
Viktor dan Leo pun berdiri di tengah lapangan dan bersiap untuk memulai pertandingan mereka. Semua yang ada disana sudah sangat antusias melihat pertandingan kedua orang itu. Namun belum sempat wasit meniup peluit,seorang senior tiba-tiba saja datang dan mengatakan kalau Viktor dipanggil oleh kepala sekolah. Semuanya langsung merasa kecewa karena gagal melihat pertandingan antara Viktor dan Leo
"Sepertinya kau selamat kali ini Viktor" ucap Leo dengan sangat percaya dirinya kalau dialah yang nantinya akan menang
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu kapten. Kita tanding lain kali saja,aku ada urusan sebentar. Semuanya aku pergi dulu ya"
Setelah berpamitan dan meminta izin kepada sang manager,Viktor dan Lili segera pergi ke ruang kepala sekolah. Viktor sebenarnya tidak mau mengajak Lili,tapi dia bersikeras untuk ikut jadi Viktor terpaksa mengajaknya
.....
Sesampainya di ruang kepala sekolah,mereka berdua sudah ditunggu oleh yang memanggil mereka. Viktor tersenyum kikuk dan mengalihkan pandangannya kearah lain dikarenakan tatapan mengintimidasi yang ditujukan kearahnya itu
"Viktor..kau ini..."
"A..!!sakit.!sakit..!"
Tanpa aba-aba sang kepala sekolah sekaligus orang yang sudah dianggap sebagai paman oleh Viktor itupun menarik telinga Viktor dengan lumayan keras dan membuat sang empu meringis kesakitan. Lili yang melihat itu hanya memperhatikan saja sambil tersenyum getir
"Ampun paman..aduh sakit.."
Sang kepala sekolah pun melepaskan tarikannya,Viktor langsung mengusap terlinganya yang sudah memerah itu. Sang kepala sekolah pun beralih kearah Lili yang kini tersenyum kearahnya
"Sudah lama tidak bertemu Lili, bagaimana kabarmu?"
"Baik paman,paman tidak berubah sama sekali,awet muda"
"Kau bisa saja. Oh ya,apa ayahmu tidak marah kau bertemu dengan Viktor?" tanya sang kepala sekolah sambil melihat kearah Viktor yang kini sudah duduk di sofa
"Papa masih melarangku,tapi aku tidak memperdulikannya. Mungkin ini yang orang-orang sebut sebagai masa memberontak"
"Anak muda jaman sekarang. Oh ya Viktor,aku melarang mu untuk pergi ke negara K lagi"
Mendengar perkataan pamannya tadi,Viktor yang sedang meminum susu kotak yang dia beli tadi pun tersedak dan membuat susu itu berhamburan keluar dari mulutnya. Setelah selesai terbatuk-batuk Viktor langsung melotot kearah pamannya itu
"Jangan pikir kalau aku tidak mengetahui rencanamu. Semua tim kelompok mu berkumpul dan sudah pasti ada hal penting yang akan kalian lakukan. Ini kesalahan mu sendiri Viktor,sudah ku bilang kalau kau tidak boleh terluka saat kau ada di negara K tapi kau malah hampir terbunuh beberapa bulan yang lalu. Jadi,aku melarang mu kali ini"
Mulut Viktor terbuka hendak mengatakan sesuatu untuk menyanggah perkataan pamannya tadi,tapi mulutnya kembali terkatup karena memang benar dia sudah berjanji kepada pamannya itu. Lili yang awalnya ingin memecah kecanggungan itu malah terhenti karena melihat ekspresi Viktor
'Viktor..'
Kring!!Kring!!
Bel masuk berbunyi,Viktor langsung berjalan keluar tanpa mengatakan apapun dan meninggalkan Lili di ruangan itu. Kepala sekolahnya tau kalau Viktor pasti akan melanggar larangannya jadi dia berusaha untuk mengejar Viktor namun Viktor sudah keburu keluar dari ruangan guru dan itu membuatnya khawatir dan terduduk lemas di sofa yang ada di ruangannya
"Lili tolong hentikan dia,paman sungguh tidak mau dia terluka lagi. Mungkin dia akan mendengarkan jika kau yang mengatakannya" ucap sang paman dengan kepala yang tertunduk dalam dan terlihat murung
"Maaf paman,jika Viktor sudah memutuskan sesuatu maka tidak akan ada yang bisa mengubahnya bahkan teman terdekatnya sekalipun"
Setelah mengatakan itu Lili pun keluar dan pergi ke kelasnya meninggalkan sang paman yang sangat frustasi dengan Viktor, lagi-lagi dia tidak bisa menghentikannya
'kenapa dia sangat keras kepala?padahal dulu dia lebih penurut padaku'
.....
3 tahun yang lalu
Zein POV
"Halo Roy lama sekali tidak bertemu"
"Zein,saudaraku,kenapa kau berkunjung kemari?"
__ADS_1
"Hanya mampir saja untuk melihat saudaraku yang gila kerja ini"
"Hahaha,ayo duduk dulu"
Pertemuan pertamaku dengan Viktor adalah disaat aku mengunjungi Roy yang sudah lama tidak aku temui. Kesan pertamaku kepadanya hanyalah seorang anak biasa yang introvert dikarenakan dia jarang sekali tersenyum,namun dia sopan dilihat dari cara dia mengucapkan salam
Karena tidak mau terlalu ambil pusing jadi aku tidak terlalu memperdulikannya,toh dia hanyalah seorang anak kecil
"Kenapa kau tiba-tiba mengajakku ke taman Zein, pekerjaan ku masih menumpuk di kantor"
"Nah benar kan?gila kerja. Kau harus bersantai sesekali atau kau akan cepat stres"
"Ah baiklah,baiklah"
Aku mengajak Roy untuk ke taman karena memang dia perlu refreshing dan Viktor juga ikut bersama kami karena Roy yang mengajaknya. Karena aku tidak terlalu mudah akrab dengan anak kecil jadi aku tidak berusaha untuk melakukan pendekatan apapun kepadanya. Banyak keluarga yang berkumpul di taman ini untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang tercinta mereka dan setiap kali itu juga Viktor memperhatikan mereka dengan lama. Jika kami melihat 10 keluarga berkumpul maka 10 kali juga Viktor akan menoleh dan menatap lama kearah keluarga itu
Aku tidak tau apa yang terjadi padanya,tapi matanya terlihat kesepian. Dan setiap kali ku tanya dia selalu menggeleng tanpa mengatakan apapun,aku menyerah,aku tidak mungkin bisa akrab dengannya
"Aku serasa sedang berhadapan dengan kulkas saat berbicara dengannya"
"Maafkan dia. Dia sudah kehilangan kedua orangtuanya sejak umur 5 tahun,mereka tewas di depan matanya dan dia tidak bisa melakukan apapun. Dia hanyalah anak berumur 13 tahun sekarang,tapi dia sudah tidak merasakan kehangatan orangtua selama bertahun-tahun. Dia tersenyum hanya kepada beberapa orang saja"
"Dia anaknya Anna bukan?wajahnya mirip soalnya"
"Iya kau benar"
"Pantas saja kau sangat perhatian padanya,Anna kan cinta pertama mu"
"Sejak dia menikah dengan orang lain aku sudah merelakannya dan aku merawat Viktor karena dia adalah anak dari teman masa kecilku dan rekan kerjaku"
Aku mengangguk mengerti,Roy benar-benar tulus merawat Viktor. Aku pun mengalihkan pandangan ku kearah Viktor lagi, lagi-lagi dia sedang mengamati keluarga yang sedang berkumpul itu
'anak ini..'
"Aku..tidak bisa,karena dia bersikeras untuk membalaskan dendam kedua orangtuanya dan teman-temannya yang sudah tewas. Aku sudah coba,tapi dia tidak mau"
Aku memperhatikan Viktor lagi,dari atas ke bawah dia benar-benar hanyalah bocah berumur 13 tahun tapi dia sudah menjalani hal-hal berat yang orang lain tidak mungkin akan percayai. Anak kecil seperti dirinya seharusnya bermain dan tertawa bebas tanpa beban apapun,tapi dia malah harus menjalani kehidupan kelam dan menyakitkan
"Roy,bisakah Viktor ikut denganku besok?"
"Kenapa?"
"Anak itu sepertinya sudah memendam emosinya terlalu lama,jadi aku ingin membuat dia ceria lagi,...mungkin"
"Pftt!tidak kusangka kalau kau akan menawarkan diri,soalnya kau kan tidak menyukai anak-anak"
"Tidak ada salahnya kan?"
"Baiklah,baiklah,kau boleh mengajaknya keluar besok"
.....
keesokan harinya
Sesuai dengan yang aku katakan kepada Roy,keesokan harinya aku mengajak Viktor jalan-jalan tapi yang dia ketahui bahwa dia sedang menjalankan misi untuk menjagaku. Wajahnya selalu serius dan tidak berhenti menoleh ke kanan kiri
"Tidak perlu terlalu waspada Viktor,tidak akan ada apa-apa disini"
Kelakuannya membuatku lelah,tidak bisakah dia bersantai sehari saja?
"Tuan Zein —"
__ADS_1
"Panggil paman saja"
"Eh?..paman,bisakah kau mengembalikan senjataku?aku harus siap siaga jika saja ada yang datang menyerang"
"Tidak akan ku kembalikan sampai sore nanti. Bersantailah Viktor,ini negara damai berbeda dengan negaramu sebelumnya,tidak akan ada penjahat yang menyerang ku disini"
"Ouh baiklah"
Meski mengatakan baiklah tapi dia tetap saja mewaspadai sekitarnya. Aku pun mulai berpikir, apa yang biasanya orang tua lakukan dengan anak mereka disaat hari libur?ya..maklum saja,sampai sekarang aku masih belum memiliki istri apalagi anak. Meski banyak keluarga lain di sekitar sini,tapi aku rasa perlakuan seperti mereka tidak akan mempan untuk anak sedingin dirinya
"Viktor,kau mau ice cream rasa apa?" Tanyaku saat kami sampai di depan sebuah kedai ice cream
"Tidak perlu,aku tidak suka ice cream"
"Sudahlah coba saja" ucapku lalu memberikan ice cream cokelat kepadanya,karena aku dengar dari Roy kalau Viktor menyukai apapun yang memiliki rasa cokelat
"Ah baiklah"
.....
"Viktor,kenapa kau memperhatikan anak-anak disana seperti itu?"
"Aku..hanya sedikit iri kepada mereka"
Akhirnya dia jujur kalau dia juga ingin merasakan kehangatan dari orangtua,entah apa yang merasuki ku, aku tiba-tiba saja memeluknya dengan erat dan mencoba memberikan kehangatan layaknya seorang ayah kepadanya
"Paman..?"
"Kau kuat sekali Viktor,menanggung semua beban yang tidak pernah orang lain bayangkan. Kau sudah berjuang dengan keras,kau boleh jujur dengan perasaan mu sendiri tidak perlu menahannya,kau terlalu lama memendam emosi mu selama ini"
Perlahan aku merasakan tubuh Viktor yang bergetar jadi aku melihat kearah bawah,dan benar saja,anak itu sedang menahan isakan tangisnya dengan air mata yang perlahan mengalir keluar
"Sialan!!kenapa air malah keluar dari mataku dan tidak bisa berhenti?!"
Dia kesal karena mungkin terlalu memalukan baginya untuk menangis di depan orang yang tidak terlalu dikenalnya,jadi dia menghapus air matanya yang mengalir deras itu dengan paksa
"Kau boleh menangis Viktor,tidak ada yang akan menganggap mu lemah hanya karena menangis"
Sesaat setelah mengatakan itu,dia langsung menangis dengan kencang sambil memelukku erat. Beberapa pandangan orang disana bahkan tertuju kepada kami,namun aku tidak memperdulikannya. Syukurlah Viktor bisa melepaskan emosi yang selama ini dia tahan
Dia menangis hanya sekitar 10 menit dan dia sudah mulai lega karena sudah mengeluarkan emosi yang sudah lama dia tahan itu
"Jangan katakan ini kepada siapapun"
"Baiklah aku akan merahasiakannya"
Sekilas aku melihatnya tersenyum dan wajahnya juga lebih cerah dari sebelumnya. Semenjak kejadian itu,setiap kali kami bertemu kami menjadi semakin dekat dan aku pun mulai menganggapnya seperti keponakan ku sendiri
Lalu..satu tahun yang lalu,dia mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya. Aku seharusnya memanfaatkan kesempatan itu untuk menjauhkannya dari kehidupan dunia bawah tanah yang kejam ini,menjauhkan dia dari segala bahaya,membuatnya lupa tentang balas dendamnya itu dan menjadikannya seperti remaja pada umumnya. Aku seharusnya melakukannya dan dia pasti akan menjalani kehidupan yang normal sekarang ini. Tapi..aku tidak melakukannya,aku tidak melakukan apapun..aku gagal..menjauhkannya dari bahaya
.....
Flashback end
"Apa kau akan mengabaikan larangan paman tadi?" Tanya Lili sesaat setelah berjalan beriringan dengan Viktor
"Yah..aku tau kalau dia mencemaskan ku,tapi aku sudah tidak bisa mundur lagi,aku harus menyelesaikannya. Hanya aku yang dapat memimpin penyerangan kali ini,kali ini aku benar-benar akan menghancurkan para orang jahat itu sampai ke akar-akarnya"
Terlihat dengan sangat jelas kalau Viktor sangat serius dan itu membuat Lili tersenyum sekaligua khawatir. Senang karena Viktor sangat bersemangat dan khawatir karena hal yang akan dia lakukan sangatlah berbahaya dan mengancam nyawa
"Lili,selama kami pergi tunggulah di rumah,kau akan aman di sana"
__ADS_1
"Ok,aku akan menunggu kepulangan kalian semua di rumah"
"Emm,kami pasti akan pulang dengan selamat"