
Alin berjalan tergesa, dia harus menghadiri rapat di sebuah hotel berbintang yang sudah di pesan oleh asisten ayahnya. Jadwal yang di atur hari ini untuknya benar-benar padat, bahkan hanya untuk waktu makan siang santai pun tidak ada untuknya.
"Dinda, bagaimana apa rapatnya sudah di mulai?" tanya Alin dengan nafas terengah, dia sangat lelah setelah berlari dari tempat parkir menuju loby
"Belum buk, clien menunggu anda." jawab Dinda.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk." Aline berjalan mendahului Dinda, dia benar tidak enak hari karena sudah terlambat.
Sesampainya di ruangan yang sudah di tentukan Aline melihat beberapa orang disana, di luar perkiraan Aline, dia mengira akan ada dua atau tiga orang, tapi disini Aline melihat sampai lima orang yang datang.
"Ini mau rapat atau mau demo, banyak banget yang datang." batin Aline.
"Alamat siang menjelang sore, maaf saya sedikit terlambat." ucap Aline sedikit basa-basi.
"Ahhh tidak masalah nona Aline, saya mengerti jika anda sangat sibuk, apalagi harus mengurus perusahaan hanya sendiri saja." ucap salah satu Klien
"Terimakasih atas pengertiannya pak Denis, saya minta maaf sekali lagi." Aline sudah duduk di depan lima orang pria di ikuti Dinda.
"Baiklah, saya akan memulai persentasi saya." ucap Aline yang segera mendapat anggukan kelima pria itu.
Mungkin jika dulu Aline akan ragu melakukan ini di depan banyak pria, meski usianya terpaut jauh dengannya, tapi sekarang hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Aline.
pukul 4 sore Aline selesai dengan pertemuannya, semua berjalan sesuai prediksinya, tidak ada yang mengecewakan, semua puas akan hasil kerjanya, dan ia pun mendapat kerjasama itu.
"Dinda, kau bisa kembali ke kantor, tidak usah menunggu saya, karena saya ada urusan penting di tempat lain."
"Baik buk." ucap Dinda. Dia pun meninggalkan Alin di lobby.
Setelah melihat Dinda pergi, Aline segera menuju ke area parkir tempat ia meninggalkan mobilnya. Tapi sebelum Aline sampai di mobilnya tiba- tiba ada tangan besar yang menariknya hingga Aline jatuh di pelukan orang itu.
"Ihhh, apaan sih lo, lepas gak." ucap Aline sambil berontak dalam dekapan pria itu.
__ADS_1
"Ups sorry, aku gak sengaja."
"Enak aja lo bilang gak sengaja, udah jelas-jelas lo sengaja." teriak Aline tak terima.
"Ohoo, slow girl. Kamu itu jelek kalau lagi marah." godanya.
" Bodoh amat." Aline memutar matanya malas, dia tidak suka dengan pria di depannya itu." Mau lo apa sih, ngikutin gue mulu, kayak parasit tau gak."
"Aku gak ngikutin kamu tau, aku cuma gak sengaja liat kamu tadi. Pengen nyapa tapi kamu nya jalan kayak sepur."
"Gue ingetin ya sama lo. Gak usah nyapa-nyapa gue dan gak usah sok deket." Aline ingin meninggalkan pria itu, tapi dia kembali menarik tangan Aline.
"Apaan sih lepas, gue mau pergi." ucap Aline semakin kesal.
"Ok, aku lepas. Tapi aku cuma mau bilang kalau papa kamu ngundang aku Nanti malam untuk makan malam. Sampai jumpa nanti malam cantik."
Mata Aline mendelik, tidak percaya dengan ucapan pria menyebalkan itu. Tapi mungkinkah? jika memang benar maka firasat Aline sedikit tidak enak.
Aline menggerutu sambil menuju mobilnya berada, Aline tidak tau apa rencana ayahnya hingga mengundang pria itu makan malam ke rumahnya.
Mobil Aline terparkir di sebuah butik langganannya, hari ini Aline harus mencari gaun untuk dirinya yang akan di kenakan di pesta pembukaan resto baru milik Fino ayahnya.
Aline tengah sibuk memilih gaun yang cocok untuknya saat ponsel miliknya berdering, Aline melihat nama Ani tertera di layar ponselnya.
"Iya ma?"
".....!
"Bentar lagi Aline pulang."
"....!
__ADS_1
"Iya Ma, Aline usahakan."
Aline mendesah kesal saat mamanya begitu memaksa, entah apa yang sedang terjadi. Tapi Aline tidak ingin terlalu mempermasalahkan itu, dia kembali mencari apa yang seharusnya dia cari.
Beberapa saat kemudian Aline sudah memilih gaunnya, dia segera membayar gaun itu dan segera meninggalkan butik. Tapi sebelum meninggalkan butik Aline kembali melihat sosok yang ia kenal. Rendy, pria itu sedang berdiri membelakanginya bersama seorang wanita, tapi wanita itu bukan Fani.
"Dasar play boy, semua pria sama sana." gumam Aline lalu masuk ke dalam mobilnya. Aline melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
#
Di tempat lain.
"Rendy, sebenarnya apa rencana mu, kenapa kenapa kau mengajakku kesini?" tanya seorang wanita yang bersama Rendy.
"Diamlah, apa ga dia itu sudah pergi?"
"Hmm, dia terlihat kesal."
"benarkah, kau yakin?"
"Iya, aku yakin. Lalu sekarang apa lagi?"
"Tidak ada, kau bisa pergi."
"Apa, apa kau sudah gila, kau memanggilku hanya untuk itu saja. Kau membuang waktuku Rendy."
"Aku akan membayar waktumu itu, sekarang cepat pergi." Rendy menatap mobil Aline yang sudah mulai menjauh darinya.
Entah apa yang ada di Fikiran Rendy, tapi sepertinya dia senang membuat Aline kesal.
"Aku akan membuat kau selalu kesal, lihat saja."
__ADS_1
.
.