Will You Marry Me

Will You Marry Me
Tidak masuk akal


__ADS_3

Mentari pagi tertutup oleh kepulan awan hitam yang menandakan jika akan turun hujan pagi ini. Angin mulai mendominasi pagi hari ini, cuaca buruk sudah mulai terlihat. Dan benar saja, baru beberapa menit angin kencang datang menyapu apapun yang ada di bumi, kini hujan mulai turun dengan lebat.


Nessa berdiri di depan kaca kamarnya, menikmati suara derasnya hujan menyapu indra pendengaran. Hawa sejuk semakin menyeruak masuk ke dalam, membuat gadis yang tidak memiliki kesempurnaan itu terpaksa mematikan AC kamarnya.


"Hahhhh." Hanya helaan nafas itu yang terdengar dari mulut gadis berusia 21 tahun itu. Entah apa yang ada di fikiran nya, tapi pastilah itu sangat berat untuknya.


"Tokkk, tokk." terdengar suara pintu di ketuk, dan sesaat kemudian terdengar suara pintu terbuka.


Nessa membalik tubuhnya, mencoba menebak siapa yang sedang berjalan ke arahnya. Senyum di wajah cantik Nessa terukir saat ia tau siapa yang datang.


"Kinan, kau disini? , sepagi ini?" pertanyaan itu sontak keluar dari mulut Nessa. Membuat Kinan tersenyum kagum karna Nessa bisa tau jika itu dirinya.


"Sepertinya kau sangat bekerja keras untuk bisa tau siapa yang mendekat ke arahmu." ucap Kinan yang sudah berdiri di depan Nessa.


"Tentu saja, aku harus bisa mandiri. Karna tidak mungkin aku terus-terusan bergantung pada kalian."


"Hmmm baiklah, kami tidak akan memganggapmu seperti bayi lagi. Kau gadis yang hebat, aku percaya kau bisa menjaga dirimu."


"Pasti. Dan ada apa kau datang sepagi ini?" berjalan ke arah tempat tidur lalu menghempas badannya ke atasnya.


Kinan mengikuti langkah Nessa, ia juga ikut duduk di tepi ranjang milik saudaranya itu." Aku hanya merindukan kalian, entah kenapa belakangan ini aku sering gelisah."


"Kenapa?, apa ada masalah?. Atau kau sedang bertengkar dengan Devan?"


Kinan menggeleng, walaupun tidak bisa di lihat oleh Nessa, dia tetap melakukannya." Tidak, tapi belakangan ini aku sering merasa kesal padanya. Dan anehnya aku tidak ingin dekat-dekat dengannya."


Nessa tidak membalas ucapan Kinan, dia masih mencerna ucapan saudarinya itu." Atau jangan-jangan." Nessa menjeda ucapannya, membuat Kinan semakin di buat penasaran.


"Jangan-jangan apa Sya. Kau jangan membuatku takut." ucap Kinan cepat


"Apa kau kesini bersama Devan?"


"Hmmm, dia memaksa."


"Buahahahha." Nessa tertawa dengan jawaban Kinan. Menurut Nessa itu sangat konyol. Memang siapa itu Devan, supirnya.


"Kenapa kau tertawa?, apa yang salah dari ucapanku."


"Tentu saja aku tertawa. Apa kau fikir kalian itu masih tahap berpacaran. Helllooooooo, kau itu istrinya, tentu saja dia akan memaksa. Memang ada suami yang tega membiarkan istrinya pulang ke rumah orang tuanya sendiri, bahkan di jam yang cukup pagi." jelas Nessa.


"Iya sih, tapi aku kan sedang marah padanya."


"Kalian bertengkar?"


"Tidak."

__ADS_1


"Lalu?"


"Lalu apa?"


"Lalu, kenapa kau marah kepada suamimu?"


"Entahlah."


Nessa mendesah kasar mendengar jawaban dari mulut Kinan. " Kalau kalian tidak bertengkar dan tidak ada masalah, kenapa kau marah pada suamimu. Kau ini aneh."


"Kan aku sudah bilang, aku kesal saja. Tidak tau karna apa."


"Baiklah, kalau begitu lebih baik kau memanggil psikolog saja, siapa tau ada masalah dengan otakmu itu. Atau itu gejala kegilaan."


"Jangan menakutiku, tidak mungkin wanita secantik aku akan gila. Memang apa kurangku sampai aku akan gila. Aku cantik + kaya, punya suami tampan+ kaya juga."


"Ya, kau punya suami tampan+kaya, lalu kenapa kau marah tanpa alasan padanya."bangkit lalu duduk bersandar di tepi ranjang. Mengambil bantal guling dan meletakkan di pangkuannya." Kau harus berhati-hati Ki, bisa saja Devan marah dan mencari wanita lain, karna tidak tahan dengan sikapmu yang aneh."


Kinan terdiam, yang di katakan Nessa tidak salah. Tapi tidak mungkin jika Devan berani melakukan itu, dia kan cinta mati pada Kinan." Tidak." menggeleng dengan kuat."Tidak mungkin Kak Devan berani melakukan itu." optimis, itulah yang ada di fikiran Kinan.


"Ya, bahkan kau masih memanggilnya kakak. Memang dia itu kakakmu."


"Lalu aku harus memanggilnya apa?"


" Kau bisa memanggilnya Sayang, atau Mas juga bisa. Seperti Mama dan papa." usul Nessa.


"Mual."


Kinan membekap mulutnya lalu." Hmmm." berlari ke kamar mandi milik Nessa dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Ki, are you ok." beranjak, lalu mengambil tongkatnya dan menyusul Kinan." Ki, lo gak apa-apa kan?"


"Ya, gue gak apa-apa." jawab Kinan lalu pintu kamar mandi mulai terbuka.


"Lo itu aneh, cuma karna membayangkan itu lo mual." menggelengkan kepala tak habis fikir." Mending lo cek ke dokter, siapa tahu lo kena penyakit serius."


"Lo gak usah makin nakutin gue dech." kesal Kinan. Kepalanya menjadi pusing karna ucapan Nessa yang semakin tidak jelas.


"Ki, sini dech." Menepuk ruang kosong di sebelahnya." Gue mau ngomong penting." lanjutnya.


Kinan mendekat, dia duduk di sebelah Kinan dengan wajah yang terlihat pucat." Hmmm, ada apa?" tanya Kinan malas.


"Lo udah telat berapa bulan?" Pertanyaan serius, tidak ada nada bercanda di dalam suara Nessa. Dan itu juga menyadarkan Kinan akan keadaannya saat ini.


"Aku lupa Sya." meraba perutnya, fikirannya kini melayang ke arah yang sama dengan fikiran Nessa. Mungkin.

__ADS_1


"Lebih baik lo cek ke dokter, gue yakin saat ini lo lagi mengalami hal yang biasa ibu hamil alami. Walaupun gue belum pernah ngalamin, tapi gue yakin. Lagipula lo udah dua bulan Nikah kan, jadi kemungkinan besar itu pasti ada."


Ucapan Nessa membuat bulu halusnya meremang, bukan karna takut, tapi dia lebih ke khawatir. Takut kecewa dan malah ada hal lain.


"Jangan berfikiran buruk, ayo aku antar kau menemui dokter. Aku ingin menjadi orang pertama yang tau jika aku akan memiliki keponakan lagi." ucap Nessa penuh semangat.


"Tapi Sya, ak_


"Sudah ayo." menarik tangan Kinan." Tidak usah takut, aku yakin jika kau saat ini sedang hamil. Ini akan menjadi kabar yang baik untuk semua orang."


"Tapi, kita akan memberi alasan apa pada Mama, dia sedang ada di bawah."


"Sudah, itu biar aku yang urus. Ayo."


Kinan mengikuti langkah Nessa keluar dari kamarnya. Di rumah tamu, Anel sedang berkutat dengan sebuah berkas di tangannya. Entah apa itu, tapi Kinan tidak terlalu memperhatikannya.


"Mah." Panggil Nessa saat langkahnya berhenti tepat di belakang kursi yang Anel duduki.


"Iya." Melihat ke arah Nessa." Kamu mau sesuatu sayang?" tanya Anel


" Tidak mah, tapi aku dan Kinan ingin keluar sebentar."


"Keluar !. Kemana sayang?" tanya Anel mulai khawatir.


"Ke mall mah, aku sungguh bosan di rumah. Ada yang ingin aku beli juga."


"Benar begitu Ki?" kini Anel menatap Kinan." Sayang, kau sakit? kau terlihat pucat."


"Tidak mah, aku tidak apa-apa. Boleh kami pergi?"


"Yasudah, tapi papa sudah menyiapkan bodyguard untuk kalian. Pergilah dengan mereka."


"Bodyguard?, untuk apa?"


" Untuk keselamatan kalian."


"Tapi kami baik-baik saja Ma." ucap Kinan dan Nessa kompak.


"Tidak ada yang baik-baik saja sayang, kalian tidak tau jika kejahatan bisa ada di mana-mana." jelas Anel. Dia tidak ingin membuat kedua putrinya khawatir.


"Baiklah." pasrah Kinan.


"Kami pergi yah mah." Pamit Nessa


"Cepat kembali." pesan Anel yang di angguki kedua putrinya.

__ADS_1


Setelah keduanya pergi Anel langsung menghubungi suaminya. Dia sangat khawatir membiarkan Kinan dan Nessa pergi bedua. Yah walaupun Nathan sudah menyiapkan bodyguard untuk mereka, tapi perasaan khawatir seorang ibu itu cukup beralasan.


__ADS_2