
Bruk...!
"Aduhhh." triak dua orang secara bersamaan. Dua orang itu adalah Alin dan Fani. Mereka berdua tidak sengaja bertemu di depan ruangan Devan.
"Hahhhhhh" Devan menghela nafasnya saat melihat tingkah konyol dua orang yang begitu dia kenal."Kalian. Kenapa kalian selalu bertingkah konyol seperti itu?"
"Lo gak apa-apa Fan?" menolong Fani bangkit. Fani yang belum sadar jika itu adalah Rendy dengan senang hati menerima tangan Rendy sebagai tumpuannya berdiri.
"Aduh mana yang sakit, ini yah." berjongkok di bawah Fani lalu mengusap lutut Fani yang terlihat lecet." Kau itu selalu saja ceroboh, trus kenapa bisa barengan sama nich cewek resek. Emang bawa sial ya lo." omel Rendy. Sementara Fani hanya diam melihat perlakuan Rendy terhadapnya.
"Apa lo bilang, gue cewek sial." Alin menoyor kepala Rendy yang masih menunduk di depan Fani." Lo yang sialan, ngatain orang lagi." cetus Alin dengan wajah kesal.
"Ehhhh, Rend, gu_e udah gak apa-apa." ucap Fani sedikit menjauh dari Rendy saat dia sadar siapa pria yang ada di depannya.
Rendy mendongak, tatapan yang masih sama terhadap Fani. Tidak pernah berubah. Masih seperti dulu walau saat ini Fani membencinya." Benar sudah tidak apa-apa?" tanya Rendy sambil berdiri.
"Dasar cowok nyebelin."gumam Alin saat melihat tingkah manis Rendy ke Fani
"Hmmm." Fani beralih menatap Alin yang sedang duduk sambil mengusap lututnya yang juga terlihat lecet." Lo gak apa-apa kan Lin, sory ya gue gak sengaja." ucap Fani mendekati Alin.
"Gue gak apa-apa kok, gue juga yang salah." ucap Alin cepat.
Mereka berdua saling tatap lalu tertawa bersama mengingat tingnkah konyol mereka barusan. Devan dan Rendy sampai bingung melihat dua wanita yang tengah tertawa terpingkal di depan mereka.
"Ehmmmm." Devan mengeraskan suaranya hingga menghentikan tawa Fani dan Alin bersamaan." Fan, lo kenapa bisa ada disini?" tanya Devan dengan tatapan tajam.
Fani menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia sedikit salah tingkah akan tatapan Devan yang begitu tajam." Hehehehe, gue kesini di suruh kakek. Karna ada beberapa berkas yang perlu tanda tangan lo Van, jadi gue terpaksa terbang kesini." jawab Fani cepat.
"Hmmm, dan kamu Al?" Devan menatap Alin yang masih terlihat kesal saat Rendy terus menatapnya.
"Al kesini disuruh papa menyerahkan berkas ini untuk kakak. Berkas proyek yang harus segera mendapat tanda tangan Uncle Danu." jelas Alin.
"Kakak." ucap Rendy bingung menatap Alin dan Devan.
"Kenapa lo kaget kek gitu, Alin ini sepupu istri gue." jelas Devan yang membuat Rendy menelan ludahnya dengan kasar.
"Gue fikir dia istri lo." bisik Rendy yang berdiri di sebelah Devan.
"Buahahahaha." Devan terbahak mendengar bisikan dari Rendy membuat Alin dan Fani yang sedang duduk mengalihkan pandangan mereka.
"Kenapa?" tanya Fani.
"Kakak masih waras kan? atau cowok nyebelin ini yang membuat kakak kesurupan?" tanya Alin yang langsung mendapat tatapan mematika dari Rendy
"Hmmmm, kalian kenal dimana?" tanya Devan tanpa menjawab pertanyaan Alin
Dahi Fani terlihat berlipat, dia juga baru sadar jika Rendy mengenal Alin."Hmmm, benar. Kau mengenal Rendy, Al?" Fani ikut bertanya pada Alin yang duduk di sebelahnya
"Tidak." ucap Alin dan Rendy bersamaan.
"Benarkah?" tanya Devan dan Fani kompak
Rendy dan Alin saling menatap, tatapan keduanya menyiratkan kebencian yang entah karna apa.
"Berhenti menatap adikku Ren, kau bisa jatuh cinta padanya." sindir Devan yang seketika membuat Rendy memukul lengan Devan.
"Cihhhh, gak akan pernah." ucap Rendy cepat.
__ADS_1
"Gk usah ngomong asal dech kak, aku aduin Kinan baru tau rasa." ancam Alin
"Ya, ya. Kau selalu mengancamku dengan nama istriku." Devan mendengus kesal. Semetara Alin hanya terkiki geli melihat wajah Devan.
"Aku akan pulang kak, ingat berkas itu harus sudah selesai besok." ucap Alin bangun dari duduknya.
"Alin aku ikut yah. Aku ingin bertemu Kinan." ucap Fani juga ikut berdiri.
"Fan, biar aku antar yah." tawar Rendy mendekati Fani.
Fani mundur satu langkah, dia menatap Rendy tajam, seolah Rendy adalah acaman." Tidak perlu, aku bisa pergi bersama Alin." ucap Fani ketus.
"Tapi Fan_
"Kalau cewek udah gak mau ya gak usah maksa, dasar cowok nyebelin. Pemaksa banget sih." sinis Alin.
"Diem lo, gue gak ngomong sama cewek yang selalu buat gue sial." ucap Rendy tak kalah sini.
"Elo yang bawa sial, lo gak inget kalau lo yang nabrak mobil gue hehhhh." ucap Alin tak terima dengan ucapan Rendy.
"Tapi lo ju_
" Udah Lin, kita pergi aja. Lo gak akan menang ngomong sama cowok kayak dia." Fani menarik tangan Alin keluar dari ruangan Devan. Tapi sebelum keluar Alin mengancungkan kepalan tangannya pertanda dia masih kesal dengan Rendy.
Sementara itu Devan hanya menggeleng- gelengkan kepalanya melihat tingkah Alin yang memang seperti pria." Sebaiknya lo jauhi Alin jika tidak ingin berakhir di rumah sakit." ucap Devan menyadarkan lamunan Rendy.
"Maksud lo?" tanya Rendy yang bingung akan ucapan Devan.
"Pergilah, gue banyak pekerjaan. Lo ganggu aja tau gak." ucap Devan tanpa menjawab pertanyaan Rendy.
"Cihhhh, gue gak akan pergi sebelum lo jelasin maksud ucapan lo. Dan yah, buat apa gue deketin cewek jadi-jadian kek itu. Gue masih cinta sama Fani, dan hati itu gak akan ke geser apa lagi untuk cewek kek itu."
"Gak ngaruh." Rendy memutar bola matanya malas lalu mengambil jasnya yang tergelak di atas sofa. Dia tidak lagu bertanya tentang Alin, dan memilih pergi dari perusahaan Devan.
*****
Sementara itu Nessa sedang duduk termenung di wabah pohon rindang yang ada di belakang rumah. Ingatan gadis itu melayang entah kemana. Nessa bahkan tidak menyadari kedatangan Kinan.
"Apa yang sedang kau fikirkan, hmmm?" tanta Kinan yang sudah duduk di sebelah Nessa.
"Tidak ada." jawab Nessa masih menatap lurus ke depan.
"Baiklah. Tapi kau saudari yang tidak pandai menyembunyikan sesuatu. Aku tau kau sedang memikirkan sesuatu, ayo beritahu aku." Kinan menggenggam tangan Nessa, entah kenapa Kinan merasa wajah Nessa begitu murung.
Nessa terkekeh mendengar ucapan Kinan. Saudarinya itu selalu bisa membuatnya melupakan semua masalah yang dia hadapi.
"Apa yang kau katakan Ki, aku tidak sedang memikirkan sesuatu. Sekarang lebih baik kau yang bercerita tentang pernikahan mu. Apa kau bahagia? apa kau selalu menikmati harimu sebagai istri? dan yah, bagaimana mertuamu, apa mereka bersikap baik?" Nessa bertanya dengan wajah penuh antusias. Kinan bahkan tertawa nyaring mendengar rentetan pertanyaan dari Nessa.
"Kau itu kenapa Ness, pertanyaanmu banyak sekali. Apa cita-citamu dulu adalah seorang wartawan, jika benar aku yakin kau akan di terima di semua stasiun televisi." ucap Kinan seraya meledek.
"Tidak, kau salah. Aku tidak ingin menjadi wartawan. Aku malah ingin menjadi seorang fotografer. Tapi saat aku tau Paman banting tulang membesarkanku, aku jadi ingin menjadi orang yang sukses. Membalas semua pengorbanan paman Bisma dan membahagiakannya. Tapi kau lihat keadaanku sekarang, aku bahkan tidak bisa apa-apa." ucap Nessa tertunduk sedih.
Kinan mendekap tubuh Rapur Nessa, getar dalam setiap ucapannya membuat Kinan juga merasakan kesedihan Nessa. Dia tau bagaimana kesedihan seorang gadis saat harus kehilangan semua harapannya.
"Dengar." Kinan melepas dekapannya, menggenggam erat tangan Nessa." Aku tidak suka kau berkata sepertu itu Ness. Kau harus tau jika kesempurnaan itu tidak hanya dilihat dari fisik sempurna saja. Bukankah aku sudah sering mengatakan itu padamu." Kinan menatap lurus ke depan, melihat keindahan yang di ciptakan oleh sang pencipta.
" Jika kau ingin menjadi seorang yang sempurna itu sangat mudah. Tapi di saat kau memiliki kesempurnaan itu dan orang-orang yang kau sayang semua menjauh, apa kesempurnaan itu penting lagi. Tidak Ness. Aku tau ini berat untukmu, tapi cobalah untuk sedikit bersabar, aku yakin kebahagiaan itu akan datang, ada atau tanpa pengelihatan. Kami akan selalu ada untukmu."
__ADS_1
Air mata Nessa menggenang, pertahanan nya tumpah. Dia memeluk tubuh Kinan dengan erat." Maafkan aku Ki, aku terlalu sering mengeluh. Aku terlalu tidak bersyukur mendapat keluarga yang begitu baik seperti kalian, dan aku terlalu terpuruk dengan kekuranganku."
"Heeee, apa yang kau katakan Ness. Berhenti menangis, kau sangat jelek." canda Kinan sambil mengusap air mata Nessa.
"Kau menyebalkan." ucap Nessa cepat.
"Hahaha, baiklah. Sekarang aku minta maaf." ucap Kinan
"Ki." panggil Nessa menghentikan tawa Kinan.
"Hmmm. Ada apa?" tanya Kinan
"Aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Nessa serius.
"Hmmm, sekarang kau sudah mulai ingin serius. Baiklah, ada apa?"
" Kau masih ingat Ken?
"Ken?
"Iya, Kenzo."
"Hmmm, ada apa dengannya. Apa dia menggangumu?"
"Tidak. Tapi_" Nessa menjeda ucapannya lalu menunduk dalam.
"Ada apa Ness, kau bisa menceritakan apapun padaku."
"Ken, dia."
"Dia apa, kenapa kau berbelit-belit."
"Hahhhhh. Ken, dia menyatakan cinta padaku."
Kinan melebarkan matanya dengan bibir terbuka lebar. Seolah tidak percaya dengan ucapan Nessa, tapi Kinan memang sudah tau jika Ken menyukai Nessa. Dan Kinan yakin itu tulus.
"Lalu, kau jawab apa?"
Nessa menggeleng lemah." Tidak ada."
Plakkk....!
Kinan memukul keningnya sendiri." Astaga, kenapa Ness. Aku yakin Ken itu tulus, apa kau tidak menyukai Ken?"
"Aku merasa nyaman saat berbicara dengannya, walau aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi dia menyenangkan dan baik."
"Lalu."
"Aku tidak ingin membuatnya malu karna_
"Ness, aku sudah bilang jangan memikirkan hal itu lagi. Jika ada yang menyukaimu tanpa melihat kekuranganmu ,lalu kenapa kau harus menolaknya. Setidaknya kau fikirkan dulu."
"Tapi Ki, kau tau Ken itu pemilik dari rumah sakit itu. Dan aku hanya akan membuatnya malu."
"Hahhhh, terserah kau saja. Tapi aku berharap kau tidak menyesal setelah ini Ness, karna aku yakin Ken itu tulus."
Nessa mengarahkan pandangannya lurus ke depan. Dia memikirkan ucapan Kinan yang memang benar adanya. Nessa memang tidak bisa melihat, tapi Nessa bisa merasakan ketulusan dari duri Ken. Tapi Nessa masih belum bisa menerima jika ada pria yang mau menerima kondisinya saat ini, apalagi pria sempurna seperti Ken. Pemilik Rumah sakit terbesar tempatnya mencari donor mata.
__ADS_1
[Bersambung]