
Kinan menatap lurus ke depan, hamparan kota yang begitu luas menjadi pemandangan yang selalu Kinan lihat setiap harinya. Kinan mengangkat kedua tangannya lalu meletakannya di dada, menarik nafas kuat-kuat untuk memasok oksigen yang banyak lalu menghembuskannya perlahan. Kinan memejamkan matanya merasakan degup jantungnya berpacu lebih cepat. Besok adalah hari dimana ia akan menyandang nama keluarga Ghenio di belakang namanya. Kinan begitu gugup, bahkan hari ini ia begitu gelisah.
Sebuah tangan menyentuh bahu Kinan hingga membuat Kinan sedikit terkejut.
"Apa yang kau kamukan Kinan, hingga kau tidak merasakan kehadiranku di kamarmu?" tanya Alin. Ya, gadis yang menyentuh bahu Kinan ialah Alin, gadis periang itu baru saja kembali dari liburannya.
"Kau, kapan kau kembali Al, aku sangat merindukanmu." ucap Kinan dan langsung memeluk Alin erat.
"Ihhh, lepas Ki. Kau ini kenapa, tidak biasanya kau merindukanku seperti ini." ucap Alin dengan wajah penuh selidik.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu, bukankah itu wajar, kau itu saudaraku Kunti." Kilah Kinan cepat.
"Hmmmm, benarkah itu kak?,tapi sepertinya ada yang sedang gelisah menyambut pernikahannya besok. Apa kau berubah fikiran kak, kau ingin mundur dari pernikahanmu." goda Nessa yang sejak tadi duduk di pinggir ranjang Kinan.
"Jangan bicara sembarangan, aku tidak mungkin mundur dan membuat malu kedua keluarga. Aku mencintai kak Devan, jadi mana mungkin aku akan melepaskannya. Lagian aku hanya sedikit gugup saja, aku takut besok tidak akan berjalan lancar." ucap Kinan menceritakan kegelisahannya.
"Kau ini bicara apa Ki, tidak akan terjadi apa-apa besok. Jadi berpikirlah yang positif, jangan berfikir yang tidak -tidak. Jika kau merasa gugup itu wajar saja, semua orng yang akan menikah juga akan merasakan hal yang sama." ucap Alin menenangkan sepupunya itu.
"Entahlah Al, gue takut aja gitu."
"Kakak takut terjadi sesuatu, atau takut akan malam pertama." ledek Nessa yang membuat wajah Kinan merah karna malu.
"Hehehe, mungkin karna itu juga." ucap Kinan pelan, bahkan suaranya terdengar seperti bisikan untuk Alin dan Nessa.
Alin menoyor kepala Kinan pelan." Cihhh, jika kau belum siap dengan malam pertamanmu, lebih baik tidak usah menikah saja. Untuk apa kau menerima lamaran kak Devan, tapi kau malah takut dengan hal itu. Sungguh konyol."
Kinan terlihat berfikir, karna yang di ucapkan Alin ada benarnya. Kenapa dia tidak memikirkan itu dulu sebelum dia menerima lamaran Devan. Tapi sayangnya Kinan tidak memikirkan itu, karna dia mencintai Devan.
"Apa yang kau fikirkan, apa sekarang kau benar-benar akan berubah fikiran? apa kau baru menyeselainya sekarang, atau kau akan kabur dalam acara besok?" Kinan menggeleng kuat, menandakan jika pertanyaan Alin ia tolak dengan gelengan kepalanya.
" Tidak, aku tidak akan pernah melakukan itu. Lagipula kau benar Al, aku harusnya tidak merasa ragu karna aku sudah menerima lamaran kak Devan. Karna saat kita sudah menerima lamaran orang yang kita cintai maka itu berarti kita sudah siap dengan semua resikonya."
Alin tersenyum mendengar ucapan Kinan, ia memeluk saudarinya itu dengan perasaan senang dan haru." Kau sudah sangat dewasa Ki, aku bahkan tidak menyangka kau akan segera menikah. Aku turut bahagia dengan itu Ki, semoga kau selalu bahagia dengan kak Devan."
Kinan melepas pelukan Alin, dia menatap sepupunya itu dengan haru. Mereka berdua bahkan sudah sama-sama meneteskan air matanya.
"Trimakasih Al, aku juga berharap kau akan cepat menyusulku."
Alin mengusap sisa air matanya lalu berjalan ke tempat dimana Nessa duduk. Alin menghempaskan badannya ke ranjang king size milik Kinan. Lalu Alin menghela nafasnya yang terdengar begitu berat.
__ADS_1
" Aku tidak ingin menikah Ki, aku tidak suka terlalu terikat dengan seseorang, apalagi laki-laki."
"Heyy, ada apa denganmu?,Kau tidak sedang gila kan, biasanya kau selalu antusias jika menyangkut pria."
"Benar kak, ada apa denganmu. Kau tidak sedang berpindah haluan kan?" tanya Nessa dengan dahi berkerut.
Plakkk
Alin memukul lengan Nessa pelan, wajahnya bahkan terlihat masam karna ucapan Nessa." Aku tidak mungkin seperti itu Ness, karna papa pasti akan langsung membunuhku jika sampai aku seperti itu."
"Hehehe, maaf kak, aku hanya bercanda." ucap Nessa terkekeh.
"Hmmm, tidak masalah, aku tidak marah padamu. Ahhh ya, bagaimana kondisi matamu Ness, apa belum ada donor yang pas?" tanya Alin
Nessa tertunduk lemah, wajahnya yang semula ceria berubah sendu. Nessa bahkan menghela nafasnya dengan berat.
"Ness, maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Tolong maafkan aku." sesal Alin saat melihat wajah murung Nessa
Nessa mencoba tersenyum, dia tidak ingin membuat Alin merasa bersalah." Tidak kak, aku tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah seperti itu."
"Benar Al, aku yakin Nessa akan menemukan donor mata yang pas." imbuh Kinan.
Kinan terlihat merona mendengar doa Alin, bayangan akan malam pertamanya kembali muncul. Mungkin kali ini Kinan sudah mulai menerima untuk siap akan apa yang terjadi.
****
Pukul 4 sore, Alin berpamitan pada Kinan dan Nessa untuk pulang, karna Alin juga harus bersiap untuk besok. Alin memang belum sempat mempersiapkan apapun untuk acara pernikahan Kinan dan resepsinya nanti, karna dia juga baru kembali kemarin malam. Jadi Alin belum sempat mencari gaun untuknya sendiri.
Kinan melajukan mobilnya keluar dari kediaman Sanjaya. Dia tidak langsung pulang ke rumah karna dia harus mampir ke beberapa tempat untuk mencari keperluannya. Alin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karna dia tidak sedang terburu-buru karna waktunya cukup untuk sekedar mencari barang untuknya.
Mobil Alin tiba di satu tempat tujuannya, saat ia baru saja memarkirkan mobilnya, tiba-tiba ia merasa mobilnya tertabrak dari belakang.
Brakkk....!
"Ahhhh." Alin berteriak saat ia begitu terkejut dengan benturan yang cukup keras dari arah belakang mobilnya.
Alin segera membuka pintu mobilnya dan langsung turun untuk melihat kondisi mobilnya. Mata Kinan membola saat melihat bagian belakan mobilnya dengan kondisi cukup parah. Dengan perasaan dongkol Alin langsung menggedor pintu mobil yang sudah membuat mobilnya bonyok
Dorrr....dorr...door
__ADS_1
"Heyy, keluar kau pengecut. Apa kau sudah mati di dalam sampai kau tidak mau keluar untuk bertanggung jawab hahh." teriak Alin cepat." heyyy, cepat keluar." ucap Alin lagi dengan gedoran semakin keras.
Tak lama pintu mobil terbuka, Alin melihat seorang pria turun dari dalam mobil. Pria itu sangat tampan, tinggi dan juga memiliki rahang sempurna. Tapi di mata Alin, pria itu terlihat biasa saja. Bahkan Alin merasa kesal saat melihat pria itu.
"Kenapa kau menggedor pintu mobilku seperti orang kesetanan hahhhh. Bagaiman jika kaca mobilku pecah, apa kau mau menggantinya. Kau tidak tau ya jika mobilku inu mobil mahal." ucap pria itu dengan tatapan tajam. Tapi bukan Alin namanya jika dia sampai takut dengan tatapan pria itu.
"Jika kaca mobilmu sampai pecah tentu aku akan menggantinya. Tapi apa menurutmu kaca mobil mu yang malah itu akan pecah hanya karnya tangan kecilku ini hahhh. Apa kau tidak bisa membedakan tenaga seorang wanita dan pria. Dasar pria aneh." Alin menatap tatapan pria itu tak kalah tajam, membuat si pria semakin jengah.
"Kau bilang aku aneh, lalu dirimu itu apa. Menggedor pintu seseorang tanpa alasan yang jelas." ucap pria itu dengan senyum mengejek.
"Benarkah tuan aneh, apa kau itu sedang mabuk hingga kau tidak sadar sudah menabrak mobilku hingga bonyok hahh." triak Kinan sambil menunjuk mobil belakangnya yang bonyok karna ulah si pria.
Pria itu mengikuti arah yang Alin tunjuk, matanya ikut membola saat melihat depan mobilnya menempel di bagian belakang mobil Alin.
" Tidak, mobilku. Mobilku penyok." ucap pria itu cepat." Ehhh wanita jadi-jadian, apa yang kau lakukan pada mobilku? kenapa mobilku jadi penyok seperti ini."
Alin yang kesal karna pria itu mengatainya wanita jadi-jadian langsung menendang kaki pria itu hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Kenapa kau malah menedangku hahhhh." kesal si pria
" Kau pria aneh, braninya mengataiku wanita jadi-jadian. Kau sendiri yang sudah menabrak mobilku tapi kau malah menuduhku, sekarang aku minta ganti rugi. Cepat ganti rugi mobilku yang sudah kau tabrak." ucap Alin mengulurkan tangannya, meminta ganti rugi.
"Lalu bagaiman dengan mobilku, kau juga harus ganti rugi." ucap pria itu tak mau kalah.
"Heyyy, kau yang salah kan. Jadi untuk apa kau meminta ganti rugi padaku. Lagipula tadi kau bilang mobilmu itu mahal kan, berarti kau itu orang kaya, masa ganti rugi mobil seorang wanita saja kau tidak mampu. Atau jangan-jangan itu hanya mobil sewaan, dan kau hanya pria yang suka morotin cewek dengan tampang dan mobil pinjaman." Ledek Alin
Pria itu bangkit lalu menatap Alin tak trima." Dengar ya, aku akan mengganti rugi semua kerusakan mobilmu. Karna aku bukan seperti yang kau tuduhkan."
"Kalau begitu mana ganti ruginya, jangan cuma omdo." ucap Alin cepat
"Aku tidak membawa uang cas, tapi ini kartu namaku, kau bisa datang ke kantorku dengan membawa semua tagihan mobilmu. Aku akan membayarnya disana." Pria itu mengeluarkan selembar kartu nama dan memeberikanya pada Alin.
Alin menerima kartu nama itu lalu sekilas membaca nama pria itu." Rendy Maheswara." batin Alin.
Setelah memebaca nama pria itu ia segera memasukannya ke dalam tas." Ck, alsan saja. Awas saja jika kau sampai menipuku, maka aku akan langsung melaporkan mu ke kantor polisi." ancam Alin dan langsung meninggalkan pria itu.
Pria itu hanya menatap kepergian Alin dengan wajah kesal. Karna baru kali ini dia menemui wanita yang sama sekali tidak tertarik dengan ketampanannya.
"Sial, semua ini gara-gara Maya. Dia yang sudah membuat aku berurusan dengan wanita jadi-jadian itu." umpat Randy dengan wajah merah menahan amarah.
__ADS_1
[Bersambung]