
Aline sedang duduk dengan santi di depan ruang tv, menggunakan kaus dan juga celana santi. Dia tidak perduli dengan acara makan malam yang di adakan ayah dan ibunya.
"Aline." suara Ani yang selalu terdengar menggema saat ia memanggil putri satu-satunya itu.
Aline menoleh malas, dia tidak ingin mengikuti makan malam hari ini." Kenapa ma?"
"Mama dan papa mau pergi, kamu jaga rumah dan jangan keluyuran." ucapan Ani membuat Aline bangkit dari duduknya.
"Kenapa mama dan papa keluar, bukannya malam ini ada makan malam ya?" tanya Aline dengan raut wajah senang.
"Makan malamnya di batalkan sayang, Dion tidak bisa datang karena dia harus kembali ke Jerman malam ini juga. Ibunya mengalami serangan jantung." jelas Ani.
"Ohhh begitu, ya sudah, mama dan papa hati-hati ya."
Aline melambaikan tangannya dengan riang, sementara Ani dan Fino hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya yang masih seperti anak kecil.
Setelah ayah dan ibunya pergi, Aline langsung berlari ke dapur, mengambil snack dan minuman, dia bersiap untuk menonton acara favoritnya, MASTER CHEF INDONESIA. Sejak menginjak di bangku SMP Aline memang sudah tertarik dengan hal memasak, tapi itu mungkin hanya hobinya saja, buktinya sekarang Aline bekerja di kantor ayah nya, bukan di resto ayahnya.
*****
Malam semakin larut, Aline merasa dirinya sudah mengantuk, dia pun mematikan tv lalu pergi ke kamarnya. Sebelum Aline tidur, ia melihat ponselnya yang ia tinggalkan di atas nakas sebelum dia turun tadi. Aline memeriksa ada hampir 20 panggilan masuk dan 50 chat. Entah siapa yang mengirim begitu banyak chat, Aline bahkan tidak mengenal nomer itu.
Ting
dering ponsel Aline kembali terdengar. Aline membuka pesan dengan nomer tidak di kenal itu.
"Aku tidak tau kenapa kau begitu cuek, tapi itu menarik dan membuat aku tertantang." Aline mengangkat satu alisnya, siapa orang yang begitu iseng mengirim pesan yang tidak penting seperti itu.
Ting
pesan masuk kembali
__ADS_1
"Kau membuat aku tergila-gila akan sikap yang kau tunjukkan kepada ku, tapi semua itu membuat aku semakin tertarik dengan mu."
Aline melempar ponselnya ke atas tempat tidur, gila, orang itu benar-benar gila. Aline mengambil ponselnya lagi lalu dengan cepat mematikan ponselnya, Aline tidak ingin tidurnya terganggu karena orang aneh itu.
****
Pukul 6 pagi, Aline membuka matanya perlahan, dia melihat ke arah jendela, di luar masih terlihat gelap.
"Apa di luar mendung." batin Aline, dia beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke arah jendela untuk membuka tirai jendelanya.
"Hahh." Aline menghela nafasnya saat melihat di luar begitu gelap, awan hitam mendominasi pagi ini. "Kenapa harus mendung sih, padahal aku ada rapat pagi ini." gumamnya.
Dengan malas Aline berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian, setelah itu ia bergegas menuju kamar mandi. Hari ini meski hujan Aline tidak bisa bolos, karena rapat penting telah menanti.
Beberapa menit kemudian Aline sudah rapi dengan setelah seperti biasa ia kenakan. Aline turun ke bawah menuju meja makan untuk mengikuti sarapan pagi.
"Pagi mah, pah." sapa Aline, dia duduk tepat di depan Ani.
"Nyenyak Ma."
"Loh, anak Papa, kenapa lemes gitu? semangat donk sayang."
"Iya pah, Aline hanya kesal aja, pagi-pagi udah mendung, Aline kan ada rapat pagi ini."
"Sayang, kamu gak boleh ngeluh gitu ahh, kan hujan itu berkah, harus selalu di syukuri. Lagipula hujan tidak setiap hari."
"Hmm, iya Ma, sorry."
"Ya udah, habisin sarapan kamu."
Aline mengangguk, dia tidak ingin bicara lagi, moodnya saat ini benar-benar berantakan. Entah kenapa hari ini Aline sangat malas.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan sarapannya, Aline berpamitan pada Ani dan Fino. Dia melajukan mobilnya menuju tempat rapat yang sudah di sepakati olehnya melalui sekertaris pribadi papanya.
Beberapa jam kemudian mobil Aline tiba di sebuah cafe.
"Astaga, jadi rapatnya di tempat terbuka, aku kira akan di hotel bintang 5." Gumam Aline sambil berjalan menuju ke dalam.
"Nona, tuan Mex sudah menunggu."
"Hahhh, kau serius, sepagi ini dia sudah sampai." ucap Aline kaget. Dia kira dia yang akan menunggu lama.
"Iya Nona, tuan Mex sudah tiba sepuluh menit yang lalu." jawab Alexa,
"Baiklah, sekarang kita masuk." Aline bergegas masuk ke dalam di ikuti Alexa di belakangnya.
Di dalam terlihat sangat sepi, bagaimana tidak ini saja batu pukul 8 pagi. Aline melihat dua orang duduk memunggunginya, pasti itu tuan Max dan asistennya. Aline pun bergegas menghampiri dua orang itu.
"Alamat pagi tuan Max, maaf saya sedikit terlambat." ucap Aline tergesa. Dia tidak melihat ke arah sebenarnya.
Sementara orang yang bernama tuan Max itu tersenyum mengejek ke arah Aline.
"Maaf nona, tapi saya bukan tuan Max, beliau ada di belakang anda." ucap pria yang Aline kira tuan Mex.
Aline yang merasa malu perlahan memutar kepalanya, melihat orang yang duduk di belakangnya. Seketika saat mata mereka bertemu, Aline membulatkan matanya karena terkejut.
"Kau."
.
.
.
__ADS_1