Who Am I

Who Am I
31.Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Ezil baru saja kembali dari menjalankan misi dan dia sekarang ini sedang mencari-cari Viktor ditempat Viktor biasanya membaca buku. Namun kali ini dia tidak menemukan nya


'viktor kemana?'


Saat sedang mencari Viktor,Ezil mendengar suara pintu depan terbuka sehingga dia langsung saja menoleh untuk memastikan siapa yang datang. Sesuai dengan perkiraan nya,orang yang datang adalah Viktor sehingga dia langsung saja berlari turun kebawah


Saat sedang menitih anak tangga,Ezil terkejut saat melihat pria yang ada dibelakang Viktor


'tuan Lin?kenapa dia bisa bersama Viktor?'


"Hai Viktor?"


Viktor melambaikan tangannya tanpa mengatakan apapun. Ezil yang sudah dekat pun berhenti tepat didepan Viktor


"Bagaimana misimu?" Tanya Viktor kepada Ezil yang sudah seminggu tidak dilihatnya


"Aku hanya dijadikan umpan. Selamat siang tuan Lin" Ezil sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada atasannya itu


Lin yang ada dibelakang Viktor pun melipat tangannya didepan dada kemudian melihat kearah Viktor


"Kenapa kau tidak bisa seperti temanmu ini?" Ucap Lin seraya tersenyum


Viktor yang mengerti dengan perkataan Lin pun membalas perkataan nya dengan kalimat yang sangat mengejek "Tidak mungkin aku hormat kepada pria tua seperti mu"


Lin menatap kesal kearah Viktor dan Viktor menjadi bangga dengan dirinya sendiri karena itu


"Aku masih 17 tahun bocah!!"


"Dan aku 6 tahun.."


Lin sudah sangat kesal,dia sudah mengepalkan tangannya dan bersiap untuk memukul Viktor


"Viktor kau tidak boleh bicara seperti itu kepada tuan Lin" Ezil berusaha untuk menghentikan Viktor yang sepertinya akan mengatakan sesuatu yang akan membuat Lin kesal lagi


Bukannya berhenti,Viktor hanya tersenyum kemudian menyerang Lin yang ada dibelakang nya. Pertarungan antara Viktor dan Lin pun terjadi lagi,Ezil menjadi khawatir dengan tingkah Viktor yang terlalu berani


'Viktor..kau tidak mungkin bisa mengalahkan nya..'


.


.


Keesokan harinya Ezil melihat Viktor bertarung lagi dengan Lin. Viktor terus menyerang, tapi itu masih belum sebanding dengan Lin. Ezil menjadi penasaran kenapa Viktor terus saja bertarung dengan Lin


.....


Saat ini diruang makan,Ezil sedang menunggu Viktor menghabiskan makanannya supaya dia bisa bertanya dengan puas. Saat Viktor sudah selesai,dia langsung saja menanyakan semua pertanyaan yang ada di kepalanya


"Kenapa kau terus saja bertarung dengan tuan Lin?"


"Aku sedang berlatih"


"Berlatih?dengan tuan Lin?"


Viktor pun mengangguk singkat dan heran kenapa Ezil menjadi terkejut dengan itu


"Bagaimana bisa kau menyuruh tuan Lin melatihmu? bagaimana?"


"Aku hanya memintanya saja. Kenapa kau sangat terkejut dengan itu?"


Ezil yang kagum sekaligus tidak percaya pun berdiri dari tempat duduknya dan menatap tajam kearah Viktor


"Karena tuan Lin itu terdengar buas dan kejam,tidak ada yang berani mendekati nya"


'eh..aku baru tau..'


"Oh begitu ya?"


"Ah..aku juga ingin dilatih olehnya"


"Bilang saja kalau begitu"


"Eh apa boleh?"


Viktor mengangguk singkat sebagai jawaban kemudian berdiri dari tempat duduknya dan melenggang pergi. Dia mau kembali berlatih lagi,Ezil yang diajak pun mengikuti Viktor dengan senyuman diwajahnya


.


.


Saat sampai ditempat biasanya latihan,Lin ternyata sedang membaca buku yang Viktor pinjamkan. Dan saat melihat Viktor sudah datang,Lin pun menutup bukunya dan melompat turun


"Aku lupa menanyakan ini. Kenapa kau menyukai buku yang membosankan seperti ini?" Ucap Lin sambil menunjukkan buku tadi kepada Viktor. Sepertinya dia tidak menyadari kehadiran Ezil disana


"Ayahku bilang hanya orang pintar yang akan menyukai buku itu"


"Woii..apa kau tidak bisa sehari saja tidak mengejek seseorang ya?" Ucap Lin yang mulai kesal dengan perkataan singkat Viktor barusan


"Kau saja yang mudah marah"


"Itu karena perkataan mu yang mudah sekali membuat orang kesal"


Viktor dan Lin mulai berdebat lagi dan Ezil yang sedari tadi diam pun mulai berbicara


"Selamat siang tuan Lin"


Lin yang disapa pun berhenti berdebat dan menoleh kearah Ezil kemudian menyapanya balik


"Kau yang kemarin ya?apa kau mau menyemangati Viktor hari ini"


"Bisakah kau melatih ku juga?" Tanya Ezil langsung tanpa berbasa-basi lagi


Lin yang mendengar itupun menoleh kearah Viktor,karena kemungkinan besar Viktor lah yang mengajaknya. Tapi Viktor yang dilihat hanya diam saja tanpa mengatakan apapun


"Maaf ya,aku bukan orang yang suka mengajari orang lain. Aku melatihnya karena dia memaksaku dan karena alasan lainnya. Minta orang lain saja"


Lin langsung saja mengatakan semua isi pikirannya tanpa mempedulikan apakah Ezil akan tersinggung atau tidak. Viktor pun menoleh kearah Ezil untuk melihat ekspresi nya. Viktor khawatir kalau Ezil akan murung,tapi ternyata ekspresi Ezil sama seperti biasanya


"Oh begitu ya. Kalau begitu apa aku boleh melihat latihannya?"


"Tentu"


Ezil pun tersenyum, entah itu senyum palsu atau bukan,yang pasti Viktor merasa tidak enak karenanya


.


.


Latihan dimulai dan Ezil duduk agak jauh darisana dan memilih tempat yang bagus untuk melihat latihan Viktor. Sama seperti yang Ezil lihat sebelumnya,Viktor sama sekali tidak bisa mendaratkan pukulan ketubuh Lin


"Gerakan mu banyak yang sia-sia Viktor,kau bisa kehabisan tenaga kalau begitu"


Disepanjang latihan,Lin mulai mengatakan apa saja kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Viktor. Viktor mendengarkan semua penjelasannya dan memperbaiki setiap gerakannya


'mungkin aku terlalu lemah,jadi aku tidak pantas untuk dilatih olehnya'


.


.


Keesokan harinya Viktor sedang pergi menuju perpustakaan,dia tidak ada misi hari ini dan Lin juga tidak ada untuk latihan,jadi dia ingin bersantai di perpustakaan


Saat sedang melewati belokan,aura membunuh tiba-tiba saja terasa dan diiringi dengan sebuah peluru yang melesat. Viktor terkejut tapi dia bisa menghindari itu. Viktor menjadi tertegun dan menatap tajam kearah dimana pelurunya tadi datang

__ADS_1


"Siapa?!"


Mata Viktor menyiratkan rasa ingin membunuh,dia kesal dan menatap tajam kearah depan


Dari arah depan terdengar langkah kaki mendekat dengan diiringi gelak tawa. Siluet itu semakin jelas dan saat sudah terkena cahaya lampu,Viktor bisa melihat dengan jelas wajah orang yang menyerangnya tadi. Orang itu belum pernah dilihat Viktor


"Siapa kau?!"


"Kau hebat bisa menghindari seranganku. Sama seperti yang aku dengar"


Viktor menatap tajam kearah pria didepannya yang sedang memegang sebuah pistol itu. Pria itu juga menatap tajam kearah Viktor,tapi dia tiba-tiba saja langsung tertawa lepas


"Kau tidak perlu melihatku seperti itu,santai saja.."


"Kutanya sekali lagi,siapa kau?!"


Bukannya menjawab pria itu malah melihat jam tangannya dan mengabaikan Viktor "gawat,aku telat. Duluan ya" ucap pria itu yang langsung saja pergi sambil melambaikan tangannya kearah Viktor


Viktor yang tidak mendapat jawaban pun menembakkan sebuah peluru kearah pria itu yang sedang berlari. Tapi pria itu bisa menghindari nya dengan mudah padahal dia sedang membelakangi Viktor


'siapa dia sebenarnya?'


Karena berhasil dihindari,Viktor memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Sedangkan pria yang tadi hanya tersenyum saja sambil terus berlari keruangan yang dia tuju. Tidak butuh waktu lama dia sampai dan masuk kesebuah ruangan


"Kau darimana saja Alan?" Tanya Lim yang sedang ada di ruangan itu dan menunggu kedatangan bocah bernama Alan itu


"Aku menyapa sebentar anak kecil yang pernah tuan katakan itu"


"Bagaimana menurutmu?"


"Dia hebat,aku penasaran siapa yang akan menang jika kami bertarung" ucap Alan seraya meletakkan tangannya di dagu dan mencari-cari jawaban


"Kita harus pergi sekarang,kau bisa menyapanya lagi lain kali"


"Baik tuan Lim"


'sampai bertemu lagi, Viktor'


Alan dan Lim pun pergi dari sana dan pergi ke markas utama,karena disanalah mereka ditugaskan


Sedangkan Viktor yang ada di perpustakaan sedang tidak fokus membaca buku dikarenakan rasa kesal yang masih mengganggunya


.


.


.


Setahun sudah berlalu sejak pertemuan Viktor dengan Alan. Viktor sekarang berumur tujuh tahun dan tubuhnya juga tidak sependek dulu lagi


Viktor saat ini sedang menenteng sebuah laptop dan hendak pergi ketempat dia biasanya latihan dengan Lin. Jika setahun lalu Viktor fokus melatih kekuatan bertarungnya, sekarang ini Viktor lebih fokus melatih kemampuan sosial serta keahlian dalam bidang komputer


Saat sedang melewati pintu depan,seorang pria paruh baya menghentikan langkahnya karena ingin menanyakan sesuatu


"Apa kau tau dimana ketua mu?" Tanya pria itu


"Dia ada di ruangannya" jawab Viktor singkat


"Oh terimakasih"


Setelah mengatakan itu,pria itupun langsung pergi untuk menemui sang ketua. Viktor hendak menawarkan bantuan untuk mengantar,tapi pria itu menolaknya dan sepertinya dia tau pasti lokasi dimana ruangan sang ketua


Saat pria itu sudah tidak terlihat,Viktor melanjutkan lagi langkahnya ketempat latihan


.....


Seperti biasanya Lin bersantai di atas pohon dan sepertinya dia mulai tertarik dengan buku yang Viktor pinjamkan. Karena tidak mau mengganggu,Viktor memilih untuk duduk dibawah pohon dan mengutak-atik laptop yang dibawanya


Lin yang melihat Viktor sibuk dengan laptopnya pun menoleh kemudian turun dan duduk disamping Viktor untuk melihat apa yang sedang Viktor kerjakan


"Meretas sesuatu"


"Ouh.." sesaat setelah mengatakan oh,Lin dibuat terkejut dengan apa yang sedang diretas oleh Viktor saat ini,itu adalah situs milik pemerintah


"Woii,kenapa kau meretas jaringan pemerintah,kalau kau ketahuan bagaimana?"


"Tenang saja,aku hanya akan masuk saja,tidak akan menyentuh satu file pun"


"Astaga kau ini"


Viktor sibuk mengutak-atik laptopnya dan Lin yang diabaikan pun menoleh kearah lain. Dan saat Lin melihat kealayar laptop lagi, ternyata Viktor sudah tidak meretas jaringan pemerintah lagi dan melakukan hal yang lain


"Aku belum mengajarimu yang ini, bagaimana kau melakukannya?"


"Aku sudah mengerti tentang sistem-sistem yang ada di laptop dan aku membuat beberapa improvisasi,dan inilah hasilnya" ucap Viktor menjelaskan tanpa menoleh sama sekali


"Kau memang cepat sekali paham ya"


.


.


Sementara itu ditempat ketua,pria paruh baya tadi sedang berbincang-bincang dengan sang ketua


"Aku kemari untuk mencarikan tunangan untuk putriku,jadi aku meminta bantuan mu"


"Kau bisa memilih siapapun disini jika ada yang cocok"


"Tadi aku melihat bocah yang sepertinya seumuran dengan anakku, sepertinya dia cocok" ucap pria itu seraya tersenyum


"Sepertinya aku tau siapa yang kau maksud,aku akan memanggilnya"


Sang ketua pun mengeluarkan hp nya dan menelpon Lin,karena di jam segini Viktor selalu latihan bersama Lin


Tidak butuh waktu lama telepon nya diangkat oleh anak keduanya itu


"Ada apa ketua?"


"Suruh Viktor keruangan ku"


"Ok"


Tanpa bertanya apa-apa lagi,Lin langsung saja memutus sambungan telepon dari ayahnya itu


"Dia akan segera datang"


.....


"Viktor,ikut aku keruangan ketua"


Viktor tidak menanyakan apapun soal itu,dia menutup laptopnya kemudian berdiri dan mengikuti Lin yang sudah berjalan lebih dulu


.


.


Sesampainya di ruangan ketua,Viktor melihat lagi pria paruh baya yang dia lihat didepan tadi. Pria itu melambai seraya tersenyum dan Viktor pun hanya mengangguk menanggapi nya


"Viktor perkenalkan ini tuan Adam" ucap sang ketua memperkenalkan pria yang sedang duduk didepannya itu


Pria bernama Adam itupun berdiri kemudian berjalan kearah Viktor. Saat sudah dekat,dia memberikan sebuah foto kepada Viktor


"Bagaimana menurutmu soal putriku"

__ADS_1


"Dia je.." saat Viktor hendak mengatakan jelek,Lin sudah lebih dulu menatap tajam kearah Viktor sehingga dia langsung saja mengubah kalimatnya "dia cantik dan imut" ucap Viktor tersenyum getir kemudian mengembalikan foto tadi


"Terimakasih. Aku ingin kau jadi tunangannya dan pemimpin mu juga sudah menyetujuinya"


Viktor dan Lin secara bersamaan menoleh kearah sang ketua yang hanya menatap datar kearah mereka. Viktor ingin menggerutu tapi itu dia urungkan


"Kau kelas berapa sekarang?"


"Aku tidak sekolah"


Pria itupun menoleh kearah Lin yang ada dibelakang Viktor pertanda meminta penjelasan,Lin paham dengan itu


"Aku sudah menanyakannya,tapi dia yang tidak mau" ucap Lin kesal karena dia yang disalahkan


"Tidak,tidak, calon menantuku harus sekolah. Kau akan bersekolah ditempat yang sama dengan putri ku besok. Persiapkan barang-barang mu karena kau akan tinggal bersama kami"


"Sekarang?"


"Iya. Tapi untuk sekarang ini aku masih ada urusan,jadi aku akan datang lagi. Itu saja,aku mau pergi dulu"


Pria itupun pergi dari sana dan saat pintu sudah tertutup,Viktor menoleh lagi kearah sang ketua dan meminta penjelasan


"Apakah kau bebas menentukan siapa pasangan ku?" Ucap Viktor sinis


Sang ketua pun menghela napas kemudian menatap balik kearah Viktor


"Sebenarnya kau hanya perlu berpura-pura saja,aku menjadikan ini misimu. Pria tadi memegang saham yang besar didalam perusahaan dan aku ingin kau mengambil berkas penting yang dia simpan. Jika itu berhasil didapat,maka kelompok kita bisa menguasai negara ini"


"Dimana dia menyimpan berkas itu?jika disimpan di komputernya,aku bisa meretasnya"


"Kami tidak tau dimana dia menyimpannya,tapi yang pasti bukan didalam komputer. Mungkin dia menyimpannya dibank negara,kami tidak tau"


"Jadi aku berpura-pura menjadi tunangan anaknya dan mencari tau dimana dia menyimpan berkas itu?"


"Iya. Semakin cepat kau menemukan nya maka semakin cepat pula kau selesai dengan misimu. Dan jika kau berhasil,aku akan menaikkan pangkatmu ketingkat tiga"


Viktor terkejut mendengar kalau pangkatnya akan dinaikkan sampai tingkat tiga,dia senang,ini adalah kesempatan langkah sehingga Viktor menerimanya secara langsung


"Aku akan berkemas dulu"


Viktor dengan cepat pergi dari sana dan pergi menuju kamarnya untuk berkemas. Saat Viktor sudah keluar,Lin Dan ayahnya tersenyum secara bersamaan


.


.


.


Sesuai dengan yang tadi dia katakan,Adam kembali lagi untuk menjemput Viktor. Viktor sudah menunggunya didepan pintu dengan sebuah tas dipunggung nya


"Ayo kita berangkat"


Tanpa mengatakan apapun,Viktor melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil. Dan mobilpun segera melesat pergi


.....


Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai disebuah rumah mewah berwarna krim. Adam langsung saja mengajak Viktor untuk masuk


Sesampainya didalam ternyata rumah itu lebih luas lagi, interior mewah menambah kesan elit dari rumah itu


"Lili,papa pulang" ucap Adam saat memasuki rumah dengan Viktor yang mengikuti dibelakang


Sebuah suara menyahut panggilan dan datanglah seorang gadis kecil yang seumuran dengan Viktor berjalan mendekat kearah mereka


"Papa,apa kau bisa membantuku mengerjakan pr?" Tanya Lili kepada ayahnya itu


"Maaf ya Lili,papa sibuk sekali hari ini jadi tidak bisa"


Lili kecewa dengan perkataan ayahnya,ayahnya lebih mementingkan pekerjaan daripada menghabiskan waktu bersama dirinya


"Oh ya,papa mendapatkan tunangan untukmu" ucap Adam seraya tersenyum


"Aku tidak butuh tunangan,aku hanya mau menghabiskan waktu bersama ayah"


"Viktor ayo kesini"


Viktor pun berjalan kedepan dan menunjukkan wajahnya kepada Lili. Lili seketika terpana saat melihat wajah Viktor


"Halo nona Lili,aku Viktor,senang bertemu dengan mu" ucap Viktor dengan senyum andalannya


"Baiklah papa harus pergi dulu,Viktor jaga Lili ya"


"Baik"


Adam langsung saja pergi dan kembali lagi bekerja. Lili menjadi sedih saat ayahnya sudah pergi lagi


"Ayah selalu saja sibuk dan tidak punya waktu untukku"


"Dia kan bekerja untukmu, seharusnya kau memahami hal itu"


"Diam!kau tidak mengerti apapun!"


Setelah membentak Viktor, Lili langsung saja melenggang pergi dan menyuruh pelayan untuk mengantar Viktor kekamarnya. Viktor sama sekali tidak keberatan dibentak,karena itu bukan masalah untuknya


.


.


Keesokan harinya Viktor dan Lili berada dimeja makan untuk sarapan sebelum berangkat sekolah. Mereka hanya berdua karena ayahnya Lili sudah berangkat pagi-pagi sekali


"Maaf ya aku membentakmu kemarin" ucap Lili merasa tidak enak atas perkataan nya kemarin


"Tidak apa-apa,itu juga salahku karena bicara seenaknya"


"Kau akan sekelas dengan ku ya?"


Viktor mengangguk singkat sebagai jawabannya karena mulutnya sedang penuh sekarang ini


"Dikelas banyak yang membenciku,jadi kau bisa mengabaikan ku disekolah nanti"


Lili terlihat sedih saat mengatakan itu dan Viktor memilih untuk diam dan tidak mengatakan apapun sebagai jawaban


Setelah selesai sarapan,mereka berdua langsung berangkat sekolah dengan diantar supir pribadi


Ini pertama kalinya Viktor sekolah dan seragam yang dia kenakan menambah ketampanan dirinya. Meski tidak pernah sekolah,Viktor sudah mengerti tentang semua pelajaran yang ada disekolah


.


.


Sekitar 15 menit perjalanan, akhirnya Lili dan Viktor sampai disekolah. Sekolah itu khusus untuk orang-orang kaya,jadi sekolah itu sangat bagus dan fasilitasnya juga lengkap


Lili dan Viktor berpisah di lorong, Lili duluan menuju kelas sedangkan Viktor pergi keruang guru


Tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi dan semua siswa langsung saja masuk kekelas mereka masing-masing


"Halo Lili,apa kau diabaikan oleh ayahmu lagi?"


"Sepertinya kau bukan anak ayahmu. Hahaha"


Dua orang teman sekelas Lili datang menghampiri dan mengejek Lili,ini sudah biasa,mereka berdua selalu saja mengejek Lili. Lili memilih untuk mengabaikan teman sekelas nya itu,karena dia tidak akan menang melawan mereka. Kedua gadis itu baru berhenti saat guru mereka datang dan masuk kedalam kelas


"Semuanya kita kedatangan teman baru. Ayo masuk"

__ADS_1


Semua mata pun tertuju kepintu masuk,ingin melihat siapa sang murid baru itu


__ADS_2