
Deg....!
Jantung Kinan berdetak sangat kencang saat tatatpan mata Devan menusuk hingga ke lerung hatinya. Kinan bahkan dengan susah payah menelan salivanya, karna tenggorokannya serasan mengering. Kinan butuh oksigen lebih banyak sepertinya.
Sesaat pandangan mata mereka bertemu, Kinan merasa sangat gugup,ia tidak tau harus menjawab apa. Bahkan Kinan tidak tau harus senang atau sedih akan ungkapan Devan saat ini.
"Kak, aku......aku ingin pulang." ucap Kinan akhirnya
Devan menghela nafasnya dengan berat, ia yakin jika Kinan masih belum percaya jika dirinya dan Fani hanya bersandiwara.
"Ki, aku mohon."
"Aku ingin kita pulang kak. Jangan memaksaku, semua sudah tidak sama lagi." ucap Kinan
"Baiklah, ayo." Devan pasrah, mungkin dia harus memberi waktu pada Kinan.
Devan pun beranjak dari duduknya lalu membantu Kinan berdiri.
Di dalam perjalanan kembali ke hotel Kinan dan Devan hanya saling diam. Mereka masih canggung setelah lamaran yang di layangkan Devan secara mendadak membuat Kinan semakin tidak mengerti. Kinan masih bingung dengan perasaan laki-laki yang kini sedang duduk di sampingnya dengan pandangan lurus ke depan. Apakah Devan sedang mempermainkan dirinya, atau ini memang sungguhan. Karna Kinan sering sekali membaca novel tentang pria yang di tolak cintanya lalu membalas dendam dengan berpura-pura mencintai wanita itu, lalu setelah itu si pria akan menyiksa si wanita setelah mereka menikah.
Kinan bergidik ngeri saat membayangkan hal itu terjadi padanya. Kinan menggelengkan kepalanya dengan cepat hingga membuat Devan yang berada di sampingnya sampai bingung dengan tingkah laku Kinan.
"Kau sakit Ki?" tanya Devan cepat, ia takut Kinan kemasukan salah satu roh para PANDAWA yang ada di pantai tadi.
"Tidak, memang aku terlihat sakit?" Kinan membalas pertanyaan Devan dengan pertanyaan.
"Sepertinya begitu, sangat terlihat wajahmu seperti orang bingung." ucap Devan cepat
Kinan berdecak kesal saat Devan secara tidak langsung mengatainya gila. "Aku tidak apa-apa dan aku tidak bingung."
"Lalu kenapa kau menggelengkan kepalamu tadi jika tidak sedang sakit. Atau kau kemasukan jin yang ada di salah satu patung itu ya." ucap Devan semakin takut. Ekspresi wajah Devan malah semakin membuat Kinan kesal.
"Kalau iya memang kenapa, aku akan memakanmu nanti saat kau tidur." pandangan mata Kinan berubah tajam, kinan bahkan menggerakkan lidahnya seperti vampir yang sedang melihat mangsanya
__ADS_1
"Jangan bercanda Ki, jika kau masuk ke kamarku maka bukan kau yang akan memakanku, tapi aku yang akan memakanmu. " Devan tersenyum puas melihat wajah Kinan yang seketika memerah menahan kesal. Sepertinya Kinan menyesal karna sudah mengancam Devan yang malah berbalik ke dirinya sendiri.
Mobil Devan sampai di tempat parkir hotel. Tanpa menunggu Devan. Kinan sudah terlebih dulu masuk ke dalam. Sedangkan Devan sampai harus berlari agar bisa menyusul gadis itu ke dalam.
"Ki tunggu." ucap Devan menahan tangan Kinan.
"Ada apa lagi kak ! Aku lelah kak, aku ingin istirhat." ucap Kinan cepat
"Tidak, aku hanya ingin mengatakan, kemasi barangmu, sore nanti kita kembali ke Jakarta." ucap Devan yang seketika membuat Kinan melongo seperti orang bodoh.
"Kau tidak bisa se'enaknya kak, besok aku masih ada pekerjaan disini, mana mungkin aku bisa pulang sebelum pekerjaanku selesai." ucap Kinan cepat
"Kau tidak usah mengkhawatirkan itu, aku sudah menghubungi Kak Fandra untuk mengirim orang yang akan menggantikan mu besok." jelas Devan yang membuat Kinan semakin geram.
Kinan menghentakan kakinya dengan keras karna kesal pada Devan yang se'enak jidatnya mengatur semua pekerjaannya. Kinan masuk ke dalam kamar hotel dengan mod yang berantakan. Devan memang benar- benar sudah mempermainkannya, dan bagaimana bisa kakaknya juga ikut terlibat .
••••••
Pukul 3 sore
Drettt drettt
Dering ponsel Kinan membuat aktifitas Kinan terhenti, ia melihat ke layar ponselnya yang tergeletak di lantai sebelah kopernya. Kinan melihat nomer yang tidak di kenal tertera di layar ponselnya
"Halo." sapa Kinan saat panggilan telponnya sudah terhubung.
"Syukurlah kau mau mengangkat panggilan telponku Kinan, aku kira kau tidak akan mau mengangkatnya karna ini nomer baru." helaan nafas dari sebrang sana sangat terdengar jelas di telinga Kinan, tapi Kinan masih belum mengenali suara yang baru saja mengucapkan syukur.
"Ini siapa ya?" pertanyaan konyol Kinan membuat orang yang ada di sebrang telpon terkekeh mendengar pertanyaan Kinan.
"Kau tidak mengenali suaraku Kinan? ck, kau sungguh keterlaluan. Aku Kenzo Kinan, Kenzo." ucap Kenzo memperjelas suaranya dengan menekankan namanya.
"Ohhh, Kenzo." Kinan terkekeh karna tidak mengenali suara Ken. "Maaf, suaramu benar-benar berbeda Ken." lanjutnya
__ADS_1
"Hmmm, baiklah, tidak masalah." ucap Kenzo cepat. "Kau punya waktu saat ini Kinan, aku ingin mengajakmu jalan-jalan." ucapnya lagi
Kinan mengenal nafasnya pelan, ia kembali mengingat betapa kesalnya ia karna tidak bisa menikmati wisata Bali lainnya karna ulah Devan. "Maaf Ken, hari ini aku kembali ke Jakarta."
"Kenapa? apa pria itu memaksamu ikut denganmu Kinan?" tanya Ken
"Tidak, bukan begitu. Aku harus kembali karna ayah dan ibuku ada perjalanan ke luar negri, dan aku harus menjaga saudaraku yang tengah sakit." ucap Kinan berbohong. Jelas saja Kinan berbohong, karna ia tidak ingin terjadi baku hantam lagi karna dirinya.
"Baiklah, kau simpan nomerku yah. Minggu depan aku juga akan kembali ke Jakarta, sampai jumpa lagi Kinan." ucap Kenzo cepat
"Baiklah, sampai jumpa lagi." balas Kinan lalu menutup panggilan telponnya.
Setelah selesai bersiap Kinan mendengar suara pintu di ketuk, Kinan membuka pintu kamarnya dan terlihat Devan sudah berdiri disana dengan koper kecil di tangannya.
"Kau sudah siap?" tanya Devan melihat penampilan Kinan dengan tersenyum
"Seperti yang kau lihat kak." ucap Kinan lalu keluar dari kamarnya.
Mereka berdua berjalan ke arah lobya hotel. Setelah Cek out mereka segera masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke bandara. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di bandara, karna letak bandara dan hotel tempat mereka menginap tidak cukup jauh.
Merkea berdua masuk ke dalam pesawat saat 10 menit menunggu. Seperti biasa, Kinan akan memilih tempat duduk yang berada di dekat jendela. Sedangkan Devan di sebelahnya. Kinan menyandarkan punggungnya lalu memejamkan matanya dengan telinga di sumpal hadset.Kinan saat ini sungguh sedang tidak ingin bicara dengan Devan. Ia ingin menenangkan hatinya sejenak, memikirkan ucapan Devan yang seandainya saja benar jika Devan dan Fani hanya berpura-pura pacaran, apakah dirinya akan menerima Devan atau tidak.
Di dalam perjalanan Kinan benar-benar mendiami Devan sampai pesawat yang mereka tumpangi mendarat di tujuan.Mereka di jemput oleh supir pribadi keluarga Devan. Karna Devan akan mengantar Kinan terlebih dulu sebelum pulang ke rumahnya.
Dari bandara menuju ke rumah kediaman Sanjaya membutuhkan waktu 2 jam. Kinan yang meresa lelah sampai tertidur di dalam mobil. Tanpa terasa mobil Devan sampai di kediaman Sanjaya. Devan menggedong Kinan yang tertidur pulas masuk ke dalam kamarnya.
"Dev, kamu makan malam disini saja ya, ini sudah waktunya makan malam." tawar Anel saat Devan turun dari kamar Kinan. Anel tidak keberatan melihat putrinya berada di gendongan Devan, karna sejujurnya ia sangat suka dengan Devan. Malah Anel berharap Devanlah yang akan menjadi menantunya.
"Tidak usah Bi, Devan harus segera pulang karna ada pekerjaan yang harus Devan selesaikan. Lain kali aja ya Bi, Devan ikut makan malamnya." ucap Devan menolak.
"Yaudah, kalau gitu kamu hati-hati ya, salam buat mama sama papa kamu." ucap Anel yang langsung di angguki Devan
Devan meninggalkan kediaman Sanjaya menuju kekediaman orang tuanya. Devan sedikit memikirkan Kinan karna lamarannya belum di jawab oleh gadis itu, Devab berfikir apakah dirinya akan kembali kecewa. Tapi Kinan juga mencintainya, walaupun Devan salah karna sudah bersikap tidak baik dan mencoba membalas sakit hatinya.
__ADS_1
[Bersambung]
🍃Happyy wekend semua, selamat berkumpul dengan keluarga tercinta. Dan semoga selalu di beri kesehatan dan di jauhkan dari segala macam penyakit🙏