
Malam yang di tunggu pun akhirnya tiba, Devan datang ke kediaman Sanjaya berniat untuk menjemput Kinan. Walau di dalam perjanjian tidak ada kata Devan menjemput gadis itu, tapi Devan tidak ingin mengambil resiko jika pujaan hatinya itu pergi sendiri malam-malam begini.
"Malam Bi." sapa Devan saat melihat Anel tengah duduk di ruang tengah.
"Malam Van, tumben kesini? ada apa?" tanya Anel saat melihat anak sahabatnya itu datang malam hari.
"Maaf Bi, tapi Devan kesini mau menjemput Kinan, Devan ada janji dengannya." jawab Devan sambil duduk di depan Anel.
"Wahhh, ada apa ini, sepertinya ada yang Bibi lewatkan dari kalian." ucap Anel antusias
"Apa yang sedang kita lewatkan Ma?" tanya Nathan yang baru saja keluar dari dapur dengan secangkir kopi di tangannya.
"Ini nih Devan, katanya mau jemput Kinan, sepertinya mereka akan berkencan." ucap Anel sedikit menggoda.Sedangkan Devan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali mendengar godaan dari calon mertuanya itu.
"Benarkah, itu bagus. Tapi awas jika kamu sampai menyakiti anak Paman, maka Paman akan memutus kepalamu dari badanmu itu, dan melemparnya ke danau yang penuh dengan buaya." ancam Nathan yang membuat badan Devan bergidik ngeri, badan Devan bahkan sampai meremang membayangkan ancaman dari sahabat papanya itu.
"Papah, jangan keterlaluan gitu, liat tu Devan sampai meremang gitu karna mendengar ucapan kamu." ucap Anel dengan wajah galaknya.
"Iya Ma, maaf. Papa hanya gak mau cecunguk Danu ini menyakiti putri kesayangan kita." ujar Nathan sedikit takut.
Sementara itu Kinan yang baru saja turun sedikit terkejut melihat Devan ada di rumahnya. Ia berjalan perlahan menghampiri tiga orang yang sedang asyik mengobrol yang entah apa. Kinan sama sekali tidak mendengarnya.
"Lo, kakak disini." ucap Kinan saat sudah sampai di ruang tengah.
"Cantik." kata itu lolos dari mulut Devan seketika saat melihat penampilan Kinan malam ini, membuat mata Devan sampai tidak berkedip."Ahhh, iya aku ingin jemput kamu, bukankah kita akan keluar. Kau sudah siap?" tanya Devan cepat
__ADS_1
"Ehhh, iya aku sudah siap." jawab Kinan sedikit gugup, ia tidak mengira jika Devan akan menjemputnya.
"Ma, Pa Kinan pergi sebentar sama kak Devan ya." pamit Kinan pada kedua orang tuanya.
"Iya, kalian hati-hati dan jangan pulang terlalu malam." ucap Anel cepat
"Iya Bi, kami pergi dulu." imbuh Devan.
Mereka berdua langsung meninggalkan kediaman Sanjaya menuju taman yang dulu menjadi saksi penolakan Kinan terhadap Devan. Di dalam perjalanan Kinan hanya diam dan tidak sedikitpun berniat untuk bicara. Hatinya sungguh gelisah, ia takut akan membuat Devan kecewa. Walaupun Kinan sudah memantapkan hati untuk menerima lamaran Devan, tapi entah kenapa dirinya merasa takut .
Mobil yang di kendarai Devan tiba di tempat tujuan.Keduanya turun dari dalam mobil, tapi saat Kinan hendak melangkahkan kakinya, tangan besar Devan malah menghentikan langkahnya.
"Aku punya kejutan untukmu Ki, jadi aku harap kau mau menutup matamu terlebih dulu." ucap Devan sambil mengeluarkan kain hitam dari saku celananya.
"Aku kan sudah bilang, aku punya kejutan untukmu, jadi berhenti bertanya dan tutup matamu dengan ini." Devan memutari badan Kinan lalu menutup mata Kinan dengan kain yang sudah dirinya siapkan. Setelah selesai menutup mata Kinan, Devan segera mengajak Kinan berjalan ke arah tempat yang sudah ia siapkan untuk malam ini.
"Kau siap Sayang." Devan memeluk Kinan dari belakang,melingkarkan tangan besarnya di perut rata Kinan.
Taukah Devan jika saat ini Kinan tengah merona mendapat perlakuan semanis itu dari Devan. Jantung Kinan bahkan sudah siap meledak saat itu juga. Kinan menganggukan kepalanya pelan,pertanda jika dirinya sudah siap. Dengan sianyal yang di berikan oleh Kinan, dengan segera Devan membuka kain penutup mata Kinan.
Perlahan Kinan membuka matanya, samar-samar Kinan melihat lampu hias berbagai warna, dengan tulisan yang cukup besar membuat mata Kinan melebar sempurna, Kinan bahkan sampai menutup mulutnya karna tanpa sadar ternganga melihat apa yang saat ini dirinya saksikan.
Belum habisa keterkejutan Kinan dengan apa yang Devan suguhkan untuknya, Kini Devan tengah berlutut di depannya dengan sebuah kotak merah yang berada di tangannya, memperlihatkan sebuah cincin yang begitu indah.
"Kinan, aku minta maaf atas semua sikapku kepadamu selama ini yang mungkin sudah membuatmu terluka, tapi sungguh aku tidak benar -benar ingin melukaimu. Tapi kali ini aku ingin mengatakan jika aku sangat mencintaimu Kinan." Devan menjeda kalimatnya, menghirup udara dalam-dalam lalau menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Kinan, kamu adalah alasanku tersenyum. Kamu adalah semangatku untuk mencapai segala kesuksesan dalam hidupku. Segala yang aku lakukan hanya tentang kamu.Aku mohon, jangan buat aku hancur untuk yang kedua kalinya dengan menolaku lagi malam ini. Jadilah istriku Kinan, menikahlah denganku. Aku ingin kau menjadi Bulan untuk menerangi setiap jalanku di malam yang sunyi."
"Kinan, plis. Will you marry me."
Kinan begitu terharu mendengar semua kata-kata manis yang di lontarkan oleh Devan. Tanpa terasa hatinya tersentuh, airmata Kinan berkilat di terpa cahaya lampu,mengalir perlahan di pipi mulusnya.
Kinan mengangguk pelan."Iya, aku mau kak, aku mau." ucap Kinan dengan tangis semakin meterdengar.
Devan bangkit dari posisinya, ia mangusap air mata Kinan lalu mengecup mata Kinan sekilas. Setelah itu Devan memasang kan cincin ke jari manis Kinan, setelahnya mereka pun berpelukan. Kinan yang masih menangis terus mengeratkan pelukannya, seolah tidak ingin lagi melepaskan pria yang begitu ia cintai. Kinan tidak akan menyesal dengan penolakannya dulu, karna kini ia tidak setengah hati dalam menerima Devan. Kali ini Kinan benar-benar mencintai pria yang kini dengan mendekapnya.
"Kita pulang yah, aku akan segera memberi tau mama dan papa untuk segera melamarmu ke Paman Nathan dan Bibi Anel." ucap Devan yang hanya mendapat anggukan dari Kinan. Devan tau Kinan masih belum percaya jika saat ini mereka sudah terikat satu sama lain. Dan Devan pun sama,ia tidak menyangka jika kini ia bisa bersama cintanya,bersama dengan wanita yang selalu membuatnya gila ketika memikirkannya.
Mobil Devan melaju ke rumah ediaman Sanjaya, di perjalanan Devan tidak melepas tautan jemari mereka sama sekali, seakan Devan tidak ingin kehilangan gadis itu lagi.Cukup untuk tiga tahun ini saja ia tersiksa dengan hatinya.
Tanpa terasa mobil yang di kendarai Devan sudah masuk ke halaman rumah Sanjaya. Devan membukakan pintu mobilnya untuk Kinan, dan dengan rasa malu Kinan turun dari dalam mobilnya. Jika kalian melihat, kini wajah Kinan sudah seperti kepiting rebus, merah merona.
"Kakak tidak mampir dulu?" tanya Kinan saat Devan hanya mengantarnya sampai di depan pintu.
Devan membelai wajah Kinan dengan tangan besarnya.Begitu terasa hangat, dan Kinan nyaman akan sentuhan itu."Tidak Sayang, ini sudah malam. Aku ingin segera pulang dan memberitau mama dan papa. Kamu masuk, dan tidurlah. Bukahkah besok kamu ada pertemuan, jadi jangan sampai begadang yah. Aku pulang." ucap Devan yang begitu manis terdengar di telinga Kinan.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Jika sudah sampai kirim pesan singkat untukku." balas Kinan yang langsung di angguki Devan.
Devan mencium pucuk kepala Kinan sebelum meninggalkannya dan masuk ke dalam mobilnya. Devan memacu mobilnya dengan hati yang begitu senang. Ia sudah tidak sabar untuk segera menjadikan Kinan istri sahnya.
[Bersambung]
__ADS_1