
"Ada apa Amir?" Tanya salah seorang pria karena wajah temannya itu sedari tadi murung terus,tidak seperti biasanya. Ya meskipun mereka sudah tau apa alasannya
"Stella lebih perhatian kepada Viktor daripada aku" ucapnya sambil menghela napas berat lalu menyenderkan punggungnya di dinding "apa menurut kalian Stella menyukainya?"
Dua orang teman Amir saling menatap satu sama lain lalu menoleh kearah Amir yang menunggu jawaban mereka "tentu saja tidak,Stella tidak mungkin menyukai pria culun seperti itu. Lagipula kau ini orang tertampan dan terkaya di sekolah,kenapa kah insecure kepada orang culun seperti itu"
Mendengar perkataan sahabatnya itu,Amir kembali percaya diri dan mulai tersenyum kembali. Itu membuat temannya yang lain juga ikut senang "ke kantin yuk!"
"Ok"
.....
Amir adalah pangeran sekolah di sekolah ini,jadi dia sangat populer di kalangan para siswi tapi Amir sama sekali tidak tertarik. Dia tau kalau para siswi itu hanya melihat fisik dan kekayaannya saja jadi dia membenci mereka. Tapi berbeda untuk Stella,Amir menyukainya karena Stella menganggap Amir sama seperti teman-temannya yang lain. Amir sudah lama menyukainya tapi dia takut kalau dia mengatakan perasaannya maka persahabatan mereka akan terputus jadi dia memilih untuk memendamnya
Saat sampai di kantin mood Amir kembalj turun karena lagi-lagi dia melihat kedekatan Stella dan Viktor. Kedua temannya juga ikut menoleh kearah yang Amir lihat, mereka lihat kalau Stella sedang berusaha untuk menyuapi Viktor. Karena kesal Amir langsung saja pergi dan membatalkan niatnya untuk jajan di kantin
'Amir?'
Viktor melihat sekilas kalau Amir datang ke kantin tadi,tapi dia tidak tau kenapa dia tiba-tiba saja pergi begitu
"Makan sayurnya!" Perintah Stella sambil mengajukan sesendok wortel kepada Viktor "aku tidak suka sayur!berhenti memaksaku"
"Tidak!sayur itu penting untuk kesehatan jadi kau harus memakannya!"
Stella terus berusaha memaksa Viktor untuk memakan sayurannya,tapi Viktor tetap bersikeras dan menjauhkan wajahnya dari sendok yang diajukan Stella 'kenapa dia juga memaksa ku untuk makan sayur?!kakek tua itu saja sudah cukup'
.....
Bughh!!Amir meninju batang pohong yang ada di taman,dia kesal sungguh kesal sehingga dia memukul pohon itu beberapa kali tanpa mempedulikan tangannya yang kini terluka. Kedua temannya hanya bisa melihat saja
"Kalian lihat kan?!Stella menyukainya!"
"Mungkin hanya dugaanmu saja. Stella itu baik kepada semua orang, lagipula dia dititipi oleh paman Roy untuk menjaga Viktor kan?"
"Mungkin dia hanya ingin menjalankan titipan kakeknya Viktor itu" ucap kedua temannya berusaha menghibur Amir yang masih tidak berhenti memukuli pohon
"Ah terserah,aku mau ke kelas dulu"
Dengan kesal Amir kembali ke kelasnya dan meninggalkan kedua temannya itu. Dia tidak berniat untuk mengobati lukanya,dia mungkin sudah lupa dengan rasa sakit di tangannya itu
Sesampainya di depan kelas lagi-lagi Amir melihat Stella dan Viktor bersama,mereka tertawa bersama dan terlihat sangat akrab. Amir menggertakan giginya lalu berjalan cepat memasuki kelas dan itu langsung membuat Stella dan Viktor kebingungan
"Amir" panggil Viktor yang langsung membuat langkah Amir terhenti dengan terpaksa. Amir berusaha menyembunyikan kekesalannya dan menutupinya dengan senyumannya yang biasa "ada apa Viktor?"
'senyum paksa'
"Kau hari ini ta—kenapa dengan tanganmu?!" Ucap Stella terkejut sambil melihat tangan Amir yang terluka itu. Amir yang ditanya hanya tertawa kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali "ayo ke UKS"
__ADS_1
"Eh?Stella ini hanya luka kecil,aku baik-baik saja"
"Tidak,ayo ke UKS!"
Stella menarik Amir ke UKS dengan paksa,Viktor memilih untuk tidak ikut karena tidak mau mengganggu,dia hanya berdiri di depan pintu kelas dan melihat kearah kedua teman barunya itu
.....
"Sa-sakit Stella,bisa kau lebih pelan mengobatinya?"
Saat ini Amir dan Stella sedang berada di UKS untuk mengobati tangan Amir yang terluka. Stella salah satu anggota PMR jadi dia paham benar bagaimana cara mengobati luka seseorang "iya,iya,cengeng amat sih"
Amir memperhatikan wajah Stella dengan seksama tanpa di ketahui oleh sang empu. Senyuman muncul di wajahnya dan dia sudah tidak kesal lagi sekarang
"Kenapa Lo senyum-senyum begitu?" Tanya Stella sambil membalut tangan Amir dengan perban
"Tidak apa-apa. Oh ya,kau sepertinya dekat sekali dengan Viktor belakangan ini?"
"Mungkin hanya terbawa suasana saja. Dia seperti anak kecil,ceroboh dan tidak suka makan sayur. Jadi aku seperti menjadi kakak yang mengawasinya" ucap Stella sambil membereskan kotak P3K dan mengembalikannya ke tempatnya. Mendengar Jawaban Stella barusan,Amir tidak bisa menyembunyikan kesenangannya,dia tersenyum dengan sangat lebar "ayo kita ke kelas"
"Sepertinya mood mu sudah membaik,karena apa?"
"Bukan apa-apa. Ayo pergi"
"Ok"
Setelah selesai mengobati tangan Amir,kedua orang itu kembali lagi ke kelas. Dibawah tangga lantai dua ternyata Viktor sudah menunggu kedatangan mereka,dia sedang malas berada di kelas saat ini "bagaimana tanganmu?"
"Aku ini khawatir padamu,kau seharus—akh!"
Kaki Stella tidak sengaja terpeleset di tangga jadi dia langsung kehilangan keseimbangan. Refleks Amir tidak terlalu cepat jadi dia tidak sempat meraih tangan Stella,tapi untunglah Viktor bisa menangkap Stella sebelum dia jatuh kelantai "apa kau baik-baik saja?"
"Ya terimakasih"
'cepat sekali!'
Tidak nyaman dengan posisinya,Viktor langsung melepaskan pegangannya begitupun dengan Stella dia langsung berdiri dan merapikan pakaiannya "ayo ke kelas" ajak Stella berjalan duluan ke kelas dan langsung diikuti oleh Amir dan juga Viktor
"Apa itu hasil dari latihanmu?"
"Bukan,itu tadi hanya kebetulan saja. Kenapa?"
"Ah tidak,bukan apa-apa"
.....
Setelah kejadian itu,semakin hari Stella dan juga Viktor semakin dekat. Bukan hanya itu saja,Stella sedikit menjaga jarak dari Amir dan dia sama sekali tidak menjelaskan kenapa dia bersikap demikian. Amir juga sering melihat wajah Stella yang tiba-tiba saja merona setiap kali dia bersama dengan Viktor. Dan Viktor juga semakin akrab dengan teman-teman di kelas,Viktor bahkan sudah mau menuruti Stella untuk memakan sayuran yang tidak di sukai
__ADS_1
'hari ini aku harus menanyakan dengan jelas kenapa dia bertingkah seperti itu!'
Amir kini sedang menuju taman di mana mereka sering berkumpul,dia ingin mengungkapkan kekesalannya atas perilaku Stella akhir-akhir ini
Saat hampir sampai di taman,Amir melihat kalau Stella sedang memberikan sebuah amplop berwarna merah muda kepada Viktor. Terkejut bukan main,Amir serasa di tusuk-tusuk dengan banyak pedang saat melihat Stella memberikannya dengan wajah yang memerah "Viktor ini,aku..—"
Tidak tahan dengan apa yang dilihatnya,Amir langsung pergi tanpa mendengarkan ucapan Stella sampai akhir, dia tidak mau mendengar apa yang akan diucapkan Stella selanjutnya
.....
"Amir tadi Stella memberikanku surat jadi—"
"—aku tidak peduli!" Potong Amir cepat sambil membentak Viktor yang langsung tertegun diam. Merasa bersalah dan kesal,Amir langsung beranjak dari tempatnya dan pergi karena tidak ingin melihat wajah Viktor sekarang ini
....
"Apa ada masalah dengan sekolah mu?" Tanya sang kakek karena Viktor terlihat sedikit murung saat ini
"Tadi siang Amir membentak ku,jadi aku terus memikirkannya,apa yang sudah ku lakukan?"
"Kau tanyakan saja langsung padanya besok. Sekarang ayo fokus,tunjukkan padaku hasil latihan mu selama sebulan ini" tantang sang kakek yang langsung membuat Viktor bersemangat. Karena sudah sebulan di desa,Viktor menjadi lebih akrab dengan Arvin dan dia juga sudah memanggil Arvin dengan sebutan kakek meskipun hanya sesekali "ok..akan ku tunjukkan kalau aku bisa mengalahkan mu kali ini!"
Viktor langsung maju menyerang,semua yang sudah dia pelajari diterapkannya untuk menghadapi kakeknya itu. Gerakan-gerakan yang diajarkan bahkan di modifikasi oleh Viktor sehingga menimbulkan gerakan baru yang lebih hebat dari aslinya. Sang kakek kewalahan karena umurnya yang sudah tua,sedangkan Viktor lebih tenaga dan akhirnya bisa mengalahkan sang kakek "aku menang" ucap Viktor dengan sangat bangga dan membantu kakeknya untuk berdiri
"Kau memang berbakat Viktor. Ayo ikut,ada yang ingin kakek tunjukkan padamu"
Viktor mengernyitkan keningnya tapi mengikuti kearah dimana kakeknya pergi,mereka menuju bagasi rumah yang selalu terkunci semenjak Viktor datang ke desa "ada apa memangnya di dalam?" Tanya Viktor saat kakeknya itu membuka kunci bagasi "kejutan" ucap sang kakek tidak mau memberitahu Viktor apa yang akan dia tunjukkan itu
Saat pintu bagasi dibuka,mata Viktor membola seketika dan air matanya perlahan menetes,Arvin langsung saja tersenyum lalu menyerahkan sebuah kunci mobil kepada Viktor "ba-bagaimana bisa? bukankah mobil ini sudah terbakar 12 tahun yang lalu?" Ucap Viktor tidak percaya melihat mobil merah ayahnya dulu. Mobil itu seharusnya sudah hancur saat kejadian waktu itu,tidak di sangka kalau sang kakek memilikinya
"Ya itu memang sudah hancur waktu itu,aku butuh waktu 2 tahun untuk selesai memperbaikinya supaya dia mirip dengan yang asli. Apalagi karena suku cadangnya yang sulit untuk di temukan. Bagaimana?kakek mu ini hebat kan?" Ucap Arvin sambil memuji dirinya sendiri "mau mengendarainya?"
"Iya"
Saat hendak masuk ke dalam mobil,ibunya Stella tiba-tiba saja datang dengan tergesa-gesa dan terlihat khawatir "Viktor,apa kau melihat Stella?"
"Dia bilang kalau dia ada ekskul tadi" ucap Viktor seadanya
"Tapi ini sudah hampir malam,Tante juga sudah menghubungi teman-temannya,mereka bilang kalau Stella tadi sudah pulang. Tapi dia tidak kunjung pulang ke rumah" ibunya Stella terlihat sangat khawatir dan Arvin pun berusaha untuk menenangkannya
"Ouh mungkin di rumah Amir,aku lupa,tadi dia mengajak untuk kerja kelompok disana. Gawat,aku harus siap-siap dulu" ucap Viktor langsung pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap. Ibunya Stella yang mendengar itu langsung menghela napas lega
"Kakek bisa kau mengantarku?" Tanya Viktor sesaat setelah selesai mengganti pakaiannya. Ibunya Stella sudah pulang karena Arvin memintanya untuk menunggu di rumah saja
"Kenapa tidak menyetir sendiri?"
"Aku takut mobil itu akan rusak lagi nantinya,ayo berangkat"
__ADS_1
"Iya,iya,kau pandai sekali berbohong ya" ucap sang kakek sambil berjalan menuju mobil
"Itu hal yang mudah bagiku. Lagipula aku tidak enak melihat seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya"