Who Am I

Who Am I
34.Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Adam datang dengan tergesa-gesa ke sebuah pabrik kosong,napasnya tidak teratur dan dia membawa sebuah amplop besar ditangan kanannya


"Dimana putriku?" Tanyanya kepada Lim dan Lin yang ada di depannya yang memang sengaja menunggu dirinya


"Disini"


Sebuah suara muncul dari balik tiang dan darisana tampak Viktor dan Lili berjalan beriringan. Tapi Viktor meletakkan sebuah pisau dileher Lili dan mereka berjalan mendekat hingga sejajar dengan posisi Lim dan juga Lin


"Viktor tidak ku sangka kalau kau akan melakukan hal sejahat ini. Dia itu tunanganmu!"


Viktor tidak menjawab dan tetap menggenggam pisaunya serta menatap tajam kearah Adam


"Kau membawa tuntutan kami bukan?" Tanya Lim yang mulai angkat bicara


"Ya,itu ada disini. Tapi kalian tidak melukaiku putriku kan?!"


"Untungnya belum karena kau memenuhi tuntutan kami. Kalau tidak hasilnya akan lain" kali ini Lin yang bicara,dia yang tadinya menyender di dinding kini berdiri tegap menghadap Adam


"Ayah.."


Lili memanggil ayahnya,ini sebenarnya perintah dari Viktor supaya Lili terlihat seperti sedang ketakutan dan membuat ayahnya menjadi khawatir


"Lili..!!Viktor,berani sekali kau mengarahkan senjatamu kepada Lili!"


"Diamlah paman dan berikan amplop yang kau bawa itu. Jika tidak...." Viktor semakin mendekatkan pisaunya keleher Lili seraya menyeringai "...kau tidak akan mau tau apa yang akan terjadi selanjutnya"


"Kau.. padahal aku sudah percaya kalau kau akan melindungi Lili!"


"Ayah tolong.."


"Woii..sampai kapan kau mau menyerahkan amplop itu kepada kami?kami bukan orang yang sabar Lo.."


"Kembalikan dulu putriku"


Adam menggertakkan giginya karena Lim dan Lin seperti tidak berniat untuk mengembalikan Lili sama sekali


"Cepat berikan paman,asal kau tau saja pisau adalah keahlian ku" ucap Viktor kepada Adam yang sepertinya masih ragu untuk memberikan amplop itu


"Ayah,ayah pergi saja,aku tidak apa-apa ditinggal" ucap Lili sambil tersenyum


Adam tertegun dan meremas amplop itu kuat,kenapa dia bisa ragu soal pentingnya Lili bagi dirinya


"Ini..kumohon kembalikan Lili padaku"


Adam melemparkan amplop tadi ke depan,dan Lin yang dekat pun langsung mengambil dan melihat isinya. Saat diperiksa ternyata itu asli sehingga dia langsung menyeringai


"Terima-kasih"


Adam kesal,dia mengepalkan tangannya erat dan menatap benci kearah Lin yang mulai berjalan membelakanginya


"Sekarang kembalikan putriku!"


"Viktor,sisanya kau yang urus. Aku sebenarnya berniat untuk membunuh gadis itu,tapi ayah bilang kalau itu tidak boleh,jadi gadis itu aman.."


Setelah mengatakan itu Lim langsung pergi dan diikuti oleh Lin. Viktor kesal dengan perkataan Lim barusan tapi dia tidak menyerang Lim dikarenakan kemampuannya yang masih kurang


Viktor pun melepaskan Lili dan menyimpan kembali pisaunya. Lili langsung membalikkan badannya dan menatap kearah Viktor,tampak kalau Viktor merasa tidak enak


"Apa kau ketakutan tadi?" Ucap Viktor seraya mengusap tengkuknya


"Tidak sama sekali, bagaimana peran ku tadi?" Tanya Lili kepada Viktor dan tidak mempedulikan soal ayahnya yang mendekat kearah mereka


"Kau hebat Lili"


Lili tiba-tiba saja menarik kerah baju Viktor dan menciumnya tepat di bibir,Viktor dan juga Adam menjadi terkejut dibuatnya. Ciuman itu singkat tapi Viktor bisa merasakan perasaan Lili dari ciuman itu

__ADS_1


Wajah Lili menjadi merah karenanya sedangkan Viktor hanya memasang ekspresi terkejut


"Terimakasih untuk semuanya"


Lili mengatakan hal itu dengan tersenyum sangat manis,Viktor pun ikut tersenyum kemudian mengelus rambut Lili pelan


"Sampai bertemu lagi"


ucap Viktor dan langsung pergi dari sana karena Adam sudah dekat. Lili hanya melambaikan tangannya dan melihat punggung Viktor sampai tidak terlihat lagi olehnya


"Lili apa kau baik-baik saja?maafkan papa ya.."


Adam langsung memeluk Lili dengan erat kemudian memutar-mutar tubuh Lili untuk memastikan apakah Lili terluka atau tidak


"Ayah kau membuatku pusing!!"


"Ah maaf"


Adam pun berhenti memutar-mutar tubuh Lili dan kemudian jongkok sehingga tingginya sejajar dengan Lili


"Kenapa kau menciumnya tadi?dia berniat untuk membunuhmu Lo!"


"Itu karena...aku menyukainya"


.


.


.


Kini Viktor,Lim,dan Lim sedang melapor kepada sang ketua seraya menyerahkan amplop tadi. Sang ketua puas karena dia berhasil mendapatkan apa yang dia mau


"Kerja yang bagus,dan Viktor aku tidak menyangka kalau kau butuh waktu lama untuk misi kali ini. Sepertinya kau bersenang-senang saja selama ini"


Viktor tidak menimpali perkataan sang ketua,dia hanya berdiri tegap dan menatap datar


.....


"Viktor..lama tidak bertemu"


Suara nyaring itu berasal dari Ezil yang kini sedang berlari menghampiri Viktor. Viktor hanya menoleh tanpa menyapa Ezil terlebih dahulu


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik-baik saja, terimakasih sudah bertanya"


Wajah Ezil sedikit berbeda dari biasanya dan itu membuat Viktor bertanya-tanya


"Kenapa ekspresi mu seperti itu?"


"Ah tidak,hanya saja... sepertinya kau menjadi sedikit lembut sekarang"


"Mungkin karena kebiasaan selama tiga bulan ini. Aku mau kembali ke kamarku, duluan ya"


"Ok"


Viktor segera melenggang pergi menuju kamarnya. Ezil memperhatikan punggung Viktor sejenak kemudian pergi menjalankan misi


...Setahun kemudian...


"Viktor saatnya menjalankan misi"


"Baik"


Tiga tahun sudah berlalu semenjak Viktor masuk ke dalam kelompok darah naga dan entah sudah berapa banyak jiwa yang sudah dibunuh olehnya

__ADS_1


Viktor sekarang lebih sering menjalankan misi yang diketuai oleh Lin dan kebanyakan Viktor lah yang diperintahkan untuk menyelesaikan misi itu. Ya itu karena anggotanya hanya berisikan Lin Dan Viktor saja


Setiap misi yang mereka jalankan,Lin selalu membantu saat Viktor sedang terpojok saja dan jika tidak maka Viktor sendirilah yang menyelesaikannya


Mereka menjadi anggota kelompok karena permintaan dari Lin Dan Viktor juga tidak menolaknya. Dan berkat sering menjalankan misi,pangkat Viktor kini sudah naik menjadi level 3 dan dia bisa keluar sendiri dari markas tanpa diawasi oleh siapapun


Tapi Viktor sama sekali tidak berniat untuk kabur dari markas,itu disebabkan karena dia tidak punya tempat untuk dituju,atau mungkin karena dia sudah tidak bisa lepas lagi dari kebiasaan membunuh. Viktor setiap hari selalu saja bermandikan darah dari para target yang dia bunuh menggunakan pisaunya,dia selalu pulang dengan tubuh penuh darah, orang-orang dimarkas bahkan tidak terkejut lagi dengan hal itu


Kemampuan Viktor tiap hari semakin meningkat,tapi itu membuatnya semakin dingin dan seperti tidak memiliki hati. Dia akan membunuh siapa saja yang diperintahkan,tidak peduli siapa dan berapa umurnya. Viktor sudah seperti mesin pembunuh, sama seperti yang sang ketua dan Dr.L inginkan


Setiap hari Viktor selalu menjalankan misi dan jika tidak maka Viktor akan merasa seperti ada yang kurang. Itu disebabkan karena dia sudah terbiasa membunuh setiap harinya,itu sudah menjadi kebiasaan nya sekarang


"Aku rasa kau harus istirahat sesekali Viktor"


Kali ini Viktor sedang bersantai ditaman bersama Ezil. Ezil merasa khawatir karena Viktor terlalu sering menjalankan misi dan jarang sekali beristirahat


"Ada yang aneh jika aku tidak membunuh sehari saja,jadi..aku harus menjalankan misi.."


Mata Viktor tidak seperti dulu lagi,kini matanya benar-benar menjadi merah gelap,dingin,dan seperti tidak memiliki jiwa sama sekali. Ezil juga tidak pernah lagi melihat Viktor tersenyum ataupun melontarkan kalimat ejekan yang biasanya akan membuat orang kesal seketika. Itu membuat Ezil sedih,dia ingin mengembalikan Viktor yang dulu tapi dia tidak bisa melakukan nya


Ring!ring!


Suara telepon berbunyi,Viktor langsung saja mengeluarkan hp nya dan mengangkat panggilan yang masuk itu. Tidak lama kemudian dia langsung memasukkan kembali hp nya dan berjalan pergi darisana


"Ayo kembali ke markas"


"Baiklah"


Viktor dan Ezil pun kembali ke markas


.


.


.


Sesampainya di markas,tepatnya diruangan sang ketua,Viktor berjalan mendekat kearah sang ketua yang sepertinya sedang menghukum seseorang


"Ada apa ketua?" Tanya Viktor singkat sambil menoleh kearah pria paruh baya yang ada diruangan itu dan dengan tubuh yang penuh luka, sepertinya habis dipukuli


"Tuan tolong ampuni aku,aku pasti akan mengembalikan semua uangmu. Jadi kumohon jangan bunuh aku.."


Pria paruh baya dengan rambut yang berantakan itu terus memohon ampun kepada sang ketua,ruangan jadi ribut karenanya. Pria itu bahkan menangis dan berteriak kencang untuk mendapat perhatian dari sang ketua


Dorr!!


Pria itu langsung tumbang setelah suara tembakan terdengar. Pelakunya adalah Viktor yang tidak suka karena pria tadi sangat berisik


"Viktor..berani sekali kau membunuhnya. Kalau seperti ini siapa yang akan mengembalikan uangku?"


"Tidak usah berpura-pura ketua,kau memang berniat untuk membunuhnya. Bukankah kau bisa membunuhnya secara langsung?"


Sang ketua yang melihat aksi berani Viktor menimpali perkataan nya hanya tersenyum kecil dan menyenderkan punggungnya dikursi


"Ternyata benar kau sudah berubah. Kau boleh kembali"


Viktor tidak mendapat jawaban yang dia inginkan. Tapi sepertinya sang ketua sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya sehingga Viktor memutuskan untuk pergi saja darisana


.....


Kini Viktor sedang berjalan di lorong, wajahnya sungguh dingin dan tidak sehangat yang dulu


"Yo Viktor,lama tidak bertemu"


Pria seumuran Viktor muncul dan berdiri lumayan jauh dari Viktor. Dia bermata hijau dan dengan rambut hitam yang agak berantakan,pria itu tersenyum kearah Viktor

__ADS_1


Viktor seketika menjadi kesal,wajahnya berubah menjadi menyeramkan. Tapi dia tidak maju menyerang seperti dulu,dia hanya menatap tajam kearah pria yang sedang berjalan mendekat kearahnya itu


__ADS_2