Will You Marry Me

Will You Marry Me
Terabaikan


__ADS_3

Sesuai yang di katakan Kinan, dia benar-benar mengabaikan Devan setelah penjelasan yang Lucia berikan padanya. Bukan Kinan belum menerima alasan yang di berikan oleh Lucia, tapi Kinan hanya ingin membuat Devan lebih tegas dalam mengambil sebuah keputusan.


Kinan bukannya wanita egois yang tidak mengerti keadaan Devan saat ini, tapi dia ingin memulai suatu hubungan dengan kejujuran dan saling percaya satu sama lain. Apapun yang terjadi mereka harus saling terbuka dan percaya akan cinta mereka.


Surabaya 01.00


Kinan baru saja selesai menghadiri rapat penting yang membahas proyek pembangunan disana. Kinan yang di temani oleh salah satu staf kantornya langsung menuju restoran terdekat karna perut mereka sudah sangat keroncongan. Waktu makan siang untuk mereka sudah lewat satu jam yang lalu.


"Zeline, kamu mau pesan apa?" tanya Kinan pada Zeline. Ya Zeline yang yang di ajak Kinan untuk menemaninya ke Surabaya, karna bagi Kinan, Zeline adalah wanita yang sangat pintar, bahkan Zeline mengerti tentang pembahasan proyek yang akan berjalan disini.


"Samakan saja denganmu." jawab Zeline cepat.


"Hmmm baiklah, apa ada makanan yang bisa membuatmu alergi, karna disini kan khusus seafood, jadi aku tidak ingin kau kenapa-kenapa karna aku." ucap Kinan lagi


"Tidak, aku menyukai semuanya, dan tidak ada yang membuatku alergi." ucap Zeline meyakinkan Kinan jika dirinya tidak memiliki riwayat penyakit tersebut.


"Baiklah, kalau begitu akan aku pesankan dulu." Kinan beranjak dari tempat duduknya dan memilih menu yang akan mereka santap siang hari ini.


Sesaat Kinan terhanyut oleh makanan yang ada di hadapannya, sampai Kinan tidak menyadari jika di sampingnya sudah berdiri seseorang yang begitu mengenalnya.


"Mbak, saya pesan semua menu ini dan bawa ke meja no 12." ucap Pria yang berada di sebelah Kinan. Kinan yang merasa kenal dengan suara itu langsung mengalihkan pandangan matanya.


"Kak Devan." ucap Kinan dengan wajah terkejut. Sementara Devan hanya tersenyum menatap Kinan yang begitu terkejut saat melihat dirinya.


"Apa yang kakak lakukan disini? dan kenapa kakak memesan makana untuk di antar kemejaku?" tanya Kinan dengan wajah kesalnya.


"Aku disini sedang menyusul calon istriku yang sedang marah dan menghindar dariku, dan saat ini dia sedang ingin memesan makanan dan mejanya ada di meja dua belas." jelas Devan dengan santai.

__ADS_1


Kinan membola mendengar ucapan Devan yang begitu santai, Devan bahkan seperti tidak merasa bersalah sama sekali."Terserah kakak saja, aku malas berdebat denganmu." Kinan berjalan dengan kesal ke arah mejanya, disana Zeline masih menunggu Kinan dengan ponsel di tangannya.


"Cepat sekali Ki? dan kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?" tanya Zeline saat melihat raut wajah Kinan yang berubah sebelum dia memesan makan.


"Tidak, aku hanya kesal karna bertemu dengan pria menyebalkan." jawab Kinan semakin kesal.


"Benarkan,yang mana prianya?" tanya Zelina mengikuti arah pandang Kinan.


Deg...!


Jantung Zeline berdetak cepat saat ia melihat Devan tersenyum ke arahnya. Saat Devan berjalan mendekat ke arahnya, jantung Zeline semakin cepat berdetak.


"Devan." ucap Zeline terlihat senang.


Kinan melihat ke arah tatapan Zeline. "Kau mengenal kak Devan?" tanya Kinan cepat


Zeline melihat ke arah Kinan yang bertanya padanya. "Iya, aku mengenalnya. Dia yang menolongku dan memberikan apartemennya untu aku tinggali sementara sampai aku punya tempat tinggal sendiri." ucap Zeline tanpa keraguan.


"Ehhh, kau kau tadi manggil dia dengan sebutan kakak, apa dia kakakmu?" Belum sempat Kinan menjawab pertanyaan Zeline, Devan sudah mengejutkan mereka dengan suaranya.


"Ehmmm." suara dehaman Devan mengalihkan pandangan kedua gadis itu.


"Hayy Dev, sudah lama aku tidak bertemu denganmu, dan sekarang kau ada disini." ucap Zeline begitu terlihat senang.


"Iya,kau apa kabar?" tanya Devan duduk di kursi yang terletak di tengah-tengah


"Hmmm, aku baik. Ahh ya kenalkan ini Kinan, asisten bosku di kantor." ucap Zeline memperkenalkan Kinan pada Devan.

__ADS_1


Devan tersenyum sambil menatap ke arah Kinan yang masih kesal dengannya. "Halo nona Kinan, saya Devan. Senang berkenalan dengan anda nona." suara Devan terdengar meledek Kinan.


"Heyyy, kenapa wajah anda begitu terlihat masam,apa anda sedang marah dengan seseorang?" Devan kembali meledek Kinan.


"Maaf ya Van, Kinan mungkin sedang kesal dengan seorang pria. Tadi dia bilang, dia sedang kesal dengan seorang pria yang menyebalkan, tapi aku tidak tau siapa pria itu." jelas Zeline yang tidak tau hubungan Kinan dan Devan.


"Hahaha,benarkah itu." ucap Devan dengan tawa nyaring. Tapi sepersekian detik tawa Devan terhenti dan wajahnya menjadi serius. Zeline sampai bingung akan sikap Devan.


Devan menggenggam jemari tangan Kinan dengan erat, ia menatap wanita yang saat ini sedang kesal dengannya dengan wajah serius. Kinan pun membalas tatapan Devan tak kalah serius.


"Maaf." ucap Devan lembut.


"Aku tau aku salah, aku tau seharusnya aku memberitaumu sejak awal. Tapi aku terlalu takut kau tidak akan menerima penjelasan dariku, sampai kau harus tau dengan cara yang salah dan menjadi lebih salah faham." Devan menarik nafasnya dalam sebelum menghembuskannya pelan.


"Lucia benar, aku seharusnya bisa bersikap tegas dalam urusan hati. Harusnya aku tidak menyakitimu lagi dan lagi, tapi kali ini percayalah, aku tidak akan menyerah untuk memperjuangkanmu pada kakek. Dan mama sudah menyiapkan pesta pernikahan kita, mama juga sudah menjelaskan semuanya pada Bibi Anel dan paman Nathan.Jadi, plis, jangan mengabaikanku lagi." ucap Devan cepat.


Devan dan Kinan tidak menyadari jika sejak tadi Zeline tengah memperhatikan mereka dengan wajah merah menahan malu.


"Jadi Kinan adalah calon istri Devan, kenapa aku tidak menyadari itu. Ahhhh malunya aku. Tapi tadi Devan menyebut nama Lucia, siapa lagi dia." batin Zeline.


"Jadi Kinan adalah calon istri yang kau ceritakan itu. Wah selamat ya Ki, aku ikut bahagia, semoga pernikahan kalian lancar ya." ucap Zeline yang membuat Kinan dan Devan tersadar jika masih ad Zeline di antara mereka.


"Ah_eh, itu,aku." ucap Kinan terbata, dia sangat malu karna Zeline masih disana saat Devan mengatakan masalah mereka.


"Iya, dia calon istriku." jawab Devan dengan lugas. Sementara Kinan hanya menunduk karna malu.


Zeline tersenyum tulus. "Aku mau ke toilet sebentar. Sepertinya Kinan merasa sangat malu saat ada aku disini." goda Zeline yang membuat Kinan semakin meron.

__ADS_1


Sementara menunggu Zeline kembali Kinan dan Devan menyantap makanan yang baru saja datang. Kinan masih belum membalas ucapan Devan tadi, ia masih ingin mengabaikan Devan sebagai hukuman karna sudah tidak terbuka dengannya. Dan ada satu hal lagi yang masih mengganjal di hati Kinan, soal Zeline yang di tolong oleh Devan dan sampai memberinya apartemen. Dan Kinan akan bertanya nanti, setelah mereka kembali ke Jakarta.


[Bersambung]


__ADS_2