viktor berdiri
"Ya aku baik-baik saja,aku ceroboh tadi"
"Kenapa kau latihan bela diri?" Tanya Amir yang berdiri di belakang Stella yang kini sibuk mengecek kondisi tubuh Viktor
"Orang ini selalu diganggu,jadi Paman membantunya untuk membela diri. Tapi seperti yang kalian lihat, dia sangat ceroboh" ejek sang kakek tanpa disensor sama sekali,Viktor hanya memandang kesal kearah kakeknya dan mengumpat di dalam hatinya
"Amir bukankah rumahmu lumayan jauh dari sini?"
"Ya,aku kesini untuk meminjam catatan Stella. Aku juga mau pulang sekarang"
"Ouh hati-hati ya kalau begitu"
"Ok, selamat malam semuanya"
Amir pun pergi dari sana dan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana. Ketiga orang itu melambaikan tangannya kearah Amir dan setelah Amir masuk kedalam mobil dan pergi,Viktor kembali melanjutkan latihannya
.....
"Wah apa itu bekal mu?apa kau menyiapkannya sendiri?" Tanya Stella setelah Viktor membuka kotak bekalnya. Mereka bertiga saat ini sedang makan bersama di rooftop dan mereka juga sudah janjian kalau mereka akan membawa bekal hari ini
"Pembantu di rumah yang menyiapkannya,aku tidak bisa memasak" ucap Viktor lalu mulai memakan bekal miliknya. Stella yang tadinya bertanya hanya mengangguk singkat lalu ikut memakan bekalnya
"Apa kalian mau bekal ku?" Tanya Amir setelah membuka kotak bekalnya. Karena Amir anak orang kaya jadi tentu saja makanannya juga mewah,tapi untuk Viktor yang sudah terbiasa dia sama sekali tidak tergiur "aku tidak saja,ini,aku berikan milikku,aku memasaknya sendiri Lo" ucap Stella sambil meletakkan beberapa lauknya ke atas nasinya Amir dan sang pemilik langsung saja mencicipinya
"Emm enak..kau memang pandai memasak stella" puji Amir sambil memakan lahap masakan Stella tadi
Stella pun tersenyum mendengarnya dan merasa bangga dengan dirinya sendiri "apa kau juga mau Viktor?"
"Tentu"
Setelah mendengar perkataan Viktor,Stella langsung saja memberikan beberapa lauknya dan Viktor pun langsung mencicipinya. Dengan wajah yang berseri-seri Stella menunggu komentar dari Viktor "sedikit asin dan juga masih belum terlalu matang sempurna" jelas Viktor yang berlainan dengan komentar Amir tadi
"Woi Viktor,peka dikit dong!" Bisik Amir yang hanya mendapat tatapan bingung dari Viktor
"Ouh begitu ya, sepertinya aku terlalu kebanyakan memasukkan garam tadi"
__ADS_1
'eh?bukankah setiap kali ada yang mengatakan masakannya tidak enak dia akan marah?lalu kenapa kali ini tidak?'
Wajah Amir perlahan menjadi suram dan diam,Stella tidak menyadarinya tapi Viktor tau,tapi karena Viktor tidak tau harus berbuat apa jadi dia pura-pura tidak tau saja