
Mentari pagi bersinar kembali, tapi sepertinya sebentar lagi mentari itu akan tertutup oleh gumpalan awan hitam yang terlihat mengarah dari utara.
Kinan menggeliat saat ketukan pintu kamar hotelnya mengganggu tidurnya. Kinan sungguh masih ingin tidur, ia menutup kepalanya dengan bantal agar tidak mendengar suara dari pintu kamarnya. Tapi apa yang Kinan lakukan sama sekali tidak membantunya, ia tetap saja mendengar ketukan itu, bahkan sekamin keras terdengar.
Dengan malas Kinan beranjak dari tempatnya tidur, ia berjalan menuju pintu kamarnya dengan kondisi setengah terpejam. Ia membuka pintu kamarnya lalu membukanya hanya sedikit, ia mengeluarkan setengah badanya untuk melihat siapa orng di balik pintu.
Kinan mengerjapkan matanya saat melihat sosok yang semalam membuatnya menangis. Ya Devan saat ini tengah berdiri di depan kamar Kinan dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celana, tidak lupa wajah datarnya yang selalu menghiasi wajahnya setiap bertemu Kinan.
"Kak Devan, sedang apa ka_
Belum selesai kinan dengan pertanyaannya Devan sudah menerobos masuk tanpa mengucapkan apapun. Devan duduk si sofa yang tersedia di kamar Kinan dengan santai nya.
"Cepat mandi, kita turun untuk sarapan." ucap Devan saat Kinan sudah berada di hadapannya.
"Aku masih mengantuk, dan aku mau tidur. Lagi pula untuk apa kakak kesini?" tanya Kinan dengan galak, sifatnya yang dulu kembali lagi.
"Jangan banyak bicara, cepat mandi atau mau aku mandikan hahhh." ancam Devan yang membuat Kinan seketika melototkan matanya dengan lebar.
"Tidak usah, aku bisa sendiri."
Kinan berdecak kesal lalu berjalan ke dalam kamar mandi sambil menghentakan kakinya karna kesal. Tidak lupa sebelum masuk ke dalam kamar mandi ia mengambil pakaian yang akan ia kenakan nanti.
"Dasar aneh, kenapa sikapnya jadi berubah seperti itu. Apa kepalanya baru saja terbentur anak tangga, atau Fani memukul kepala sampai dia amnesia dan melupakan sikapnya yang begitu menyebalkan." Kinan menggerutu sambil masuk kedalam kamar mandi.
Sementara Devan yang melihat Kinan terus saja menggerutu hanya bisa tersenyum. Ia sungguh merindukan sosok Kinan yang dulu. Dan kini Devan melihatnya lagi.
Kinan keluar dari kamar mandi setelah waktu berlalu 30 menit, Devan bahkan sampai berdecak kesal saat Kinan begitu lama berada di dalam. Kinan yang baru saja selesai merapikan rambutnya tersentak kaget saat mendapat tarikan mendadak dari Devan.
"Kak, apa yang kau lakukan. Aku belum mengambil tasku." ucap Kinan mencoba melepas cengkraman tangan Devan.
"Tidak usah membawa tas, kau fikir aku tidak membawa uang hanya untuk sarapan saja." ucap Devan sambil terus menyeret Kinan ke bawah.
Kinan yang kesal hanya bisa menggerutu pasrah di belakang Devan. Mereka sampai di Restro yang tersedia di hotel iti dan langsung memesan sarapan mereka. Tidak ada yang bicara, mereka hanya dian dan menikmati sarapan mereka tanpa ada yang berniat untuk memulai percakapan.
20 menit berlalu, keduanya sudah selesai sarapan. Setelah membayar makanan mereka, Devan mengajak Kinan jalan-jalan. Kinan tidak menolak, karna percuma juga diamenolak jika Devan bisa memaksanya dengan ancaman yang membuat Kinan hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Mobil Devan berhenti di tempat parkir yang tersedia di tempat pariwisata itu. Devan mengajak Kinan ke pantai yang di kenal dengan nama Pantai PANDAWA. Pantai yang memiliki pesona pasir putih yang indah, dan bisa di lihat dari atas tebing yang ada di atas pantai itu.
Kinan terlihat menikmati pemandangan yang ada di depannya, tanpa sedikitpun memperhatikan Devan yang berada di sampingnya, seolah ia hanya sedang berada sendiri disana.
Devan yang kesal karna merasa di abaikan oleh Kinan,Devan pun langsung menarik tangan gadis itu.
"Ikut aku."ucap Devan
"Kak, pelan-pelan, aku bisa jatuh." ucap Kinan yang merasa langkahnya terseret karna tidak bisa mengimbangi langkah besar Devan.
Devan pun mengurangi kecepatan langkahnya saat baru menyadari jika Kinan tidak bisa mengimbangi langkah besarnya. Kini mereka tengah berada di bibir pantai, sinar mentari yang begitu terik seakan tak terasa akibat hembusan angin yang begitu kencang menyapu kulit keduanya.
Mereka berdua duduk di pasir putih itu tampa ada yang bicara. Mereka seperti dua orang asing yang baru saling mengenal, padahal dulu mereka sangat sering bertengkar.
"Ki_
"Kak_
"Kau duluan." ucap Devan setelahnya
Devan menghela nafas sebelum memulai percakapan, entah apa yang ada di fikiran Devan saat ini. Tapi yang jelas saat karin ia melihat Kinan bersama pria lain hatinya sungguh tidak rela, Devan marah pada dirinya karna sudah melukai gadis itu dengan sikapnya.
"Maaf." ucap Devan tanpa menatap Kinan.
"Untuk apa?" tanya Kinan santai
Devan mengalihkan pandangannya menatap Kinan."Untuk semua kelakuanku."
Kinan terkekeh mendengar ucapan Devan."Kelakuan yang mana kak? kelakuan kakak yang dulu selalu membuatku kesal kak, atau saat ini, saat kau menghukumku karna kesalahan kecilku?"
"Untuk semuanya Ki, aku tau jika sikapku seperti anak kecil. Aku mencintaimu Ki, tapi penolakanmu membuat aku kecewa dan terluka. Kau belum mencoba dan kau sudah menolaku." ucap Devan lirih
"Hahhhh." Kinan menghela nafasnya, mencoba untuk menata hati kembali.
Tatapan mata menatap lurus ke depan, pemandangan indah terukir indah dalam penglihatan Kinan. Dia berharap hari ini adalah jalan untuk masalahnya.
__ADS_1
"Aku tau jika saat itu aku salah kak, tapi kenapa kau tidak mencoba untuk mengerti jika saat itu aku sangat terkejut akan pengakuanmu. Kau bahkan tidak memberi waktu untuk ku berfikir sebentar untuk merenungi semua pengakuanmu padaku. Kau pergi kak, pergi begitu saja tanpa mau mendengar jawabku setelah itu. Kau pergi dan tidak mau kembali lagi." Kinan sedikit menarik nafasnya sebelum menghembuskannya perlahan. Memberi jeda akan kata yang akan ia keluarkan.
"Tapi semuanya sudah terlambat, kau sudah memiliki Fani kak. Dan aku berharap kau bahagia. Aku akan melupakan semua cintaku dan pergi jauh darimu." ucapan Kinan membuat Devan tersenyum tipis, karna tanpa sadar kinan mengutarakan rasa cintanya.
"Kau serius akan pergi dariku?" tanya Devan dengan nada sedikit mengejek
Kinan mengerutkan dahinya, mantap wajah tampan Devan yang menampakan ejekan untuknya."Tentu saja, aku tidak akan ragu, karna aku tidak ingin melukai wanita lain karna ke'egoisanku." jawab Kinan dengan keyakinan penuh.
Devan terkekeh lalu mengacak rambut Kinan gemas."Kalau aku katakan jika Fani itu bukan kekasihku, apa kau tetap akan pergi?"
"Jangan coba-coba untuk meninggalkannya dan menyakiti hatinya kak, jika itu terjadi maka aku akan sangat membencimu." desis Kinan dengan tatapan tajam
"Hahaha, kau itu polos sekali. Fani tidak akan merasa di sakiti karna dia memang bukan kekasihku." ucap Devan tanpa ragu.
"Aku tidak percaya, aku yakin kakak bicara seperti itu karna mendengar aku mencintai kakak, dan kakak berencana meninggalkan Fani kan. Kakak benar-benar kejam,aku membencimu kak." ucap Kinan dan ingin beranjak dari duduknya. Tapi tarikan keras dari tangan Fandra membuatnya kembali duduk.
"Kau tidak percaya?" tanya Devan
"Tidak." jawab Kinan ketus
"Jika aku bisa membuktikannya padamu apa kau mau menikah denganku Kinan ?" ucap Devan dengan tatapan lembut
"Jangan bercanda kak." ucap Kinan semakin kesal.
"Aku tidak bercanda Ki." Devan membalik badan Kinan supaya wajah mereka saling berhadapan.
"Will you Merry me Kinan Nhatalia Sanjaya."
Deg.....!
[Bersambung]
🍃Slamat membaca_
👍Jangan lupa Like, komentar dan Vote kalian ya.
__ADS_1