
Kinan sedang duduk termenung, menunggu suaminya pulang, berharap yang dirinya minta akan di bawakan sanga suami. Sebenarnya Kinan tidak sungguh-sungguh menyuruh Devan membelikan asinan itu di bogor. Tapi terlanjur sudah ia ucapkan. Tapi Kinan berharap suaminya itu pintar dalam berbohong.
Satu jam menunggu, Kinan masih belum mendengar ada tanda-tanda suaminya akan pulang. Kinan semakin merasa gelisah. Hatinya merasa tidak tenang, sampai akhirnya ponselnya berbunyi dan mengejutkannya.
Kinan melihat nomor tidak di kenal melakukan panggilan. Tanpa ragu Kinan langsung mengangkat panggilan telpon itu. Tapi selang beberapa menit kemudian handpone Kinan terjatuh hingga hancur, bersamaan dengan dirinya yang tertunduk di lantai.
"Tidak, ini tidak mungkin.....hiksss. Ini pasti salah." Tangan Kinan bergetar hebat, fikirannya menyangkal semua yang di ucapkan orang yang baru saja menelponnya. Kinan menangis sejadi-jadinya.
"Ki." Suara yang sangat Kinan kenal. Suara yang baru sore tadi bersamanya. Dialah Alin, gadis tomboy itu datang dengan tatapan sendu dan sedih. Kinan yakin dia juga sudah tau tentang tragedi yang terjadi.
Alin bersimpuh di lantai, menatap wajah saudarinya yang penuh dengan airmata."Ki, lo harus kuat." hanya itu yang bisa Alin katakan. Dia tau bagaimana perasaan Kinan saat ini.
Flashback On
Brak.....!
Sebuah trek berkecepatan tinggi menabrak sisi belakang mobil Devan dan menyeretnya hingga beberapa meter, dan naasnya mobil itu terganjal pada sebuah pohon besar. Beberapa orang yang berada di lokasi kejadian mencoba membantu korban, dan sesaat kemudian polisi sudah memenuhi lokasi kejadian.
Ambulance datang dan langsung membawa para korban. Termasuk Devan, wajahnya di penuhi darah yang mengalir dari dahinya. Devan sudah tidak sadarkan diri saat di keluarkan oleh warga.
"Pak, ini salah satu ponsel dan dompet korban." ucap seorang pada salah satu anggota polisi.
"Trimakasih." Salah satu anggota itu langsung menghubungi nomer terakhir yang di hubungi ponsel tersebut.
"Iya halo." suara dari sebrang.
"Maaf nyonya, apa ini benar keluarga tuan Devan?"
"Benar."
"Maaf nona, tuan Devan mengalami kecelakaan, dan korban sudah kami bawa ke rumah sakit ****."
Flashback Off
"Hiksss, kak Devan, Al. Ini semua karna aku." ucap Kinan sambil memeluk Alin erat.
"Tenangkan dirimu Ki, lebih baik sekarang kita ke rumah sakit. Kak Devan dibawa kerumah sakit yang sama dengan Nessa, kami tanpa sengaja melihat kak Devan disana."
Kinan mengusap air matanya." Aku takut Al_
"Ki, semua akan baik-baik saja. Sekarang ganti pakainmu, aku tunggu kau dibawah." Kinan mengangguk, dengan tertatih dia bangkit lalu menuju kamarnya.
******
Rumah Sakit
"Sayang." Anel memeluk putrinya yang begitu terlihat terpukul. Matanya bengkak, wajahnya pun sangat pucat. Anel sangat khawatir melihat kondisi putrinya. Apalagi yang Anel tau jika putrinya itu sedang hamil.
"Hikssss, ini semua salah Kinan mah, Kinan yang sudah menyuruh kak Devan pergi membelikan asinan. Jika Kinan tidak_"
"Sudah sayang, ini bukan salahmu. Berhenti menangis, kau harus memikirkan anak yang saat ini sedang kau kandung." ucap Anel mengelus kepala putrinya itu.
"Apa." semua orang terlihat begitu terkejut mendengar Kinan saat ini tengah hamil. Amel dan Danu yang baru saja datang tidak kalah terkejutnya. Mereka langsung mendekati Kinan dan Alin berdiri.
__ADS_1
"Kau sedang hamil sayang, sejak kapan? kenapa tidak memberitahu mama?" tanya Amel yang juga begitu khawatir.
Kinan mencoba tersenyum, dia tidak tau darimana mamanya bisa tau soal kehamilannya, tapi yang jelas Kinan yakin jika Nessa yang sudah pasti memberi tahu mamanua.
"Kinan juga baru tahu ma." ucap Kinan parau." Maafkan Kinan." lanjutnya
"Tidak masalah sayang,Mama sangat senang mendengar kabar ini." memeluk Kinan haru. Amel tau jika saat ini putranya sedang kritis, tapi dengan kabar ini juga Amel begitu bahagia.
******
Hampir tiga jam semua menunggu di depan ruang operasi. Dan sama sekali belum ada tanda-tanda operasi itu akan selesai. Semua sudah merasa gelisah menunggu kabar dari dokter, begitu juga dengan Kinan, dia bahkan beberapa kali pinsan dan harus di tangani dokter karna khawatir akan kondisi Janin nya.
Beberapa menit kemudian Dokter terlihat keluar dari ruang operasi. Nathan dan Danu begitupun yang lainnya langsung mendekati dokter itu.
"Bagaimana putra kami dok?" tanya Danu.
"Maaf pak, luka di kepala putra bapak sangat parah. Kami sudah sangat berusaha, tapi sayangnya tuan Devan mengalami koma, dan kami sudah memindahkannya Ke ruang ICU."
Ucapan dokter itu membuat Amel tak kuasa menahan tangis, hampir saja dia tumbang jika tidak mengingat Kinan yang kini tengah hamil muda. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan menantunya itu.
"Mel, aku benar-benar ikut sedih atas yang menimpa Devan. Kau tau aku sudah menganggapnya sebagai putraku juga. Aku berharap kau bisa kuat, demi Kinan." ucap Anel memeluk sahabatnya dengan isak tangis yang sama.
"Hiks..... Aku tau Nel, aku yakin Devan akan bertahan. Apalagi jika dia tau kalau Kinan kini sedang mengandung anaknya." melepas pelukannya." Benar kan Nel?"
"Tentu saja, aku juga sangat yakin Devan bisa melalui semua ini dengan mudah. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya berdoa dan menguatkan Kinan." Amel mengangguk, dia setuju.
"Lebih baik kalian temui Kinan, bicara perlahan dengannya. Aku yakin pada kalian." ucap Nathan pada Anel dan Amel.
"Sayang, kuatlah di depan putri kita, dia mungkin lebih terpukul daripada kita. Apalagi dalam kondisinya saat ini." Amel mengangguk, dia sangat mengerti yang di maksud oleh suaminya.
"Aku akan kuat demi putriku." balas Amel.
Anel dan Amel masuk ke dalam ruangan Kinan. Disana mereka melihat Kinan masih belum membuka matanya. Disebelahnya ada Alin yang selalu setia menemani Kinan.
"Bi, bagaimana? apa sudah ada kabar?" tanya Alin saat melihat Bibi nya masuk ke ruangan Kinan.
"Devan Koma Al." jawab Amel lemah.
Alin yang begitu terkejut mendengar berita buruk itu sampai tidak sadar menghempas tubuhnya di kursi yang semula ia duduki. Perlahan kepalanya berputar melihat Kinan yang masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana dengan Kinan Bi, dia sedang hamil, dan sekarang kak Devan malah Koma. Kenapa tuhan begitu kejam pada saudariku.....hiksss." airmata Alin mulai mengalir.
"Bi, bagaimana cara menyampaikan ini pada Kinan?" tanya Alin sambil menatap Anel yang tengah berdiri di samping brankar Kinan.
"Kita akan coba perlahan sayang, kita harus kuat di depan Kinan." jawab Amel
"Apa Bibi baik-baik saja?" tanya Alin saat melihat Amel yang begitu tenang.
"Hmmm, Bibi baik sayang. Bibi harus baik demi Kinan dan bayinya." jelas Amel.
Alin mengusap sisa air matanya. Dia juga harus terlihat kuat. Walaupun dia sangat sedih melihat nasib saudarinya yang begitu tidak beruntung.
Beberapa menit kemudian, Kinan mulai membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat, pusing mulai kembali melanda.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah sadar." ucap Anel cepat.
"Mah, Ki_nan dimana?" menetap sekelilingnya yang terasa begitu asing.
"Kamu di ruang rawat sayang, tadi kamu pinsan." jawab Anel.
Kinan menatap wajah Amel dan Alin secara bergantian, dan dia baru sadar jika suaminya masih belum ada kabar.
"Ma, kak Devan bagaiman, apa sudah ada kabar. Bagaimana keadaannya?" tanya Kinan mulai panik.
"Sayang, kamu tenang dulu yah. Jangan fikirin Devan dulu, kamu fikirkan anak kamu yah."
"Mana mungkin Kinan bisa tenang mah, Kinan takut terjadi sesuatu pada kak Devan." Ucap Kinan. Dia begitu takut akan yang terjadi.
"Sayang, kamu harus berfikir yang baik saja. Mama yakin jika Devan anak yang kuat, dia pasti bisa bertahan." ucap Anel. Dia tidak ingin putrinya syok lagi.
"Bertahan? Apa terjadi sesuatu pada kak Devan? apa sudah ada kabar mah?" tanya Kinan cepat.
Semua diam, bukan tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi mereka bingung harus menjelaskannya seperti apa
"Kenapa Diam, jawab ma." menggoyangkan tangan Anel dan Amel bergantian." Apa sudah terjadi sesuatu pada kak Devan? kenapa kalian tidak menjawab aku."
Kinan mulai panik, dia bahkan hampir mencabut jarum infus yang menancap di tangannya.
" Ki, tenang sayang. Mama akan jelaskan, tapi kamu tenang dulu. Ingat kamu sedang hamil." ucap Anel cepat.
"Iya Ki, kamu harus tenang." timpal Alin
"Mama Amel dan mama akan jelaskan, tapi mama mohon fikirkan juga kehamilan kamu." imbuh Amel.
Kinan mulai tenang, dia mengelus perutnya yang masih rata. Saat ini dirinya memang tidak boleh egois, bagaimanapun juga ada kehidupan yang tengah tumbuh di perutnya.
"Jelaskan ma, Kinan akan menerima."
"Dokter sudah berusaha sayang, tapi tuhan masih ingin menguji kekuatan cinta kalian. Devan tidak bisa melawan semuanya sendiri, dia lebih memilih tidur sebentar_"
Amel mejeda ucapannya, dia melihat wajah Kinan yang mulai berubah. Itu membuat Amel merasa tidak tega untuk melanjutkannya.
"Lanjutkan ma, aku tidak apa-apa." ucap Kinan tanpa expresi berlebih.
"Devan koma Ki." lanjut Amel
Duar......!
Dunia Kinan serasa runtuh, baru saja dia mendapat kabar bahagia tentang kehamilannya, dan kini semua itu terasa di renggut paksa. Bahkan dia belum sempat memberitahu Devan jika dirinya tengah hamil.
"Tidak, ini tidak mungkin ! Ini tidak mungkin." teriak Kinan histeris.
.
.
[Bersambung]
__ADS_1