
Hari ini pernikahan Kinan dan Devan di langsungkan secara meriah, karna kakek Adam sudah menyetujui pernikahan mereka, jadi tidak ada lagi yang perlu di tutup-tutupi. Pernihakan keduanya di lakukan di sebuah gereja yang dulu menjadi saksi bisu perjalanan cinta Anel dan Nathan.
Setelah pernikahan mereka di nyatakan sah, tibalah waktunya untuk resepsi pernikahan. Kinan dan Devan masih berada di ruang ganti, karna memang pakaian yang akan mereka kenakan berbeda dengan saat pernikahan.
"Ehmmm, kau cantik sekali Ki." ucap Alin saat melihat Kinan sudah memakai gaun keduanya.
"Memangnya tadi aku tidak cantik, kenapa baru sekarang kau memujiku." cetus Kinan.
"Tadi kan kita buru-buru, jadi aku tidak sempat memujimu. Kau ini sungguh gila pujian." ejek Alin.
Kinan terkekeh mendengar ucapan Alin, tapi dia tau jika sepupunya itu hanya bercanda saja." Kau, kenapa kau belum berganti baju?" tanya Kinan saat melihat penampilan Alin yang masih sama.
"Aku nanti saja, lagipula acaranya masih satu jam lagi kan." Alin duduk di sofa yang ada di belakang Kinan." Bagaimana rasanya menikah, apa ada yang berbeda?" tanya Alin lagi.
Kinan menatap Alin dari pantulan kaca besar yang ada di depannya." Kenapa kau bertanya begitu, jika kau ingin tau ya menikah dong."
"Cihhhh, itu lagi. Aku kan sudah bilang jika aku belum ingin. Maksa banget sih." kesal Alin
"Yeee, siapa juga yang maksa. Lagian lo juga yang aneh, gue itu belum genap sehari jadi istri, baru juga sah sejam yang lalu, lo udah nanya gimana rasanya nikah. Ya belom tau lah gue." balas Kinan.
"Hehhhh, iya-iya maaf. Gue tinggal cari Nessa dulu ya, dari setelah pernikahan dia udah gak ada, tuch anak hobi banget ngilang, gue takut dia kesasar." ucap Alin yang langsung di angguki Kinan.
****
Alin berjalan menyusuri lorong tempat diadakannya pesta resepsi yang diadakan tidak jau dari tempat pernikahan. Tema yang di ambil kali ini adalah suasana alam, jadi resepsinya bertema Indor dan autdor. Jadi kedua tema itu di gabung, agar tamu undangan lebih nyaman saat berada di acara itu.
Alin berusaha mencari Nessa, karna Nessa bilang dia ingin menghirup udara segar di sekitar tempat acara. Tapi saat Alin berbelok di ujung lorong dia tidak sengaja bertabarakan dengan seorang pria. Alin terpental ke tanah hingga membuat gaunnya kotor, untung saja Alin belum mengganti gaunnya tadi.
"Maaf dek, saya tidak sengaja." ucap si pria dan segera membantu Alin berdiri.
"Ehhh mas, kalau jalan itu liat- liat dong." ucap Alin dengan nada kesal. Alin membersihkan gaunnya yang kotor tanpa memperhatikan si pria.
" Saya benar-benar tidak sengaja dek, maaf yah. Gimana kalau gaunnya saya ganti." tawar si pria
"Tidak usah. Dan jangan panggil saya adik, karna saya bukan adik an_" ucapan Alin tersendat saat matanya menangkap sosok yang baru-baru ini dia kenal." Kau, kau kan pria yang menabrak mobilku hingga penyok kemarin. Mau apa kamu kesini hahhh."
Mata Rendy membola saat menyadari jika wanita di depannya ini adalah wanita yang semalam." Cihhhh, nyesel gue minta maaf sama lo, dasar cewek jadi-jadian." ucap Randy yang membuat Alin semakin marah.
Bug...!
Alin menendang kaki Randy dengan keras hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Heyyy, apa masalah mu, kenapa kau selalu menendang kakiku hahhh, kau fikir ini tidak sakit." ucap Randy dengan wajah kesal dan juga menahan sakit di kakinya.
"Masalah ku adalah, kenapa kau bisa ada disini, dan kau juga mengataiku wanita jadi-jadian. Apa matamu buta hahh, kau tidak bisa melihat mana yang original dan mana yang mentah. Dasar pria aneh." ucap Alin galak.
__ADS_1
"Kau ini, aku ini tamu disini. Dan ya, kau ini memang wanita jadi-jadian. Kemarin berpakaian seperti pria, sekarang memakai gaun. Lalu apa sebutannya kalau bukan wanita jadi-jadian."ucap Randy cepat."Yah, walau memang kau sangat cantik." batin Randy
Buk....!
Alin menendang kaki Randy lagi hingga pria itu menjadi berjongkok, belum hilang rasa sakit di kaki kanannya sekarang Alin menambah rasa sakit di kaki kirinya.
"Dengar ya, kau itu tidak berhak menilai penampilanku. Mau aku memakai apa itu bukan urusanmu, dan satu hal lagi, jika kau itu tamu, bersikaplah layaknya seorang tamu. Bukan malah menghina tuan rumah disini." ucap Alin lalu meninggalkan Randy yang masih mengusap kakinya yang sakit akibat tendangan telak Alin.
Setelah Alin pergi
"Tuan rumah, apa dia istri Devan, tapi mana mungkin Devan menikahi wanita serigala itu. Cantik iya sih, tapi galaknya itu yang gak ketulungan , ihhhh kalau gue sih ogah." ucap Randy sambil berlalu meninggalkan tempat kejadian.
Pukul 05.00
Para tamu undangan sudah banyak yang berdatangan, kebanyakan tamu undangan dari rekan bisnis, karyawan dan juga teman-teman dekat keluarga dan kedua mempelai tentunya.
Kinan yang sudah berdiri hampir 3 jam lamanya merasa sangat lelah, tamu undangan yang datang tidak ada putusnya. Dan ini baru pukul 5, masih ada waktu beberapa jam kedepan dan itu sangat lama. Kinan pasti akan pingsan jika tamu yang datang seperti ini terus.
"Sayang, kau lelah ya?" tanya Devan saat melihat wajah istrinya yang terlihat lemas.
"Hmmmm, apa tamunya belum habis kak? aku sudah tidak kuat berdiri." bisik Kinan .
"Ini seperempat aja belum sayang." Mata Kinan membola mendengar jawaban Devan, dia sungguh menyesal karna sudah mengundang begitu banyak orang. Tau bigini mungkin kinan hanya akan mengundang seratus orang saja.
"Kamu duduk aja, biar aku yang menyalami tamunya." ucap Devan menuntun Kinan duduk. Devan sungguh tidak tega melihat wajah istrinya, karna pasti Kinan sangat lelah berdandan sejak pagi sampai acara pernikahan, lalu istirahat hanya waktu mengganti gaunnya saja.
"Emang boleh ma?, emang gak apa-apa kalau kinan minum? kalau makan boleh gak ma? Kinan laper ma." ucap Kinan sedikit berbisik.
Anel terkekeh mendengar pertanyaan putrinya yang begitu banyak ."Kamu kayak orang gak makan sebulan aja sayang, pertanyaan kamu banyak banget. Semuanya boleh kok sayang, biar mama yang ngomong saja Devan." balas Anel.
"Devan, mama pinjem Kinan bentar ya, mama mau bawa Kinan isi bensin dulu, takutnya di tengah perjalanan dia macet." ucap Anel yang membuat Devan sedikit bingung.Tapi Devan tidak bertanya maksud mertuanya itu, dia hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
Setelah mendapat persetujuan Devan, Anel langsung membawa Kinan menuju kamar ganti. Disana Amel sudah menunggu dengan makanan yang cukup banyak. Tadi Anel sempat memberi tau jika Kinan lelah dan ingin makan. Jadilah Amel lebih dulu mengambilkan menantunya itu makanan.
"Sayang, kamu lapar ya? tadi kamu gak makan dulu sebelum ke depan?" tanya Amel saat melihat menantunya makan dengan lahap.
"Tadi Kinan makan sedikit mah, soalnya kan Kinan harus di makeup, nah habis makeup Kinan gak sempet makan lagi, takutnya makeup nya rusak." jawab Kinan cepat
"Yaudah, sekarang kamu makan yang banyak, soalnya acaranya masih lama. Tamu yang datang juga belum ada separuhnya, jadi kamu gunain waktu sebaik mungkin. Mama tinggal ke depan dulu, kamu disini sama mama kamu yah." ucap Amel
"Nel, aku tinggal dulu yah." pamit Amel lalu keluar meninggalkan Kinan dan Anel.
****
Meninggalkan pasangan pengantin baru. Nessa yang sejak tadi tengah duduk menikmati udara sore hari seperti tidak ingin beranjak dari tempat itu, dia lebih betah duduk di taman yang ada di belakang tempat acara daripada berada di dalam ruangan yang sesak dengan orang yang sama sekali tidak bisa dia lihat.
__ADS_1
Bukan Nessa tidak bahagia dengan pernikahan Kinan, dia sangat bahagia, bahkan dia sangat bersyukur berada di tengah- tengah keluarga yang begitu menyayanginya. Tapi Nessa dengan keadaannya saat ini, Nessa masih belum bisa menerima keramaian.
"Boleh aku ikut duduk disini?" tanya seorang pria yang suaranya seperti Nessa kenal.
"Maaf tuan, saya tidak mengenal anda. Lebih baik anda cari tempat duduk yang lain." jawab Nessa cepat.
Pria itu terkekeh mendengar jawaban Nessa." Apa kau masih belum terbiasa mengenali suaraku, apa karna kita hanya sesekali bertemu saja. Kalau begitu akan aku perkenalkan lagi namaku." pria itu mengambil tangan Nessa dan menjabatnya.
" Namaku Kenzo wisma Adiputra, aku seorang dokter bedah syarap di rumah sakit tempat kau melakukan pemeriksaan setiap dua minggu sekali." ucap Kenzo cepat
Nessa melepas jabatan tangan Kenzo, pria yang di kenalkan Kinan padanya waktu mereka berkunjung kw rumah sakit untik pemeriksaannya waktu itu." Ahhh, jadi itu anda dokter Kenzo, maaf jika saya tidak mengenali suara anda."
"Tidak masalah, mungkin karna kita jarang bertemu." ucap Kenzo sambil duduk di sebelah Nessa." Mungkin setelah ini kita bisa sering bertemu, agar kita lebih bisa saling mengenal. Dan kau bisa terbiasa dengan suaraku."
"Maksud anda dok?"
"Bisakah kamu tidak memanggil nama saya dengan embel- embel dokter saat di luar rumah sakit seperti ini, kau bisa memanggilku Ken saja."
" Baiklah Ken. Jadi kau juga di undang Kinan?" tanya Nessa yang tidak mah memperpanjang ucapan Ken tadi
"Hmmm, tepatnya Devan. Dia sudah mulai bisa menerima ku sebagai teman Kinan, jadi dia mengundangku. Aku cukup senang melihat Kinan bahagia, bersanding dengan orang yang dia cintai."
"Kau pernah menyukai Kinan?" tanya Nessa saat mendengar nada suara Kenzo yang terdengar begitu berat.
"Hmmm, aku menyukai Kinan saat pertama kali melihatnya. Tapi aku bukan pria yang terlalu memaksakan kehendak jika wanita yang aku sukai sudah milih pria lain. Aku lebih suka melihat dia bahagia meski bukan denganku." jawab Kenzo
Nessa terdiam, tidak ada lagi yang ingin dia tanyakan. Ucapan Kinan yang pernah Kinan ucapkan jika mungkin Kenzo menyukainya bahkan sudah di jawab langsung oleh Kenzo. Tapi entah kenap Nessa merasa ada yang aneh pada dirinya saat mendengar jawaban Kenzo. Entahlah, mungkin itu hanya karna suasana yang sudah semakin dingin.
"Maaf Ken, aku mau masuk ke dalam dulu. Sepertinya aku sudah terlalu lama berdiam disini." ucap Nessa. Tapi saat Nessa ingin beranjak dari tempat duduknya, tangan besar Kenzo menghentikan pergerakan Nessa.
"Bisakah kita lebih lama disini Ness, aku bosan berada di dalam." ucap Kenzo.
"Kau bosan, atau kau sakit hati melihat Kinan dan Devan bersanding di pelaminan." tebak Nessa.
Kenzo diam, dia menatap wanita yang sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan lurus ke depan." Tidak, sama sekali bukan begitu. Aku hanya bosan dengan keramaian, lagipula aku kan sudah bilang, jika aku sudah tidak memiliki rasa pada Kinan. Saat ini aku menyukai wanita lain, tapi entah wanita itu suka atau tidak denganku."
Ucapan Kenzo membuat Nessa membeku, entah kenapa hatinya merasa tidak nyaman." Ken, lepaskan tanganku." ucap Nessa cepat.
"Ahhh, maaf. Aku lupa." ucap Kenzo segera melepas tangan Nessa.
"Maaf, tapi aku harus segera masuk." ucap Nessa lagi.
"Baiklah, biar aku antar."
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Nessa mengeluarkan tongkatnya lalu berjalan perlahan. Dia memang belum terbiasa dengan tempat itu. Tapi Nessa berusaha untuk tidak merepotkan orang lain.
__ADS_1
Sementara Kenzo masih terus memperhatikan gerak-gerik Nessa. Dia takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Dan karna itu Kenzo memutuskan untuk mengikuti Nessa dari belakang.
[Bersambung]