Who Am I

Who Am I
identitas asli Doni


__ADS_3

Viktor dan Febi sekarang sedang berada di lorong rumah sakit hendak menemui Lili yang katanya sudah sadar. saat sudah sampai di depan pintu,Viktor tiba-tiba saja berhenti dan menyuruh Febi untuk masuk duluan, setelah itu dia pergi ke tempat lain


Febi yang tidak paham langsung saja masuk,dia tidak mau terlalu memikirkan tingkah Viktor barusan


"Ah Febi.. syukurlah kau baik-baik saja" sapa Lili seraya tersenyum dan sedang memakan apel yang sudah Sena kupaskan


"seharusnya aku yang bilang begitu,kah berani sekali Lili, terimakasih. apa kau baik-baik saja?"


"ya aku baik-baik saja,hanya luka ringan saja dan dokter bilang aku sudah bisa pulang 2 hari lagi"


"dimana anak itu?" tanya seorang pria paruh baya yang duduk di samping Lili,Febi belum pernah melihat pria itu sebelumnya


"dia tiba-tiba saja berbalik dan pergi tadi"


"oh begitu ya"


pria itupun berdiri kemudian mengelus kepala Lili sejenak dan setelah itu dia langsung pergi keluar. Febi hanya bisa memperhatikan kemudian menoleh kearah Lili dengan wajah yang bertanya-tanya


"dia papa ku. dia langsung datang dari negara K setelah mendapat telepon dari paman Roy" jelas Lili singkat,Febi yang sudah mendapat penjelasan pun mengangguk lalu duduk di samping Lili


.....


"menghindari ku?"


"em?he bagaimana kau bisa tau aku ada disini paman?"


"hanya menebak"


ayahnya Lili tiba-tiba saja muncul dan bicara dengan Viktor yang sedang bersantai di roof top rumah sakit,Viktor tentu saja langsung merasa canggung dan tidak tau harus mengatakan apa


"aku..pergi dulu.."


"kau bilang kau akan melindunginya kan?"


langkah Viktor terhenti tapi dia tidak membalikkan badannya,dia tidak mau melihat ekspresi pria itu


"kenapa kau membiarkannya terluka seperti itu?"

__ADS_1


"maaf,aku lengah..aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi,maaf..." jawab Viktor dengan penuh rasa penyesalan,dapat dilihat dari nada bicaranya


Plukk!!


"Eh?"


ayahnya Lili yang dikenal sangat membenci Viktor karena sudah menipu dan membuat kekayaan menurun,kini malah menepuk pelan kepala Viktor seraya tersenyum. Viktor tentu saja bingung dan tidak mengerti,padahal dia sudah sangat siap tadi jika saja ayahnya Lili itu ingin memukul dirinya


"paman percaya padamu"


"Eh?"


"kau masih berpikir kalau paman membencimu ya?" tanyanya canggung sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal,Viktor pun langsung mengangguk cepat "Paman dengar dari Hyuga kalau kau langsung pergi ke negara D sesaat setelah mengetahui kalau Lili dan teman-temannya diculik lalu kau membunuh semua preman yang telah berani menyakiti Lili. mendengar itu...paman rasa paman bisa mempercayakan Lili kepadamu"


Viktor menganga tidak percaya,apa ini berarti kalau pria di depannya itu sudah memaafkannya? "apa..apa sekarang paman tidak akan marah lagi kalau Lili dekat denganku?"


"tidak.. lagipula kau sudah menganggapnya seperti adikmu sendiri kan?yah..meski Lili tidak berpikir demikian" ucapnya karena dia tau kalau anaknya itu menyukai Viktor sedari dulu dan dia juga sedikit kasihan karena Viktor hanya menganggapnya sebagai adik


"ah..maaf paman,aku tidak bisa membalas perasaan Lili. dari dulu saat kami pertama kali bertemu,aku hanya menganggapnya sebagai adik yang harus aku lindungi,aku..—"


"ok"


Viktor dan ayahnya Lili pun turun ke bawah dan kembali keruangan Lili. banyak obrolan yang terjadi di antara mereka selama perjalanan. saat sampai ternyata sudah ada Hyuga,Ezil,dan juga Doni


"sepertinya kalian membicarakan sesuatu yang menarik" ucap Lili sesaat setelah melihat ayahnya dan Viktor masuk bersamaan


"bukan apa-apa"


"Viktor bisa kau ikut aku?" tanya Doni sambil berdiri di depan Viktor kemudian langsung berjalan menuju pintu keluar,Viktor pun hanya mengiri dari belakang


.....


"jadi..apa yang mau kau bicarakan?"


Viktor dan Doni sedang berada di taman rumah sakit saat ini,tidak terlalu banyak orang di sana karena hari sudah mulai sore


"apa kau mengingatku?" tanya Doni langsung yang membuat Viktor bingung lalu berusaha mengingat-ingat apakah dia mengenal Doni sebelumnya. tapi percuma,yang dia ingat adalah Doni yang membuatnya kesal saat pulang mengantar Febi beberapa bulan yang lalu

__ADS_1


"aku adalah sepupumu,anak kecil yang selalu kau buat menangis saat di taman kanak-kanak dulu"


"bukan kau.." jawab Viktor langsung


"itu aku,kau dulu selalu memarahiku karena aku terlalu mudah menangis dan setiap kali kau membentak ku maka Febi akan memarahi mu"


"tunggu,apakah kau...Rey..?"


Doni tersenyum, akhirnya Viktor ingat akan dirinya. nama asli Doni adalah Rey,Doni adalah nama samarannya di markas. dia bergabung ke dalam kelompok yang sama dengan Viktor dengan tujuan untuk melindungi Viktor. dia lebih dulu berada di kelompok daripada Viktor dan saat Viktor datang Rey menyembunyikan identitasnya bahkan tidak pernah menemui Viktor karena dia tau kalau Viktor pasti tidak akan peduli waktu itu


dua tahun setelah Viktor keluar dari kelompok,Rey ditugaskan untuk masuk ke dalam kelompok darah naga dan menjadi orang dalam di sana untuk mempermudah misi. dengan bantuan tuan Lin,Rey bisa dengan mudah masuk dan menjadi anggota inti,sejak saat itulah dia mengubah namanya menjadi Doni


selama 3 tahun lebih Rey menjadi anggota kelompok darah naga dan dia juga selalu melapor kepada tuan Roy setiap harinya tentang pergerakan kelompok darah naga. ini semua dia lakukan untuk menyingkirkan kelompok itu supaya Viktor bisa aman dan tidak menderita lagi


"kau bisa bertanya kepada ayahmu tentang identitas ku yang sebenarnya,tapi yang pasti..aku senang kau baik-baik saja. meski kau selalu memarahiku,tapi aku tau kalau kau berniat untuk menjadikanku berani,aku tau itu. jadi untuk membalasnya,aku pun berusaha untuk membantumu dengan caraku sendiri. apa kabar,sepupu..?"


wajah terkejut dan tidak bisa diartikan terlihat dari wajah Viktor jadi dia langsung saja mengeluarkan hp nya "ayah bisa kau jelaskan ini?aku tidak mempercayai ini.." Viktor mengalihkan pandangannya sejenak dan melirik kearah Rey yang kini tersenyum lebar dan tampak bunga-bunga yang bermekaran di sekitarnya "...dia..Doni sepupuku..?!"


"hahaha,dia sudah memberitahu mu ya? ya dia sepupumu Rey. ayah akan menjelaskan semuanya saat ayah sudah sampai di negara D"


"bersahabat baik dengannya ya Viktor" sambung Lin dari seberang telepon


"papa juga tau akan hal ini?!dan tidak memberitahu ku?!papa kau mengajak berkelahi ya..?"


"bukan salahku Viktor, lagipula kau tidak pernah bertanya kan?" jawab Lin yang langsung membuat Viktor terdiam,benar,dia tidak pernah bertanya apapun tentang Doni. merasa sudah selesai,Viktor langsung saja mematikan teleponnya lalu berbalik kearah Rey lagi


"kenapa kau kesal begitu?"


"tentu saja aku kesal, bagaimana kalau aku benar-benar membunuhmu?kau itu keponakan ibuku,dia pasti tidak akan memaafkan ku jika aku membunuh keponakannya" jelas Viktor,sungguh jawaban yang tidak terduga dan membuat Rey terharu,tapi hanya sesaat. dia menyadari makna dari kalimat barusan


"tunggu,apa tadi kau masih berniat membunuhku?" tanya Rey tepat sasaran,Viktor langsung saja menolehkan pandangannya kearah lain "kau benar-benar masih berniat membunuhku ya? setelah aku membantumu di misi yang terakhir?!"


"ya..kau memang membantu,tapi karena kau tau terlalu banyak dan karena aku tidak mempercayaimu,jadi sebaiknya kau ku singkirkan saja. tapi... setelah kau memberitahu identitas mu yang sebenarnya...ku rasa aku tidak akan membunuhmu" ucap viktor sambil tersenyum, sebenarnya dia senang karena dia masih memiliki keluarga lain yang masih hidup selain kakeknya


"hahaha kau sama sekali tidak berubah ya,Viktor...oh ya.." Rey merogoh sesuatu dari kantongnya kemudian melemparkannya kepada Viktor "sebelum aku pindah kota waktu itu,Tante tiba-tiba saja menitipkan itu kepadaku,dia bilang untuk menyerahkannya kepadamu saat kita bertemu lagi. karena berbagai situasi aku baru bisa memberikannya sekarang. itu...buku harian ibumu,aku tidak membukanya sama sekali,kau yang berhak mengetahui apa isinya"


Viktor memperhatikan buku diary berwarna hijau itu,masih tampak bagus, sepertinya Rey merawat buku itu dengan baik. saat dibuka Viktor langsung merasa rindu dengan ibunya,sudah lama Viktor tidak melihat bagaimana tulisan ibunya. Rey yang tidak mau mengganggu langsung saja pergi dan meninggalkan Viktor sendirian di sana sambil membaca diary tersebut

__ADS_1


__ADS_2