
Pagi ini Kinan sudah bersiap untuk pergi mengantar sanga kekasih untuk kembali ke Berlin. Tapi kali ini tidak hanya Devan yang pergi, tapi juga Danu dan Amel. Mereka memutuskan akan ikut karna sejak mereka menikah, Danu dan Amel hanya sekali mengunjungi Kaked Devan. Dan sekarang mereka akan ikut untuk merawat kakek Devan agar segera sembuh.
Bandara
"Sayang, jaga diri kamu baik-baik, jangan lupa makan dan tidur tepat waktu. Jangan sampai aku mendengar kamu sakit setelah aku sampai di Berlin, jika aku mendengar berita kau sakit, maka aku akan langsung terbang ke Indonesia." ucap Devan. Sejak tadi pegangan tangannya tidak pernah lepas dari tangan Kinan, seakan ia sungguh tidak rela meninggalkan Kinan walau hanya satu minggu saja.
Kinan terkekeh mendengar ucapan Devan yang menurut Kinan sangat lebay."Kau akan terbang kak, memang kau punya sayap." ucap Kinan menatao Devan dengan sedikit canda.
"Aku serius sayang, jangan bercanda." ucap Devan dengan wajah serius
"Hmmm, Iya- iya, kau tidak usah khawatir. Aku akan menjaga diriku baik-baik, aku tidak akan sakit hanya karna di tinggal oleh kakak, jadi jangan terlalu kepedean.Dan setelah kakak sampai, jangan lupa kabari aku ya." ucap Kinan lagi.
"Tentu saja, kau tau aku tidak bisa hidup tanpa mendengar suaramu bahkan hanya sehari saja." gombal Devan
"Cihhh, sekarang kau sudah mulai belajar gombal ya kak." Kinan memutar bola matanya dengan malas. Ia sungguh melihat perubahan yang drastis pada diri kekasihnya itu.
Devan terkekeh, ia mengacak gemas rambut calon istrinya itu."Aku gombal karna mencintaimu." ucap Devan sedikit menggoda.
"Berhenti menggombali calon menantu mama Devan. Kita harus segera masuk ke pesawat." ucap Amel pada Devan."Kinan, kami pergi dulu ya, kamu tenang saja, kami akan menjaga Devan dengan baik, dia tidak akan macam-macam disana, karna jika sampai dia macam-macam maka Aunty akan langsung mencoret namanya dari kartu keluarga Ghenio." ucap Amel serius.
"Iya Aunty, Kinan percaya kok." ucap Kinan tersenyum
"Ki, jaga dirimu yah, lain kali aku akan ke Indonesia lagi.Dan saat itu tiba pasti aku sedang menghadiri pesta pernikahan kalian." ucap Fani dengan wajah sedikit malas,karna dia sebenarnya masih ingin tinggal disini lebih lama.
"Akan aku tunggu Fan, jaga dirimu juga." balas Kinan.
"Baiklah, kita harus segera masuk, pesawat kita sebentar lagi lepas landas." Danu memperingati Amel dan Devan.
Kinan menatap kepergian orang yang dia cintai, air matanya baru menetes di saat lambaian tangan Devan menghilang di balik pintu.
"Aku akan menunggumu kak, seperti dulu. Dan semoga kau cepat kembali." gumam Kinan dengan suara lirih.
Kinan kembali ke mobil setelah Devan sudah tidak terlihat lagi, Kinan harus segera mengantar Nessa ke rumah sakit karna temu dengan dokter sekitar pukul 10 pagi, dan ini sudah menunjukan pukul 9.
"Apa kau menangis?" tanya Nessa saat Kinan sudah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Tidak, aku kan sudah bilang tidak akan menangis." jawab Kinan dengan suara sedikit serak.
"Hahaha, aku memang tidak bisa melihat wajahmu Ki, tapi dari suaramu aku tau kau habis menangis." ucap Nessa cepat."Ki, kau harus sedikit bersabar untuk mendapat kebahagiaanmu, karna aku yakin aoa yang kau harapkan pasti akan terjadi jika waktunya sudah tiba." imbuhnya
Kinan menyandarkan kepalanya di bahu Nessa, dan tangan Nessa dengan reflek mengelus pipi Kinan."Aku tau Ness, aku akan menunggu kak Devan, sama seperti dulu. Karna aku yakin jika kak Devan pasti akan kembali dan menepati janjinya." ucapan Kinan terdengar seperti gumaman bagi Nessa
Mobil melaju dengan cepat menuju rumah sakit terbesar di kota itu. Kinan dan Nessa menggunakan waktu dengan saling bercerita, sampai mereka tidak sadar jika mobilnya sudah sampai di depan rumah sakit.
"Nona kita sudah sampai." ucap supir yang mengantar mereka.
Keduanya melihat ke luar jendela. Mereka berdua turun dengan saling bergandengan tangan, karna rumah sakit ini masih asing bagi Nessa, jadi dia harus di tuntun oleh Kinan.
"Duduklah disini, aku akan menanyakan dokter yang menanganimu sudah datang atau belum." ucap Kinan sambil menuntun Nessa duduk di kursi yang tersedia disana
"Cepatlah kembali, aku takut sendiri di tempat asing seperti ini." ucap Nessa dengan rasa gugup dan takut
"Tenanglah, ini rumah sakit, tidak akan ada orang jahat.Aku akan segera kembali." ucap Kinan lalu berlalu meninggalkan Nessa sendiri.
Nessa yang duduk bersandar hanya bisa menajamkan pendengarannya, setidaknya dia bisa tau jika ada yang mendekat ke arahnya. Entah kenapa dia merasa sangat takut, padahal yang di katakan Kinan benar, ini adalah rumah sakit, tapi tidak memungkiri juga jika ada orang jahat.
"Kinan tunggu." ucap seorang pria yang tentunya Kinan kenal, dan Nessa tidak mengenali suara itu.
Kinan memalingkan wajahnya mencari sumber suara yang memanggilnya. Dan dia menemukan sosok yang cukup ia kenal.
"Ken, Kenzo. Ini benar kau?" tanya Kinan saat Ken sudah berada tepat di depannya.
Kenzo terkekeh melihat exspresi wajah Kinan yang menurutnya sangat lucu."Iya ini aku, kenapa wajahmu seperti melihat setan saat melihatku, sungguh menyebalkan." ucap Kenzo pura-pura sebal
"Hahahaha, maaf Ken, aku hanya sedikit terkejut karna bertemu denganmu disini, kan kau sedang berpakaian,Dokter." ucap Kinan cepat
"Kenapa,apa ada yang salah Ki, bukankah aku sudah bilang jika aku ini seorang dokter, jadi kenapa kau harus seheran itu." ucap Kenzo cepat
Kinan menepuk kepalanya sendiri, ia sungguh lupa dengan profesi Kenzo."Ohhh, maaf aku sungguh lupa Ken." Kinan terkekeh.
"Hmm, baiklah. Ngomong-ngomong kau kesini ada apa? apa ada yang sakit?" tanya Ken lagi
__ADS_1
Lagi-lagi Kinan menepuk kepalanya sendiri lalu melihat ke arah Nessa yang masih duduk di depannya."Oh, ya ampun aku sampai lupa karna terlalu banyak bicara denganmu.Aku kesini tengah mengantar saudariku, ayo aku kenalkan kau dengannya."
Kinan mendekati Nessa yang tengah duduk dengan gelisah.Sesekali ia terlihat meremas ujung kaos yang ia kenakan.
"Nessa, ya ampun, maafkan aku ya. Aku sampai lupa denganmu karna bertemu dengan temanku." sesal Kinan saat sudah berada di depan Nessa.
"Tidak apa-apa Ki, aku mengerti. Lagipula aku saja yang terlalu penakut." balas Nessa dengan sedikit menghilangkan rasa takutnya.
"Ness, aku ingin mengenalkan temanku padamu. Ini dokter Kenzo, dia dokter spesialis bedah syarap. Dan kau Ken, dia Nessa saudariku." ucap Kinan ke Nesa dan Kenzo
"Ohh, hay, aku Kenzo." Kenzo mengulurkan tangannya tepat di wajah Nessa, dan Nessa juga mengulurkan tangannya tapi ke arah yang berbeda.
"Aku Nessa." balas Nessa.
Kenzo yang bingung menatap Kinan dengan wajah penuh tanda tangan. Kinan pun mengerti dengan tatapan Kenzo, ia menganggukan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan Kenzo dalam diam.
Kenzo yang mengerti langsung meraih tangan Nessa."Salam kenal nona Nessa, saya harap kita bisa berteman." ucap Kenzo setelah jabatan tangan mereka terlepas.
"Baiklah Ken, aku harus membawa Nessa masuk ke dalam,karna Dokter sudah menunggu kami." ucap Kinan sambil membantu Nessa.
"Baiklah, sampai bertemu lagi Ki." ucap Kenzo melambaikan tangannya.
Kenzo menatap kepergian Kinan dan Nessa dengan tatapan yang sulit di artikan. Entahlah, tapi Kenzo merasa tertarik dengan wanita yang baru saja berkenalan dengannya.Ketertarikan yang berbeda saat ia bertemu dengan Kinan.
"Cantik, dia sangat cantik." ucap Kenzo yang tanpa sadar tersenyum sendiri.
[Bersambung]
**
**
🍃Vanessa inez gianina Sanjaya
__ADS_1